Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Prolog

"Huaa .... pp." Aku menutup mulut secepatnya untuk mencegah pekikan keras keluar lagi. Bisa-bisa, Mama akan muncul dari balik pintu, dan mengajukan pertanyaan banyak. Aku tidak suka.

Mata semakin berbinar saat membaca satu kalimat dari layar ponsel. Demi apa? Penulis idolaku akhirnya menyetujui untuk kolaborasi bersama.

Allah, apa ini mimpi?

Aku kepalang senang. Guling kanan, guling kiri, tengkurap, pukul tempat tidur, dan cengengesan sendiri. Apa ini mimpi? Kalau benar mimpi, jangan bangunkan aku!

"Chia? Kamu kenapa, Nak?"

Senyuman lebar memudar. Aku menoleh ke arah pintu cokelat yang masih tertutup.

Tuh kan! Ini gara-gara teriak tadi nih!

Aku mendesah lelah sebelum menurunkan kaki dari tempat tidur. Membuka pintu adalah pilihan terbaik.

"Nggak papa kok, Ma," jawabku setelah pintu terbuka lebar.

"Oh ...." Mama tersenyum. "Mama kira ada apa tadi."

Aku menyunggingkan senyum dengan pandangan teralih ke lantai. Kaki mulai bergerak gelisah, ingin segera beranjak dari sini, lalu masuk lagi ke dalam kamar.

"Papa mau ajak kamu bicara. Turun, yuk?"

Papa ingin mengajak bicara? Tumben. Biasanya lelaki tua itu akan menyampaikan pesannya pada Mama. Ia kan tidak ingin bertemu anak bungsunya, tetapi selalu membangga-banggakan anak sulungnya. Menyebalkan.

"Iya, Ma." Sayangnya, Mama sudah mengajarkan sedari kecil untuk tetap patuh pada orang tua. Jadi beginilah keputusan yang kuambil, menemui Papa dengan rasa malas.

Di ruang keluarga yang berukuran empat meter persegi itu, tampak Papa sedang duduk di atas sofa panjang berwarna cokelat ditemani secangkir kopi dan tayangan politik. Aku mendaratkan tubuh di sofa single samping papa.

"Ada apa?" tanyaku malas. Semoga ia mengerti makna nada bicara ini, dan segera menyelesaikan pembicaraan ini. Karena di kamar, ada seseorang yang menunggu pesannya dibalas.  Aku tidak ingin ia kesal hanya karena keleletan membalas pesannya.

Papa mengangkat kepalanya. Baru kali ini aku bisa memperhatikan dengan jelas wajah gagah itu yang semakin dihiasi banyak keriput. Kantung mata pun semakin menebal.

Rasakan! Siapa suruh mementingkan pekerjaan dibanding anak sendiri!

"Papa ingin menjodohkan kamu."

"What?" Aku memekik, sangat kesal.

"Apa perlu Papa ulang ucapan Papa?"

Wtf?

"Enggak!"

"Chia ...." Mama menegur. Aku menggeleng, menjadikan wajah terkejut terlihat jelas di Mama.

"Perusahaan Papa sedang di ujung tanduk, Chia. Dan hanya kamu anak Papa yang bisa diandalkan ...."

"Oh, baru inget ternyata punya anak perempuan?" Aku mengatur napas yang memburu. Nyeri tak kasat mata di dalam dada ini membuat paru-paru kewalahan mendapat oksigen. "Suruh aja anak kesayangan Papa itu!"

Aku berdiri. Sembari menghentakkan flat shoes di lantai putih, aku berjalan cepat menuju kamar.

Aku membanting tubuh di atas tempat tidur. Lalu terisak pelan.

Dijodohkan? Tidak.

Aku sudah bertekad untuk tidak menikah sebelum target terpenuhi. Tidak akan!

Ting!

Aku beringsut mendekati gawai. Sedikit kesedihan terangkat saat melihat siapa yang mengirim pesan. Idolaku.

[ Karena ceritanya tentang bad girl, dan kamu yang mengambil sudut pandang wanita, jadi kamu harus riset banyak tentang bad girl. ]

Riset tentang bad girl?

Ini sedikit ... sulit. Mengingat aku jarang bergaul dengan jenis perempuan seperti itu. Nanti tanyakan saja pada Dianne, pengalamannya dalam berteman cukup banyak.

[ Siap, Kak. ]

***

Author's Note:
Kolaborasi bersama Fha_Risa

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro