
22. ztywi29palestina
Menulis sebagai Ladang Curhat
Menulis adalah sebuah karunia terindah yang Tuhan berikan kepada umatnya, dimana kita bisa mengekspresikan perasaan melalui untaian kata, termasuk tawaan, amarah, dan air mata.
Jujur saja, dulu aku selalu bingung bila disuruh mengisi sebuah form yang menyakan 'apa hobimu?'
Sungguh, aku tak tahu apa hobiku kala itu. Aku suka menggambar, aku suka bermain games, menyanyi, menonton, membaca, dan banyak hal lain yang aku sukai. Tapi sesungguhnya dibalik kesukaan itu aku belum menemukan uuhal apa yang benar-benar membuatku atuh cinta.
Gambarku hanya sedikit dikatakan layak, aku hanya bisa menggambar berupa animasi saja. Tapi untuk menggambar orang ataupun pemandangan... lupakan saja. Lalu menyanyi, memang hobiku saat kecil, tapi ketika sudah memasuki pra sekolah, aku kurang menyukainya dan suaraku hanya bisa dikategorikan standar, untuk menghibur diri sendiri.
Akhirnya dengan modal nekat, aku mengisi hobiku adalah membaca-menulis-mendengarkan musik. Meskipun masih kuragukan apakah itu benar-benar hobiku apa tidak.
Lahir sebagai anak tunggal membuatku menjadi anak yang terlihat pendiam, ibu dan ayah adalah teman bicaraku, dan jika sedang beruntung mungkin ada beberapa teman yang datang ke rumahku.
Aku ingat kapan pertama kali aku menulis begitu banyak dalam hidupku. Saat itu aku baru saja duduk di bangku SMP kelas 1, iseng-iseng dengan modal rindu dengan teman SD ku, dan berbagai lika liku perjalanan mencari teman, hingga menghadapi suasana sekolah yang masih mengejutkanku.
Katakanlah, aku ini tidak gampang beradaptasi dengan lingkungan yang begitu ramai, mungkin bagi kalian wajar jika dalam satu kelas terdapat 30 hingga 40 siswa. Tapi bagiku, berlajar bersama dengan jumlah siswa sebanyak itu malah membuatku semakin sulit untuk berbaur, aku bingung, dan jujur saja disaat-saat itu sekolah bukanlah sesuatu yang indah bagiku.
Dalam batinku, aku hanya ingin mengatakan...
Aku ingin mengakhirinya dengan begitu cepat!
Berganti-ganti teman setiap tahunnya, malah membuatku ingin melarikan diri saja dari yang namanya Putih Biru. Teman yang dulunya dekat denganku di kelas 8, tentu saja memililki teman baru saat menginjakkan kaki menuju kelas 9.
Dimasa-masa itu ada sedikit rasa malas untuk menghampiri teman-teman terdekatku tersebut. Selain kelas yang terlampau jauh, aku juga bukanlah orang yang cukup percaya diri untuk berjalan seorang diri di lingkungan sekolah yang begitu ramai tersebut.
Jika ada yang menanyakan, masa sekolah mana yang paling banyak tantangan dalam hidupku , maka aku akan menjawab masa-putih-biru. Ya! Bukan masa putih abu-abu. Kenapa? Karena pada masa itu aku merasa kekurangan asupan pertemanan, karena kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sehingga nilai-nilaiku menjadi tidak begitu bagus terlebih lagi dibidang fisika dan olahraga.
Selain itu ibuku juga terpaksa dipindah tugaskan ke wilayah yang berbeda dengan wilayah tempat tinggalku hingga aku harus hidup berdua dengan ayah, dan belum lagi dengan sifatku yang anti sosial malah membuatku enggan keluar dari kelas, sehingga resmi sudah lambungku bermasalah hingga sekarang.
Tapi ketika masa itu pula aku percaya, setiap warna hitam selalu ada putih. Di kelas 9 itu pula, tepat di pelajaran Bahasa Indonesia, kepala sekolah sekaligus guru Bahasa Indonesiaku meberi tugas untuk membuat cerpen, dan aku benar-benar bingung harus menulis kalimat apa di dalam lembaran putih kosong itu.
Tentang kisah cinta remaja yang putus nyambung? Percayalah, sulit bagiku untuk menulisnya, karena aku menganggap cinta bukanlah hal yang realistis. Aku selalu berpikiran, "Untuk apa kita pacaran, jika akhirnya nanti kita akan putus?"
Semoga pikiranku yang satu itu bisa berubah disaat ini.
Lalu tentang kisah persahabatan? Sungguh aku benar-benar tidak ada ide untuk menulisnya.
Dengan bermodalkan renungan yang cukup lama, akhirnya aku menulis cerpen yang mengangkat tema tentang keluarga. Ide-ide yang kutuangkan waktu itu berdasarkan cita-citaku yang dulunya ingin menjadi pengacara, rasa rindu kepada ibuku, serta kakak kelasku yang sudah kuanggap sebagai abangku.
Aku menulisnya, itu saat perrtama kali aku dapat menulis dengan lancar, dan kurasakan semua perasaanku tersalur melewati tokoh-tokoh itu.
Aku masih ingat, saat itu tokoh yang hadir dalam hidupku adik dan kakak, Nindy dan Nico. Nindy yang baru saja lulus dari wisudanya langsung mendapatkan rekomendasi kerja dari pihak kantor pengacara. Selain bermodalkan cerdas, iya juga ramah terhadap orang sekelilingnya.
Namun di balik kelebihannya itu, ada sisi rapuh yang belum pernah ia tunjukkan, setiap hari hanya satu yang ia inginkan, yaitu berkumpul dengan keluarganya seperti semula. Tanpa ada kesibukan pekerjaan, dan tanpa ada suara telpon-telponan yang mendadak untuk pergi kemana-mana.
Ya, keinginan itu terwujudkan, namun terwujudkan saat tokoh utamaku berada di detik-detik terakhir dalam melawan penyakit yang di deritanya sejak kecil.
Kembali ke kisahku...
Kuantarkan tugas itu dan saat itu aku bercampur rasa bingung ketika guruku berulangkali menanyakan. "Apa benar ini hasil karyaku?"
Aku mengangguk, rasa bingung yang tadinya terus ditanya seperti itu berubah menjadi terkejut saat ia terharu membaca ceritaku, kudapatkan sorot matanya terlihat sedih dan puas dalam waktu yang bersamaan dan begitu juga aku (?)
Haha... ya, ada perasaan puas yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Jangan meremehkan sebuah perkataan, karena satu perkataan yang keluar, dapat mengubah hdup seseorang.
Mulai sejak itu, aku memberanikan diri menulis sebuah cerita, di buku tulis, di laptop, di note handphone. Ada yang mulai dari 150 halaman hingga 500 halaman.
Menerima email penolakan naskah sudah tidak asing lagi bagiku, mungkin saat pertama kali aku merasa malu. Entah malu kepada siapa, akupun tak tahu. Tapi lama kelamaan aku mulai terbiasa belasan kali aku menerimanya, ku pikir tak ada salahnya jika ditolak.
Ditolak bukan berarti gagal, melainkan kita belajar menuju ke arah yang lebih benar.
Ditolak, mengalami kegagalan, bahkan ada beberapa orang yang mengatakan mimpiku terlalu kejauhan bukan lagi masalah bagiku. Kalimat-kalimat itu malah membuatku ingin belajar lebih banyak lagi, membuatku ingin terus melangkah maju, dan aku yakin asalkan ada niat, do'a dan usaha semuanya pasti terwujudkan.
Dan alhamdulillah, mimpiku menjadi kenyataan sekarang, salah satu naskahku sedang masuk ke dalam proses penerbitan. Ini juga berkat dari do'a orangtuaku, sahabat-sahabat yang selalu mendukungku dan yang terutama lagi yang telah mengenalku kepada dunia jingga ini.
Ku yakin ada banyak tantangan yang akan kuhadapi selanjutnya. Sekarang aku tengah menjalani masa kehidupan kuliah. Masa ini lagi-lagi mengingatku kepada Putih Biru ku, dimana aku harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang begitu ramai, dan di masa ini pula aku harus belajar menghadapi dunia dengan cara yang dewasa, serta bersosialisasi dengan banyak orang.
Kisahku di dunia nyata mungkin belum berakhir, tapi pengalaman yang ku bagi hanya baru bisa sampai di titik ini, dan aku harap aku bisa membagi pengalaman-pengalamanku lebih banyak lagi.
Kuucapkan termakasih untuk segala kenangan dan cinta yang kau beri, di masa 12 tahun sekolahku.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro