Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

13. Crush On You.

we continue,
h-hai?

Lena melambaikan tangannya di atas udara. “Woi babu Keisha!”

Baik Mark maupun Jeno sama-sama menoleh. Lena menahan tawanya, padahal yang ia panggil hanya Mark—secara tak langsung, Jeno mengiyakan jika dia adalah pembantu si Keisha. Ckck.

Silih berganti, Lena menatap raut Jeno dan Mark dengan wajah bak papannya. Ditengok dari raut wajahnya, seperti sedang membicarakan hal yang agak serius. Lena menelan air liurnya kasar tatkala Jeno menyuruhnya mendekat ke arah mereka.

Lena pun mendekat, dengan tak sabaran, Jeno langsung menarik pergelangan tangan Lena hingga berdiri tepat disampingnya. Jeno menunjuk ke arah Lena.

“Ini yang lo maksud? Goblok! Males banget gua punya pacar cem dia. Mending Keisha kemana-mana.” ketus Jeno tiba-tiba. Menyapa rungu Lena hingga membuat dahi si taruni berkerut heran.

Mark menatap Jeno dan Lena bergantian, tak lama itu, dirinya berujar, “Oh. Terus? Kenapa tadi gak main—”

Sontak Jeno melepas rangkulan tangannya pada pundak Lena. Ia mengusap wajah kasar kemudian menatap Mark dengan wajah jenakanya. “Sumpah Mark, polos banget sih,” lalu terkekeh pelan. Ditepuknya bahu si pria Kanada itu pelan. “gua tuh dah putus dari Keisha. Tapi kita masih temen baik.”

Jeno menatap Lena kemudian keduanya terbahak. Mark hanya merotasikan bola matanya yang bulat bak kelereng. Napas ia embus, kasar. Jeno dan Lena sampai-sampai menoleh, menaruh tanda tanya besar disana.

Mark memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Matanya menyorot datar namun hangat, baik Jeno maupun Lena pun hampir jatuh dengan tatapan si adam. Namun rasa itu hanya sekadar mampir, karena dibalik sorotnya itu, ada sirat sengit di dalamnya.

“Pembantu emang gak berhak ikut campur,” ucapnya disela-sela kesunyian. “Keisha sendiri yang bilang kayak gitu. Tapi saya tetep bersikukuh dengan pondasi yang kuat meski tak dianggap secuil pun sama dia atau mereka. Tapi kalo masalah hati, kamu gak cuma nyakitin satu hati. Tapi dua hati. Entah hati Keisha sendiri, atau hati saya—apa itu wajar?”

Lena mengusap dagunya, tengah memperkira. “Entar—terus, kenapa lo milih hati lo, buat tersakiti, anj?” dirinya berujar seraya memandang Mark dengan alis yang bertaut. Mark tertawa kecil, dia menggeleng pelan.

“Aku gak pernah nyuruh hati aku buat tersakiti. Udah lah, aku mau ke kelas. Kalian berisik.” kata Mark.

Ketika Mark hendak melengang pergi, ada Jeno yang menahan pergerakan si pria Kanada. Sontak dirinya membalikkan badan, menatap heran seonggok manusia di hadapannya.

Jeno menatap lamat manik Mark. Mengerang pelan, mengembusnya kuat. “Gua sama Keisha sahabatan. Terus gatau kenapa kita pacaran, eh, ada Bunda gua yang gak ngerestuin. Jadi, gua sama Keisha milih opsi terakhir dari yang paling akhir. Apa lagi kalo bukan putus. Jadi—lo gausah ambil pusing, gua gabakal kayak orang di luar sana. Gua tetep temen baik sama dia. Selaw mamen.”

Lena mengangguk, “Pembantu berhak tau semua, Mark. Gosah merendahkan diri, gak baik. Hehe. Kamu mau gak jadi pacar aku?”

Jeno memutar bola matanya geuleuh. “Gausah mulai lo anjing. Kak Mingyu lo godain, sekarang dia, besok siapa? Gua?”

“Bu Boa.” jawab si gadis.

Mark mendecak. “Udah, ya. Aku duluan.”

Lena dan Jeno—ralat. Lena mengangguk, sedangakan Jeno hanya melemparkan pandangannya pada punggung Mark yang semakin lama, semakin samar di lihat. Pikirannya seperti tengah berperang. Argumen ini ia lontarkan, argumen itu ia sebutkan, dan sebagainya.

Jeno mendengus pelan, kemudian mengambil ancang untuk meninggalkan Lena yang tengah berkutat pada ponselnya.

“Len, gua duluan, sori. Gua ada perlu sama anak komplotan sebelah.”

Lena mendongak. “Oh?” lalu kembali fokus oada ponselnya. “Bagus lah. Pergi sono jauh-jauh njing! Kalo bisa sih, ke Galaksi Andromeda sekalian.”

“Android aja sekalian, monyet.” geleng heran si Jeno, lalu pergi membiarkan Lena sibuk dengan gawainya.

kei asyu
| lo ngomongin p j sama jeno?

DIRIQ CANS
apada njg org gwa ngomong sm mark!!! |

kei asyu
| TAPI LO JUGA NGOMONG SM JENO ASW

DIRIQ CANS
GOSAH NGEGAS BRP Y PAK |

kei asyu
| yamaha

DIRIQ CANS
ha? |

kei asyu
| yAMAAF BJING
| noraq dsr miskin.

DIRIQ CANS
omamamay aq terpanggil asu -mWORK |
berisik!!!!! |

kei asyu
| org gilaa,, org gila,,,
| btw serius len, lo ngomongin Apa aja td sm mark?

DIRIQ CANS
halah anjg, keluar aj si, gwa taw lo ngumpet d blkg tong sangpah |
sama si hulk |
read.

Tak lama itu, Lena memasukan gawainya ke dalam saku seragam. Dirinya menyeringai tipis kemudian menjulurkan lidah; meledek Keisha dan Lucas yang ternyata juga ada disana.

“Halow goblog.” sapa Lucas.

Keisha menoyor kepala Lucas pelan kemudian menarik pergelangan tangan Lena agar lebih mendekat padanya. Keisha mendekatkan bibirnya pada rungu Lena, membuat si empu sedikit bergidik geli.

“Jeno ada bilang kangen gua gak, Len? Ehehehhehehe.”

“Pede bat. Etapi, dia bilang katanya, ngapain anj gua pacaran ma dia—sambil nunjuk gua, terus katanya, mending sama Keisha kemana-mana. Gua tuh langsung kayak...,” memasang senyum menjijikan, dan teriak. “AAAA JENO AKU TU BAPER. Kalo lo jadi gua, pasti bawaannya pengen ngewe anjing.” heboh Lena setelahnya seraya memutar-mutar tubuhnya bak sebuah pemain ballet profesional.

“Canda, Kei. Jan cemboker geh.” lanjut Lena. Watados.

Lucas mengarahkan telunjuknya ke dahi, lalu menggerakkannya dengan posisi miring. “Edan.”

Keisha terbahak. “Santai aja. Balik ke zoo gih, Len.”

“Hilih kintol. Btw, mana si Mimin?” Lena menjatuhkan netranya ke arah Lucas. Lucas sih cuma, Seungmin siapa gua, pacar aja bukan.

Lena tuh kayak; YA TEMEN LAH ANJING, KALO MAU LEBIH, YA, MASUK KE KOMUNITAS REINBOWO SAJA SANA.

Lena mendengus mau tak mau, ia harus memalingkan tatapannya. Beralih pada Keisha yang menatapnya datar. “Di kelas.”

“Emang anak komplotan sebelah tu siapa sih?” Lena bertanya tiba-tiba. Lucas dan Keisha langsung mengrenyitkan dahi bingung. Lena pun meluruskan, “itu loh, jadi tadi sebelum Jeno pamit, dia bilang mau ngurus anak komplotan sebelah. Alay anjeng, udah kayak ibu panti aduhan aja manggilnya pake anak gitu.”

“Lo yang bodoh anjing,” Lucas menggeleng, “tau sekolah sono itu kan yang deket sawah tuh, nah, Jeno kebanyakan temennya disono. Woojin, Renjun, Yangyang.”

“WOEANJIR, RENJUN YANG SATU LES SAMA GUA ITU KAN?” tanya Keisha heboh dan natap Lucas dengan tatapan tidak percayanya.

Lucas mengangguk. “Iye. Yang pendek, kurus kering cem lidi itu.”

“Daripada lo asu, kayak hulk.” sahut Lena. Renjun bodygoals gitu dikata kurang kalsium sama karbohidrat njeng, kan Lena mengamoek.

Lucas cuma diem. Lagipula, mau komentar apa. Udah faktanya gitu kok, Lucas mah sadar diri. Gak kayak Lena yang gatau diri.

Keisha pun menautkan alisnya. Ia mengusap dagu, mengerlingkan netra berkali-kali kemudian menggumam pelan, seperti bertanya pada diri sendiri. “Yangyang—kayak pernah denger gua?”

Lucas menoleh, “Ngomong sama sape lu? Dih gelo sia.”

“Ngurus amat lo bangsat.” sinis Keisha lalu angkat kaki lebih dahulu dari tempat itu. Lucas dan Lena sontak terjadi sebuah fenomena tatap-menatap. Digelengkan dan digediknya bahu tak tahu, membuat Lena menarik tangan Lucas dengan bergegas.

“Woi!!!!!!”

Lena sama Lucas sudah tahu jika itu Seungmin. Kedua insan itu malah mempercepat langkah jalannya, membuat Seungmin kewalahan dan mendengus kasar.

“Temen asu.” gumamnya gamblang.

Berbanding balik dengan Keisha yang tengah berjalan ceoat, memotong jalan para taruni dan taruna yang tengah bercengkrama di setiap koridor. Di edarkan matanya, memincing, menyorot seluruh pintu kelas. Dan—sampai.

Ini kelas Jeno. Keisha si cuma mau nanya tentang si Yangyang itu loh. Dia kayak pernah denger aja, dan tebakannya jatoh ke Jeno gatau kenapa.

“JENOOOO!!!—Orangnya gak ada, cuk.”

Itu Sanha. Keisha mengangguk pelan lalu dengan cepat membalikkan tubuh dan pergi dari tempat itu dengan alis yang tertaut heran.

Persekon setelah itu semua, Keisha justru kembali berlari pelan mendekat ke arah Sanha yang hendak menutup pintu.

“WOI SANHA!”

Sanha melirik, “CIHE, KANGEN YA MA AK—”

Dengan cepat Keisha memukul pundak Sanha membuat si empu terbahak. Sanha memasang muka jenaka, membuat Keisha melayangkan sebuah tamparan—lagi—pada wajahnya.

“Sakit anj. Naukhty kamu!”

“Berisik, ih, San...,” Keisha menguarkan pasoka udaranya. “lo les nanti ada kelas jam berapa?”

“Nurul Fikri?” tanya Sanha. Keisha mengangguk hulu, mengiyakan. “Oh, gua ada jadwal sore palingan. Jam 4 sampe jam 6.”

“Bareng sama Renjun, Woojin?”

Sanha mengangguk. “Tapi kalo besok, gua gabung sama kelasnya si Yohan. Lo sekarang kelas jam berapa emangnya?”

Basa-basi mungkin. Itu yang berkelebat pada pikiran Keisha. “Owalah. Palingan gua jam 3 an nanti. Satu kelas ma Jeno.”

“Bareng dong berarti lo sama si kuyang itu.” kekeh Sanha.

Hah? Apasih?
“Kuyang siapa anj?”

Sanha otomatis menoyor kepala Keisha pelan. Merutuki betapa kudetnya mantan seorang Jeno ini. Kebanyakan gaul sama micin, jadinya kelewat update. “Yangyang lah, anjir. Oh—lo gatau ya, gegara si Jeno jarang banget nyuruh lo nunggu di kelasnya. Padahal ada Yangyang disana. Renjun, Yeonjun, banyak lah.”

“Seragamnya beda semua?”

“Iya lah anjir. Jeno disini mah temennya dikit. Palingan muluk-muluk cuma gue, nanti main sama Jaemin. Kadang baur ke Hyunjin sama Felix. Gajebo lah anjing anaknya.”

Keisha tertawa.

Sanha menyahut lagi. “Heran gua ke apa lo bisa mantanan ma dia, Sha. Udah lah, gua masuk kelas dulu, ya.”

Keisha mengangguk. “Makasih, San.”

“Ya, waalaikumsalam.”

Tatkala Keisha membalikkan badan, wajahnya berbentur dengan tubuh seseorang. Ketika ia mendongak, matanya berputar malas.

Keisha berujar, “Apaan sih?” kemudian menatap pergelangan tangannya yang ditarik tiba-tiba oleh seonggok manusia berjenis kelamin laki-laki itu.

Napas ia embus perlahan, “Aku tau Mas Taeyong dimana.” katanya. Ketika orang tersebut menyebutkan nama Taeyong, dahi Keisha sontak mengkerut. Ada sirat bingung dan khawatir bercampur bak minyak dan air.

Siapa lagi kalau bukan Mark. Orang yang tengah Keisha jauhi hari ini. Mungkin hanya, ya ... Hari ini? Selepasnya, semua akan baik-baik saja. Semoga.

“Dima—”

Mark menarik pergelangan tangan Keisha—namun kali ini sembari nerjalan cepat. Menjauh dari peradaban. “Di kedai simpang lima, toko laundry, kantor pos, dan tempat pengiriman barang.”

. . .

“Lo yakin mau bolos?! Lo anak baru, Mar—”

“Aku gak bolos. Aku udah izin ke Bu Boa tadi. Untungnya Bu Boa ngijinin.” kata Mark sambil ngasih tas gendong milikku. Ya, Mark sangat memaksaku agar; biar aku saja yang membereskan barangmu. Posisiku masih sama seperti di rumah.

Aku hanya diam memperhatikan. Mark yang merasa jenuh tak ada teman bicara itu pun berceletuk, “Walaupum aku maksa Bu Boa tadi. Tapi aku serius, waktu aku keliling sekolah ini, dari gerbang sekolah aku liat ayah lagi nenteng tas hitam, selempang gitu. Udah aku tebak itu isinya surat kabar. Makanha aku spekulasinya langsung ngarah ke kantor pos.”

Penasaran. Aku pun bertanya, “Terus, soal kedai, laundry, sama pengiriman barang itu ... Lo tau darimana?”

Mark terkekeh pelan. “Aku tadi muter sekolah bareng Her—”

“Aku gak nanya ke arah itu, loh.”

Mark mendengus. “Dengerin aku dulu, dooong. Jangan main potong aja!”

Aku mengangguk kecil. “Iya dah iya. Buru sat.”

“Entar aja deh aku ceritain. Lima menit lagi bel masuk, kita langsung cabut aja ke ruang guru, izin ke Pak Sehun dulu.” Mark berjalan lebih dahulu dibandingku. Aku menggeleng kecil, lalu mempercepat langkah, agar jalanku seradi dengan langkah kaki dia.

Aku berujar, “Bukannya tadi lo dah izin ke Bu Boa?”

Mark nengok, natap aku dengan tatapan meledeknya. “Kamu gak sopan ya, bukan berarti kalo aku dah izin ke Bu Boa, kita gabakal izin ke Pak Sehun. Dia juga kan wali kelas kita. Kamu kok tolol.”

Mataku membola sebesar telur puyuh. “PARAH INI, AJARAN SIAPA ITU?”

“Gak diajarin siapa-siapa. Aku cuma mau adaptasi aja sama lingkungan, hehe. Biar gak kaku.”

Aku memukul punggung Mark hingga tubuhnya sedikit terhuyung ke depan, “Tapi itu bahasa kasarrrr!” kataku sambil merengut kesal.

Sebuah lengkungan tipis terbit pada wajah Mark. Aku jelas melihatnya, Mark ini kalau senyum emang nanggung banget. Kenapa gak lebar sekalian, kalo kecil gini kan jadi serem lihatnya.

“Herin itu bos Ayahku di kedai simpang lima.” Mark berujar seraya menorehkan senyum tipis. Aku membalasnya dengan tatapan menyorot, memerintahkan Mark agar melanjutkan ceritanya.

Mark tetap Mark. “Ceritanya ntar aja. Kamu tunggu disini, biar aku yang izin ke Pak Sehun.” tuturnya.

Mark tersenyum, kali ini terlihat lebih manis dan tulus tentunya.

Aku bisa membedakan mana yang tulus, dan mana yang sekadar identitas saja. Senyum Mark kali ini terlihat murni, perintah atas perasaannya sendiri. Bukan diperintahkan atas situasi yang ada.

Pun aku membalasnya dengan anggukan kecil. Sampai-sampai pria dengan tinggi semampai itu mengulurkan tangannya ke atas kepalaku. Aku terdiam sebentar, hingga akhirnya Mark mengurungkan maksud dia untuk mengusak kepalaku.

“Maaf. Gak bermaksud.”

Katanya. Aku sih biasa aja kalo boleh jujur. Usakan kepala, rangkulan, saling genggam-menggengam, itu udah biasa aku lakukan sama Jisung—bahkan Jeno dan ayahku juga sering. Jika Mark hendak mengusak kepalaku tadi, ya, aku sama sekali gak keberatan.

Menunggu Mark yang kelihatan asyik memohon pada Pak Sehun itu membuatku pegal bukan main. Jadilah aku bersandar pada dinding sekat ruang guru tersebut. Sesekali memejamkan mata, menikmati waktu sepi yang ada.

Koridor jelas sepi. Bel masuk sudah berbunyi sekitar 3 menit yang lampau.

“JOMBLOOOoOOOOOoo!!!”

Aku membuka mataku sebelah, kemudian membelalakan keduanya. “BERISIK, JENO!”

Jeno terbahak puas. Ia melirik lewat jendela, sontak aku memiringkan kepalaku agar Jeno bisa leluasa melihatnya. Setelah itu, Jeno menatapku, kemudian tertawa.

“Apasih?”

Jeno tertawa semakin keras. “Baru putus dah nemu yang baru aja lo, tan!”

Aku memukul kepala Jeno keras menggunakan kepalan tangan. “Emang gua gak liat apa, lo berduaan sama Eunbin, su?!”

“Cemburu cieee!”

Aku mendengus. “Kalo iya kenapa?”

“Sama aku juga cemburuuuuu!” jawab Jeno seraya memajukan bibirnya 2 senti. Aku bergidik geli, kemudian membalikkan tubuh—membelakangi Jeno yang asyik menggodaku.

“Lonte.” decihku. Aku menutup permukaan wajah malu menggunakan kedua tanganku. Apa yang aku bicarakan tadi jelas terdengar sebagai candaan, tapi serius di dalam. Dengan kurang ajarnya Jeno membalas seperti itu, membuatku berharap lebih.

“Mark ngapain emang? Kok lo nenteng tas? Mau balik? Ngapain weh? Ikuuuut!” tanya Jeno bertubi-tubi.

“Gausah ih, cuma nganter Mark doang tuh mau izin ke Pak Sehun.”

Jeno mengrenyitkan dahi. “Lah? Terus kenapa lo ikutan balik?”

Aku menggeleng. “Gua gak balik, setan. Gua cuma nemenin Mark doang ih apasih lo!”

“Sewot anjing!”

“Suruh siapa kepo?”

“Muka lo ngajak gelud! Gua-nya jadi penasaran!”

“Gua gak ada nyuruh lo buat penasaran!!”

“Kok nyolot?!!?” Jeno memasang posisi kuda-kudanya. Aku justru menendang lutut kanan Jeno membuat si adam sedikit meringis. Aku hanya menatapnya datar, lalu mengabaikannya.

“Dasar mantan asu!”

Aku menoleh kemudian melepaskan sepatu kaki kiriku. “YANG NGAJAK PUTUS DULUAN SIAPA BANGSAT?!” pekikku ketika Jeno malah lari terbirit-birit menjauhi lokasi.

Seraya berlari, saat itu juga Jeno membalas teriakanku. “BUNDA YANG NYURUH, KALO GAK DISURUH YA GUA JUGA GAK MAU!”

Krek,
“Ada apa sih, berisik banget.”

Masih memasang wajah dongkol aku membalikkan tubuh. Melampiaskan. Aku memukul pundak Mark pelan namun terkesan sakit karena pukulan itu tidak hanya datang sekali, namun berulang kali. Mark hanya diam, melihat tanganku yang asik menghantam bahunya.

Mark menahan tanganku. “Kenapa?”

“GamOOoOOON!” rengekku sebal. Mark menautkan alis, bingung.

“Gamon tuh apa?”

Aku makin merengek. “Gamon tuh, GALAU MONYEEEET! Udah ah, buruan berangkat! Panas nih!” aku meninggalkan Mark seraya menghentakkan kaki pada sepanjang perjalanan.

“Ih gajelas.” desis Mark kemudian. Ia tak habis pikir dengan tingkah majikannya itu. Ia jadi beranggapan jika apa yang dikatakan Jeno tentang hubungan keduanya itu adalah benar.

Mereka masih teman baik, masih sama-sama berharap, masih sama-sama berjuang dan mempunyai mimpi untuk hidup bersama. Namun, ya, kalau Tuhan sudah bilang tidak, ya, tidak.

Karena pisah bukan akhir dari semua. Mungkin itu jalannya semesta untuk menghapus lara. Walau harus ada duka untuk menyambutnya.

Yaa...,

Selama janur kuning belum melengkung, masih ada waktu buat Mark untuk—mendukung?

Mendukung dirinya sendiri, untuk memperebutkan hati si majikannya yang keras, bisa jadi. []

°°°
2.4k, aku ramal pasti ada typo.
EDISI: tidak up selama seminggu krn mudik, jariku auto kaku lupa larik.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro