Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

20

Kesunyian ruang BK siang itu mendadak lenyap setelah salah satu siswa tergesa melapor jika terjadi perkelahian di dekat lapangan outdoor.

Dua manusia yang sempat menggemparkan satu sekolah itu pun ditarik paksa menuju sepetak ruang ber-AC yang sudah tak asing lagi bagi mereka.

"Jadi masih gak ada yang mau mengakui kesalahannya?" tanya sang guru kembali. "Alexa? Alura?"

Kepala cantik wanita berusia pertengahan tiga puluhan itu menoleh, menatap bergantian kedua siswinya yang penampilan sama-berantakan.

Bedanya keadaan Alura masih terbilang lebih baik ketimbang Alexa yang panen banyak luka serta lebam di wajah mulusnya, rambut panjang gadis itu juga sudah sangat pantas disandingkan dengan milik singa jantan.

Mata nyalang Alexa menusuk tajam. "Saya jelas gak salah, Bu! Tuh, siluman macan ini duluan yang mulai!"

"Gue gak akan mulai kalau lo gak berulah!"

"Adanya lo yang berulah sama gue?!"

"Haduh... sudah-sudah!" lerai sang guru sembari memijat pelipis. Kepalanya kembali berdenyut mendengar suara lantang dua biang kerok sekolah tersebut. "Kalian ini sekali bicara malah teriak-teriak! Telinga Ibu bisa teleran dengarnya."

"Siluma macan ini duluan, Bu!"

"Silimin micin ini bi diliin,"ejek Alura. "Gue punya nama ya Relaxa jelek!"

"Ya nama gue itu Alexa! Bukan Relaxa! Lo kata gue permen, apa?!"

"Bodo amat."

"Lo-"

"Bu Yuri?"

Ketiga perempuan di dalam ruangan itu kompak menoleh ke arah pintu yang terbuka sedikit.

Jika Bu Yuri dan Alexa bersamaan menampilkan ekspresi cerianya, lain pula wajah Alura yang semakin berkerut tak senang.

Mood-nya sudah memburuk karena Alexa. Dan melihat Jeno hanyalah memperparah keadaan.

Bagi Alura, paras rupawan lelaki itu terlalu menyebalkan untuk sekedar diamati. Terkesan dingin dan tidak ramah. Berbanding terbalik dengan pendapat ratusan siswi lain di sekolah mereka yang menganggap ketampanan Jeno hampir setara seperti milik dewa yunani yang digambarkan di buku dongeng kuno.

Padahal Tiffany memiliki aura ceria nan hangat dengan wajah tenang yang sedap dipandang, berbanding terbalik dari milik Jeno.

Bu Yuri melukis senyum tipis. "Gimana keadaan Raksa? Dia gak gegar otak 'kan? Bisa gawat sekolah kita kalau sampai kena tuntut keluarga Atmadja."

"He's fine, Miss. Udah diurus sama Renza," jelas Jeno.

Tidak seperti yang dihebohkan mengenai kepala Raksa yang bocor, akibat kena timpuk pot bunga plastik. Nyatanya pelipis lelaki itu hanya mengalami luka robek kecil karena terbaret ujung pot yang tajam.

"Terus dia di mana sekarang? Dia gak sampai hilang ingatankan?"

Bukannya menjawab kekhawatiran Alura, hanya lirikan malas yang Jeno berikan.

"Bu, saya boleh lihat Raksa sebentar?"

"Eeeh! Gak bisa! Enak aja, lo pasti mau kaburkan?!" hardik Alexa yang sigap menghalangi pergerakan Alura.

Gadis itu kembali terdorong hingga jatuh terduduk di sofa tempat semula.

"Gue cuma mau periksa keadaan Raksa sebentar, Relaxa!"

"Dipikir gue bego dan bisa lo tipu-tipu, hah?! Trik lo murahan, btw!"

"Terserah. Minggir!"

"Enggak!" Alexa kembali mendorong Alura hingga kembali duduk.

"Wah, lo-" Alura mendongakkan kepala demi menghirup napas dalam. Kedongkolannya memupuk tinggi setelah lagi-lagi di dudukkan paksa. "Jangan sampai gue jambak lagi, ya?!"

"Apa?! Gue gak takut?! Sini lo maju!"

Katanya maju, tapi Alexa justru semakin mundur ke belakang hingga belakang betisnya menubruk meja.

"ASTAGA KALIAN INI?! DUDUK!"

Baik Alura maupun Alexa langsung rapih menuruti perintah Bu Yuri.

Ekspresi teduh guru BK itu telah berubah sangar. Bahkan dinginnya AC tak mampu lagi menahan panas amarah yang tercipta, membuat wajahnya menjadi kemerahan akibat menahan emosi.

Jeno baru kali itu melihat sang tante mengamuk sampai mengeluarkan suara bentakan. Sebab biasanya, perawakan Yuri tak beda jauh seperti Tiffany yang lemah lembut dan jarang marah.

Dalam hati, lelaki itu terkagum pada dua biang onar sekolah mereka.

Alexa dan Alura telah berhasil memancing sisi lain sang guru BK.

"Tidak ada yang boleh keluar dari sini sebelum kalian ceritakan kronologi kejadiannya sama saya!" tegas Bu Yuri. "Alura? Jelaskan."

"Kenap-yaudah, iya."

Gadis itu berdecak sebal, memandangi Alexa yang terkekeh bahagia sambil mengejeknya tanpa suara.

"Jadi menurut kronologi versi saya, yang salah itu Relaxa, Bu. Dia jahat!"

Mata besar Alexa melotot tak terima. "Iihh! Dia bohong, Bu." Jari Alexa menunjuk murka tepat di depan wajah musuhnya. "Jangan sembarangan ngomong! Jelas-jelas lo duluan yang nyerang gue tanpa sebab! Freak tau gak!"

Sepasang netra Bu Yuri terpejam sejenak. Mengerti akan kekeras kepalaan kedua siswi badungnya ini, ia yakin sampai bel pulang pun takkan ada yang mau mengalah.

Alura dan Alexa tetap keuh-keuh mempertahankan pendapat mereka yang dianggap benar.

"Bu, seriusan. Saya cuma jalan, terus tiba-tiba siluman macan ini main dorong aja sampai jatuh. Buktinya belakang baju saya jadi kotor begini. Dan sebagai defense, langsung aja saya balas. Tapi dia malah makin kesetanan," jelas Alexa menggebu.

"Benar itu Alura?"

"Alexa bicara jujur, Bu."

Mulut Alura yang semula hampir mengeluarkan suara, kini kembali terkatup.

Rahangnya mengeras, seiring bersama pandangan yang menghunus ke arah Jeno. Lelaki tanpa ekspresi itu masih berdiri tak jauh di sana.

"Nah kan, Bu. My baby Jeano aja tau kalau saya gak salah!"

"Maksud kamu apa, Jeno?"

"Sebelumnya saya minta maaf karena baru mengakui ini. Tapi sebelum mereka bertengkar, saya sempat melihat Alura tiba-tiba saja mendorong bahu Alexa sampai terjatuh."

Alura mendecih. "Fine. Bagian itu benar! Gue gak akan menyangkal kalau udah nyerang nenek lampir ini duluan. Tapi ada alasan kenapa gue bisa semarah itu."

"Alasan apa lagi? Lo 'kan memang sirik sama gue!"

"Gak ada yang harus gue sirikin dari sampah kayak lo, bitch!"

"Lantas alasan kamu marah itu kenapa Alura?" nada bicara Bu Yuri kembali melembut.

Dari ekspresi wajah serius Alura, ia tau jika gadis itu memiliki alasan yang kuat atas tindakan emosionalnya.

"Mungkin Relaxa expired ini lupa jelasin kalau dia sengaja merusak lukisan Aluna di studio seni dan saya melihat itu semua. Makanya-"

"Lo-"

"Alexa, diam!" titah Jeno.

"Jeno, tap-tapi-"

"Diam."

Hal mengenai Aluna selalu berhasil meeubah Jeno menjadi mode serius.

Siapa pun di sekolah mereka tau, kalau Alexa selalu curi kesempatan merundung gadis pucat itu meski tak berani secara gamblang karena dilindungi Jeno dan mereka bertiga sekelas.

Sudut bibir Alura terangkat mengejek.

"Minggu depan ada pameran seni antar sekolah dan punya Aluna jadi salah satu yang terpilih. Tapi lo malah sengaja ngerusak karya dia!"

Tenggorokan Alexa terasa menggering. Harusnya tak ada yang melihat, kedua teman gadis itu yang berjaga di luar sudah memastikan dengan baik. Sangat mustahil Alura mengetahui tindakannya, kecuali gadis itu masuk setelah mereka pergi. Atau seseorang sengaja memberitahu pada Alura.

"Lo tau dari mana punya Aluna terpilih?" selidik Jeno.

Sebagai salah satu panitia pameran, Jeno ingat jika di setiap lukisan yang dicalonkan dilarang menuliskan nama atau inisial agar sewaktu penilaian berjalan adil. Cukup pelukis yang tau dan menyimpan dokumentasi selama pembuatan atas lukisan mereka. Pengumpulan karya pun dilakukan sangat rahasia karena seluruh lukisan tertutupi kasa putih.

"Jawab, Al."

Gantian Alura yang kebingungan. Sebenarnya ada Mia yang bisa ia kambing hitamkan, sebab gadis culun itulah yang memberitahunya tentang keberadaan Alexa di studio seni.

Berbekal prasangka buruk, dari sanalah Alura mendapati fakta kalau karya kembarannya telah dirusak.

Namun, mau berkata jujur pun rasanya serba salah mengatakan hubungannya dengan Aluna.

Selama satu bulan belakangan, sering Alura memergoki Aluna melukis hingga nyaris subuh di balkon kamar mereka yang bersebelahan. Padahal sejak pagi hingga malam Aluna sudah dipadatkan dengan sekolah dan les tambahan. Namun ia mengenyampingkan rasa lelah, berharap karyanya dapat meramaikan pameran tahunan ekskul seni sekolah mereka yang dipandang cukup bergengsi.

Tau seberapa keras sang kembaran berjuang demi membuat Adnan bangga. Rasanya tak salah kalau Alura sangat murka sewaktu mendapati Alexa begitu enteng berkoar telah merusak lukisan Aluna.

Benar saja ketika ia masuk, lukisan taman bunga itu telah kacau ternoda cat warna-warni.

"Jadi lo sembarangan masuk ke sana tanpa izin?" tanya Jeno lagi.

"Bukannya studio sekarang pakai pin dan hanya panitia yang tau, Jeno?"

Tangan Alura mengusap kikuk belakang leher.

Sama dengan bunuh diri jika ia bocor kalau tau pin studio seni dari ketua ekskulnya langsung, alias Renza sendiri. Adanya Alura disulap menjadi pergedel manusia oleh Renza.

Sekarang semua tatapan tertuju pada Alura yang terlihat salah tingkah.

"Gini aja, kita cek ke studio sekarang untuk buktiin perkataan Alura barusan." Bu Yuri mengambil keputusan mutlak.

Namun, belum sempat beranjak dari ruangan. Lelaki yang ditakutkan Alura ikut terseret masalah itu justru menunjukkan batang hidung mancungnya, datang bersama guru kesenian mereka.

"Bu Yuri, gawat! Ada yang menyabotase beberapa lukisan buat pameran minggu depan."

👈👉

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro