^22
Tangan Belvina yang akan mengetuk pintu kamar Saarah terhenti di udara, ketika pintu telah terbuka lebih dulu dari dalam. Fhatian muncul setelahnya dengan wajah yang sedetik kemudian pasca melihat kehadiran Belvina di depan kamar Saarah terkejut. "Belvi?"
Jika saja bukan karena ia tidak menemukan satu orang pun asisten rumah tangga, Belvina bersumpah tidak akan sudi datang ke kamar istri kedua Fhatian ini. Namun, kali ini ia harus. Ada paket untuk Saarah dan Belvina malas menerimanya untuk perempuan itu.
"Ada paket buat Saarah. Kurirnya masih di depan." Setelah mengucapkan dua kalimat, Belvina segera melenggang tanpa menunggu sahutan dari Fhatian terlebih dahulu.
Masuk ke dalam kamar, air mata Belvina tanpa izin menerobos keluar. Dadanya sesak, melihat sang suami keluar dari kamar perempuan lain yang sialnya merupakan istri dari suaminya juga. "Bego! Bisa-bisanya gue nangisin dia!" rutuknya pada diri sendiri sembari menghapus kasar air mata di kedua pipinya.
Belum sempat Belvina mendudukkan diri di atas sofa, suara benda pecah yang berasal dari lantai bawah menarik perhatiannya. Kaki perempuan itu secara otomatis bergerak menuju sumber suara.
Tepat ketika ia sampai di tempat tujuan, matanya terbelalak. "Siapa pelakunya?" tanyanya kemudian. Menatap beberapa asisten rumah tangga yang turut berada di sana dengan tatapan penuh selidik. "Siapa pelakunya?!" bentak Belvina karena sebelumnya tidak ada yang menjawab sama sekali.
"Anu, Nyonya. Itu … Nyonya … Nyonya Saarah." Salah satu asisten rumah tangga akhirnya buka mulut. Menjawab dengan terbata-bata.
Air muka Belvina langsung mengeras. "Bawa dia ke sini sekarang!" titahnya sembari duduk di kursi.
Para asisten rumah tangga saling melempar pandang dengan ekspresi bingung bercampur takut usai mendapat perintah demikian
"Maaf, Nyonya. Tapi, Nyonya Saarah dibawa sama Tuan–"
"Persetan!" sela Belvina dengan intonasi yang masih tinggi. "Minta bodyguard buat menyeret dia ke sini, sekarang!" titah Belvina kembali. Suaranya datar dalam dingin. Sorot matanya menajam dengan kilatan amarah. Paginya benar-benar sempurna dengan segala kekacauan emosi.
Salah satu asisten rumah tangga akhirnya bergegas keluar. Memanggil seorang bodyguard untuk membawa Saarah ke hadapan istri pertama Fhatian.
"Belvina Jovita!" Tidak lama kemudian, sebuah suara menyerukan namanya.
Belvina mendengar namanya dipanggil. Dengan sangat jelas malah. Sayangnya, emosi yang menyelimuti diri membuat perempuan itu barang sedikit pun tidak menolehkan wajah ke arah sumber suara.
Fhatian datang dengan wajah yang tidak jauh darinya. Nampak menahan marah. "Apa-apaan kamu?!"
Merasa suasana semakin memanas, perlahan para asisten rumah tangga pergi. Tidak mau menerima konsekuensi terkena imbas dari dua majikan mereka yang tengah beradu urat.
"As you see."
"Kalau nggak tau apa yang sebenarnya terjadi, jangan asal menghakimi! Dari awal, seharusnya kamu bisa menghargai Saarah sebagai istriku, bukan malah memperlakukan dia selayaknya budak!"
Tatapan Belvina langsung terarah tepat pada manik mata Fhatian. Perempuan itu kemudian berdiri dari duduknya. "Pertama, yang aku lihat sekarang adalah … guci kesayanganku sekaligus guci peninggalan eyang, pecah berserakan di lantai. Kedua, seharusnya kamu juga bisa menghargai aku sebagai istri kamu! Dan ketiga, dari awal aku memang nggak pernah setuju kamu menikahi perempuan murahan itu!"
Plak!
"Jaga ucapan kamu! Saarah tidak serendah itu!" bentak Fhatian setelah sebuah tamparan ia layangkan di pipi kiri Belvina dengan lumayan keras. "Aku nggak nyangka, perempuan berpendidikan seperti kamu mempunyai sifat tidak lebih baik dari hewan!" Melayangkan kalimat sarkasme, Fhatian melenggang pergi setelahnya. Meninggalkan Belvina yang mematung di tempat.
°°°°°BERSAMBUNG°°°°°°
Haiiiiii....
Ih, ih, ihhh, siapa nih yg seketika kesal juga sama sikap Babang Tian?
Apa yg akan kalian lakukan, jika berada di posisi Belvi?
Menggugat cerai?
Meninggalkan rumah sementara?
Menampar balik Fhatian?
Ajak Saarah baku hantam?
Salam Kasih,
RosIta.
Kalimantan Barat, 4 Januari 2021
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro