Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

LimA

Pukul tujuh lewat lima. Masih ada dua puluh lima menit lagi sebelum bel masuk berdering.

Alura begitu semangat memasuki kelasnya demi menemui Mia. Dari semalam-semalam ia lupa karena keasyikan melepas rindu bersama teman-temannya dari sekolah lama.

Gadis yang lagi-lagi hanya sudi mengenakan kemeja dan rok sebagai seragamnya itu mendesah malas saat mendapati Raksa tengah duduk santai di atas mejanya.

Menyadari kedatangan yang punya lapak, bukannya beranjak pergi, Raksa hanya melirik sekilas dan lanjut mengobrol bersama Juna yang duduk di bangku sebrang.

"Satu tambah satu sama dengan?" tanya Raksa.

"Aku dan kamu, Mas," jawab Juna dengan nada malu-malu (in).

"Dan jadilah?"

"Kita, Mas," sahut Juna lagi.

Masih dengan nada yang sama dan ekspresi menggelikan, seperti banci perempatan yang tengah nego harga sama pelanggan.

Manja-manja menjijikkan.

Lah, kenapa Alura tau?

Ya... karena gadis itu beserta gengnya dari sekolah lama terkadang suka mengganggu banci perempatan kalau gabut lagi nunggu giliran untuk turun balapan.

Tidak, Alura tidak bisa balapan.

Boro-boro mengendarai sepeda motor menggunakan kecepatan tinggi, naik sepeda roda tiga saja pun ia berakhir nyungsep ke selokan sewaktu Lucas mengajari. Jangankan itu, kalau mengutip kata Aluna. Adiknya itu jalan saja masih remedial alias sering tersandung kaki sendiri, bagaimana ceritanya bisa naik motor.

Tapi walau begitu, Alura senang saja kalau lihat orang balapan. Apalagi jika sampai ada yang jatuh terus guling-guling di jalanan, pasti langsung ditertawakan oleh Alura sambil berseru, ''makanya gak usah sok balap-balapan, dodol!! Bagus nonton aja kayak gue, sini nyemil kuaci!"

Dengusan Alura terdengar.

Tas yang hanya berisi dua buku kosong dan satu pulpen miliknya menghantam punggung lebar Raksa.

"Minggir."

Lelaki manis yang memiliki banyak tahi lalat di wajah itu tertawa jenaka. "Galak amat sayangnya Raksa."

"Waduh... bau-bau congor buaya, nih. Ingat Arche, Sa. Gue cepuin, ya?" ancam Juna yang semangat menyebut gebetan Raksa.

Mata besar Alura menelusuri sekitar. Tak ditemukannya sosok manusia yang dari awal ingin dicari, Mia.

"Cari apaan, Al?" kepo Juna.

"Kalau cari jodoh, tinggal belokkin kepala lo ke sini, deh." Muncullah wajah memuakkan Raksa di sana yang berakhir ditimpuk Juna menggunakan tas Alura.

Mengabaikan keabsurdan kelakuan dua orang itu, Alura bertanya, "lihat Mia gak?"

"Si cupu? Entah... mana peduli gue," suara Juna malas.

Raksa mencibir, "mana peduli kepala kau! Tapi semalam ditebengin pulang juga, dasar cicit curut!"

"Lah, terpaksa! Ke ingat nenek dia baik suka bagi-bagi makanan ke rumah gue."

"Iya deh yang kaum duafa," ceplos Raksa.

Alura melotot sebal. Kebisingan Juna dan Raksa sewaktu berbicara benar-benar pantas masuk kategori polusi suara.

Ngomongnya pakai acara tarik urat.

Gadis itu menoleh. "Kalian berdua kalau mau ribut, mending cabut sana!"

"Lah, tempat duduk gue di sini. Mau lo suruh cabut ke mana lagi?"

"Lah, kelas gue di sini. Mau lo suruh cabut ke mana lagi?"

Bola mata Alura memutar gemas. Ingin rasanya menampol pipi Juna dan Raksa yang tengah ber-high five girang karena berhasil mengerjai gadis emosian tersebut.

Masih duduk di atas meja Alura, Raksa dengan jahil mengusak kepala teman lamanya.

"Kelamaan main sama badak bernama Lucas jadinya ya gini, gampang ngamuk."

"Ck! Tangan!"

"Iya... deh iya. Jangan galak-galak kenapa, nanti gue digaplok sama—" Raksa menundukkan kepala demi membisikkan sesuatu pada Alura. "Nathan, karena berani gangguin ayang bebnya."

Kedua alis Raksa naik turun menggoda, sedangkan Juna hanya menonton penasaran interaksi bisik-bisik kedua manusia dihadapannya.

Belum sempat Alura mengeplak ubun-ubun Raksa, seruan Juna cukup membuatnya ingin berubah menjadi kutu detik itu juga agar bisa melompat kabur tanpa diketahui siapapun.

"Wes... Pak Bos Jaemian Dinathan Pangestu! Tumben main ke kelas pojok," heboh Juna yang langsung bertos ria menghampiri teman sekomplotannya.

"Anaknya nyamperin, tuh." Raksa terkekeh puas.

Tubuh besar lelaki itu masih menyembunyikan keberadaan Alura dengan baik di sana.

"Butuh bantuan gak?" tawar Raksa. "Sini peluk gue buat sembunyiin muka burik lo."

Satu cubitan melayang pada lemak pinggang manusia usil itu, menimbulkan lengkingan suara mengaduh yang mengundang perhatian Nathan.

Ia tertegun untuk beberapa waktu, saat matanya berhasil bertemu tatap dengan sorot tajam gadis yang sudah lama tak ia temui. Alura.

"Nath, cew—aaaaaaakh! Sakit banget, Alura setan!"

Cepat-cepat gadis yang setelahnya mendapat sumpah serapah dari bibir Raksa itu keluar dari kelas. Kakinya terayun tak punya tujuan, terus berjalan menuju pojok bangunan lantai 2. Di sana sepi.

Merasakan tarikan pada ujung seragam berhasil menghentikan Alura. Sebuah paper bag menubruk dadanya tanpa aba-aba.

"Apa-apaan lo?!"

"Ambil, dari Aluna—cewek yang lo tolong kemarin. Ucapan terima kasih katanya," jelas Jeno datar yang kemudian segera berbalik meninggalkan.

Alura mendesis. "Ish! Jenong jelek!"

Tak lupa, bibir pucat sedikit kemerahannya sigap mengeluarkan segala sumpah serapah untuk Jeno yang telah menghilang.

Jari tangan Alura segera memeriksa isi paper bag. Terdapat sebuah sticky note di samping wadah bekal.

Pesan Aluna.

Seperti biasa saudarinya telah menyiapkan makan siang yang selalu Alura tolak. Berhubung pagi tadi mereka tak berangkat sama seperti sebelumnya karena Alura dijemput Lucas, Aluna sengaja menitipkan pada Jeno agar adiknya menerima tanpa sempat menolak.

Mau tak mau Alura mengalah, lumanyan irit uang jajan juga.

Setidaknya kalau beli makanan di kantin, sehari ia bisa habis hampir seratus ribu sendiri hanya untuk dua kali makan, lain jajanan ringan.

Yah... makanan di sini memang mahal karena rerata dihuni anak kaum berduit.

Hampir melangkah pergi, samar suara dari gudang belakang terdengar. Seperti teriakan kesakitan yang diikuti kegaduhan benda jatuh.

Memang dasarnya memiliki jiwa kepo tak tertolong, Alura gagal menahan kaki jenjangnya untuk tak memeriksa apa yang terjadi.

"Alexa?" lirih Alura setelah mengintip dari celah pintu.

Gadis itu baru saja terdorong hingga terduduk di lantai. Tak lama ada jaket ungu tartan yang menutupi kepala Alexa, sebelum dilanjutkan dengan sebuah tas yang melayang menghantamnya.

"Ugh, pasti lumayan rasanya," ringis Alura spontan.

Rasa senangnya berubah penasaran dengan siapa yang berani memperlakukan Alexa sedemikian rupa.

Walau belum mencari tau siapa Alexa, tapi Alura yakin bahwa gadis berwajah angkuh super menyebalkan dan kedua teman anehnya tersebut pastilah sejenis komplotan perundung di sekolah.

Tapi kenapa sekarang malah Alexa yang disiksa?

Alura menggeser posisi untuk mengintip lebih banyak. Mencari tau dalang yang menganiaya Alexa.

Belum juga ia balas dendam pada Alexa, tau-tau sudah ada saja yang mewakili rencananya. Kalau gitu sih, karena Alura baik. Anggap saja ia sudah membuat perhitungan.

Sebab mau membuat ulah pun, Alura harus mikir seribu kali agar tak menimbulkan masalah serius.

Bisa habis ia diomelin Aluna.

Hanya saja, lagi enak-enak memuaskan jiwa kepo. Sebuah tangan membungkam mulut Alura dan menggendong tubuh ramping itu menuju lantai 4 lewat tangga ujung yang memang sangat jarang digunakan.

"Woi—Nath—Nathan?!"

Lelaki itu melirik sekilas pada Alura yang tercengang di atas gendongannya.

Gadis itu bergerak rusuh di bahu Nathan, meronta minta dilepaskan.

"Turunin gue, sialan! Lanjang bang–"

Plak!

"Berisik, Beb."

Tangan Nathan tanpa ragu menampar belakang paha terbuka Alura yang membuat gadis itu terdiam sebentar sebelum berakhir menjambak rambut lebat Nathan penuh emosi. Masa bodoh kalau sampai rambut lelaki itu rontok semua.

Tapi Nathan tak peduli selain membawa Alura demi berbicara empat mata dengan gadisnya.

"Nathan lo tuli?!"

"Enggak sayang. Sabar sebentar kenapa, nanti kita jatoh ini."

"Bodo amat, anjir. Turunin gue!"

Alura kembali bergerak heboh.

Mau menurunkan diri sendiri, tapi rok bagian depannya malah nyaris tersingkap. Serba salah. Jadilah ia bersusah payah kembali menyarap naik ke atas bahu Nathan.

"Jaemian Dinathan Pangestu, turunin gu—akh. Anjrit! Sakit goblok!"

Nathan menarik senyum simpul. "Tapi lo yang minta diturunin. Tuh, udah gue kabulin."

"Ya gak dilempar ke lantai jugalah, sialan! Lo pikir gue karung beras?!"

"Makin bacot aja lo. Gue cium juga nih lama-lama."

Satu tendangan berhasil Alura berikan pada tulang kering mantan kekasihnya tersebut. Nathan sampai berputar-putar tak jelas akibat menahan nyut-nyutan yang terasa.

"Lo—"

"Apa?! Salah orang kalau masih anggap gue Alura si cupu yang tergila-gila sama lo. Dia udah lama mati! Jadi lebih bagus berhenti gangguin gue. Anggap kita gak pernah kenal."

Paper bag yang sempat tergeletak di lantai kembali Alura ambil. Ia bergegas akan pergi, kalau saja Nathan tak menahan.

"Gak bisa gitu, Al. Kita perlu bicara."

"Talk to my ass, brengsek!"

"With my pleasure," jawab Nathan memasang seringai nakal.

Langsung saja jinjingan di tangan Alura melayang bebas menimpuk wajah mesum Nathan. Kemudian gadis itu melanjutkan pergi begitu saja.

"Yaudah kalau gak mau bicara sekarang, masih ada hari esok."

Gadis itu berdecak sebal. Tau betul sifat kepala batu Nathan yang pasti akan terus mengusiknya nanti.

Alura berbalik dongkol. "Gue gak bisa bahasa binatang buat komunikasi sama lo!"

👈👉

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro