Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

:: Yoo Cheonsa ::

Pagi ini aku harus kembali bergelut dengan masa laluku. Aku sudah melakukan banyak cara untuk melupakannya, bahkan mungkin aku bisa saja membuat buku seribu satu cara melupakan masa lalu. Sayangnya itu tidak berarti bagiku.

Intinya hanya satu, semakin aku mencari cara untuk melupakannya semakin aku sering mengingatnya. Sungguh tidak adil ketika otak bekerja sangat egois untuk menyimpan memori yang tidak ingin aku ingat tapi ia malah menghapus seluruh ingatan Taehyung tentangku.

Aku hampir menyerah untuk kembali, tapi Taehyung tiba-tiba hadir di depanku seolah takdir memberikanku kesempatan kedua. Oh mungkin tidak sepenuhnya, takdir masih ingin bermain denganku.

"Cheonsa!"

Seperti saat ini.

Dia terus kembali padaku meskipun aku mempermainkannya seperti ini. Aku gadis jahat.

Mereka bilang aku jahat. Aku tidak pantas dengan Taehyung. Aku pengkhianat kecil dan pembohong besar. Gadis bodoh tidak pantas bersama Taehyung.

Aku sering mendengar hal itu sejak masih duduk di bangku SMA. Kalau Taehyung pikir aku memiliki banyak teman, dia salah. Kedua sahabatku tidak pernah mengetahui isi loker yang penuh kebencian milikku. Yang Jimin dan Taehyung tahu hanyalah para gadis di sekolahku tidak berani mengusikku. Jelas saja, Park Jimin sangat berpengaruh bagiku.

"Ada apa, Taehyung?"

Oke, ini salahku.

Aku terlalu banyak mendapat kasih sayang dari keluarga Jimin, mereka terlalu menganggapku sebagai harta berharga miliknya. Memang benar, tapi aku hanya sekadar harta bagi mereka.

"Aku butuh beberapa referensi untuk tugasku, kau tidak ada jadwal kan siang ini?"

Sebenarnya tidak banyak yang berubah. Aku masih mengenal Taehyung, begitu sebaliknya. Kami tidak berpisah dalam artian yang sesungguhnya.

Kami dekat, tapi tidak.

Aku akhirnya menyetujui ajakan Taehyung. Laki-laki itu hanya sekadar meminta bahan tugas. Kami memang berada di kampus yang sama. Aku sebenarnya baru saja lulus beberapa bulan lalu. Dan aku tengah bekerja di salah satu rumah sakit besar di Korea.

"Ah kau harus memberitahuku kiat lulus kuliah kedokteran sesingkat itu. Kau tahu kalau kau jadi bahan perbincangan seluruh kampus? Gadis hebat yang kini menjadi seorang dokter muda. Daebak!"

Aku tertawa pelan mendengar penuturannya. Ia mengacungkan kedua ibu jarinya seraya tersenyum kotak. Setidaknya aku tahu kalau Taehyung tidak benar-benar kehilangan dirinya. Meskipun ingatan tidak sepenuhnya ada dalam dirinya.

"Aku hanya seorang dokter umum dengan kerja shift yang melelahkan. Tidak ada yang spesial, jangan bertingkah berlebihan Taehyung-ah."

"Tetap saja lima tahun itu luar biasa."

Memang benar. Seharusnya aku butuh waktu enam tahun, tapi aku banyak mengambil kelas di tahunku sebelumnya. Aku punya banyak waktu luang untuk itu jadi tidak masalah.

Dan sebenarnya memang itu rencanaku.

"Pasti Paman Park sudah menyiapkan semuanya."

Yang ini juga benar. Salah satu alasan aku dikenal sebagai pelari kedokteran di kampusku (dimana maksud julukan itu adalah aku akan lulus lebih awal dari mahasiswa biasanya) adalah karena Paman Park orang dibalik semuanya. Tentunya juga kerja keras otakku berputar selama lima tahun ini.

Aku tidak licik, tapi mereka yang tidak tahu menganggap uang membuatku sebesar ini.

"Dia selalu begitu, kan? Menyiapkan apapun yang tidak aku minta." Paman Park selalu bertindak di balik rencanaku. Dia seperti pengganti Ayah bagiku, dia tidak mau aku mengetahui rencananya karena ia tidak mau aku memikirkannya. Tapi aku tidak bisa.

Taehyung mengangguk mengiyakan. Setiap kali keluarga Jimin muncul dalam percakapan kami, semua topik rasanya seolah melebur, menhancurkan atmosfer di antara aku dan Taehyung. Suasana di antara kami bisa begitu beragam. Kadang kami bisa terlihat dekat, kadang kami bisa canggung seperti ini, atau penuh dengan emosi.

Namun tidak untuk kembali pada masa lalu ketika Taehyung masih bisa menarikku dalam pelukannya.

Berapa banyak cerita yang aku utarakan, atau berapa banyak keluhan yang Taehyung berikan, kami tidak bisa bertindak seperti dulu. Aku milik orang lain, Taehyung pernah mengatakannya padaku.

Ah gila. Taehyung juga tidak akan melakukan itu padaku! Dia tidak mencintaiku. Aku butuh banyak alasan untuk mencerna ucapannnya. Memangnya kalau ia terus mengatakan ia mencintaiku itu berarti ia benar-benar mencintaiku?

Suatu hari dia bilang dia mencintaiku. Namun di hari yang lain ia bilang semoga hidupku akan bahagia bersama Jimin. Aku tidak pernah mengerti dirinya.

"Bagaimana dengan kuliahmu?" Aku mencoba mencairkan suasana. Aku memilih untuk membiarkan Taehyung banyak bicara daripada aku dibiarkannya mati kata dengan pertanyaan darinya.

"Sepertinya aku akan mundur setahun, aku tidak bisa lulus tepat waktu."

"Apa ada masalah?"

"Tidak. Aku hanya terlalu lelah akhir-akhir ini. Pikiranku mudah buyar dan rasanya aku ingin lari saja." Taehyung terkekeh. Aku bisa melihat dari sudut mataku kegelisahan dalam dirinya.

"Berhenti menyakiti dirimu sendiri, Taehyung."

Setelah aku mengucapkan itu ia berhenti melangkah. Ada helaan napas lelah sebelum ia menjawabku. "Kalau aku harus menyakiti diriku sendiri untuk mencintaimu, mungkin akan kulakukan."

Kalau saja sang peri memberiku satu permintaan, aku ingin Taehyung untuk berhenti bersika tak adil kepadaku seperti ini. Aku mudah terbang karena sikapnya, tapi ia hebat dalam menjatuhkanku ke dalam lubang yang sama.

"Aku punya satu permintaan untukmu." Aku menelan ludahku. Kerongkonganku kering ketika kalimat itu spontan keluar dari bibirku. Seolah kalimatku terbawa bersama nyawa yang menggantung dalam diriku.

Sebut saja aku gila, tapi aku akan memulai semuanya hari ini.

"Hanya satu?" Ia terkekeh lagi. Tangannya menyelipkan anak rambutku di balik telinga. Aku menatap matanya dalam dan menahan pergerakannya dengan memegang erat tangannya yang menggantung di sisi wajahku.

"Kalau kau sudah kembali, kumohon untuk tetap diam di sana. Jangan pergi lagi." Ada jeda beberapa detik sebelum Taehyung angkat bicara. Dia menatapku sebentar namun lamat. Ia seolah mencari letak keyakinan dalam sorot mataku. Ia ingin aku percaya padanya, tapi apa yang harus aku percaya?

Aku tidak mau melepaskan Taehyung dan aku tidak peduli seberapa besar perasaan yang harus kami korbankan demi perjodohanku dengan Jimin.

"Aku tidak pernah pergi, Cheonsa."

Iya. Taehyung tidak boleh pergi. Ia tidak boleh meninggalkanku. Ia hanya harus menunggu sedikit lebih lama sampai semuanya berakhir.

"Kau tidak boleh beranjak dariku, Taehyung-ah."

Kalian tidak akan percaya apa yang Taehyung lakukan padaku di detik setelahnya. Semuanya benar-benar awal bagi kami. Hal yang sangat pertama kami lakukan selain mengikat janji sakral siang itu.

Yang jelas aku bisa merasakan kehangatan yang Taehyung salurkan padaku. Feromon yang menguar dari tubuhnya masih terasa manis sampai bibirku saat ini, hingga memberikan efek lengkungan bibir kami di sela-sela siang dan panasnya terik matahari yang menyengat kulit.

Manis, hangat, dan merindukan. Taehyung segalanya dan aku menyesal pernah menghancurkannya.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro