dua PULUH dua
"Harusnya biarin aja dia mau buat apa," desah Aluna. "Lihat sekarang malah lo jadi luka."
Gadis pintar itu baru pulang setelah pukul sembilan malam dan langsung menyerbu Alura yang tengah molor di kamar.
"Hah? Apaan?" Mulut Alura menguap tak sopan.
Sepasang mata sayu itu menatap Aluna yang heboh memeriksanya.
"Alexa. Kalian berdua berantem lagi?"
Setelah tau insiden menghebohkan itu dari grup kelas, Aluna tak sempat langsung mencari keberadaan Alura karena terburu untuk mengikuti jam pelajaran tambahan demi persiapan olimpiade fisika.
Alura balik telentang. "Oh dia. Main-main doang kami tuh."
"Main adu jotos gitu maksud lo?! Ini kening—"
"Aduh, Luna. Mending lo ke kamar sendiri sana, mandi, terus istirahat. Eh, lo udah makan malam belum? Itu si Bibi masak ayam kalasan kesukaan lo tadi, gue sisain paha buat juga. Ada tiga lagi."
"Al, masalah lukisan gue gak ambil pusing. Tapi kalau sampai buat lo luka gini—"
"Lo gak permasalahin, tapi enggak buat gue." Gadis itu kembali terduduk. "Gue tau sekeras apa usaha lo buat selesaikan lukisannya tepat waktu."
"Gue enjoy ngerjainnya."
"Tapi lo juga sedihkan waktu tau lukisan lo dirusakin?!"
Bibir mungil Aluna kembali terkatup rapat. Bohong bila ia hanya bersikap biasa saja ketika Jeno menjelaskan semuanya tadi.
Ternyata bukan hanya milik Aluna yang bernasib sial. Beberapa lukisan lain juga disabotase, tapi tak tau oleh siapa. Sebab pelakunya mengenakan topi dan penutup wajah, seolah tau jika studio tersebut terdapat cctv rahasia.
Menjadi bagian dalam pameran adalah rencana cadanga Aluna kalau-kalau kali ini tak lolos seleksi sebagai perwakilan olimpiade. Setidaknya masih ada yang bisa ia jadikan alasan demi menghindari kemurkaan Adnan. Tapi sekarang hanya tersisa ajang olimpiade sebagai harapan terakhir.
Rasanya beban berat itu kembali menumpuk di pundak Aluna yang semula sempat merasa ringan.
Suara decakan Alura memecah lamunan kecil Aluna. "Lihat muka lo. Lihat! Perlu kaca biar sadar ekspresi murung lo ini?"
Gadis berkuncir ekor kuda itu hanya diam. Sepanjang mengikuti les tadi pun Aluna lebih banyak tak fokus.
"Gue heran, si relaxa punya masalah apa sih sampe hobi banget gangguin lo!"
Aluna menghela napas panjang. "Jeno."
"Hm?"
"Dia naksir berat sama Jeno."
"Lha, terus hubungan si Jenong sama lo apaan?"
"Ya kan, Jeno dekat sama gue."
Mulut Alura otomatis membulat berbentuk 'O'.
"Pantas! Yaudah biar lo gak digangguin relaxa lagi, mending jauhin Jeno!"
"Hah?!"
"Kok hah? Kenapa? Gak bisa? Lo suka juga sama dia?"
Kelopak mata Aluna berkedip cepat menutupi kegugupan yang menyerang. Gadis itu terbata, "eh—bu—bukan itu maksud gue. Jadi tuh—"
"Halah basi. Kelihatan jelas lewat mata lo," potong Alura.
Jeno tampan? Iya, Alura membenarkan walau sedikit (dan tidak ikhlas).
Tapi sayang, ketampan yang hanya diakui sebesar upil itu lenyap tak bersisa berkat perilaku kasar dan ketus yang selalu Jeno berikan pada Alura.
"Me—memang mata gue kenapa?"
"Banyak belek."
👈👉
Ini masih terlalu pagi untuk mengawali hari dengan mood buruk.
Namun, lemparan gulungan koran dari Adnan barusan sukses merusak mood Alura.
"Apalagi, sih, Pa?!" tanya gadis itu malas.
Pulang-pulang sehabis jogging malah kena semprot dalam konteks tak jelas dan berakhir dilempar lembaran kertas berisi berita harian tersebut.
Sebenarnya Alura masih agak bersyukur karena Adnan belum terlalu gila untuk melayangkan secangkir kopi panas di atas meja ke padanya.
"Kamu buat masalah apalagi, sampai Aluna batal ikut pameran seni?! Lukisannya kamu apain?!"
"Pa, ini bukan salah, Al."
Suara lembut dari arah belakang mengambil perhatian objek yang dibela.
"Ini murni kecelakaan dan gak ada sangkut paut sama Alura, Pa," lanjut Aluna tenang.
Gadis itu sudah rapi dengan rambut terkuncir satu dan seragam sekolah khas cerminan murid pintar.
Sebelah tangannya menarik kursi meja makan setelah menyampirkan tas besar yang Alura yakini cukup—ah bukan, tapi pasti memang berat karena diisi buku-buku tebal.
Kadang Alura bingung sendiri mengapa tas saudari kembarnya tak pernah ringan. Padahal mereka punya loker pribadi di sekolah, yang Alura manfaatkan untuk menyimpan semua buku pelajaran di sana. Jadi ia tak perlu repot membawa pulang pergi benda-benda berat tersebut.
Pagi saat ia datang, entah Nathan, Raksa, Juna atau yang tergalak adalah Renza akan memaksanya mengambil buku mana untuk pelajaran hari itu.
"Terus kamu bela, terus!" bentak Adnan geram. "Kecelakaan yang di buat sengaja sama dia dan kamu masih bela?!"
"Pa...."
"Jangan lagi kamu tutup-tutupi Aluna. Orang suruhan Papa udah cerita semua detail kasusnya dan Alura terlibat! Dia juga bikin anak orang celaka 'kan?! Bersyukur Pak Jonathan tidak memperpanjang masalah atau sampai menuntut!"
Dengusan mengejek tak sengaja kelepasan oleh Alura.
Mana menyangka jika Adnan menyewa seseorang untuk memantau anak-anaknya di sekolah.
Justru Jonathan tidak mengambil pusing perihal pot kesasar yang mengenai Raksa. Malah ayah sohibnya itu khawatir saat melihat Alura terluka dan terbalik mengomeli anak sendiri karena tak bisa menjaga teman dengan baik. Sungguh fakta yang membagongkan, andai Adnan tau kebenarannya.
"Tapi itu bukan salah, Al, Pa. Ada orang yang—"
Omongan Aluna terhenti begitu wajah malas Alura menghadapnya. Isyarat menyuruh diam.
"Ternyata Papa sepeduli ini sampai sewa orang buat mata-matain kami," ucap Alura.
Adnan mendecih hina. "Lebih tepatnya saya mengawasi Tania dan Aluna. Kamu tidak masuk hitungan!"
"Waw... bagus. Berarti Al bebas, dong?"
"Alura!"
"Saya, Pa?"
"Kamu—"
"Astaga, Mas. Sudah, Mas, sudah. Ini masih pagi, kamu malah ngomel-ngomel."
Bola mata Alura berputar malas begitu melihat kedatangan Sandra.
Tak lama Tania dengan wajah jelas masih mengantuk itu pun ikut bergabung ke meja makan. Kondisinya hampir sama seperti Aluna, hanya saja gadis bermulut bon cabe itu menggerai rambut ikalnya dan mengenakan bando kesayangan sebagai aksesoris.
Menjelang persiapan olimpiade, kedua pentolan sekolah teesebut memang terpaksa datang lebih awal untuk mengerjakan soal-soal latihan sebelum dilanjut lagi setelah sepulang sekolah.
Rutinitas yang sangat membosankan juga menguras tenaga—bagi Alura sang penonton.
Pandangan Sandra beralih menatap anak tirinya. "Kamu gak siap-siap, Al? Itu Aluna sama Tania udah mau berangkat, lho."
"Gak usah diurusin anak itu! Terserah dia mau sekolah mau enggak! Gak ada gunanya."
"Mas, kamu ini. Jangan kasar bisakan?!"
Sudut bibir Alura terangkat naik, membentuk sunggingan sinis. Akting sok baik Sandra membuatnya merinding geli.
Alura berani bertaruh, dalam hati pasti ibu tirinya itu senang bukan main menyaksikannya kena semprot Adnan pagi-pagi begini.
"Perihal lukisan Aluna yang kamu rusak. Lebih baik jelasin ke Papamu sekarang."
Ekspresi bingung sejenak menguasai air muka Alura. Namun, detik berikutnya ia paham mengapa Adnan bersikeran menyalahkannya atas perbuatan yang tak pernah ia lakukan.
"Dasar nenek lampir sialan, lo fitnah gue apalagi sekarang?!" batin Alura malas.
Tania memutar badan demi memberi kode pada sang saudara tiri yang masih betah berdiri.
Tapi gadis berjaket olahraga itu malah santai menuang air ke dalam gelas lalu meminumnya. Seolah tak ada kejadian penting yang harus segera diluruskan.
Mulut Tania bersuara, "setau Nia yang merusak lukisan itu Alexa, temen sekelas Aluna. Banyak yang bilang alasannya itu karena Alexa iri."
Dari sebrang, Sandra melotot berang.
Susah payah ia menyogok orang suruhan Adnan agar menceritakan kejadian yang terkesan memojokan Alura, tapi anak sematawangnya sendiri malah membela.
"Tapikan itu bisa jadi cuma rumor sayang. Maka itu sekarang kita tanya Alura," ucap Sandra manis.
Manusia yang di maksud masih betah membungkam.
Kini tangannya bergerak memasukan lipatan roti yang telah dioles selai ke dalam mulut.
Terlihat geram, Aluna dan Tania kompak menyubit paha saudari mereka yang sedang berdiri di antara kursi keduanya.
Gadis yang fokus mengunyah itu mengaduh tertahan menikmati perih di paha kiri kanannya.
Alura berdecak malas.
Baginya, apa pun yang akan ia jelaskan tetap saja tak akan merubah pendapat Adnan.
Di mata sang ayah, pasti tetap Alura lah yang salah. Sebab itu sejak tadi ia lebih memilih sarapan dalam diam ketimbang buang-buang tenaga untuk hal yang sudah jelas ujung akhirnya.
"Gue gak akan ngomong apa pun. Percuma," kata Alura santai. "Ujungnya tetap gue yang divonis bersalah."
"Setidaknya kasih tau ke Papa kalau kamu memang gak salah, Al," pinta Aluna.
Di sampingnya Tania kembali melayangkan sebuah cubitan kecil. "Bilang ke Papa, kalau lo gak salah."
Kekehan geli terlontar dari bilah bibir Alura.
Netra kecokelatan gadis berkeringat tersebut bergantian memandangi Aluna dan Tania yang sama-sama bawel membelanya pagi ini.
Hmm... kejadian langka.
"Thanks a lot your supports, double sissy. But ya... seperti yang gue bilang, dijelasin pun Papa bakal tetap anggap Al yang salahkan?"
"Kalau kamu bisa menjelaskan dengan benar, mungkin saya akan pertimbangkan!"
"Berdasarkan pengalaman. Apa pun yang Al jelasin, Papa gak akan mau percaya."
"Al!"
"Al!"
"Udahlah. Intinya gue capek kasih pembenaran," cuek Alura menenggak sisa minuman. "Di rumah ini, gue napas aja dosa banget hukumnya."
"Alura, saya belum selesai bicara!"
"Awas kena stroke lagi, Pa. Masih pagi udah berisik aja."
👈👉
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro