SembILan
Kurang lebih sudah lewat beberapa jam dari waktu Adnan meninggalkan Alura begitu saja di kamar mandi. Gadis itu sama sekali tak bisa lagi memejamkan mata demi mengistirahatkan tubuh.
Setelah berganti pakaian, Alura hanya bergerak untuk mengunci pintu kamarnya agar tak ada lagi yang mengganggu dan kemudian meringkuk menahan rasa pusing serta dingin yang terus menyerang.
Hanya itu yang ia ingat sebelum memilih pergi tanpa perencanaan. Semakin lama memaksakan diri berada di rumah, Alura hanya merasa semakin tersiksa. Ia butuh bantuan.
👈👉
"Gak pulang, No?"
Lelaki berkaus basket dengan nomor punggung 23 itu berbalik setelah mencetak shoot three point sempurna dengan semangat. Padahal sejak jam tujuh malam tadi ia sudah menghabiskan banyak energi untuk persiapan turnamen basket bulan depan.
"Duluan aja, Mark," seru Jeno seraya meraup si orange kesayangan.
Lagian di luar gedung juga masih hujan deras dan tak mungkin Jeno bisa pulang saat itu. Ia lupa membawa mantel.
Lelaki berdarah bule di pinggir gelanggang kembali bersuara "Gak mau nebeng gue?"
"Terus motor gue dikemanain? Diangkut di atas mobil lo gitu?"
Mark nyengir lebar. Ia lupa jika ketua ekskul basket itu membawa kendaraan.
Jeno mendekat. "Udah santai. Ini gedung biar gue yang kunci. Lo balik duluan aja, reda dikit hujannya gue otw balik."
"Jangan over latihan. Udah jam dua belas lewat lho ini."
Kepala Jeno hanya mengangguk sekilas, lalu berlari ke tengah lapangan lagi. Tak mengindahkan ocehan Mark yang lanjut memperingatkannya agar jangan sampai sakit.
Belum lama ditinggal sendirian, rasa-rasanya Jeno mulai mengalami kejanggalan. Sorot cemas lelaki itu berpencar mengawasi gelanggang yang hanya dihuni olehnya seorang diri.
Setidaknya itulah yang Jeno yakini, walau dalam lubuk hati ia merasa tengah diperhatikan tapi entah oleh siapa.
Bulu kuduk lelaki itu meremang.
Terakhir kepercayaan dirinya memudar begitu salah satu lampu di pojok gelanggang kedap-kedip tak jelas. Kalau mau berpikir positif, mungkin itu hanya karena korslet atau kesalahan teknis lain. Tapi semua buyar ketika ekor mata Jeno tak sengaja menangkap sosok putih di pojok atas tribun yang gelap.
"Anjir! Mental gue gak sekuat itu kalau udah begini," gumamnya panik segera membereskan peralatan.
Bertukar pakaian secara terburu, secepat kilat Jeno merampas tas begitu selesai merapikan semua.
Dari gedung A lama, kaki panjangnya tergesa menuju parkiran depan sekolah. Pikiran parno super overthinking yang merasa sedang diikuti sesuatu membuat lelaki itu berulang kali merutuki kebodohannya yang menolak ajakan Mark untuk pulang bersama. Paling tidak, harusnya tadi Jeno minta ditemani ketua osisnya itu saja sampai puas latihan. Bukan malah sok hebat memilih sendirian.
"Harus tenang, kalau kelihatan banget takutnya nanti malah diketawain setan," batin Jeno tak karuan.
Gak lucukan jika tiba-tiba terdengar suara tawa yang meledeknya.
Tapi lain di hati, lain kelakuan. Hanya butuh lima menit bagi Jeno berhasil mencapai lokasi tujuan, tempat sepeda motornya terparkir.
Penjaga sekolah yang sudah hapal sosok salah satu pangeran sekolah itu terkekeh melihat kelakuan Jeno yang datang tergesa.
"Disamperin Miss. K lagi apa gimana, No? Sampai lari-larian kamu."
Hujan mulai reda, tinggal rerintik halus yang turun membasahi bumi.
Menepikan motornya, Jeno membalas guyonan satpam dengan senyum. Jujurly, harga dirinya sebagai cowok macho agak tersindir karena ketahuan takut hantu.
"Kayaknya lampu gelanggang ada yang harus diganti deh, Pak."
"Bukan harus diganti. Tapi Mas, Mbak yang di sana bosan lihat kamu tiap hari."
Lagi, Jeno kembali tersenyum.
Mungkin saja bosan beneran. Hampir tiap hari Jeno menyempatkan diri untuk latihan di luar jadwal wajib dan sering sampai malam. Beruntung saja besok weekend, jadi ia tak perlu repot untuk bangun pagi.
Hari ini ia memang kelewat malam untuk pulang. Pihak sekolah tak membatasi keberadaan murid yang tengah berlatih untuk kepentingan lomba, asal tujuannya jelas. Apalagi Jeno adalah kapten basket yang sering menyumbang piala. Tentu segala izin akan berjalan lancar.
Sehabis basa-basi, Jeno tancap gas menuju kediamannya. Namun sayang, baru sebentar berkendara tapi deras air langit kembali mengguyur jalanan ibukota.
Teringat pesan Mark dan demi menjaga kesehatannya, lelaki berjaket kulit itu terpaksa menepi di sebuah halte.
Tubuh tegap yang terbalut leather jacket itu sibuk mengibaskan air yang bertengger di bahu. Baru hendak terduduk, pandangan Jeno tersedot pada satu titik. Meski dengan pencahayaan remang lampu jalan, ia bisa mengenali sosok yang tengah terlelap dengan kepala bersandar di pojokan halte. Terdengar suara rintihan samar yang keluar dari bibir kering pucat tersebut.
"Al—lura?" gumam Jeno.
Untuk beberapa saat Jeno hanya menonton keadaan lusuh Alura.
Gadis berhoodie hitam itu terlihat gelisah sekaligus kacau. Banyak peluh-peluh sebesar biji jagung yang berkumpul di dahi, membasahi anak rambutnya yang telah lepek. Kening Alura terus berkerut-kerut tak jelas. Seperti menahan sesuatu.
Ujung sepatu Jeno menyentuh sendal jepit Alura. "Woi," panggilnya ragu. "Lo ngapain molor di sini? Gak punya rumah, ya?"
Pikir Jeno, mungkin gadis liar itu sedang mabuk makanya bisa terdampar di halte di jam yang tak seharusnya.
Namun, dugaan negatif itu terpatahkan. "Gak ada bau alkohol," monolog Jeno setelah mengendus lebih dekat.
Lagian manusia mana yang dugem pakai hoodie kedodoran, plus bersendal jepit pula. Seketika Jeno memaki pemikirannya sendiri yang suka berburuk sangka.
Telunjuk Jeno menempel takut-takut pada dahi Alura. Plester yang semula menutupi luka gadis itu telah terlepas separuh. Tergantung tak jelas begitu saja. Sampai jalaran rasa panas pada ujung jarinya menarik perhatian Jeno yang langsung mendaratkan penuh telapak tangan pada kening Alura.
"Anjir, ini anak demam."
Jeno tak tau seberapa panas tubuh Alura. Tapi yang ia yakini, gadis itu sedang tak baik-baik saja.
Lelaki itu celingukan, mencari orang lain di sekitar. Kali saja Alura bersama temannya yang sementara ini lagi pergi sebentar. Tapi sialnya tak ada siapa pun kecuali mereka berdua.
"Woi, lo bisa dengar gue?" panggil Jeno lebih lembut, menepuki pelan pipi hangat Alura. "Alura?"
Sayup-sayup mata Alura terbuka susah payah. Pandangannya mengabur, menatap siapa yang baru saja mengusik ketenangannya.
"Al... ini gue, Jeno. Bisa dengar gue?"
Gadis itu terbatuk kecil sebelum mengerang lirih. Rasa pusing kembali menghantam kepalanya.
Kesulitan berkomunikasi, Jeno berjongkok di depan Alura. "Lo sama siapa di sini? Sama teman?"
Alura menggeleng lemah, bahkan nyaris tak terlihat bergerak kalau saja Jeno tak memerhatikan baik-baik.
Gadis pucat itu ingin mengucapkan sesuatu tapi terlalu lemah. Ujungnya hanya lenguhan kecil yang mampu keluar dari bibir Alura.
Entah apalagi yang Jeno katakan, sebab Alura sudah tak fokus karena pandangannya mulai menggelap.
Kesadarannya menipis, Alura terpejam membiarkan para indra perasanya bekerja mengenali situasi sekitar. Ia masih sadar, cuma saja sudah tak lagi memiliki kekuatan bahkan hanya sekedar untuk membuka mata.
Samar, dirasakannya tubuh itu terbalut sesuatu lalu kemudian diletakkan pada permukaan yang kokoh dan terangkat mengudara. Kedua tangan dinginnya tertarik melingkar pada sesuatu yang besar. Selebihnya hanya terasa terpaan angin dan basahan dari tetes air hujan. Di balik punggungnya, ada sebuah tangan yang menjadi sangahan. Menahan agar gadis itu tak jatuh dari atas motor Jeno yang kini telah melaju membelah rintik hujan.
👈👉
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro