Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Bab 20 - Terbang Melarikan Diri

"Cepat atau lambat, Kristin. Manusia akan saling membunuh. Sama seperti roh-roh yang ada di sini," suara Gilang terdengar lembut dan membujuk. Itu benar, bukan? Kebencian tumbuh makin subur di muka bumi. Lihat saja Callista, atau Dika... orang-orang yang berdemo itu. Orang-orang yang menumpahkan kebencian dengan menyakiti orang lain.

"Kamu nggak tahu apa-apa, Cewek Manja!" ucapan Dika beserta sumpah serapahnya terngiang di telingaku. Dika... apakah benar apa yang dia katakan? Bahwa aku hanya cewek manja yang berlindung di bawah ketiak kakakku?

"Kak Gilang," setitik air mata kini jatuh di pipiku, "Maafkan aku."

"Untuk apa, Kristin?"

Aku meraih telapak tangan Gilang. Merasakan kasarnya telapak tangan penuh kapalan itu. Ini adalah tangan seorang pekerja keras. Pekerja keras yang disakiti dunia. Aku baru sadar, Gilang adalah salah satu pejuang yang terlindas pahitnya kehidupan. Semua penderitaan itu hanya Gilang yang mengetahuinya. Dia selalu memintaku ada bersamanya. Akan tetapi, aku adalah salah satu manusia yang mementingkan diri sendiri. Aku lebih sering memilih menjauhi masalah ketimbang terjun di dalamnya.

"Maafkan aku karena aku tak ada saat kakak membutuhkanku," tangisku tumpah seketika itu. Aku membiarkan Gilang menyandarkanku ke dadanya. Kesedihanku meluber tanpa bisa dicegah. Dan tampaknya kesedihan ini yang menggerakkan Gilang. Aku merasakan gelombang emosi yang hangat menyelimuti hati Gilang. Menyapu semua kebencian dan kepahitan.

"Kak Gilang, aku tahu... kamu yang sesungguhnya tidaklah seperti ini," bisikku. Gilang bergeming. Perkataanku agaknya mempengaruhinya.

"Kamu bukanlah manusia yang mementingkan diri sendiri. Kamu bukanlah orang yang nggak punya hati. Kamu nggak pantas berada di sini."

"Cepatlah, Milord, waktu semakin habis," suara Nolina terdengar cemas namun kali ini, Gilang tidak menghiraukan prajurit itu.

Gilang melepaskanku. Kepedihan terlihat dari wajahnya saat dia berbisik lirih, "Terima kasih atas semuanya, Kristin. Aku senang, tidak berpikir salah tentangmu."

Gilang menggerakkan tangannya. Kali ini padang pasir kembali tersibak. Memperlihatkan makhluk-makhluk serupa zombie itu.

"Kristin, apa kamu yakin nggak mau bergabung denganku?" nada suara Gilang melunak. Aku bahkan merasakan ketulusan dalam senyumannya.

Aku menggeleng, "Terima kasih pada semua niat baikmu. Akan tetapi aku masih memegang sumpah ibu untuk tidak berurusan baik dengan surga maupun neraka."

"Nolina, kamu sudah mendengar keputusannya."

Raungan Nolina terdengar berbarengan dengan munculnya dua taring tajam di sudut bibir perempuan itu. Tombak dan panah para prajurit terangkat. Semuanya kini mengarah padaku.

"Kristin, aku tak tahu apakah ini akan berhasil, tetapi..." tangan Gilang bergerak seiring gerakan tubuh-tubuh yang kini berkertak dan tersambung kembali. Gilang berdiri di depanku. Dengan segera, pakaiannya berganti dengan pakaian tempur. Sebuah pedang berkilau di tangannya.

"Apa yang kau lakukan, Baron Kalahari?" seru Nolina. Zombie-zombie telah bangkit sepenuhnya. Karena belum berbentuk manusia, mereka hanya serupa robot-robot yang digerakkan Gilang. Gerakan-gerakan mereka tampak kaku, namun efektif mencabik-cabik para prajurit iblis yang menyerang kami.

Nolina melompat ke depan Gilang dan mulai menyerang dengan pedangnya. Adu pedang tak dapat dihindari. Beberapa kali, pedang Nolina nyaris menyambarku. Tak tinggal diam, aku memilih menghindar sambil melawan prajurit-prajurit yang coba mendekat.

"Menyerahlah kalian berdua!" teriak Nolina marah. Denting pedang terdengar berkali-kali. Aku mulai merasa lelah saat pasukan iblis semakin banyak mengelilingi kami.

"Masih tidak menyerah?" Nolina berteriak lagi, "Menyerahlah dan kalian tidak akan menjadi salah satu penghuni lembah Kalahari!"

"Selamanya pun aku tidak akan menyerah!" kulayangkan tendangan ke perut salah satu prajurit. Dia tersentak ke belakang. Namun seorang prajurit lagi maju menyerangku. Saat ini, tanpa sengaja aku memerhatikan langit ungu pucat itu. Mengira-ngira apakah aku bisa bertaruh kali ini. Apakah kekuatan cahaya sanggup menembus dimensi segelap ini?

"Discessumbre!"

"Kristin, jangan!"

Terlambat. Mantra ini langsung melemahkanku hingga aku merosot ke tanah. Mataku berkunang-kunang seketika. Akan tetapi aku telah melihatnya. Kilat cahaya menembus langit. Menyambar prajurit-prajurit yang tadi di dekatku.

"Kristin! Ini adalah neraka. Semua kekuatan cahaya melemah di sini!" Gilang mengingatkan. Tangannya sibuk menangkis serangan Nolina. Tapi dia jelas sangat cemas. Serangannya tak fokus karena konsentrasinya kini terarah kepadaku.

"Melemah, bukan berarti menghilang bukan?" jawabku langsung, "Yandina akanta vinasana!"

Kak Gilang tidak menyangka kalau aku akan menggunakan mantra api. Aku mungkin tidak begitu menguasai sihir api. Tapi iklim neraka membuat mantra itu bekerja dengan baik. Kobaran api membentuk lingkaran mengelilingi kami. Perlindungan yang makin membuat para prajurit berpikir panjang sebelum menyerang.

"Kristin! Satu-satunya cara pergi dari sini adalah langit itu!" Gilang menunjuk atas dengan dagu, "Sayangnya, aku tak yakin apakah kamu akan berhasil. Di sana panas sekali."

Aku melihat empati di mata Gilang. Kehangatan itu memulihkan semangatku, "Jangan khawatirkan aku. Lebih baik musnah terbakar daripada tinggal di tempat terkutuk ini!"

Saat kobaran api meredup, aku segera melepaskan kekuatan dari punggungku. Sakit sekali. Membuka sayap di neraka sama saja dengan menyerahkan tulangmu untuk terbakar di tungku api. Sebagian besar gelembungku langsung rusak karena tekanan. Namun aku tidak peduli. Hanya ini kesempatanku. Aku tak mungkin menyia-nyiakannya begitu saja.

"Jangan bodoh! Kau bisa mati jika keluar dengan paksa!" Nolina masih tak menyerah. Dia menerjangku. Tapi Gilang lebih dulu mengadang hingga mereka jatuh terguling-guling.

"Siapapun yang bisa menangkapnya akan mendapat hadiah besar dari His Lordship!" teriak Nolina keras-keras.

Tenagaku melemah dengan cepat saat sayapku berhasil terentang. Dan menjadi semakin lemah saat beberapa kali aku menggunakan sihir api untuk menghalau mereka yang mendekat. Napasku semakin sesak. Paru-paruku seakan sedang dicelupkan ke dalam sepanci air mendidih. Namun mengingat sedikit lagi aku bisa membebaskan diri, aku memaksakan seluruh tenagaku untuk menggerakkan sayap itu sekuat-kuatnya.

Teriakan para prajurit dan zombie itu memekakkan telinga. Tubuhku semakin panas saat aku menyongsong langit ungu pucat itu. Membiarkan tubuhku tergerus bak meteorid yang terkikis atmosfer bumi.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro