Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

EMpaT

Kalau bukan karena dibangunkan tukang kebun, mungkin lagi-lagi Alura akan melewatkan kelasnya.

Cukup kenyang menyantap susu dan roti pemberian Mia begitu mudah menghantarkan gadis itu memasuki alam mimpi sejenak. Ah—jangan lupakan sepoi angin yang berperan besar mengundang jiwa molor Alura. Mungkin setidaknya ia harus berterima kasih pada si cupu Mia nanti.

"Wait. Toiletnya rusak, cari yang lain aja." Seorang gadis berambut bob menahan Alura yang berniat masuk.

Sebelah alis Alura terangkat curiga. Rusak dari mana, seingatnya tadi masih bagus-bagus saja.

"Kalau rusak, terus kalian berdua ngapain jaga di depan gini?"

Gadis lain yang memakai bando kucing garong maju mendorong bahu Alura. "Gak usah banyak tanya, bagus cabut kalau gak mau kena masalah!"

"Gue kebelet, anjir! Mending lo berdua yang cabut."

"Lo berani sama kita?!"

Mata Alura membola malas. "Lo bukan Tuhan yang harus gue takuti!"

"Wah, nyolot banget ini anak!" geram si gadis berbando.

Gadis berambut bob mengkode. "Hajar ajalah!"

Menanggapinya, Alura hanya tersenyum tipis. "Siap-siap gue kirim ke UKS lo berdua," batinnya tertawa.

Namun, belum sempat kedua perempuan aneh itu meributi Alura, seseorang keluar dari dalam toilet. Dengan wajah angkuhnya langsung menatap Alura dari atas ke bawah.

"Kenapa ribut banget?" tanyanya.

"Ini, Lex. Ngotot mau masuk, udah dibilangin jug—"

Sekilas Alura membaca name tag yang tersemat di bagian kanan. Alexa Anasthasia.

Gadis berambut hitam panjang bergelombang heboh bak selebgram itu mengangkat sebelah tangan guna memotong penjelasan temannya.

Kaki jenjang Alexa mendekat. "Silakan dipakai, gue juga udah selesai. Alura P A," ucapnya membaca name tag Alura lalu tersenyum penuh makna.

"See you soon bitch."

"Gue suruh cabut, bandel sih."

Ketiga orang itu berlalu meninggalkan toilet yang tak diambil pusing oleh Alura yang beranjak masuk.

"Dasar sinting. Perasaan banyak amat manusia aneh di sekolah ini, kok si Luna bet—ALUNA!"

👈👉

"I'm fine, Al. Lo bilang kita harusnya gak saling kenalkan kalau di sekolah. Sana masuk kelas aja."

"Diem lo."

"Al," panggil Aluna lembut. Tangan dingin gadis pucat itu merayap menyentuh punggung tangan Alura. "Gue baik-baik aja. Ini buktinya udah sadarkan?"

Rahang Alura mengeras menahan emosi. Kalau saja ia tak terburu membawa Aluna yang ditemukannya terkapar pingsan di toilet untuk dibawa ke UKS, pastilah si perempuan rambut bob, bando kucing garong dan terutama Alexa sudah ia habisi.

"Siapa yang berani buat lo begini?"

"Siapa apanya? Gak ada siapa-siapa. Lo tau sendiri gue emang suka pingsan tiba-tiba," bohong Aluna.

Menutupi kenyataan jika dirinya baru saja menjadi korban perundungan Alexa. Kepalanya masih berdenyut neyri akibat terbentur pinggiran wastafel dari ulah teman sekelasnya itu.

"Bagus. Segitu remehnya lo sama gue, Lun?!"

"Bicara apa sih, Al?"

"Alexa. Gue sempat lihat dia keluar dari toilet. Terus dua perempuan aneh yang jagain di depan. Satu yang rambut bob jelek, satu lagi pake bando kucing garong. Gue ketemu mereka bertiga!"

Gadis pucat itu hanya mampu membuang pandang ke arah lain, menghindari tatapan amarah Alura.

"Kenapa diam? Fine, kalau gak mau kasih tau. Gue bisa cari sendiri, model komplotan norak begituan sih kecil."

"Al. Lo janji buat gak bikin masalah selama di sini," ingat Aluna.

"Biarin, lo aja bohong sama gue."

"Gak gitu, Al. Tapi-" Aluna bungkam. Ia tau dirinya payah dalam tipu-menipu.

Belum lagi Alura kembali mencecar pernyataan introgasi, terdengar suara ricuh dari arah pintu yang menanyakan keberadaan Aluna pada dokter jaga. Tak lama seseorang datang tergesa, menyibak tirai putih yang tadi menutupi.

Pupil mata Alura membesar sejenak mendapati siapa yang datang. Laki-laki yang sudah menabrak dan menimpanya dengan tumpukan buku. Si jaket kulit. Tapi kali ini lelaki itu sudah tak lagi mengenakan jaketnya.

Rasanya mulut Alura sudah gatal hendak menyemprot lelaki kurang ajar itu. Tapi tertahan begitu melihat wajah cemas lelaki itu yang menatap Aluna.

"Luna," panggilnya khawatir.

Lelaki berperawakan jangkung tegap itu menyentuh lembut kening Aluna, guna memeriksa suhu tubuh.

"Aku baik-baik aja, Jeno. Udah ditolong juga sama Alura."

"Baik apanya lo pingsan—"

Sosok yang dipanggil Jeno itu menoleh pada sosok di sisi sebrang sana. Ia baru sadar kalau ada orang lain.

"Lo lagi," lirih Jen malas. "Lo siapa, sih? Muka lo terus yang gue lihat dari pagi!"

"Heh Jenong! Harusnya gue yang bicara begitu!" sembur Alura akhirnya.

Sementara yang punya nama, mendelik sebal karena namanya telah diganti seenak jidat.

"Jenong kata lo?!"

Mata Alura membola malas. "Iya. Lo tuli? Lagian udah jelas tadi dia sebut nama gue. A-L-U-R-A dibaca Alura. Dasar congek!"

Jeno mendelik tak terima. Sementara Aluna segera menyentuh lengan lelaki itu agar tak membalas ucapan adiknya. Meski sebenar Aluna tengah dilanda kebingungan saat melihat interaksi tegang urat dari Jeno dan Alura yabg diyakininya baru bertemu hari ini.

"Maksudnya-"

Alura melirik Aluna sekilas. Mereka harus berperan tak saling mengenalkan?

"Gue Alura, anak baik budi, rajin menabung dan agak sombong yang lo tabrak tadi pagi lalu siangnya mau ke toilet. Eh... nemu ini manusia satu lagi tiduran di lantai. Yaudah daripada halangi jalan, gue bawa aja ke UKS. Gitu ceritanya."

Mulut Jeno sudah terbuka hendak bersuara, tapi lagi-lagi batal karena Alura mendahului.

"Hah, makasih? Iya sama-sama. Gue tau gue emang baik. Udah baik, cantik pula. Lo jangan terpesona. Oke."

Aluna mengulum senyum demi menahan tawa begitu melihat wajah Jeno yang tengah kesal akibat kelakuan absurd Alura.

Gadis itu bangkit dari duduk. "Karena udah ada lo-manusia aneh lainnya yang gantiin ini anak, bagus gue mau cabut aja."

"Pergi yang jauh!" desis Jeno menahan emosi.

Entah kenapa melihat wajah songong Alura begitu mudah mematik amarah dalam diri Jeno. Ia sendiri pun tak tau alasannya selain kejadian pagi lalu. Ketika dirinya terburu waktu untuk mengantarkan kumpulan buku ke ruang guru, justru harus bertabrakan dengan Alura.

Bukan tanpa sebab Jeno marah. Adegan tabrak menabrak demi mengundang perhatian lelaki itu sudah modus lama yang sangat Jeno benci.

Norak bin kampungan menurutnya.

Decakan tak suka kompak terdengar dari mulut Alura dan Jeno yang lagi-lagi saling melempar tatapan sengit.

"Dan lo-siapa tadi namanya?" Alura menujuk kakaknya menggunakan dagu. "Ah lupa lo siapa, gak penting juga. Intinya gue pamit, deh. Bye."

"Makasih banyak ya, Alura."

Tangan Alura terangkat cuek tanpa berkata apa pun sebagai tanggapan.

Di balik punggung sempit itu, Alura tersenyum tipis. Dalam kepalanya telah menyusun rencana terbaik untuk melakukan sesuatu yang ia suka.

"I'm coming Alexa," lirihnya berbelok menuju kelas.

Tujuannya adalah Mia.

👈👉

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro