SaTu
"HAH?!"
Gadis berseragam putih abu-abu itu membelo kaget menatap lelaki berumur berkaca mata dihadapannya.
"PINDAH?!" pekiknya kemudian tanpa ragu. "Gak mau!"
Sosok yang sejak tadi terlihat tak acuh sambil membaca koran itu, melipat bahan bacaannya.
Wajah tegas yang membingkai sepasang mata tajam itu lebih dulu menghunus Alura ketika melayangkan tatapan protes pada sang ayah.
Gadis itu urung menyentuh roti selainya. "Papa gak bisa ambil keputusan sepihak! Harusnya tanya aku dulu!"
"Saya gak butuh pendapat kamu."
"Tapi aku yang bakal ngejalanin, Pa!"
"Kalau kamu berpikir sampai sana, harusnya kamu lebih bisa menjaga sikap, Alura!"
Bunyi denting nyaring dari bantingan sendok beradu piring terdengar bersamaan bentakan Adnan di meja makan pagi itu. Memberi respon beragam pada empat orang lain yang menyaksikan kejadian tersebut di sana.
Tepat di samping Adnan, seorang wanita mencoba menenangkan.
Tangannya terulur menyentuh pundak suaminya."Sabar, Mas. Wajar Alura kaget, salahku juga yang lupa bilang dari jauh hari soal kepindahannya."
"Terserah. Tapi intinya aku gak mau pindah sekolah!"
"Terus kamu mau jadi apa di sana, hah?!" bentak Adnan lagi. "Mau terus bergaul dengan teman-teman sampahmu itu?! Iya?!"
"Hak asuhku ada pada Mama. Jadi Papa gak berhak terlalu ngatur ak—"
Plak!
"Mas!"
"Pa!"
Tubuh ringkih yang semula berada di samping Alura bergerak memasang tubuh, seolah menjaga sang adik dari amukan Adnan berikutnya.
Mata Alura terpejam sejenak begitu lipatan koran tadi menghantamnya. Memang tak sakit, tapi cukup menimbulkan denyut ketika menyentuh luka sobek lama di sudut mulut yang belum sepenuhnya sembuh.
"Ingat, saya gak butuh persetujuan ataupun pendapat kamu mengenai keputusan ini! Cukup ikuti dan jangan buat masalah, Alura!" peringat Adnan serius. "Setidaknya pikirkan Aluna dan Tania kalau sampai kamu membuat ulah!"
Mata nyalang Alura kembali menubruk sosok Adnan.
Alura sudah bersiap membalas kalau saja saudara kembarnya itu tak menahan.
"Al... udah," ucap Aluna lembut sembari menggeleng.
"Sudut bibir Al berdarah lagi, biar Tania ambil kotak P3K sebentar."
Lirikan tajam Alura sempat mengiringi kepergian saudara tirinya yang telah menghilang menuju dapur.
Adnan tertawa mencemooh. "Lihat? Betapa merepotkannya kamu!"
"Mas, sudah!"
"Jangan terlalu manjakan dia," jengah Adnan. "Kamu, Aluna dan Tania terlalu membela. Anaknya malah makin kurang ajar, sama seperti Mama mereka!"
Mendengar itu, baik Aluna maupun Alura hanya bisa menyimpan amarah mereka.
Rahang Alura terkatup jengkel. Gadis itu mengabaikan perih di sudut mulut akibat mengigit bibirnya demi menahan emosi. Tanpa sepata kata lagi, gadis berseragam itu segera menarik tas dan bergegas pergi. Mengabaikan teriakan Adnan di belakang sana dan memilih masuk ke dalam mobil menunggu dua saudari lainnya. Kini... mereka akan satu sekolah.
Fakta yang Alura benci. Bukan benci—tapi sangat ia benci. Sangat!
Alura takut akan menyusahkan Aluna seperti dulu kalau mereka kembali bersekolah di tempat yang sama.
Jika Aluna tumbuh sebagai murid cerdas penuh prestasi, maka Alura adalah kebalikannya. Dibanding menyibukkan diri dengan belajar, belajar dan belajar yang menurutnya hanya membuat isi kepala berasap. Gadis itu lebih santai dan senang bermain. Membangun kehidupan anti membosankan versinya.
Sampai kenakalan remaja Alura semakin tak terarah ketika orang tua mereka bercerai, memisahkannya yang diasuh sang ibu dan Aluna pada Adnan yang tak lama menikahi Sandra, menambah daftar anggota keluarga dengan kehadiran Tania. Gadis yang seumuran dengan si kembar yang memilki karakter tak beda jauh seperti Aluna—alias gila belajar.
Menjadi tukang pukul, tawuran, bolos, dihukum terus-menerus, mengerjai teman dan guru, bahkan sampai nyaris membakar lab sekolah bukanlah hal baru untuk Alura. Ia senang melakukan kegiatan ekstrem unfaedah tersebut bersama teman-teman yang sama sinting seperti dirinya. Setidaknya itu cukup berguna bagi mereka, menghibur diri dari penatnya persoalan orang dewasa.
Satu tepukan terasa pada bahu Alura. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Aluna. Gadis yang berdasarkan penampilan saja sudah mencerminkan anak pintar modern itu mendengus.
"Apa?" tanya Alura malas.
"Apa?" ulang Aluna gemas. "Gak lihat kita udah sampai?"
Gadis berseragam beda itu hanya berdecak kesal. Itupun ia tau, tapi agak malu untuk keluar dan kemudian berjalan masuk ke dalam sekolah baru.
Sebab Alura baru sadar jika ia masih mengenakan pakaian dari sekolah lama karena tadi keburu emosi dan tak berniat mengganti seragam baru yang sebenarnya telah tersedia.
Tapi salahkan juga Sandra yang bahkan tak mengabarkan apa pun sebelum pengumuman menyebalkan dari Adnan.
"Kenapa? Baru sadar dengan seragam kucel lo itu?"
"Ck! Kucel mata lo, ini namanya simpel anti ribet. Beda sama seragam lo, kebanyakan lapis mirip bungkus lontong!"
"Bawel. Ayo keluar!"
"Ogah." Alura menjauhkan diri dari jangkauan ganas Aluna yang berusaha menggapai.
"Al!"
"Gak mau sekolah, Luna. Lo aja, deh. Gue kan udah pinter!"
Di luar mobil, Aluna menghela napas malas. "Buruan keluar, sebelum gue kutuk jadi batu, Al."
"Dih, emang lo emaknya Bang Malin Kundang? Lo sih cocoknya jadi Maling Kutang. Akh! Iya sakit, ampun, Aluna!"
Sebuah jeweran tak saudarawi menarik sebelah telinga Alura. Sementara gadis itu hanya monyong pasrah ketika Aluna memaksanya keluar.
Berbeda dengan Tania yang entah sejak kapan telah menghilang dalam terang tanpa pamit, apalagi repot-repot membantu Aluna mengatasi segala drama Alura.
"Oke, gue keluar. Jangan dijewer!"
Aluna tersenyum penuh kemenangan. "Gitu dari tadikan enak."
Alura meniru omongan Aluna tanpa suara dengan gestur mengejek. Hingga akhirnya berhenti karena hampir ditampol dengan totebag berisi buku.
"Galak amat, Luna. Di rumah aja lo kalem. Taunya punya khodam reog juga!"
"Ingat pesan gue tadi."
Manusia yang diomeli hanya diam. Justru terlihat asik menoel lubang hidungnya dengan jari kelingking a.k.a mengupil malu-malu.
"Alura!"
"Sstt! Apaan sih, Luna. Bentak-bentak mulu. Ingat jabatan bendahara osis lo di sini. Mending cabut sana, kayak saudara tiri lo itu!" sebal Alura baru sadar ketidakberadaan Tania.
Gadis berambut gelombang sepunggung itu memang hanya bersikap manis di depan Adnan saja. Namun, jangan harap kalau dengan Alura, terutama pada Aluna yang dianggapnya sebagai saingan garis keras.
"Janji dulu, ingat pesan gue tadi."
Kepala Alura mengangguk malas.
"Coba apa?"
"Jangan buat onar, jadi anak baik, belajar yang benar."
"Dan?"
"Dan boleh bolos kalau—akh! Sakit Luna!"
Gadis berkuncir rapi itu mendongak pasrah seraya menghirup udara sebanyak mungkin.
Sekian lama baru bertemu kembali dengan Alura, nyatanya gadis itu tak banyak berubah. Masih hobi menguji kesabaran orang.
"Yaudah, gue antar ke ruang guru sebelum ke kelas ba—"
"Gak usah. Gue sendiri aja," potong Alura dingin. "Jangan pernah libatin diri lo atas urusan gue di sini, Lun. Sesuai perjanjian, kita harus jadi orang asing selama di sekolah."
"Al...."
"Lo harus setuju." Mata Alura melirik sekitar mereka yang ternyata tengah memerhatikan. Mungkin heran dengan siapa Aluna berbicara. "Deal or... gue gak mau sekolah sekalian."
"Al, bercandanya gak lucu."
"I'm not joking, darl. Seriously. Choose one."
"Al!"
"Oke. Gue tau lo pasti jawab deal. See you at hell, Beb!"
Neraka yang di maksud tentulah rumah kediaman Adnan yang berisi Sandra serta anak baru papa mereka.
Tadinya Alura tinggal bersama ibu kandung mereka. Namun karena satu lain hal, terpaksa ia diurus Adnan dan mereka tinggal bersama keluarga baru sang papa.
Langkah pasti Alura bergerak cepat meninggalkan Aluna yang masih terdiam di tempat.
Murid berprestasi itu tercenung menghantar kepergian punggung sempit Alura yang kemudian menghilang diujung belokan lorong.
Gadis liar itu sempat tersandung kecil oleh kakinya sendiri yang menambah ke khawatiran Aluna.
"Hhhh... lo jalan aja masih suka remedial, Al. Tapi sok paling mandiri sedunia," desah Aluna. "Padahal ruang guru bukan arah sana."
👈👉
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro