Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

dua PULUH empat

"Hais! Ini ceritanya gue terdampar di uks lagi?!"

Iris kecokelatan Alura menatap tak senang pada setiap sudut ruangan yang dominan berwarna putih tersebut. Bau obat-obatan di tengah sejuknya tiupan AC tercium samar memasuki hidung.

"Lo pingsan."

"Astaga, setan!"

Mata Jeno mendelik galak. "Udah ditolong malah ngatain?"

"Dih, salah lo kenapa muncul tetibaan kayak dedemit pesugihan!" kata Alura bersungut-sungut. "Lagian gue gak minta ditol—akh!"

Jeno berdecak melihat Alura memegangi kepala. Dituntunnya perlahan agar gadis kurang ajar itu kembali berbaring.

"Diam, jangan banyak gerak dulu!" omel Jeno. "Perasaan kerjaan lo nyusahin orang terus!"

Nyali Alura seketika menciut. Wajah galak Jeno dipadu mulut pedas yang suka mengomel kasar itu memang lumayan menakutkan.

Lelaki jangkung itu menatap tajam sebelum kembali berbicara, "diam di situ dan jangan bergerak. Gue mau ambil bubur lo sebentar!"

"Eh?"

Tak sempat mengatakan apa pun, tau-tau Alura sudah ditinggal.

Gadis kebingungan itu berkedip cepat menatap langit-langit uks. "Itu anak kesambet jin apaan sampe jadi baik gini?"

Sesuai perkataan Jeno, tak lama lelaki itu kembali membawa semangkuk bubur yang Alura yakini baru dibeli di kantin.

"Pakai mangkuk banget, nih?"

"Styrofoam gak bagus buat kesehatan," jelas Jeno singkat meletakan bubur di atas meja sebelah bed.

Namun, Alura tak kunjung bangkit dari posisi rebahan. Gadis pucat itu hanya memandang bergantian antara Jeno dan bubur yang tengah mengepulkan asap hangat.

"Makan."

"Gak selera."

"Makan."

"Gue gak nafsu makan apa-apa, Jenong!"

"Gak minta pendapat, gue suruh makan. Gak bikin orang lain susah, bisa?!" judes Jeno yang langsung disambut wajah cemberut.

"Ck! Gue gak minta dibantu!"

Kedua bola mata Jeno berotasi malas.

Lupa jika Alura sejenis magadir alias manusia gak tau diri yang amat keras kepala, paling anti mengalah dan hobi merepotkan orang sekitar.

Tau begitu, lebih baik tadi ia mengabaikan Alura saja.

Jujur sekarang Jeno agak, bukan—tapi ia sangat menyesal karena telah menuruti nurani kemanusiaannya.

"Makan. Ke buru dingin."

"Gak mau, Jenong. Maksa amat, heran!"

Jam di pergelangan tangan Jeno berputar. Ia masih punya lima belas menit lagi sebelum pergantian jam pelajaran yang saat ini kebetulan kosong.

"Kalau bukan karena Luna minta gue paksa dia makan, mungkin itu bubur udah mendarat di atas kepalanya," dumel Jeno membatin.

Entah ia harus berterima kasih atau tidak pada Alura, sebab sudah menolong Aluna lewat Juna. Itu juga yang membuat Jeno sedikit merasa hutang budi.

Bangku kecil di bawah bed tertarik keluar sebagai alas duduk Jeno. "Duduk," perintah lelaki itu. "Duduk sendiri atau gue paksa?"

"Ish!"

"Buka mulut."

"Ck! Gak ma—"

"Buka sendiri atau gue paksa?" potong Jeno yang terlihat serius.

Membayangkan lelaki berotot itu bertindak seperti ucapannya, membuat Alura bergidik ngeri. Ragu-ragu ia membuka mulut sebelum suapan sesendok bubur masuk ke dalam sana.

"Anhingh henoh hahih hanash, hethanh!"

Tangan Alura menggapai botol mineral dan meneguk cepat isinya.

"Lo niat suapin atau mau bunuh gue, sih?!"

"Lebay," respon Jeno seadanya dan berfokus mengaduk-aduk bubur.

"Oh, damn! Gue tim bubur gak diaduk, Jeano Batara! Lo makan aja sendiri buburnya! Gue mau tidur!"

Tubuh kecil itu bersembunyi di balik selimut. Meninggalkan Jeno yang terdiam keheranan.

Mengapa manusia satu ini terlalu banyak mau?

Maksud Jeno mengaduk makanan lembek itu agar lekas mendingin. Tak terpikirnya mengenai kubu aneh antara tim bubur diaduk atau tidak.

"Al..., ayo makan dulu," panggil Jeno mengalah. "Alura...."

"Ish! Gak mau! Geli!"

Jeno menghembuskan napas kasar.

Belum lama berada di dekat Alura sudah membuatnya sakit kepala. Ia heran bagaimana bisa Raksa dan kelompoknya tahan berteman dengan makhluk semenyebalkan ini.

Sekali lagi Jeno memanggil, mencoba membuka selimut yang membalut sekujur tubuh Alura.

"Yaudah, gue beliin bubur baru," ucap Jeno lebih melunak.

Namun, baru berbalik hendak pergi, nama lelaki itu terpanggil.

"Gak usah, Jenong jelek!"

"Tapi lo gak mau makan yang udah diaduk."

"Iya memang. Bikin geli, mirip muntah kucing kalau dilihat. Tapikan—" Alura menjeda perkataan. "Tapi rasanya enak, sih. Gue suka."

"Terus intinya? Gue beli yang baru?"

"Ck! Bukan!" sahut Alura. "Maksud gue ya—ya—"

"Ya apa?"

"Ya suapinlah! Ish, dongo!"

Sebelah alis Jeno terangkat naik. Pandangan mengintimidasinya membuat Alura semakin salah tingkah.

"Ma–maksud gue, suapin karena gue gak mau lihat waktu makan buburnya biar gak geli. Daripada beli baru juga ngapain?! Terus bubur lama siapa yang mau habisin?! Lo?"

"Enggak."

Tak ada lagi suara yang keluar setelah respon singkat Jeno.

Wakil ketua osis itu meniup perlahan setiap sendok bubur sebelum menyuapi Alura yang asyik mengetikkan sesuatu di ponsel.

Gadis dengan posisi setengah rebahan itu benar-benar mengalihkan perhatiannya.

"Eh, Jen. Lo kenapa hari ini baik bener? Naksir ya lo sama gue?"

Suapan Jeno sampai meleset mengenai hidung Alura karena kaget mendengar celetukan tiba-tiba tersebut.

"Pulang sekolah nanti lo harus ke rumah sakit," kata Jeno. Wajah tanpa ekspresi itu menatap datar ke arah Alura yang terlihat bertanya-tanya.

"Hah? Buat apa? Emang gue kenapa?"

Alura cuma pingsan karena kelaparan, bukan tanda-tanda terserang penyakit mematikan.

"Ya kali aja letak otak lo agak geser, makanya jadi halu gue taksir."

"Ck! Sialan, dikira apaan."

"Mulut lo sehari aja gak kasar, kayaknya gak bisa ya?"

"Mulut lo sehari aja gak komenin kelakuan gue, kayaknya gak bisa ya?"

Oke, Jeno menyerah.

Alura terlalu master untuk dikalahkan dalam tiap perdebatan tak penting mereka.

Setelah mengantarkan suapan terakhir, lelaki berahang tegas itu bangkit dari duduknya.

"Mau kemana?!" tanya Alura cepat. Ada tatapan tak terima ketika Jeno bergerak.

"Ke kelas."

"Terus gue ditinggal sendirian di sini, gitu?! Aneh lo, ya? Kalau tetibaan gue ayan terus gak ada yang jagain gimana?!"

Ditinggal sendirian adalah sebuah penyiksaan bagi Alura. Beda cerita kalau gadis itu yang memang sedang ingin menyendiri.

"Dengan bicara sebanyak itu, gue rasa lo udah baik-baik aja. Lagian ada dokter jaga di depan."

"Iya, udah baik-baik aja. Tapi gue masih laper dan gak bisa beli makanan sendiri."

"Telepon Juna atau temen lo yang lain."

"Batre hp gue lowbatt, gak bisa telepon."

Tangan Jeno meraba kantung celananya, menyodorkan benda pipih super canggih pada Alura. "Telepon lewat hp gue."

Gadis itu berdecak menepis pelan pemberian Jeno. "Lama. Mending lo beliin gue nasgor sekarang!"

"Gak bisa, gue ada kelas."

Punggung kokoh Jeno berhenti menjauh begitu merasakan lemparan bantal.

"Lo kalau mau tolongin orang yang totalitas, dong?! Jangan setengah-setengah kayak baju diskonan di mall!"

Mau marah, tapi Jeno sadar itu cuma buang waktu. Jadilah lelaki itu mengalah part sekian dalam satu harian ini pada gadis aneh di depan sana.

Dikutipnya bantal yang sempat Alura lempar. "Fine. Nasi goreng, kan?"

Gadis yang ditanya mengangguk senang dengan mata berbinar. "Sama jus timun."

"No. Air putih hangat aja."

"Tap—" kalimat protes Alura tertahan diujung lidah ketika Jeno melotot galak. "Oke, air putih hangat!"

"Kata Luna lo punya riwayat darah rendah. Dan timun itu pantang dikonsumsi sama pengidap darah rendah."

Mulut Alura mengerucut sebal. Perkataan Jeno barusan persis seperti celotehan Aluna yang selalu memarahinya kalau ingin mengkonsumsi timun.

Padahal Alura sangat suka timun, meski sehabis itu ia jadi lemas, letih, lunglai akibat tekanan darahnya yang semakin menurun.

Disela keheningan ditinggal Jeno, ponsel Alura yang nyatanya tidak lowbatt sama sekali itu bergetar menampilkan notifikasi dari Aluna.

Kembarannya mengabarkan jika sudah baik-baik saja dan berada di kelas, tapi tidak bisa menjumpainya karena sedang mengerjakan essai latihan untuk olimpiade.

Gadis itu menempuk kening dramatis. "Bisa-bisanya gue lupa sama Aluna, astaga!"

"Dia udah di kelas. Tadi ditemuin Juna  di gudang lantai dua," jelas Jeno.

Tercium aroma nasi goreng yang menggundang cacing Alura untuk berdemo.

Masih konsisten akan ekspresi datarnya, lelaki itu mendekat. Hanya saja kali ini kedatangannya tak sendiri, melainkan bersama gerombolan yang Alura rindukan.

"Mantemaaaaaaan," rengek Alura membentangkan tangannya minta dipeluk dan langsung disambut cepat oleh Raksa.

"Gila ya lo, baru ditinggal bentar malah pingsan. Bikin jantungan aja!"

"Diem. Kangen," gumam Alura tak peduli omelan sohibnya.

Di belakang sana, Juna mati-matian menahan tawa begitu melihat wajah masam Nathan.

"Sabar, Nath. Anaknya emang dari tadi pengin banget mau ketemu Raksa."

"Kenapa harus si buluk, sih?!"

"Mungkin karena dia lebih wangi dari pada lo," celetuk Renza mendahului menghampiri Alura.

Ketua ekskul seni itu melirik heran pada Jeno. "Thanks, Jen udah tolongin Alura."

"Hah? Siapa yang tolongin?" Gantian Raksa yang bertanya.

Masih dalam pelukan Raksa, telunjuk Alura terarah pada Jeno yang menatapnya malas.

"Lha, gue baru sadar lo di sini, Jen. Thanks ya udah bawa si bocil ini ke UKS."

Lelaki yang disebut hanya bergumam singkat, lalu meletakkan makanan pesanan Alura di meja.

Tangan Raksa yang tadi sibuk mengusap rambut belakang Alura, kini hinggap di kedua pipi gadis itu. Mendongakkan lembut kepala lusuh Alura agar menatapanya. "Heh, udah bilang makasih belom ke Jeno?"

Ia hapal betul sifat buruk Alura yang gengian mengucap terima makasih pada orang lain.

Sesuai dugaan. Alura langsung cengengesan sambil menggeleng tanpa dosa. "Kayaknya Jenong gak butuh itu."

"Bilang makasih, anying. Untung lo dibawa Jeno, dari pada si Juna."

"Kalau sama gue, ya, pasti diseret ajalah. Badan dia doang yang kecil, tapi beratnya nauzubillah."

"Maklum, dosa Al 'kan banyak."

"Anjay, Renza suka bener!"

Objek yang dighibahin secara terang-terangan hanya bisa manyun sebal setelah dicecar berucap terima kasih pada Jeno.

"Gak mau. Kan gak minta ditolong."

"Bagus, Al. Lanjutkan."

"Tuh... tuh! Nathan aja mendukung," senang Alura.

"Yaudah sana lo balik, betah amat di sini. Bikin sumpek aja."

"Lha... si Nathan," kekeh Raksa.

Tubuh tegap pentolan MIPA 3 itu mendesak masuk di antara Raksa dan Jeno yang tadi sebelahan.

"Cabut sana!"

Malas menanggapi kelakuan tengil Nathan, kaki Jeno segera beranjak dari sana. Pandangannya sempat melirik Alura yang nyaman menyandarkan kepala di perut Raksa.

"Habisin makanannya, cewek aneh."

👈👉

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro