Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Lost

Alasan pada akhirnya Diana mau memberikan Chanyeon satu kesempatan pada akhirnya, nyatanya tak sesederhana sebab dirinya khawatir berlebihan pada Chanyeon saat kecelakaan melanda. Tepatnya karena ia ingin membereskan hubungannya dengan Chanyeon secara baik-baik dan legowo di kedua belah pihak; tak peduli berakhir bersama atau sebaliknya, tak ingin ada yang merasa dilukai ataupun melukai seperti di perpisahan sebelumnya.

Faktanya, kenapa Diana tidak benar-benar bisa melupakan sosok Chanyeon kemarin, ternyata sebab dirinya memanglah tidak sungguh-sungguh untuk melepaskan. Benar. Tidak sungguh-sungguh melepaskan perasaan yang hinggap; selalu kalah oleh rasa rindu saat mencoba melupakan, kerap seperti tanpa sadar mengingat-mengingat kenangan bersama, candu mendengarkan lagu River Flows in You dengan kenangan manis yang menyertai.

Hingga pada akhirnya sebuah momen mempertemukannya kembali dengan Chanyeon di vila itu, menjadikannya merasakan dua perasaan yang bertentangan secara bersamaan; senang tiada tara dan benci teramat dalam.

Dulu, perpisahan mereka berdua memang berujung kurang baik karena menuai perasaan dilukai dan melukai di keduanya. Apalagi Chanyeon, Diana bisa merasakan lelaki itu begitu tertampar keadaan di masa itu. Merasa melukai Diana karena sikap angkuhya dan merasa dilukai sebab Diana menjaga jarak sedemikian, hingga tak mau kenal lagi.

Itulah kenapa pada akhirnya Diana meluruskan tekad memberi satu kesempatan pada Chanyeon, setelah pernah redam oleh iming-iming wanita itu untuk melepaskan agar Chanyeon bisa hidup tenang tanpa cinta yang jelas tak bisa digapai.

Pada akhirnya satu kesempatan diazamkan. Satu kesempatan berharga yang pada akhirnya juga tak bisa menjamin ... Chanyeon berakhir menggapai Diana. Barangkali malah berujung perpisahan lagi untuk kali kedua.

Namun, bagi Diana berakhir bersama atau malah berpisah tidak lagi penting. Karena yang terpenting kini adalah sebuah pemahaman baik yang akan dituai oleh keduanya di akhir.

Ketika Diana membuka satu kesempatan seperti yang Chanyeon mau, itu berarti Chanyeon akan belajar Islam dalam kurun waktu tertentu hingga pada akhirnya menemukan sebuah jawaban dari pilihan untuk melanjutkan mengimani atau tidak. Berakhir menyimpulkan hubungannya dengan Diana di akhir.

Sungguh akhir bersama atau berpisah tidak lagi penting bagi Diana, pemahaman baik di akhir adalah yang sebenarnya sedang dicari. Sebuah pemahaman baik yang membuat hati tentram ke depannya, tidak merasa dilukai atau melukai pada akhirnya jikalau harus saling melepaskan lagi. Namun, egoisnya masih sama dari waktu ke waktu sebuah asa ini; berakhir sebuah penyatuan kedua hati di bawah naungan restu-Nya.

Musim hujan kembali datang setelah beberapa bulan kemarau. Setelah awan kelabu cukup lama, akhirnya gerimis merintiki bumi Lembang. Nyanyian alam yang syahdu pun melantun memanjakan rungu di senja yang ada. Rerumputan cepak dan bebatuan kecil di taman belakang rumah Bu Sandra basah sudah.

"Cepat kemari, Gembul. Malah mau menikmati gerimis bersamaku, hmm?" seru Diana kemudian setelah lamunannya buyar, usai membenahi posisi jongkoknya, melambaikan tangan menyuruh kucing persianya yang sedang bermain bola beranjak ke rumah.

Mendapati tubuhnya terkena guyuran gerimis, Gembul pun yang berada di atas rerumputan cepak berlari ke arah Diana di pinggiran teras belakang rumah.

Dengan sigap Diana mengemban tubuh Gembul yang sedikit basah, membawanya ke dalam rumah, melepasnya di cat condo.

Setelah mencuci tangan di wastafel, kedua mata kelam Diana berotasi ke arah Bu Sandra yang sedang berdiri termenung untuk menyaksikan gerimis dari balik jendela kaca. Pada akhirnya mendekat, memeluk Bu Sandra dari belakang.

"Mama mau aku buatkan teh hijau panas?" tanya Diana lembut, lehernya ia sandarakan ke bahu Bu Sandra yang terbalut abaya merah maroon.

Senyum sabit singgah di bibir Bu Sandra. Masih dengan menatap gerimis yang mengguyur tanaman hijau topiari di luar sana, tangan Bu Sandra terulur untuk mengelus lembut rambut kepala Diana.

"Boleh. Jangan terlalu manis," jawabnya.

Bukan langsung beringsut membuatkan teh hijau, Diana justru mengeratkan pelukan dari belakangnya ini seiring gemiris beralih menjadi hujan deras.

Ada rasa bersalah yang hinggap di ceruk hati Diana kepada sosok mama. Sebuah rasa bersalah sebab telah menolak Dikta yang menjadi lelaki pilihan Mama, kecewa sekali Mama-nya ini sebab dirinya memilih mengupayakan Chanyeon.

Ini adalah kali keduanya mengupayakan seseorang yang tidak pantas menurut Mama, setelah dulu pernah mengupayakan sosok ayah. Mencoba mengupayakan ... yang katanya hanya akan menuai kesia-siaan.

Begitu katanya dulu, sebuah kesia-siaan ... yang pada akhirnya Diana bisa membuktikan upayanya tidak sia-sia. Termasuk dalam mengupayakan Chanyeon, Diana yakin tidak ada kesia-siaan yang akan ia dapatkan karena hakikatnya ia bukan hanya tentang mencari cintai sejati, tetapi jugalah sebuah pemahaman baik yang meliputi.

"Apakah Mama juga mau aku buatkan pisang goreng?" tanya Diana setelahnya.

***

Chanyeon sedang disibukkan syuting video musik untuk comeback mini album debut solo-nya yang akan bertajuk Lost.

Lost, sebuah lagu yang menyampaikan kehilangan dan kegagalan, yang mana memilih kukuh untuk tegar dengan tekad mencapai puncak pencapaian yang dimimpikan.

Konsep musik video-nya adalah dengan Chanyeon tersesat di hutan pada malam hari. Ia berjalan, berlari, dan berputar-putar kehilangan arah di hutan itu, sebelum akhirnya menemukan jalan untuk keluar lewat sebuah terowongan tua menuju pemukiman.

Konsep warna dalam musik videonya adalah diawali dengan vibes hitam-putih dalam hutan; sebuah perpaduan warna yang menyimpulkan mati rasa. Lalu perlahan berubah menjadi vibes oren berkabut ketika Chanyeon melangkah mencari jalan keluar; warna oren yang menandakan sebuah kekuatan yang sedang melingkupinya. Selanjutnya mendapatkan vibes biru saat memasuki terowongan tua; warna biru yang melambangkan ketenangan. Berakhir mendapatkan sebuah cahaya di ujung terowongan tua dengan melihat sebuah pemukiman di hadapan; sebuah cahaya yang di sini melambangkan mendapatkan pencerahan alias jalan keluar.

Lagu Lost ini adalah sebuah lagu yang ditulis Chanyeon sendiri. Merupakan sebuah curhatan dirinya yang sedang kebingungan tentang ada apa di masa lalu. Dan mengambil tempat terowongan tua adalah tak lain untuk menostalgia muara dirinya amnesia, malah berharap bisa menjadi pemicu dirinya mengingat penggal masa lalu.

Kini di tengah malam awal musim dingin, Chanyeon dengan hoodie putih sedang berlari di sebuah terowongan tua yang sudah tidak difungsikan. Para kru kamera pun fokus mengambil gambar.

Kedua kaki Chanyeon bersepatu sport abu-abu terus berlari keluar terowongan, semakin dekat ke luar dan semakin dekat. Hingga, tetiba tubuh Chanyeon mendadak lemas, kedua kakinya lunglai, daksanya tetiba seperti ditarik begitu saja ke dunia lain seiring kepalanya yang berdenyut hebat.

Radius satu meter untuk akhirnya berhasil keluar terowongan, Chanyeon malah jatuh duduk tertekuk tanpa ia sadari. Kepalanya masih nyeri hebat. Kedua mata kelamnya memejam untuk menahan sakit.

Bubp!

Sempurna Chanyeon merasakan layaknya deja vu lagi dalam imajinya.

Chanyeon terkapar di jalan aspal dengan kepalanya yang luka parah dan mengeluarkan darah segar cukup deras, hingga mengalir ke aspal, menggenang sebagian. Rasanya sekujur tubuhnya remuk, sakit sekali, saking sakitnya hingga sulit dijabarkan. Dengan tubuhnya yang telentang ini, kedua mata kelamnya menatap ke langit-langit terowongan dengan kosong. Bibirnya ingin menyuara meneriakkan meminta pertolongan, tetapi berakhir kelu nian.

Chanyeon masih menatap langit-langit, perlahan penglihatannya memburam, hingga akhirnya kelopak matanya ia pasrahkan untuk menutupi bola mata putus asanya. Tubuhnya masih terasa sangat sakit di mana-mana, tetapi ia tidak bisa apa-apa selain pasrah bergeming dengan napasnya yang semakin melemah.

Beberapa saat ke depan terdengar decitan mobil, Chanyeon yang masih dalam mode sadar dalam berbaringnya ini bisa merasakan getaran tanah jalan beraspal. Lalu terdengar derap langkah tergesa seseorang ke arahnya.

"Oppa!" teriak seseorang itu dengan nyaringnya suara khas sosok wanita.

Derap langkah seseorang itu semakin keras terdengar.

"Oppa!" teriak seseorang itu lagi. Sepertinya cemas berlebihan mendapati dirinya mengenaskan seperti ini. Chanyeon sempat membatin begitu.

Kemudian Chanyeon merasakan kepalanya yang luka parah ini diangkat, disandarkan dengan hati-hati oleh seseorang itu pada ganjalan layaknya bantal. Sebuah ganjalan yang ia yakini itu adalah paha seseorang itu. Lalu sepersekian detik, kepalanya yang menjadi titik tersakit merasa terganjal lagi dengan sesuatu yang lebih lembut, ia terka ini adalah sebuah kain untuk menahan keluarnya darah di kepalanya.

Cukup lega, titik tersakit kepalanya berangsur meringan, sangat merasa lebih baik setelahnya. Chanyeon ingin membuka kelopak matanya agar bisa melihat seseorang itu, tetapi nyatanya ia kehilangan daya untuk satu hal berharga ini. Kedua mata kelamnya tetap tertutup rapat, sial sekali. Ia ingin bicara satu-dua patah kata, tetapi masih saja terkelu.

Terdengar isak tangis seseorang itu dalam rungu Chanyeon, memecah hening mencekam yang ada. Tangisan itu pilu sekali.

"Jangan ti--" Seseorang itu menyuara putus asa, tetapi terpotong begitu saja.

"Chan! Chan!"

Sempurna. Kejadian layaknya de javu dalam imaji Chanyeon lesap.

"Chan! Gwaenchanha?"

"Hyeong! Gwaenchanha?"

Chanyeon kukuh memejamkan mata dengan rentetan suara menyebutnya itu, menanyakan keadaannya. Kukuh memejamkan mata untuk berharap kenangan yang datang tersambung lagi agar rasa penasarannya pada seseorang itu ini bisa terjawab.

"Hyeong! Gwaenchanha?"

Sepasang tangan mencengkeram kedua lengan atas Chanyeon, menggerakkan tubuhnya sedemikian dengan seruan itu yang tak lain adalah Sehan.

"Chan!" sebut Kyung Seo yang berada di samping Chanyeon kini dengan air muka keruh cemas.

Akhirnya Chanyeon membuka mata dengan perasaan kesal.

"Kau baik-baik saja, Chan?"

"Gwaenchanha?"

"Ada apa dengamu, Hyeong?"

"Syukurlah akhirnya kau sadar."

Chanyeon masih membisu dengan menatap kesal, tetapi menatap tanpa ekspresi ke wajah orang-orang yang terlalu mengakhawatirkannya. Orang-orang ini adalah sebagian kru kamera, Kyung Seo, Bae Hyun, dan Sehan.

"Aku baik-baik saja, tak perlu khawatirkan apa pun. Maaf, membuat kalian bersitegang barusan," ucap Chanyeon kemudian kepada semuanya, membuat bernapas lega serentak.

Para kru kamera pun kembali ke tempatnya, meninggalkan Chanyeon dengan 3 member EXE ini yang sedang datang untuk support.

"Bagaimana kita tidak khawatir, kau terduduk begitu saja di saat gas lari, lalu bergaya layaknya orang kesakitan," ujar Bae Hyun sembari merangkul punggung Chanyeon dengan sebelah tangan.

"Mianhae ...." Chanyeon malah menjawab singkat.

"Apa yang terjadi, Hyeong? Mungkinkah kau didatangi penggalan masa lalumu lagi?" selidik Sehun yang jongkok di depan Chanyeon ini. Berhasil menarik atensi Bae Hyun dan Kyung Seo.

Chanyeon tetap membisu sejenak, menatap wajah mereka bertiga satu persatu, membuat mereka bertiga bertambah penasaran.

"Iya. Aku mendapat kenangan itu saat aku kesakitan terkapar di jalan. Ada seseorang perempuan yang menolongku. Aku belum tahu itu siapa. Dan semuanya hilang begitu saja karena seruanmu memanggil namaku, Bae," ungkap Chanyeon kemudian.

"Dasar kau ini!" kesalnya sembari menampol rangkulan Bae Hyun.

___________________






Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro