dua PULUH satu
"Jadi bukan cum-argh! Lukisan Alun-argh! Pelan, Ren! Sakit bego!"
Tak mengindahkan ringis kesakitan gadis di depannya, Renza malah gemas menekan kapas beralkohol ke atas luka gores di pinggiran dahi Alura.
Bersyukur sudah jam pulang sekolah dan UKS hanya diisi oleh komplotan mereka. Sehingga keributan membahana itu tak sampai mengganggu orang lain.
"RENZA! SAKIT!"
"Berisik, Al. Nanti Raksa kebangun."
Bibir gadis itu mengerucut sebelum membalas perkataan Juna, "halah. Dia tidur mirip orang mati gitu mana mungkin gampang bangun."
"Orangnya di sini masih sadar ye bestie," gumam Raksa bersuara dengan mata terpejam.
Sedari tadi ia gelisah menunggu kabar temannya itu. Harap-harap cemas Alura kena sanksi berat setelah melukainya, meski terjadi tanpa sengaja sewaktu Raksa berniat melerai pertengkaran.
Beruntung Alura tak kena hukuman apa pun. Selain karena lelaki berkulit tan itu merasa tak dirugikan, juga mereka di-backing kuat oleh Jonathan. Bahkan kepala keluarga Atmadja itu sangat membela Alura selayaknya putri kandung.
Satu-satunya pihak yang dirugikan hanya Alexa yang sengaja menumpahkan cat ke lukisan Aluna yang terekam cctv tersembunyi studio. Sedangkan Alura juga terlihat setelah kepergian Alexa sebelum akhirnya mereka berkelahi.
"Lo yang hapus rekaman gue 'kan, Ren?"
Pemuda berwajah tenang itu tak niat menggubris. Tangannya lihai mengoles tipis salep ke dahi Alura secara perlahan.
"Gue yang hapus. Tapi atas perintah Renza," ceplos Juna dari sebrang bed. "Kalau gak gitu mana mungkin lo bebas dalam damai, Al."
"Lagian lo ngapain kurang kerjaan tiap pulsek ke studio cuma buat ngintipin lukisan Aluna, hah?! Naksir lo sama dia?!"
Alura hanya bisa cengengesan menanggapi omelan ketua kelasnya.
"Sorry... habisnya lukisan dia bagus," cicit Alura merasa bersalah. "Tapi lo gak kena hukum apa-apa 'kan, Ren?"
"Kena SP, doang."
"Hah? Loh? Kok?" Kepala Alura tertoleh pada Raksa yang terpejam. "Kenapa cuma gue yang aman, Sa?"
"Jangan tanya dia. Ini hukuman gue karena lalai sebagai ketua ekskul sekaligus panitia."
"Bukan salah lo, Ren! Gue yang nakal main ke sana tanpa izin."
Renza terkekeh kecil, mengusak pucuk kepala Alura. "Santai, woi. Ini cuma dikasih surat peringatan, bukan mau dihukum mati."
"Tapikan-"
"Udah diem. Sini gue tempel plaster lukanya."
Alura menurut dengan wajah tak enak. Lagi-lagi masalah yang ia timbulkan kembali menyusahkan pihak tak bersalah. Renza, Aluna, dan Raksa. Mereka harus menanggung kerugian atas tindakan yang sudah ia perbuat.
Benar kata Mamanya, Alura memang anak pembawa sial untuk orang di sekitar.
"Maaf. Maafin gue," lirih Alura.
"Astaga, Al. Gue malah serem lihat lo melow begini," kata Renza. "Udah stop, gak usah dibahas lagi, Oke?"
Gadis yang masih menunduk lesu itu tetap diam tanpa merespon.
"Alura..., dengar yang barusan gue bilang?" Dagu gadis itu terangkat naik begitu Renza menyentuh.
"Ren...,"
"Kita itu teman, Al. Gue dan lain sama sekali gak keberatan lo bikin susah. Ya kan, guys?"
"Yoi, bestie," sahut yang lain semangat.
Senyum manis Raksa mengembang menatap teman lamanya, "heh jelek! Udah biasa sangar, gak usah belagak mendayu melow gitu. Geli gue, Al."
Kalau tak ingat Raksa sedang terluka, mungkin Alura sudah menendang lelaki di sampingnya sampai terguling dari atas bed.
Tanpa sadar, hati satu-satunya gadis di sana menghangat. Senang rasanya memiliki teman-teman yang peduli secara tulus.
Dulu di sekolah yang lama, tak banyak yang mau bergaul dengan Alura.
Hanya ada Raksa, Lucas, dan Hendery. Selebihnya memusuhi, menganggap Alura nakal dan urakan karena keseringan main dengan anak laki-laki sjaa. Ditambah setelah memacari Nathan, rasanya hampir satu sekolah para gadis di sana tak senang akan keberadaan Alura.
Bunyi pintu UKS terbuka menggundang perhatian Alura yang reflek melongokkan kepala ke arah sana.
Netra cokelat tua gadis itu langsung bertemu dengan sorot khawatir milik Nathan yang tergesa menghampiri bed pasien.
"She's fine, Nath. Malah dari tadi adu bacot mulu sama Juna," jelas Renza.
"Fine? Fine dari mana?!" Tangan hangat lelaki itu menangkup lembut kedua pipi Alura. "Ini anak sampai luka-luka gini!"
Mata besar Nathan menelisik cemas, memerhatikan sedikit goresan di pinggiran dahi yang telah Renza bersihkan, serta lebam kecil di tulang pipi kanan akibat tonjokan asal Alexa yang sempat kebobolan.
"Oh... bestie. Lo harus lihat Alexa dulu baru paham omongan si Renza."
"Tidur, Sa. Tadi ngeluh kepalanya pusing. Lagian Alura udah di sini juga," kata Juna.
"Iyalah pusing. Orang habis kena toyor Om Jonathan," kekeh Chena yang baru tiba bersama Aji. "Justru Kak Alura yang disayang-sayang kayak anak kandung."
Lelaki bermata sipit itu sempat melihat Jonathan datang tergesa setelah mendapat kabar kepala anaknya bocor. Tapi ekspresi cemasnya berganti datar begitu tau putra sulung Atmadja itu hanya mengalami luka kecil, seolah bukan hal yang harus menjadi kekhawatiran besar.
"Wajarlah bokap gue sayang sama calon mantu sendiri."
"Opp... opp, Nath. Tahan, Nath. Maklum aja kepala dia habis kena sambit pot bunga."
Tak mengindahkan gurauan teman-temannya, Nathan kembali memusatkan perhatian pada Alura.
"Lo beneran gak apa-apa? Keadaan lo gimana sekarang? Ada yang sakit? Pusing? Atau apa gitu? Perlu kita ke rumah sakit, biar gue panggil supir. Sini bilang sama gue, gimana?" cecar Nathan tanpa ampun. "Eh ini dokter jaganya kemana sih?! Tiap bulan Mami gue jadi donatur buat fasilitas sekolah, pekerjanya malah makan gaji buta!"
"Buset, Nathan! Santai, Nath, santai!"
"Kak Alura baik-baik aja, Bang. Bukan lagi sakaratul maut."
"Heh, kelinci gurun! Bisa diem gak?! Gue mau tidur!"
"Al, tolong usir deh mantan lo. Bawel amat perasaan."
"Bang Nathan berisik!"
Mendengar protesan itu, Nathan hanya mendengus sekilas sebelum kembali menatap Alura yang sejak tadi diam.
"Al, lo seriusan baik-baik aja? Kenapa diam? Pita suara lo gak putus karena habis berantemkan?"
"Sebelum kemari lo tadi kemana, Nath?" tanya Alura pelan.
Membuat kerutan bingung tercetak jelas di kening yang ditanya. "Dari kelas, habis ulangan dadakan maka itu gue lama ke sini."
Gadis lebam itu terkekeh ringan setelah menguasai keterkejutannya.
Sikap khawatir Nathan seperti tadi baru kali ini ia terima. Sangat berbanding terbalik dengan perilaku lelaki itu yang dulu.
Wajar saja Alura cukup kaget dan memilih diam sembari mencerna keadaan. Alura pikir, Nathan sedang ketempelan jin sekolah.
"Oh... pantas. Otak Nathan lagi korslet karena habis ulangan," tawa Alura jenaka.
"Gimana?" tanya Renza heran. "Apa hubungannya ulangan sama otak Nathan korslet?"
"Aduh, Ren. Ini nih, kelamaan jomblo jadi bolot," celetuk Juna. "Sini deh gue jelasin. Itu si Al lagi bingung karena Nathan tiba-tiba perhatian bin bawel ke dia. Kan dulu waktu mereka pacaran, si bangsat dingin amat anaknya. Jadi Alura pikir, Nathan jadi care karena otaknya lagi korslet habis ulangan. Gitu! Bener gak gue, Al?"
Kepala Alura mengangguk antusias disertai cengiran lebarnya pada Arjuna.
Sementara sisa dari mereka mentertawai hipotesis konyol tersebut, kecuali Nathan yang terdiam dengan ekspresi sulit diartikan.
"Nah, karena gue pinter menerjemahkan maksud lo. Ini gak ada bonus traktiran, Al?"
"Boleh. Mau apa? Seblak Mang Soman?"
"Gak, deh. Cilok Mpok Yeri aja, enak."
"Oke sip. Ntar gue traktir cilok setengah bungkus."
"Lha, kenapa cuma setengah?"
"Ya karena setengahnya lagi buat gue-lah! Lo pikir cilok dia murah!"
👈👉
"Gue mau ambil tas bentar," pamit Alura.
Beberapa kepala yang masih setia ngadem sambil makan mie kuah berjama'ah di uks itu spontan menoleh.
Tangan Juna melambai-lambai lalu berucap, "eh-eh. Tas lo udah gue bawa ke markas bunglon tadi sekalian sama punya Raksa dan Renza."
"Oh... yaudah gue ke sana bentar, deh."
"Mau ngapain, Kak? Ada yang perlu diambil? Sini biar gue aja," tawar Aji.
Chena mengangguk setuju, "iya biar gue juga. Lo lanjut makan aja, Kak."
"Hah? Eh-gak usah hehe... jangan! Gue aja."
Tak mungkin kan Alura tega menyuruh kedua adik kelasny mengambilkan roti jepang alias pembalut ganti. Tolong saja, urat malunya masih sangat tebal untuk bagian satu itu.
"Gue cabut bentar, lo pada makan aja. Gak lama-lama kok. Janji gak buat masalah juga, suer!"
Setelah berucap demikian, Alura segera melesat kabur.
Namun, baru menjauh beberapa meter, sebuah tangan mencengkram lengan Alura.
"Kita perlu bicara," tandas Jeno.
Lelaki minim ekspresi itu menariknya tanpa persetujuan. Tapi hanya berhasil di beberapa langkah saja, sebab berikutnya Alura menarik diri sekuat tenaga.
"Apaan, heh? Gak sopan main tarik-tarik!"
"Kita perlu bicara." Jeno berusaha menggapai kembali lengan Alura, hanya saja gadis itu gesit menghindar.
"Konteks? Kan bisa di sini! Lagian lo mau bawa gue kemana coba?!"
Wakil ketua osis itu memeriksa sekitar mereka yang masih agak ramai.
"Gak bisa di sini."
"Eh-eh, Jenong. Gue gak ma-"
"Lepas!"
Tarikan Jeno terputus, ketika sebuah tangan memaksa melerai pegangannya pada Alura.
Kedua pandangan tajam itu bertemu.
"Lo gak usah ikut campur, Nath!"
"Tentu gue harus ikut campur. Apa pun yang berhubungan dengan Alura, itu juga urusan gue!"
Jeno mendecih remeh. "Ini gak ada urusannya sama lo."
Lengan kurus Alura kembali dicengkram Jeno.
Melihat perilaku semena-mena itu, tentu saja Nathan tak tinggal diam. Sebelah tangan bebas Alura ikut ia cengkram, membuat objek yang ditarik akhirnya terdiam di tengah-tengah dua manusia aneh tersebut.
"Gue bilang lepas, Jeano!"
"Harusnya lo yang ngelepas, Nathan!"
Kening Alura berkerut tak suka. "Astaga... gue cuma mau ambil pembalut. Tapi kenapa cobaannya gini amat, sih!" batinnya menderita.
"Wait! Ini lo berdua ngapain, hah?!" dongkol Alura.
"Lo diem!"
"Al, diem!"
Rahang bawah Alura melongo tak percaya mendengar lontaran balasan dari dua pangeran sekolah tersebut.
Gadis itu meringis sebal tatkala beberapa murid yang melintas di dekat sana langsung berbisik aneh sembari menatap Alura yang masih diposisi yang sama, yaitu di tengah Nathan dan Jeno yang saling melempar death glare.
"Sopan amat mulut lo berdua! Gue yang punya tangan, malah disuruh diem."
Satu sentakan kuat berhasil meloloskan Alura dari sentuhan kedua lelaki di kiri kanannya. Meski berakhir tangan Alura jadi sakit sendiri karena ulahnya.
"Mending kalian minggir, sebelum gue kutuk jadi batu akik!"
👈👉
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro