14
"Al, ada yang cariin. Buruan."
Kepala telungkup Alura di atas meja mendongak malas menatap Juna.
"Siapa?"
"Malaikat maut."
Beruntung bukan lelaki bernama lengkap Arjuna Abadi Sitohang itu yang menjawab, melain anak sulung dari keluarga Atmadja.
Malas membalas, Alura memilih lanjut tidur. Meladeni Raksa hanya buang-buang energi percuma.
Hanya saja baru beberapa detik memejam mata, gangguan lain datang.
Alura menghela napas sabar. "Gue cuma pengin tidur, tapi kenapa lag—"
"Ayo makan. Tadi waktu mapel lo ngeluh lapar mulu ke Raksa." Itu suara Nathan.
Tanpa persetujuan, diambilnya tangan mungil Alura dalam genggaman kemudian menarik paksa gadis berwajah mengantuk itu agar mau bergerak.
Akibatnya, setiap langkah malas Alura kerap diiringi rengekan yang keluar dari bilah bibir ranumnya.
"Iishhh... iisshh... gue ngantuk, bukan lapar! Woi! RAKSA! CEPU! SETAN!"
"Nathan lepaaaaaaaaaass!"
Satu cubitan gemas mendarat di pipi Alura yang kembali mengeluarkan suara toanya. "SAKIT BEGO! GUE GIGIT LO, YA!"
"Nah—akh! Malah digigit beneran!"
Di belakangnya, Raksa dan Juna hanya bisa menggeleng-geleng melihat kelakuan sepasang mantan tersebut.
"Kalau dilihat-lihat, bakal ada yang balikan, nih," bisik Juna memulai dunia pergosipan.
Mulut lelaki itu tiada hari tanpa mengeluarkan bahan ghibahan.
Ada saja korbannya sebagai topik pembicaraan.
Bahkan kolor lusuh bergambar iron man milik kang kebun yang tak sengaja menyempil keluar saja pernah jadi pembicaraan tak bermutu ala Arjuna.
Kepala tampan Raksa menggeleng singkat. "Taruhan pakai tesla baru gue. Mereka gak akan balikan," ujarnya yakin.
Dibanding Juna, Raksa jelas mengenal baik bagaimana sakit hati Alura akibat masa lalu yang Nathan berikan.
"Berhubung lo teman Alura dari jaman jebit. Sebenarnya gue mau percaya ucapan tadi. Tapi...."
"Tapi apaan?"
"Tapi mendengar kata tesla baru, jadinya gue sok mengpedelah. Kali aja beneran balikan, lumayan dapat tesla. Bisa gue jual buat modal nikah muda," cengir Juna.
Sedangkan Raksa terlihat acuh. "Memaafkan bukan berarti berpeluang diajak balikan."
Apalagi untuk ukuran manusia kampret sejenis Nathan.
Kalau Raksa berada di posisi Alura pun, belum tentu ia sudi melihat wajah lelaki itu lagi. Bisa jadi malah bawaannya emosi tiap detik.
Lain dengan Alura, seski diawal sangat kesal begitu tau satu sekolah lagi dengan Nathan. Tapi sebenarnya sedikit banyak ia sudah memaafkan.
Gadis itu tipe yang mudah memberi maaf, tapi tidak untuk melupakan.
Sampai mati, kesalahan tersebut akan terus diingatnya.
"Memang sefatal itu sampai si Al ogah sama Nathan lagi?"
Bahu lebar Raksa kembali terangkat acuh tak acuh.
Ternyata di kantin, sudah ada Renza dan dua adik kelas mereka yang menunggu.
"Lama amat datangnya! Gue sampai capek jagain bangku lo pada!"
Belum juga duduk, omelan Renza lebih dulu menyambut.
Ketua ekskul paduan suara itu hampir melempar Raksa dengan kotak tisu karena lancang menempelkan bekas kecupan dari tangan ke pipi Renza sebagai permintaan maaf.
"Salahin, nih. Mantan tercintanya Nathan yang susah amat dibangunin."
"Padahal sepanjang pelajaran biologi sampai pindah ke sejarah terus lanjut ke sasing, ini anak molor mulu."
Geplakan ringan menyentuh belakang kepala Raksa. "Enteng banget itu mulut menghakimi orang. Kayak lo enggak aja, ya, sialan!" maki Alura sebal.
Justru Raksa lebih parah.
Masih jam ke tiga pelajaran, tapi pemuda berkulit eksotis itu telah terbang menuju alam mimpi.
Mana pakai acara ileran campur mengingau nama Arche pula.
Menggelikan.
"Ya... jangan dicontoh, dong, sayang. Walaupun gue imam, lo sebagai makmum harus—iya Nath, iya. Alura cuma punya lo seorang. Ampun, Ndoro."
Bibir cerewet Raksa kembali terkatup.
Nyali lekaki usil itu langsung surut tak bersisa ketika tatapan tajam Nathan menghunus tanpa ragu ke arahnya. Seolah akan menusuk sadis Raksa kalau sampai berani menggoda gadisnya lagi.
Malas ikut dalam lingkaran tak jelas itu, Alura berniat pergi.
Tidur di kelas jelas lebih baik dibanding mendengar celotehan berisik para lelaki tersebut. Belum lagi pandangan ingin tau bin penasaran murid-murid lain ke arah meja mereka itu terasa sangat menganggu.
Alura risih jadi bahan tontonan tanpa sebab.
Seolah ditelanjangi secara tak kasat mata.
"Makan dulu. Pikirin maag lo." Cekalan lembut Nathan dengan cepat menahan Alura yang hendak tergerak bangkit.
Alura menghela malas.
Berdebat pun percuma, Jaemian Dinathan Pangestu itu tipikal lelaki kepala batu!
"Terserah, deh. Sepuluh menit gak datang makanannya gue cabut."
Tatapan Nathan berubah arah pada Juna yang paham perintah tersirat tersebut.
"Oke, gue pesan. Mau apa?"
"Nasi goreng baru. Masak pakai mentega, jangan minyak biasa. Gak pakai bawang apa pun dan big no to seafood. Telur mata sapi setengah matang, tambahin acar timun kalau ada. Sama...," ucap Nathan sambil berpikir, "... kerupuk juga yang banyak."
"Oke, sip. Kalau lo, Al? Mau apa?"
"Yang gue sebut tadi itu pesanan Alura. Sekalian minumnya air putih hangat aja," lanjut Nathan sigap.
Baik Renza, Raksa dan Juna tercenung sejenak dengan senyum tertahan.
Lain dengan Alura yang tetap diam memasang ekspresi dingin.
Meski dalam hati sedikit tersentuh karena Nathan mengetahui detail makanannya.
Padahal dulu lelaki itu tak pernah peduli. Mau Alura khayang sambil jaipongan di tengah lapangan pun, Nathan tetap cuek bebek.
"Telat banget sikap manisnya baru sekarang," ringis Alura membatin.
Sewaktu mereka masih jadian, boro-boro Nathan memesankan makanan seperti tadi. Menatap Alura saja rasanya ia teramat malas.
Pacaran rasa kemusuhan, kalau mengutip kata Raksa.
Sejak awal, Alura yang berjuang mati-matian demi mendapatkan perhatian Nathan dari jaman seragam putih dongker, hingga dibuntuti ke SMA yang sama. Alura bahkan berubah menjadi bukan dirinya, dari yang biasa urakan berjiwa preman menjadi layaknya anak baik-baik seperti tipe idaman Nathan—cewek anggun berperilaku baik. Gadis itu juga totalitas memanjangkan rambutnya, meski ia merasa gerah dan risih. Menahan malas agar tak keseringan tidur di kelas demi mendongkrak nilai, karena Nathan suka gadis pintar.
Akibat jenuh terusan dikejar-kejar, akhirnya Nathan menerima pernyataan cinta Alura.
Tapi sikap lelaki itu sama sekali tak mencerminkan sebagai pacar yang baik. Justru keluguan Alura dalam dunia romansa dimanfaatkan Nathan untuk kepentingannya, seperti waktu ia kalah taruhan dan menjadikan Alura bayaran yang ternyata memang sudah diincar lawan karena kecantikkan dan merasa tertantang.
Berujung memberikan kenangan buruk paling seburuk-buruknya bagi Alura yang nyaris diperkosa jika waktu itu Lucas dan Raksa tak inisiatif membuntuti kepergian gadis itu.
Namun, kejadian menyelamatkan Alura justru membuat Raksa kehilangan kesempatan melindungi sosok lain yang juga berarti untuk lelaki itu.
Sejak itu Alura jadi makin sulit memberi kepercayaan pada siapa pun.
Sebisa mungkin ia mengurus hidupnya sendiri, tanpa bantuan orang lain. Walau terkadang membutuhkan apartemen Lucas atau jiwa babu Raksa yang gampang disuruh-suruh.
"Oke, gue pesan." Juna melesat pergi.
Setelah mengantongi semua rentetan makanan pesanan tersebut, lelaki itu mulai antre.
Jangan heran kenapa Juna rajin mau disuruh-suruh.
Ya tentu saja ia mendapat keuntungan dengan makan siang bebas tanggungan, alias dibayarin Nathan.
Wajah jenuh Alura iseng menoleh arah taman di samping kantin terbuka. Dari lantai dua tempat mereka, di bawah sana terlihat hijau nan asri. Sampai perhatiannya tersedot pada satu titik.
"Mia?" lirih Alura sadar begitu memicingkan mata "Itu Mia bukan, sih?"
Tangannya heboh memukuli lengan Raksa di sebrang meja. Membuat fokus lelaki yang tengah bermain game itu terganggu.
"Itu Mia 'kan, Sa?!"
Renza tertarik memerhatikan. "Iya, itu si cupu sama gengnya Alexa. Kenapa?"
"Wah. Itu Mak Lampir pasti mau bully Mia, nih."
Lagi, pergerakan Alura harus terhenti akibat cekalan tangan Nathan.
"Duduk," perintah lelaki itu tegas.
"Apaan elah?!"
"Gue bilang duduk, Alura. Tunggu makanannya. Lo udah sepakat tadi."
Alura mendengus kasar. "Gue bakal makan, tapi mau ke sana dulu baru nanti balik lag—"
"Duduk. Gue bilang duduk."
"Nath—"
"Jangan sampai gue ulangin buat yang kelima kalinya." Sorot serius Nathan mendongak menatap Alura yang kian kesal.
Keberadaan Mia sudah tak terlihat lagi.
Perasaan Alura mengatakan kalau manusia culun itu di bawa ke gedung A lama, karena di sana sepi dan jarang dijangkau guru kecuali jka ada praktikum renang.
"Lo kenapa, sih?! Nyebelin banget, heran!"
Nathan menyentak pergelangan tangan Alura hingga gadis itu kembali tertarik duduk, bahkan wajahnya hampir menubruk bahu Nathan jika saja lekaki itu tak cepat menahan tubuh Alura.
Di bawah meja, kaki Raksa reflek menendang kuat tulang kering Nathan.
Sepasang mata elangnya mendelik tak senang seolah berkata 'jangan kasar, dodol! Gue gebuk juga lo!' pada Nathan yang menyadari tindakannya barusan.
Lelaki itu berdeham canggung. "Maaf... gue gak maksud ngatur lo, Al."
"Terserah! Gue gak suka ditarik-tarik, berasa mirip kambing mau dipotong!"
"Kan memang muka Kak Alura kayak kambing. Ngaca aja coba," ceplos salah satu adik kelas yang baru ini terdengar suaranya.
Manusia bermata sipit dengan kulit super putih itu terkekeh menggunakan suara cemprengnya tanpa dosa.
Seingat Alura namanya Chena dan si jangkung kalem di sebelahnya adalah Aji.
Lubang hidung Alura kembang-kempis menahan murka, mulutnya siap melempar omelan. Tapi keduluan disumpal tempe medoan oleh Raksa.
Kurang ajar memang, kan Alura jadi batal mengamuk.
Penghuni meja pojokan yang sedari tadi mengundang tatapan murid lain itu kompak terkekeh akibat ulah absurd Alura dan Raksa.
Renza mengasurkan selembar tisu untuk Alura. Mulut manyun gadis itu jelepotan oleh minyak tempe.
"Mia itu aneh, Al. Terlalu misterius gak jelas. Mending lo jauhin, deh."
Ucapan Renza barusan diangguki yang lain.
"Kan gue udah pernah bilang. Jauhin Jeno juga Aluna. Termasuk Alexa karena masih berhubungan," imbuh Nathan.
Desisan keluar dari mulut alura. "Gimana bisa gue jauhin saudri gue sendiri, dodol," batinnya.
Rasa-rasanya beberapa bulan Nathan pernah menjadi pacarnya, lelaki itu sangat amat buta tentang keluarganya.
Walau pun sebenarnya tak salah juga karena memang Alura sendiri yang sengaja menutup diri.
Jangankan Nathan, Raksa pun tak tau menahu siapa Aluna untuk Alura.
Hanya Lucas dan Hendry yang ia beri kepercayaan untuk mengetahui sebagian rahasia kecil keluarga gadis itu.
"Kenapa, sih? Terus kalian diam aja gitu lihat orang lain ditindas? Terutama sama si permen relaxa?"
"Bukan gitu, Kak. Tapi si culun Mia sama geng bar-bar Alexa memang terkenal aneh. Malas aja," gantian Aji buka mulut.
Rumornya dulu ada beberapa kali yang pernah menolong Mia. Ujungnya tak jelas, tau-tau para penolong pindah sekolah setelah ditemukan babak belur. Dari gosip yang menyebar, katanya bukan Alexa and the geng yang menyiksa. Melainkan Mia sendiri.
Namun, kebenarannya sampai saat ini tidak ada yang tau. Sebab para penolong itu bersikers tutup mulut.
Chena mengangguk. "Makanya gak ada yang ikut campur."
Kerutan di kening Alura semakin dalam. "Aneh?" ulangnya, "jangan bilang kalau sebenarnya mereka itu—"
"Siluman."
👈👉
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro