15
"Jangan bilang kalau sebenarnya mereka itu—"
"Siluman."
Tubuh Alura spontan berbalik menatap kedatangan Juna yang membawa sebuah nampan.
Lelaki dengan cengiran selebar mulut kuda itu meletakan bawaannya di hadapan gadis berwajah masam tersebut.
"Iya tau gue cakep. Tapi dimakan itu nasi gorengnya, Al," seloroh Juna.
"Hati-hati disambit pawangnya, Bang. Lihat tuh matanya udah mau keluarin laser."
Chena tertawa nyaring menambahi komentar Aji yang mengerling jenaka pada ekspresi datar Nathan.
Lain hal dengan Raksa, ia masih kesal mengenai sikap Nathan yang lalu.
Sudah bagus waktu dulu Nathan tak benar dihabisinya karena berani menyakiti Alura dan mereka berdamai, malah sekarang lelaki itu ingin berbuat kasar lagi.
Dibantingnya ponsel tak bersalah itu ke atas meja.
Tolehan Alura tertuju penuh pada Raksa. "Kenapa lo? Pasti kalah. Ah-lo kan emang payah nge-game, Sa. Mending main congklak aja sana."
"Buruan habisin biar langsung balik ke kelas," balas Raksa datar.
"Ya sabar, dong."
"Makanya buruan."
"Ck! Raksa galak. Mulut gue itu cuma satu, kecil pula."
Satu suapan masuk ke dalam sana, tapi detik berikutnya kembali terlepeh dramatis karena Alura kepanasan.
Mata tajam Raksa membola malas menyaksikan tingkah ceroboh Alura.
Direbutnya piring mengepul gadis itu lalu sigap mengipasi menggunakan selebaran menu yang dilaminating, hingga beberapa menit kemudian di kembalikan pada sang empunya.
"Udah agak dingin, habisin buruan," perintah Raksa tegas.
Mencium aroma nasi goreng yang nikmat membuat Alura terlena menyantap tanpa berniat memprotes ucapan teman lamanya.
Di sebelah, Nathan hanya terdiam. Membalas tatapan tajam Raksa tanpa ragu.
"Nanti gue yang bakal antar Alura ke kelas."
"Enggak usah, dia biar sama gue aja."
Objek yang diperebutkan cuma bisa mengedikkan bahunya cuek.
Tak perlu diantar siapa pun, Alura masih bisa jalan sendiri kembali ke kelas.
Sadar meja mereka diselimuti kecanggungan tak jelas, Aji mengeluarkan suara.
"Eh... katanya, kalau makanan kita dimakan setan itu rasanya jadi hambar, ya?"
Kepala Chena menggangguk menyetujui peryataan teman sekelasnya barusan.
Sebenarnya ia juga kurang tau kebenarannya. Tapi daripada Aji kena kacang goreng, sebagai teman yang budiman dan tidak sombong makanya Chena merespon.
"Lah... kayaknya minuman gue diminum setan, deh? Rasanya hambar," ceplos Alura.
Raksa mendongak dari fokus layar ponsel, mencicip isi botol yang tadi Alura minum.
"Ini memang karena minuman lo cuma air putih biasa elah. Dasar dodol!"
"Hah? Masa, sih?"
"Bukannya tadi yang berasa udah habis terus lo isi ulang pakai air biasa, Al?" seingat Juna.
Jelas-jelas ia menyaksikan sendiri Alura menegak habis minuman isotoniknya, kemudian mengisi ulang dengan air galon.
Wajah bingung Alura semakin jelas.
Diputar-putarnya botol warna biru gelap itu seakan mencari kebenaran dari ucapan Juna dan Raksa. Sampai jidat lebar Alura dipukul sendiri oleh sang empunya.
"Oiya, lupa! Pantas hambar hehe...."
Sementara para lelaki yang ada di meja itu hanya mampu menghela napas maklum melihat kelakuan aneh satu-satunya gadis di sana.
Tingkah Alura memang terlalu abstrak untuk ukuran manusia.
Aji mendengkus. "Gue kirain diambil setan beneran, Kak."
"Taunya manusia setengah setan yang habisin," lanjut Chena santai.
👈👉
Sudah puas mengisi perut di kantin. Gerombolan Raksa dkk bergerak menuju markas mereka yang berada di gedung A lama.
"Gue baru tau ada ini tempat." Tatapan Alura terlihat serius memerhatikan Chena yang membuka jalan.
Pantas saja lokasi itu tak pernah terlihat oleh Alura. Lagian pintu menuju tangga untuk ke rooftop sangat menyerupai dinding putih di sekitarnya Bisa dibilang sejenis kamuflase.
Tak heran mengapa mereka menyebutnya bunglon.
Tubuh Chena berbalik menampilkan senyum angkuh. "Kalau mau masuk sini harus pakai pin."
"Kerjaan Raksa pasti, nih," tebak Alura tapi dibalas cemohan berjama'ah oleh yang lain.
"Mana sampe otak si Raksa mikir beginian," ejek Juna lancar.
Di sebelahnya, Renza pun gatal ikut komentar. "Raksa kok diharap sih, Al. Bisa tau hasil satu kali satu aja udah syukur. Kerjanya molor sama ngegame, doang."
"Ide Aji sama Chena itu. Raksa bagian keluar duit aja," tambah Nathan.
Di belakang sana, wajah Raksa sudah cemberut tak jelas mendengar hinaan teman-temannya.
Mau marah tapi yang diucapkan benar.
Jadi serba salah.
Kekehan Aji terdengar. "Tapi setidaknya kita semua makasih banget sama Bang Raksa. Kalau gak disponsorin, ini tempat bolos mana bisa ada."
"Nanti gue jajanin cireng, Ji," sahut Raksa malas.
Mereka bersamaan menaiki tangga menuju lantai teratas. Terpaan sepoi angin yang menenangkan menyambut gerai rambut Alura begitu melewati pintu menuju rooftop.
Jauh dari kata tempat tak terurus, markas Raksa and the gang itu terlihat sangat nyaman dipandang mata.
Sebagian lahan beratapkan seng sebagai pelindung dari terik mentari maupun hujan. Terdapat tiga sofa empuk, satu panjang di tengah dan dua di sisi kiri kananya. Tak jauh di depan sana, mepet dekat dinding ada pula tv beserta peralatan game sejenis PSP. Terakhir yang membuat Alura semakin keheranan adalah ketika netranya menemukan sebuah kulkas satu pintu ikut meramaikan isi lahan terbuka tersebut.
Belum lagi puas mengamati satu per satu benda yang ada di sana. Pergelangan tangan Alura tertarik oleh Nathan yang membawa ke sebuah ruangan.
"Kalau ngantuk, di sini biasa dipakai buat tiduran juga."
Dagu Nathan menunjuk sebuah single bed, bantal, guling dan selimut di dalam sana, lengkap dengan sebuah AC.
"Kalau lo bosan tidur, tuh ada komik banyak di rak. Novel juga sih sumbangan Renza. Tapi isinya berat semua kayak dosa dia."
Tubuh Alura berputar, menoleh pada kepala Raksa yang menyembul di ambang pintu.
Mulut tercengang gadis itu tertampil. "Tempat beginian kenapa baru tunjukin ke gue sekarang?"
Jika saja Raksa dan yang lain membawanya lebih cepat. Pastilah hari-hari membolos Alura akan damai tentram dan jauh dari gangguan Jeno.
"Dasar anak beruk gak tau terima kasih!" Tangan Raksa terangkat naik menjitak gemas jidat gadis emosian tersebut. "Udah baik gue izinin lo gabung di sini."
"Jahat lo, ke buru gue ditangkap si Jenong jelek!"
"Ya karena gue kasihan lo bolos malah kena gep mulu sama dia, makanya dibawa ke mari."
"Telat!"
"Ya udah cabut sana lo!"
"Gue cepuin ke BK ini tempat, mampus lo."
"Gue cepuin balik rahasia hidup lo pake radio sekolah. Mau?" tantang Raksa.
"Curang! Dasar anak terjelek om Jonathan!"
"Lah lo sendiri juga anak paling jeleknya Om Adnan. Muka lo tuh, mirip dugong nahan boker. Heran... turunan visual Tante Nadia kabur ke mana semua coba."
"Ke Aluna," jawab Alura dalam hati.
Bibir gadis berambut sebahu itu maju beberapa senti.
Mulut tanpa filter Raksa memang tak pernah mau kalah jika berdebat dengannya.
Gadis berseragam agak berantakan itu manyun sebal sembari melipat tangan di depan dada.
Tak sadar jika sosok Nathan di sampingnya mati-matian menahan diri agar tak mengunyel pipi berisi Alura yang terlihat menggemaskan.
Kebiasaan duku yang ternyata masih sulit Nathan hilangkan.
"Tapi ingat, Al. Lo gak boleh sering-sering bolos ke sini. Kalau pas kepengin banget aja."
Decakan dari Raksa menggundang kembaki perhatian Alura. "Salah ngomong lo, Nath. Ini bocah tiap hari ya maunya bolos terus."
"Sadar diri, anjir! Lo juga sama aja."
Satu cubitan sadis Alura akhirnya berhasil mendarat, menyiksa pinggang Raksa.
Pantas saja di beberapa waktu, lelaki berkulit tan itu dan Juna kadang tak ada di kelas sampai bel pulang.
Taunya bolos santai di sini.
Untung Renza tak terlalu ikut-ikutan. Sebab lelaki yang menjabat sebagai ketua ekskul seni itu juga menjadi ketua kelas.
Bisa gawat ceritanya kalau sampai kenakalan Renza terendus guru-guru. Orang tuanya sejenis strict parents, satu koloni dengan Adnan.
Kembali keluar, dilihatnya Juna, Renza, Chena dan Aji tengah santai menikmati satu box pizza berukuran sedang yang entah datang dari mana sembari bermain PS.
Dengan kondisi mulut berminyak, suara cempreng Chena mengudara menyerukan kata kasar pada Aji yang barusan merebut bola.
"Anjirlah, Ji! Minta gue lempar ke lantai satu emang lo!"
"Sabar bosku. Btw makdi kita mana? Makdi makdi! Tenggorokan gue seret mau minum."
"Makdi pala lo. Mekdi, goblok. Kampungan ewh."
"Lagak lo minum soda mekdi. Biasa juga air kobokan diembat!"
Ocehan tiga makhluk di depan Renza cukup menganggu istirahat sejenak lelaki itu. Dari sofa panjang, ia melirik jam dinding. Kurang dari sepuluh menit lagi bel masuk akan berbunyi.
Baru hendak bersuara mengusir para manusia hobi bolos itu agar kembali ke kelas masing-masing. Tapi pekikan Aji menanggapi teleponan membuat ekstensi tertuju semua padanya.
"Kenapa, Ji?" tanya Alura penasaran.
Sementara yang ditanya cengo. "Gue lupa bilang kalau antar makdi-nya lewat belakang. Sekarang kang gojeknya ketahan di pos depan."
"Dongo!"
"Goblok!"
"Bego!"
"Dodol!"
"Udahlah lempar aja ini anak ke lantai satu!" gemas Chena.
Jelas saja tertahan di pos. Pesan makanan online selama jam pelajaran itu dilarang keras di sekolah mereka. Kecuali sudah jam pulang, baru dibebaskan.
Tujuannya tentu saja agar makanan kantin laku.
"Inilah Bunda pentingnya memberi ASI sejak dini, biar isi kepalanya glowing. Bukannya dikasihin air kobokan!" celetuk Juna.
"Jadinya ntar keruh kayak isi kepala Aji," sambung Alura yang dilanjutkan tawa puas olehnya.
Berhubung sedang dalam mood baik, Alura menawarkan diri mengambil pesanan Aji.
Kebetulan ia akrab dengan satpam di pos karena cs kental yang sering membantu kalau gadis itu terlambat masuk.
Bermodalkan senyum manis, kepala Alura menyembul. "Siang, Bapak Sukimin."
"Eh, Neng Al. Ada apa?"
Mata Alura bergerak mencari sesuatu di dalam pos satpam. Tapi tak menemukan apa pun. "Tadi ada yang antar makanan online atas nama Aji-Aji Mantra Guna gak, Pak?"
"Oh. Ada, Neng."
Kedua sudut bibir Alura tertarik ke atas. "Nah. Itu punya saya. Boleh kasih Al, Pak? Ntar kita cincai-cincai aja kayak biasa hehe..."
"Aduh, Neng. Gimana, ya?"
"Apanya yang gimana, Pak? Tenang aja."
"Bukan gak mau kerja sama, Neng. Tapi itu...," gantung Pak Sukimin. "makanannya gak sama Bapak lagi."
"Hah? Terus sama siapa, Pak?"
Seingat Alura, manusia bobrok itu masih pada di atas sana. Hanya dia sendiri yang turun ke bawah.
"Itu... sama—"
"Sama gue," potong seseorang yang berdiri di belakang Alura.
Tak sempat merespon, pergelangan tangan Alura tau-tau ditarik paksa.
"Weh! Apaan tarik-tarik?! Lo kira gue truk derek!"
Tubuh tegap itu berbalik. Sepasang netra tajamnya menghunus tepat pada Alura. "Karena itu punya lo. Jadi ikut gue."
"E—eh?! Eh! Ke mana?! Ngapain?! Woi, Jeno!"
"Ke BK, masuk anekdot!"
"WAH ASYU! JENONG SIALAAAAN!!"
👈👉
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro