Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

A U T U M N

     Pagi hari itu harusnya tenang. Ekspektasi Rain adalah terbangun karena hangatnya sinar matahari yang menembus masuk dalam kamarnya melalui sela-sela tirai jendela dan cicipan merdu nyanyian burung untuk menyambut hari baru, bukannya guncangan keras di kedua bahunya beserta suara berisik yang mengganggu.

     "Rain-chan, Rain-chan!"

     "Berisik, Kam, aku ingin tidur lagi."

     Izawa Rain, gadis berdarah Eropa, seorang dokter hiu sekaligus novelis untuk yang kesekian kalinya tidak bisa menikmati hari liburnya dengan tidur nyenyak hingga siang—molor disat liburan bukan masalah bukan? Rain berniat tidur dengan damai sampai matahari agak meninggi guma menyegarkan kembali tubuhnya yang lelah menghadapi pasien menggunung selama seminggu ini. Minggu adalah satu-satunya hari dia bisa beristirahat. Rain sengaja mengosongkan shift kerjanya di hari Minggu, supaya akhir pekan bisa dinikmatinya dengan damai, namun rencana matang yang Rain susun dari awal selalu saja berhasil dikacaukan sang suami.

     "Bangun, Rain-chan! Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat!"

    Rain masih keras kepala berdiam diri. Ayolah, sekali ini saja, tolong berikan istirahat total pada istrimu, Kaminaga.

.

A Fanfiction of Izawa Kaminaga x Rain Wilhem Rutherford

.

Joker Game © Koji Yanagi

OC © Their Owner

.

.

.

Yuzutsu Yoshikawa presents

A U T U M N

.

This is OC x Character Fiction

Warn : Don't like don't read.

Happy reading! ♥

.

.

.

     Setelah rengekan Kaminaga yang memakan waktu setengah jam, Rain menyerah dan putuskan turuti permintaannya. Heran, merengek begitu kok bisa-bisanya beruntun terus menerus berlangsung selama itu. Memang, cuma ada satu cara agar telinga Rain berhenti mendengar suara rengekan Kaminaga yang berisik, menuruti permintaannya, maka kini Rain bersiap-siap mandi—pasrah ikuti Kaminaga akan membawanya ke mana kali ini.

     Satu jam berlalu dengan cepat, Rain dan Kaminaga sama-sama telah siap bepergian. Pintu rumah selesai dikunci, pagar yang jadi batas pun sudah dilewati, Rain tinggal menanyakan ke mana tujuan Kaminaga membawanya.

     "Kam, kita mau kemana?"

     "Eh, rahasia dong!"

     Selalu saja. Di setiap kesempatan kencan mereka, Kaminaga mengelak kala ditanyakan samg istri pertanyaan yang sama. Rain yang tahu sifat suaminya tentu tidak berharap banyak akan jawabannya.

     Rasa penasaran Rain yang membuncah tidak bertahan lama, dia ketahui tujuan kencan mereka ketika berhasil lewati jalan yang familiar dilihatnya.

     "Kita akan melihat daun yang meranggas?" tebak Rain percaya diri.

     Kaminaga menaikkan bahunya bersamaan, "Kau menebaknya dengan mudah, ya."
 
     Rain tersenyum simpul. Menikmati perubahan keemasan daun yang merupakan ciri khas musim kemarau tidak buruk juga, hitung-hitung menambah koleksi foto bersama suami.

     (Rain bisa dengan pede membatinnya sebab Kaminaga dari awal membawa kamera miliknya yang dikalungkan di leher, maka dapat dipastikan mereka akan mengambil seetidaknya sebuah foto dalam kencan ini.)

     Langkah Rain terhenti mendadak, salahkan Kaminaga di depannya yang berhenti secara tiba-tiba hingga Rain harus rela jidatnya bertubrukan dengan punggung Kaminaga. Rain mengusap-usap dahinya pelan, menggerutu pelan tidak terima, "Kenapa berhenti mendadak sih, Kam?"

     Kaminaga berpaling, senyum ceria ditampilkannya, "Di sini aja, viewnya sudah bagus."
    
     Rain memandang sekelilingnya. Benar kata Kaminaga, panorama yang disajikan alam berbeda jauh dengan sebelumnya. Sepanjang perjalanan yang Rain lewati sedari tadi, pohon-pohon hanya berjajar di pinggiran jalan, tetapi dengan posisi mereka yang semakin memasuki hutan, pohon-pohon mempesona mulai tersebar di berbagai tempat. Alhasil, kemanapun Rain menatap sejauh mata memandang, mereka terus berada dalam jangkauan pandang Rain.

     Rain menunduk. Tanpa sadar, tumpukan daun-daun kering menggunung di bawah kakinya. Kencan itu tidak boleh disia-siakan, kan? Rain menendangi pelan gundukan daun mengilat dengan air muka senang. Kaminaga yang menyaksikan hal tersebut tersenyum, ternyata istrinya diam-diam tetap memiliki sisi kekanakan dalam dirinya—Kaminaga mendengus, sudah lama sejak terakhir kali dia menemukan sisi itu dalam diri Rain.

     Kaminaga membiarkan Rain menghabiskan waktu sejenak guna melampiaskan sisi dirinya, sementara dia sendiri sibuk mempersiapkan tripod miliknya untuk mengambil gambar. Kaminaga berkacak pinggang puas. Dia memanggil Rain agar mendekat dan berpose di tempat yang dipilihnya. Rain mengangguk dengan senang hati, namun gaya yang diperagakannya senantiasa sopan dan elegan seperti biasa. Mau bagaimanapun, Rain tidak bisa mengekspresikan dirinya dengan baik dan Kaminaga maklumi sifat sang istri.

     Satu menit.

     Dua menit.

     Lima menit.

     "Kau belum mengambil fotoku, Kaminaga?" tanya Rain kehilangan kesabarannya. Mempertahankan keadaannya selama lebih dari lime menit bukanlah keahlian Rain. Bagi Rain, satu menit saja cukup membuatnya pegal.

     Kaminaga mendongak pelan dan Rain curiga atas patrian senyum Kaminaga. Sang perempuan memilih menyudahi posenya, berjalan cepat ke arah Kaminaga demi menanyakan apa yang membikin si pria mengambil banyak waktu untuk sebuah foto.

     "Ada apa, Kaminaga?"

     Kaminaga buru-buru menutupi lensa kameranya. Rasa curiga Rain akan tingkah laku suaminya meningkat. Kaminaga yang bertindak bodoh justru memancing Rain makin mendekat padanya.

     "Kaminaga, apa yang kau sembunyikan?"

     Rain berusaha menyingkirkan tangan Kaminaga dari kameranya. Instingnya mengatakan, memang ada sesuatu yang terjadi dengan benda bernama kamera itu. Sekian lama menarik-narik tangan Kaminaga, kerja keras Rain terbayar dengan kamera seutuhnya berada dalam genggaman tangannya.

     Rain menggeser foto-foto yang dipotret Kaminaga. Dia temukan lebih dari satu foto dirinya. Dan perempatan siku-siku kesal muncul di pelipis Rain, ingin tahu kenapa? Semua potret dirinya tidak ada yang utuh. Mmaksudnya, dalam suatu foto pasti ada saja bagian diri Rain yang tertutup daun yang terbang karena angin. Entah mata, bibir, ataupun hidungnya. Koni Rain mengerti apa yang membuat Kaminaga tidak segera memintanya berganti posisi. Yah, anginnya sejak awal memang berhembus kuat, Kaminaga tak bisa langsung disalahkan semata-mata oleh Rain.

     Rain melirik Kaminaga. Yang dilirik cemas sendiri akan nasibnya, "Uh, Rain-chan kau marah?" tanya Kaminaga lirih.

     Rain tak beri jawaban, namun telunjuknya terangkat—menyuruh Kaminaga mengikuti arah tunjukkan, "Coba kau berdiri di sana."

      Kaminaga menaikkan alisnya heran, tapi permintaan Rain dituruti. Dia berjalan tuju arah yang ditunjuk Rain dan menghadap ke arah kamera. Sebelum Kaminaga memutar badan seutuhnya, Rain menekan tombol pada kamera.

     Cekrek!

     Sial, begitu Kaminaga yang jadi objek foto, hasilnya bersih tanpa noda. Rain rasanya ingin marah-marah. Tangan kanannya melambai pada Kaminaga, beri instruksi agar dia mendekat kembali sembari Rain berjalan ke tempat Kaminaga, menggantikannya bergaya di tempat yang sama.

     Kaminaga paham dengan itu. Dia mengambil foto candid Rain yang berjalan dengan anggun. Sayang, sebuah daun melintas di depan kamera Kaminaga dan menutupi kepala Rain. Hasil fotonya nampak seperti seseorang berkepala daun sedang berjalan—Kaminaga tidak tahu dirinya boleh tertawa atau mengasihani Rain.

     "Rain-chan, tetap diam di sana!" Kaminaga berseru pada Rain yang bersidekap. Daripada memanggil dan kecewakan sang istri kedua kalinya, Kaminaga ambil tindakan langsung bagaimana cara mengatasi masalah ini. Kalau sendiri sial, harusnya berdua tidak sial.

     Kaminaga beranjak sehabis menyetel timer di kameranya. Mereka tinggal berpose dan menunggu kamera memotret mereka sesuai waktu yang ditentukan. Kaminaga tiba-tiba memeluk Rain dari belakang, sukses munculkan sedikit rona kemerahan di pipi Rain. Menyadari waktu timer yang disiapkannya terlewat, Kaminaga berlari ringan mendekatinya—meyakinkan dalam batin kalau hasilnya baik-baik saja.

     Dan, Kaminaga dikecewakan lagi. Serupa sebelumnya, wajah Rain tertutup lagi seutuhnya oleh daun yang gugur. Oh, salah apakah Rain sampai daun-daun yang merontokkan diri itu tak perbolehkannya mengambil foto sempurna bersama mereka?

     Kaminaga mengacak-acak rambutnya, otaknya sama sekali tidak terpikirkan suatu solusi. Tapi tunggu—kenapa Kaminaga tidak mencobanya? Meski kecil kemungkinan, Kaminaga mendekati Rain dan berharap rencananya lancar.

     "Terkena daun lagi?" Rain tampak menahan amarahnya ketika melontarkan pertanyaan tersebut.

     "Yaah," dan Kaminaga utarakan jawaban tak pasti, "Sekali lagi, ayo kita coba."

     Rain mendengus walau anggukan kecil disertakan—dalam hati dia sebenarnya tidak ingin merepotkan Kaminaga dengan hal ini.

     3...

     2...

    1...

     Kaminaga dengan cekatan mengganti posisinya kala kamera mengeluarkan flash. Rain yang tidak menyangka Kaminaga akan berubah posisi mengungkapkan rupa kagetnya yang manis. Kaminaga tersenyum bangga saat memergoki hasil jepretannya memuaskan.

     Rain menyikut Kaminaga yang senyum-senyum sendiri. Memangnya hanya dia yang boleh melihat hasilnya? Sebagai model foto, Rain juga berhak mengindahkan foto atas dirinya. Kaminaga setia pertahankan senyum jahilnya lalu serahkan kamera dengan zoom tepat pada sesuatu yang harusnya dilihat Rain.

     "Nanti kita cetak, ya?" goda Kaminaga.

     Rain memerah. Dia tidak menyangka hasil fotonya bisa tepat pada momen memalukan terkait yang diperbuat Kaminaga di detik-detik terakhir. Yang jelas jawaban Rain hanya satu untuk pertanyaan Kaminaga.

     "Ti-Tidak mau!"

     Ya, bagaimana bisa Kaminaga tidak malu mencetak fotonya dan Rain yang sedang berciuman? Sedangkan Rain mati-matian menutupi wajah merahnya dari Kaminaga.

      Kaminaga menyeringai, apapun jawaban Rain,  dia tetap akan mencetak foto itu nanti.

"Setidaknya, foto kali ini tidak ada daun yang mengganggu, iya kan, Rain-chan~"

***

The birthday girl today is : RainAlexi123

Yey papa ultah heuheu <3

Semoga papa selalu dilancarkan dalam segala kegiatannya, selalu diberkati agar segala perbuatan papa baik, didampingi dalam segala cobaan hidup ini/?

Semangat kuliahnya yha paa,  jadi dokter itu ga mudah dan banyak tantangan yang harus dilewati, namun tidak ada perjuangan papa yang sia-sia untuk mendapatkannya :>

Intinya, keep fighting! Tapi jangan hiatus dan melupakan dunia kepenulisan karena banyak yang terlanjur sayang sama papa di dunia oren ini wkwk. Kan sedih kalo misalnya papa berhenti mengerjakan karya-karya yang jadi hobi papa :(

Mungkin kado ini ga seberapa tapi kuharap papa suka! Euhm, dan mohon maap papa ternistakan di sini :"">

Semoga kita bisa mitup lagi yha paa, uhuk jangan lupa PUnya uhuk h3h3.

Best Regards,

Yuzutsu Y.

[Sunday, 17/12/17]

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro

Tags: #fuwafuwa