[ 2 ] - Masa Jahiliyah Nadrah
"Jika kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menanggung perihnya kebodohan." - Imam Syafi'i
Setelah kupikir-pikir, ternyata instansi belajar berstatus negeri tak pernah menjadi pilihan pertama yang kutetapkan sebagai tujuan tempat untuk mencari ilmu.
Dulu sekali, di kala tinggi badanku masih belum bisa melebihi meja makan yang hanya seukuran pinggang Ibu, aku dan salah satu sahabat TK-ku membuat janji dan impian sakral.
Kami sedang memasuki waktu istirahat setelah berlatih Marching Band untuk persiapan acara perpisahan, saat aku menanyakan SD mana yang akan dia tuju selepas lulus.
"Aku mau masuk ke SD di Kairo," balasnya, sambil memainkan tongkat mayoret yang menunjukkan posisinya di formasi Marching Band kami.
Aku yang tengah memeluk snare drum beserta dua stik pemukulnya, melongo. Segelintir kagum, lebih banyak bingung. Karena ketidaktahuan tentang di mana tepatnya Kairo itu berada.
"Di mana, tuh?"
Anak perempuan yang sudah kuanggap sahabat sehidup-semati ini menangkup area rahangnya dengan telapak tangan, menunjukkan bahwa dia sedang berpikir. Aku menunggu jawaban.
"Nggak tahu," akhirnya memberi balasan, "aku cuman pernah dengar dari Kak Silan, kalau dia mau sekolah di Kairo. Katanya, sekolah di sana itu bagus banget."
Kami sama-sama belum tahu kalau sekolah yang dimaksud Kak Silan―kakak sulung sahabatku―bukan sembarang sekolah jenjang dasar atau menengah, melainkan sebuah universitas.
"Wah, kalau begitu aku juga mau masuk ke sana deh! Kita sama-sama ya, jangan sampai terpisah!"
Begitulah dua gadis berumur enam tahun, yang polosnya tiada ampun, memakan mentah-mentah mimpi melanjutkan pendidikan Sekolah Dasar di benua seberang, di saat Bandara Sepinggan saja belum pernah kami jejaki guna mengunjungi kota-kota terdekat dengan tiket paling terjangkau sekalipun.
Aku baru tahu setelah pernyataan penuh percaya diriku, ditimpal dengan kejam oleh tawa Kak Aban, di konversasi santai keluarga sembari menikmati teh hangat dan celupan gabin.
"Mana bisa kau sekolah di Kairo, naik pesawat aja belum pernah. Hahaha!" ucap bocah lelaki ceking sekaligus tengik kelas 5 SD, yang seumur hidup harus kuakui sebagai manusia sedarah-dagingku.
Abah, yang tahu benar bagaimana tensi yang selalu aku berikan pada Kak Aban, mencoba menengahi sebelum pecahnya perang dunia ketiga. "Aban Fathlani."
Dalam etiket keluargaku, ketika nama lengkap seseorang sudah disebut, maka itu artinya sang pemilik nama harus segera mengunci mulut, dan memasang telinga baik-baik. Meski sebenarnya etiket ini hanya boleh digunakan oleh yang tua kepada yang muda, suatu waktu aku pernah kelepasan menggunakannya terhadap Kak Aban. Saking cintanya aku dengan status persaudaraan kami. Ya, tapi itu adalah cerita di lain hari.
Setelah mengucap dengan tenang dua kosakata yang menyusun nama Kak Aban, yang terpanggil langsung kicep. Dengan kikuk mengambil dua gabin dari stoples, dan mencelupkannya sekaligus ke dalam cangkir berisi teh hangat. Perbuatannya hampir membuatku mengamuk lagi, tapi Abah segera memotong lembut, "Nada."
"Iya, Bah?"
Kurva bibir Abah melengkung lebar, sedikit menampilkan gigi-gigi yang agak kuning, "Boleh kok, kalau Nada mau sekolah di Kairo. Tapi nanti, pas Nada sudah besar."
Keherananku belum terjawab. "Memangnya nanti pas SD, Nada belum besar?"
"Nada liat Kak Aban," jempol Abah mengarah pada oknum yang kini menampakkan wajah masam, meski belum berani membuka suara. Sadar sudah dijadikan bahan banding.
Mulutku sontak membentuk huruf o yang ukurannya didramatisir.
"Nggak besar-besar, 'kan? Nah, makanya Kak Aban juga nggak sekolah di sana."
Fakta itu membuatku mengangguk-angguk takzim. Pun puas tak terkira karena berhasil menyaksikan muka Kak Aban semakin meringis kecut, seakan habis disuruh menjilat sejumput garam.
Tapi aku melupakan satu hal. Ketika aku sudah keburu didaftarkan di Sekolah Dasar Negeri yang dekat dengan tempat kerja Ibu, aku baru sadar bahwa sahabatku tidak ada di sana. Pulang-pulang dari hari pertama sekolah, Ibu dan Abah dibuat kalang kabut oleh wajah sembapku. Kubilang, kalau Abah sudah berbohong, dan itu dosa. Aku sudah berharap akan satu sekolah kembali dengan sahabatku di SD, bukannya malah melihat muka Kak Aban yang tampak makin songong dengan seragam putih merahnya, karena merasa dia sudah menjadi kakak kelas yang paling senior sedunia pendidikan.
Abah tertawa, mengetahui penyebab kesalahpahamanku.
Aku berpikir alasan tidak adanya sahabat TK-ku di SD tempatku menimba ilmu, adalah karena dia bersekolah di Kairo. Ternyata, aku saja yang sekolahnya kejauhan dari cakupan wilayah tempat tinggal dan TK kami dahulu. SD-ku berada di kawasan Balikpapan Utara―dengan alasan yang sudah kusebut tadi, dekat dengan tempat kerja Ibu yang tidak lain adalah SMP negeri yang bertetangga dengan SD-ku―cukup berjarak dari BSCC DOME, patokan yang selalu kusebut ketika memaparkan alamat rumah.
Akhirnya, setelah seminggu kulalui masa awal merah putih, barulah aku terpaksa menerima bahwa aku dan sahabatku telah berpisah. Jangan tanya mengapa aku tidak mengunjungi rumahnya saja, karena sejatinya Nadrah Fathilla di bawah umur 13 tahun masih mengarungi kehidupan dalam masa jahiliyah. Masih banyak bodohnya.
Kemudian, saat kepalaku dan otak kawan-kawan SD-ku sedang digempur cuaca bertemperatur tinggi akibat persiapan Ujian Nasional, dengan percaya diri di atas rata-rata aku mengusul, "Nada mau lanjut ke SMP KPS."
Kak Aban menurunkan sedikit tingkat begajulannya sebagai kakak yang baik. Tak lagi ia tertawai prospek yang sudah kukurangi pula taraf megahnya (dibanding bersekolah di Kairo). Tapi kali ini, dia bubuhi kalimat cemoohannya dengan sebuah tantangan.
"NEM-mu harus 30 dulu. IPA, Matematika, sama Bahasa mesti sempurna nilainya, kalau mau masuk SMP unggulan."
Tanpa ragu dan sebelum dihentikan oleh Abah maupun Ibu yang jelas-jelas tahu kapasitas kemampuanku dalam mencapai suatu nilai, aku mengiyakan. Terkesan takabur karena aku merasa terlalu yakin bisa memenuhi tantangannya.
SKHU pun keluar. Nilai IPA-ku berpredikat sempurna. Sayangnya, kolom penilaian Matematika hanya bisa menjemba angka 9, sedangkan nilai Bahasa Indonesia anjlok total, nangkring di angka 7. Qodarullah, kepalaku didera sakit yang teramat sangat saat ujian hari pertama. Terlalu memforsir waktu belajar, diagnosa dokter dan Abah. Buah dari kesombongan dan keberatan ambisi, sabda Kak Aban. Sementara Ibu diam-diam bersyukur, karena dambaanku untuk bersekolah di SMP Nasional KPS Balikpapan otomatis kandas. Usut-usut, karena statusnya yang swasta dan jaraknya yang bak haluan dan buritan dengan tempat Ibu bekerja.
Ibu menganggap dirinya praktis. Pikir beliau, semua sekolah sama saja ilmunya. Yang membedakan hanya dua hal. Pertama, adalah status negeri dan swastanya. Itu artinya, keluar uang atau tidak.
Kedua, kemudahan akses. Motor di rumah ada dua. Abah sebagai pengendara satu, Ibu sebagai pengendara dua. Aku penumpang, dan Kak Aban adalah beban angkutan. Otomatis, keluarga ini terbagi menjadi dua tim. Satu ikut Ibu, yang lain menumpang pada Abah.
Kemudahan akses yang kumaksud di sini adalah, Ibu lebih suka kalau aku atau Kak Aban bersekolah di tempat yang bisa beliau jangkau dari kantor. Jadi meski terhitung jauh dari rumah, asal dekat dengan kantor Ibu, maka tak masalah. Kalau Abah, mana-mana saja, yang penting anaknya bersekolah.
Resolusinya, aku berakhir di SMP negeri tempat Ibu bekerja.
Kuralat pendapat Ibu―aku lebih setuju mengganggap kalau Ibu itu ribet.
Di periode putih-biru, gagasanku membulat. Baik Abah, Ibu, dan Kak Aban selalu menghalangi cita-citaku untuk bersekolah di instansi yang aku mau. Memisahkan sahabat sehidup-sematiku. Membiarkanku terpenjara dari kebebasan berpendidikan, hanya karena segepok kertas yang menguasai dunia (uang) dan dua onggok besi yang bisa berpindah tempat (motor). Tekadku jadi jelas. Aku harus kaya dan punya banyak motor.
Baik, sampai di situ, puncak bloon seorang Nadrah. Rasa-rasanya aku tidak sanggup lagi mengisahkan bagaimana bahlulnya diriku sampai berani membuat prasangka buruk pada keluarga sendiri.
Lalu, datang seorang penyelamat yang menarikku dari lubang kebodohan. Cleaning Service di sebuah instansi Sekolah Dasar yang pernah kupijaki selama enam tahun, merangkap pengurus Takmir Masjid Al-Muharram beberapa petak dari rumah―Aiman Nasir, yang tak lain dan tak bukan adalah Abah sendiri.
Author's Note:
Loh, lah, loh? Nad? Katanya tadi Abah kamu yang jadi penghalang mimpimu. Kok, tiba-tiba yang jadi penyelamat ... justru Abahmu juga? Hayoloh.
Alasan baru update sekarang adalah ... ga tahu kenapa feel revisi bab dua jadi beda. Nadrah yang sedikit lebih sarkas, padahal sama keluarga sendiri.
(Boong, sebenarnya Author-nya aja yang lagi uring-uringan, suka tiba-tiba beda vibes nulis. Dan lagi, Ya Allah, peserta GWC Batch 1 yang laen udah siap meluncurkan bab 8/9, lha saya masih nge-stuck di bab 2 😭😭😭)
Wkwkk. Seperti judul babnya, Nadrah piyik emang kedapetan masa-masa bahlul. Juga ... terasa lebih umum dari Nadrah yang kita tahu di Blurb, Prolog, maupun Bab 1. Ditambah, Nada yang ini lebih sering ... bermimpi, memiliki keinginan. Padahal, 'kan, mimpi itu kurang lebih kayak angan-angan. Duh, seperti beda orang ya :")
Kira-kira, apa yang membuat Nadrah berubah? Mengapa dia serta-merta menjadi orang yang obsesif pada ajaran agama, serta sentimen terhadap penyimpangan syarak?
Terus terus, sadar juga ga sih, kalau Nadrah itu selalu menyalahkan takdir, atau apapun yang ia rasa menghalangi mimpi dan tujuannya, selain dirinya sendiri? Which is pada kasus SMP KPS, dia gagal masuk karena kelalaian dirinya sendiri. Meski, ya, dia sempat notice juga sih kalau dia terlalu over dalam berprasangka.
Anggaplah, Nadrah memang sudah paham bagaimana akibat buruk dari berprasangka. Tapi, tapi ... apakah sifat seseorang bisa mudah berubah, meski dengan komitmen sekalipun?
Terakhir (beneran). Sadarkah kalian kalau Author yang satu ini, suka sekali mengubah alur paragraf? Alias, yang tadinya bahas apa, setelahnya bahas apa. Alias, beleberan! Alias, saya lagi curhat, karena memang sefrustasi itu, kok arah tulisan suka nggak nentu. Suka-suka hati! Alias ... Ya Allah, saya sepertinya kelelahan banget. ༎ຶ‿༎ຶ
Jumat, 2 Agustus 2024
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro