Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

enaM

Jika ada yang bertanya, apa rutinitas wajib yang paling Alura benci di setiap pagi hari. Pasti gadis itu tak akan sungkan menjawab, "sarapan bareng kalian itu memuakkan."

Adnan menghela napas, mencoba sabar.

Seraya fokus membaca berita pagi ia berucap setenang mungkin, "kalau kamu gak bisa ikuti aturan di rumah ini, silakan angkat kaki."

"Bagus. Itu yang aku mau."

"Apa itu yang diajarkan Mama kamu, Alura?!"

Decihan Alura mengudara. "Gak usah bawa-bawa Mama. Sadar diri aja, Papa juga gak becus didik aku."

Adnan mendongak nyalang. Ia begitu kehilangan kata-kata tiap kali berdebat si bungsu.

"Jaga sikapmu. Kalau gak mau saya usir!"

"Usir aja. Aku malah senang. Pergi dari rumah yang sebelas dua belas sama neraka in-"

Byur!

"Pa!" Aluna terkesiap saat Adnan menyiram segelas air ke arah Alura.

Dari arah dapur, Sandra mengintip bersama Tania. Wanita berapron bunga itu mengode anaknya untuk ke meja makan lebih dulu.

"Malesin banget, Ma," rengek Tania pelan yang langsung menerima plototan galak Sandra.

Jujur ia paling muak kalau disuruh berakting layaknya saudari tiri yang penuh perhatian kepada saudari kembarnya. Kalau bukan karena paksaan Sandra, Tania juga tak mau pusing ikut campur dalam hubungan rumit kakak beradik penuh masalah itu.

"Astaga, Alura!" Tania mulai memainkan peran. "Sebentar aku ambil handuk."

Secepat kilat gadis bermata monolid itu menghilang. Sementara jeda berikutnya muncullah Sandra dengan wajah kaget yang di buat senatural mungkin, memarahi Adnan dan membela Alura yang justru kian emosi.

"Ya ampun sayang, ini handuknya." Sandra mencoba mengeringkan wajah basah anak tirinya.

Namun, gadis basah kuyup itu menepis kasar. "Gak usah sok baik, sialan! Andai lo gak kegatalan godain suami orang, keluarga gue gak akan kayak gini!"

"ALURA!"

"Kenyataan, Bos!" kekeh Alura membalas. Ia segera mengambil tas dan memilih angkat kaki. "Minggir!"

Tania mengaduh lirih ketika bahunya tertabrak sadis. Tangan gadis itu terkepal menahan kesal begitu mendengar kalimat hinaan yang Alura lontarkan untuk ibunya yang kini menangis. Yah, walau Tania tau Sandra hanya mendramatisir keadaan. Memperkeruh kondisi demi memperjelas kelakuan liar dari anak bungsu Adnan.

Baru beberapa langkah Aluna hendak menyusul adiknya, Adnan mengerang kesakitan memegangi dada.

"Ini salah kamu juga Aluna. Sudah gagal menjadi kakak!"

👈👉

"Minggir!"

"Akh!" aduh Raksa terplongo. "Buset ini cewek, masih pagi udah ngamuk aja kayak banteng datang bulan," lanjutnya.

Baru juga ia mau masuk ke kelas, tiba-tiba Alura datang dan menabrak kasar hingga terhuyung menabrak pintu di sampingnya.

Meski tubuh Alura sebelas dua belas seperti orang kurang gizi, rupanya tenaga gadis berwajah jutek itu tak bisa dianggap remeh.

Tak sampai di sana, sewaktu Raksa baru saja menghantarkan bokong seksinya di atas tempat duduk tercinta. Tanpa aba-aba, wajah seolah ingin menelan orang milik Alura tertoleh menghadap Raksa yang auto kaget.

Lelaki itu spontan memundurkan diri.

Pernah pengalaman, ketika Alura bad mood dan Raksa sedang didekatnya. Tak ada angin, tak ada hujan ia jadi korban yang mendapat hadiah bogem mentah. Alasannya, karena Alura lagi kesal butuh pelampiasan dan muka Raksa nyebelin. Padahal lelaki itu hanya diam duduk tak jauh dari gadis tempramental tersebut.

Untung teman dekat, jadi Raksa sabar saja waktu itu.

"Ap-apa, Al?" gagap Raksa mulai panik. Matanya bergerak mencari bala bantuan.

"Sialan, mana Juna belum datang pula," batinnya mencari kambing hitam.

Bibir Alura maju beberapa senti.

Jika dalam kondisi normal, yakinlah Raksa pasti akan mencubit gemas pipi temannya itu. Tapi beda cerita untuk sekarang, bisa-bisa alamat dikirim ke UKS dia yang ada.

"Gue lagi kesal, Sa!"

"Ya-ya terus, gu-gue harus ngapain biar lo gak kesal?"

"Cariin tumbal! Dalam sepuluh menit," jawab Alura serius. "Kalau gak dapat... lo yang habis."

Apa Raksa sedang di gurun sahara? Kenapa tenggorokannya tiba-tiba terasa kering.

Susah payah lelaki berkulit tan itu menelan air liur untuk membasahi. "Lo-lo kenapa mirip Ratu Pantai Selatan, njir. Mainannya minta tumbal."

"Raksa Atmadja."

"Iya... iya Alura Putri Adnan. Ini gu-" omongan Raksa terhenti.

Sorot mata Alura benar-benar seakan ingin mengulitinya detik itu juga.

Raksa baru sadar kalau ia telah salah bicara. Gadis itu paling anti mendengar nama panjangnya. Putri Adnan-Alura benci. Alasan mengapa selama ini name tag-nya hanya bertuliskan Alura P A dan ketika perkenalan di mana pun hanya menyebutkan nama depan.

"Sorry, Al!" Raksa kabur secepat kilat.

Namun sesaat kemudian Raksa kembali melongokan kepala ke dalam kelas. Menatap Alura yang terdiam di tempat.

"Samperin aja tumbal lo, Al. Di MIPA 3, nama belakangnya Pangestu!" sorak Raksa sebelum benar-benar melarikan diri.

Kesal memang kesal, terutama akibat Raksa menyebutkan nama lelaki yang tega menyiramnya dengan air saat di meja makan tadi. Di bandingkan marah, Alura lebih kecewa dengan sifat Adnan yang selalu kasar padanya dan kerap menyalahkan orang lain karena ketidakbecusan sebagai kepala keluarga.

Baju gadis itu masih setengah kering, ia memang tak sempat berganti seragam. Namun, Alura abaikan dan memilih menenggelamkan kepala dalam lipatan tangan di atas meja. Menyembunyikan wajah masamnya dari penghuni kelas yang entah apa persoalannya senang sekali menatap Alura. Entah untuk sekedar mengagumi paras gadis kasar itu atau diam-diam menggunjing di belakang.

Sebuah sentuhan lembut mampir di bahu Alura.

"Al, kamu sakit?"

Dari suaranya, ia kenal siapa yang berbicara.

Gadis itu menoleh ke samping kanan dari posisi yang sama, melihat Mia yang salah tingkah karena menerima tatapan sengitnya.

"Ma-maaf, Al. Aku-"

"Bisa diam?! Mau gue telan?! Gue lapar, nih."

"Lah kenapa curhat?" sadar Alura membatin.

Tapi memang kenyataannya ia sedang lapar berkat tak sempat menyentuh sarapan dan pergi dalam keadaan basah kuyup, ssperti anak ayam kecemplung di got. Terlebih saat perjalanan ke sekolah tadi juga gerimis tipis, makin-makin mengusik cacing perut Alura yang minta diisi.

Melihat mulut manyun Alura, kontan saja Mia terkekeh kecil sebelum ia kembali minta maaf karena diplototi galak.

"Ini makan, kalau kamu lapar." Sebungkus roti tersodor mendekati wajah Alura yang masih di atas meja. "Kamu mau susu juga?"

Kepala gadis itu mengangguk kecil.

Menggemaskan menurut Mia yang tersenyum tipis.

Si maniak warna ungu itu hanya memerhatikan setiap pergerakan Alura yang menyantap sarapannya dalam damai. Tanpa kata dan mengabaikan keberadaan Mia.

Selesai menghabiskan semua pemberian teman sekelasnya itu. Alura menoleh cuek. Perasaannya sedikit membaik ketika perut kenyang.

"Thanks, nanti makan siang bareng. Gue traktir."

"Eh, ga-gak perlu-"

"Gue gak butuh jawaban lo, cupu."

Alura melipat bungkus plastik juga kotak susu yang sudah kosong, hendak membuangnya kalau saja Mia tak mengambil alih.

"Biar aku aja, Al."

Tak siap dengan kontak fisik tiba-tiba, reflek Alura menarik diri kembali. "Apaan, sih lo?! Gue bisa sendiri kali!"

"Maaf." Mia tertunduk takut.

Sedikit memberikan rasa bersalah pada Alura yang sadar jika perangainya terlalu kasar.

"Ck! Lo nyebelin banget, sih, Mia! Kan harusnya gue yang minta ma-"

"Alura!"

Kepala si punya nama spontan tertoleh ke ambang pintu, tempat Juna menampilkan diri. Langsung saja menggundang seluruh perhatian siswa di kelas.

Keadaan lelaki itu sangat berantakan. Kuyup-mungkin karena basahan hujan di luar sana yang mulai menderas, sekaligus terdapat lebam samar di beberapa daerah wajah. Seragam putihnya pun telah bercampur noda merah juga hitam, percampuran darah dan kotornya tanah.

"Al—Raksa! Bantuin gue!"

👈👉

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro