Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

25. Dialog Hujan

"Mbak pulang,"

Keisha masuk ke rumahnya yang bernuansa cokelat muda dan disambut langsung oleh sofa dengan televisi yang menyala. Begitu pula dengan Mark, menyusul Keisha di belakangnya.

Mark tertegun. "TVnya kok nyala?"

Keisha mengangkat bahu tak tahu, "Mana saya tau, saya kan gatau." ujarnya seraya melempar tasnya ke sembarang arah. Mark menggeleng kecil, Keisha ini sikapnya slengean banget kalau di rumah.

Baru saja hendak bersantai ria di sofa, tiba-tiba ada suara melengking yang berasal dari lantai atas. Keisha terdiam, berusaha mencerna suara siapakah itu.

"KEISHAAAAA~~"

Keisha mengerjapkan matanya berulang kali kemudian mengusap wajahnya yang sudah banjir peluh. Ia tersenyum, bahagia. "BUNDAAA~" pekik Keisha senang bukan kepalang.

Mark tersenyum kecil melihat Keisha sebahagia ini. Mark jadi rindu sang mama, benar-benar rindu.

Chaeyeon mengusap rambut Keisha seraya menyisir surai sang putri lalu mencium keningnya hangat. "Bunda kangen bangeeet sama kamu," katanya. Chaeyeon pun melepaskan pelukannya kala tak melihat Jisung berkeliaran di rumah. "Adek mana?"

"Pelor kali?"

"Lah, jangan kali dong. Cari yang pasti napa?" Chaeyeon yang tadinya menatap Keisha, kini matanya beralih ke arah Mark. "Mark? Makin ganteng aja kamu."

"Hehe."

Chaeyeon tersenyum lima jari kemudian berjakan untuk menghampiri Mark dengan tas biru dongker yang ia sampirkan di pundak sebelah kanannya. "Mark betah gak di rumah?"

Mark menatap bingung Chaeyeon yang justru menatapnya binar. Mark benar-benar heran pada dirinya sendiri, tentang Chaeyeon ...

"Mark?" Chaeyeon menepuk pundak Mark pelan. Mark pun terkesiap, ia melamun rupanya.

Chaeyeon tak tahu setan apa yang menempel dalam diri Mark Luke. Yang jelas, Chaeyeon benar-benar bahagia bisa bertemu kedua anaknya. "Mark yang betah, yaa ... maaf kalau dulu Jaehyun sama saya kadang suka jahil gitu, hehe."

Mark hanya mengangguk kecil, "I-iya, Tan."

Chaeyeon menoleh, "Tan?" lalu mengembuskan napasnya, "Kamu lupa? Kamu sering manggil saya tuh, mama."

"Mama?"

"Iya," Chaeyeon mengangguk. "Kamu lucu banget sih."

Keisha tersenyum manis, "Papa mana, Bun?" tanya Keisha pada Chaeyeon.

Chaeyeon hanya tersenyum manis pada Keisha, "Papa lagi ada k-kerja," katanya, berusaha untuk berterus terang pada Keisha.

Keisha hanya manggut-manggut saja. Ia percaya pada Chaeyeon jikalau Jaehyun tengah kerja. Toh, Jaehyun orangnya workholic banget. Hampir aja anak-anaknya di rumah dilupakan

Sedangkan Chaeyeon berusaha tegar. Dua hari yang lalu, sang ibunda pergi menghadap Tuhan. Dan kali ini, ia juga harus bersikap tegar sebab Jaehyun kembali menjalankan tugasnya.

Chaeyeon tahu, Jaehyun bukanlah Jaehyun yang dulu tatkala Taeyong datang kemari.

Dulu, Chaeyeon akui jika Jaehyun itu adalah pria yang amat manis, ia menuruti segala apa yang Chaeyeon mau. Cinta, harta, bahkan dunia. Jaehyun terlalu baik untuknya.

Namun berbeda tatkala Chaeyeon memutuskan untuk mempekerjakan seseorang. Ia ingat betul, dahulu, Taeyong dengan tas besarnya berjalan entah mengerti akan kemana ia berlabuh. Chaeyeon pun memutuskan untuk membawa Taeyong ke rumah, dan mempekerjakan Taeyong.

Sejak saat itu, Chaeyeon hanya dapat melihat senyum Jaehyun yang tampak semu.

Chaeyeon paham, Taeyong dan Jaehyun juga punya masa kelam.

Dan Chaeyeon, berusaha untuk memaklumi semua itu.

. . . 

"Mark,"

"Iya?"

"Aku sayang kamu."

Mark mengrenyit, "More than yourself?"

Keisha mengangguk, Mark justru merengut kesal.

"Jangan cinta sama aku kalau kamu belum cinta sama diri sendiri." ucap Mark seraya menatap dalam Keisha. "Emang, kamu udah siap buat jatuh cinta sama aku?"

Keisha terdiam.

Mark justru menghela napas, lalu mengembuskannya pelan. Ia membenarkan posisi duduknya, yang semula disamping Keisha kini sudah berhadapan dengan si pujaan hati. Mark menggegam tangan Keisha erat.

"Kalau mau suka sama aku, kamu harus percaya, kalau di kemudian hari kamu akan merasakan sakit, sesakit-sakitnya ditinggal sama Jeno."

"Mark, lo pernah bilang ke gue kalo lo bakal selalu setia dengan gue, dan keluarga," Keisha menatap Mark penuh harap. "Lo lupa?"

Mark menggeleng cepat. "Enggak. Aku gak lupa, mungkin, sedikit demi sedikit aku bakal ibgat semuanya."

Keisha terdiam. Berusaha untuk menelan ucapan dan apa maksud dari gelagat aneh Mark. "Maksud lo?"

Mark tersenyum manis. "Lihat ke atas langit," Keisha pun menurutinya. "hanya aku, sama Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Kamu inget kan, kalau dunia ini menyimpan beribu-ribu kejutan bahkan lebih?"

Keisha menatap Mark dengan sorot sendu, "Kalo kejutan yang lo beri bisa bikin gue bahagia, gue tunggu, Mark," katanya. "Tapin engga buat kejutan yang lainnya."

Mark tersenyum manis.









Semoga saja, Keisha. Semoga.








×××
PENDEK.
lebih singkat dari yang tersingkat.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro