12
Berdiri dengan satu kaki terangkat dan hormat menghadap tiang bendera bukanlah posisi yang patut dicoba. Namun, sering mengalami sebelumnya tak lantas membuat gadis berseragam acak-acakan itu jera.
Mulut besar Alura menguap lebar tak tau malu. Ia masih mengatuk ketika Jeno menciduk dan melaporkan aksi tidur cantiknya di gedung olahraga indoor pada BK.
"Dasar Jenong cepu! Tukang ngadu!"
Ah—mengingat betapa menjengkelkannya wakil ketua osis itu, membuat kuping Alura rasanya sampai mengeluarkan asap.
Ia ingin makan orang! (Kalau saja mulutnya muat).
Wajah masam Alura tertoleh ke arah pinggir lapangan, tak ada lagi guru BK yang memantau di sana.
Tapi—
"Lihat nih, guys. Ada monyet lagi dihukum karena ketahuan bolos," jelas Raksa meng-zoom kamera hpnya.
"Raksa anak setan!" pekik Alura tertahan, sementara yang dimaki tertawa puas.
Bersama Renza-ketua kelas mereka (yang cuma casing aja mencerminkan anak baik nan teladan, taunya bobrok juga sejenis Raksa). Awalnya kedua lelaki itu diutus ke ruang lab untuk mengambil media peraga, tapi malah nyasar ke lapangan begitu tak sengaja melihat Alura yang tengah dihukum. Tentu saja bertujuan untuk menertawakan Alura secara langsung sekaligus mengabadikannya dalam rekaman video.
Kali aja aib Alura bisa dipakai suatu saat.
"Monyetnya marah, guys," kekeh Renza.
Tangan usil Renza kembali mengezoom tepat pada lubang hidung Alura, sebelum menyemburkan gelak tawa bersama Raksa.
Namun, kebahagiaan mereka tak bertahan lama sewaktu dehaman penuh teguran tersirat dari Jeno terdengar yang segera mengusir dua remaja kurang kerjaan itu.
Alura antara lega sekaligus sebal juga, karena Renza dan Raksa pergi tanpanya.
Kini fokus lelaki minim ekspresi itu tertuju pada si tukang bolos.
"Hukumannya udah selesai."
Alura mendecih menurunkan sebelah kaki yang terasa pegal.
Sebenarnya bisa saja melarikan diri di tengah hukuman, kalau tak teringat janji menjadi murid baik-baik pada Aluna.
Ternyata sesulit itu konsisten pada sebuah ucapan, pantas saja orang dewasa banyak yang ingkar.
"Langsung balik ke kelas," peringat Jeno dingin.
Jujur saja aslinya Jeno malas berkata begitu. Namun, terpaksa karena mendapat mandat dari guru BK untuk memastikan Alura benar-benar balik ke kelas. Jika tidak, nanti Jeno yang akan gantian kena hukum.
Nasib sial, pikir Jeno detik itu juga.
Bagi kapten basket SMA Neo tersebut, berurusan dengan Alura pasti akan selalu membuatnya kesusahan. Lahir dan batin!
"Langsung balik ke kelas."
Lagi, Alura mendecih dan kali ini lebih jelas. "Urusan banget emang sama lo? Terserah gue-lah."
"Balik ke kelas."
"Bodo amat."
"Balik ke kelas."
"Gak."
Sepasang kaki Alura melangkah tak acuh. Ia ingin melanjutkan aksi molor sampai jam pulang sekolah.
Tapi pertama-tama, Alura harus mencari tempat bolos-able anti terciduk dulu agar aman sentosa melancarkan rencananya.
Hanya saja, baru beberapa langkah menjauhi Jeno, sebuah tarikan sadis pada belakang kerah baju Alura terasa.
Jangan tanya siapa pelakunya.
"Jenong! Lo—" Dengan posisi berjalan mundur, Alura mencoba melempar pandangan murkanya. "Woi, lepas!"
"Gak. Tadi gue udah bilang secara baik-baik tapi lo abai."
Tubuh Alura berbalik, sampai lehernya terasa tercekik karena terlilit kerah baju sendiri. Jeno sempat melepas, walau di detik berikut lelaki itu kembali menarik ujung lengan baju Alura dan membawanya menuju kelas.
"Lepas, sialan! Gak usah tarik-tarik!"
Alura menyentak tangannya yang kemudian berhasil bebas. Tapi Jeno balik melakukan hal yang sama tanpa memedulikan makian gadis itu.
Kalau dicatat, mungkin satu isi kebun binatang telah ia sebutkan mengiri langkahnya yang terseret paksa.
"Woi! Jidat Jenong, lepasin! Baju gue bisa koyak, anj!"
"Al!"
Kedua kepala itu kompak menoleh begitu menangkap suara yang dikenal.
Dengan ekspresi berbeda, Alura dan Jeno memberikan reaksinya. Di sana ada Aluna yang barusan keluar dari ruang OSIS, mereka baru saja selesai rapat.
Seketika Jeno mengendurkan tarikan pada Alura. "Kamu masih di sana? Aku pikir udah balik ke kelas."
Di tempatnya, dahi Alura tak kuasa menahan kernyit jijik. Aku? Kamu? Menggelikan.
"Belum. Tapi ini mau." Aluna menggeleng kecil. "Kamu habis dari mana, No? Siap rapat langsung kabur. Ini kalian ngapain?"
Sentakan kasar itu kali ini berhasil melepaskan sentuhan Jeno. Telunjuk Alura menunjuk galak ujung hidung besar lelaki di dekatnya.
"Tuh! Laki lo main tarik-tarik gue aja. Sok akrab banget!"
"Aku disuruh BK buat seret dia balik ke kelas. Kalau enggak nanti aku yang dihukum," jelas Jeno selanjutnya.
Masih menggunakan ekspresi wajah yang sama dinginnya, hanya beda di intonasi suara yang terdengar lebih lembut.
"Wah. Ternyata lo utusan BK?! Pantasan sama-sama nyebelin, dasar Jenong jelek!"
"Bacot. Mending lo balik."
"Kalau gue gak mau? Emang lo bisa apa?" tantang Alura.
Helaan napas panjang keluar dari arah Jeno. Cukup sabar ia bersikap agak baik, tapi sepertinya Alura lebih suka dikasarin.
Di sisi lain, Aluna berkedip bingung.
"Kenapa mereka berdua selalu tengkar kalau lagi dekatan?" batinnya.
"Memang, Alura buat salah ap—eh?"
"Lo bilang mau antar gue. AYO!"
Belum lagi Aluna siap bertanya. Kedua murid berkepribadian saling bertolak belakang itu telah menjauh. Secepat mungkin Alura membawa Jeno pergi agar tak menjawab saudarinya. Bisa habis nanti dia.
Di tikungan dekat tangga menuju kelas, gantian Jeno menyentak tangan besarnya. Berujung pada Alura yang tak siap malah menubruk dada bidang lelaki itu.
Gadis itu meringis mengusap dahi. "Lo kasar banget sih, anjir!"
"Salah sendiri main tarik-tarik."
"Lah, lo duluan yang tarikkin gue tadi!"
"Itukan tadi, beda sama sekarang," jawab Jeno santai.
Bertolak belakang dengan Alura yang sudah emosi tingkat nasional menghadapi manusia menyebalkan di hadapannya.
"Jangan bikin emosi, ya! Gue kutuk gak bisa kentut setahun baru tau rasa lo!"
Bahu lelaki itu terangkat cuek.
Membuang rasa bersalahnya, Jeno kembali menarik ujung lengan baju Alura. Tentu saja oknum yang ditarik-tarik kembali bersuara melayangkan protes.
"Tuh 'kan, tuh 'kan. Lo tarikkin gue lagi!"
"Jidat Jenong lepasin!"
"Baju gue bisa koyak beneran, set—tan"
"Lo bisa diam?!" Tubuh tegap Jeno yang semula memimpin jalan itu berbalik kesal. "Apa perlu gue sumpal mulut lo pakai kaos kaki, hah?!"
Masalahnya mereka sedang berada di lorong kelas anak XI lantai 2. Agak malu rasanya jika sampai suara toa Alura didengar ke mana-mana.
Nasib baik hanya dianggap angin lewat, tapi lain cerita kalau tak sampai ditegur guru yang tengah mengajar. Citra Jeno sebagai siswa panutan bisa tercoreng karena ikut tercebur bikin rusuh sewaktu jam pelajaran.
"Jorok amat pakai kaos kaki! Pakai dasi atau sapu tangan, deh. Atau telapak tangan besar lo itu aja. Lebih manusiawi," saran Alura.
"Tapi lo bukan manusia."
"Oiya jelas, gue emang satu spesies sama bidadari khayangan. Makanya bahenol begini. Jangan naksir. Oke," cengir Alura tanpa dosa.
Sementara Jeno yang melihat kelakuannya hampir khilaf melempar gadis itu ke lantai satu lewat balkon.
Melihat ekspresi suram Jeno, mulut bawel Alura kembali bergerak.
"Jenong ngambek abis gue tolak?"
"Diam."
"Mulut juga punya gue, apa hak lo nyuruh diam?"
"Diam."
"Gak mau. Kalau gue diam malah bikin lo merasa menang atas perintah lo. Makanya gue bakal ngabacot sampai itu telinga lo keluar teler, terus budek, lalu cong—mpphh!"
"Lo mau gue sumpal pakai telapak tangan 'kan? Nih gue turutin!"
👈👉
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro