^2
"Selamat siang, Bu Jovita."
Belvina menanggapi dengan anggukan kepala sapaan dari sekretaris Fhatian yang memang sudah mengenal dirinya sebelum membuka pintu ruangan Fhatian tanpa perlu repot mengetuk terlebih dahulu.
"Tolong sopan santunnya di-upgrade dong, Bel." Tanpa menatap lawan bicaranya, Fhatian berceletuk. Menyindir sesosok perempuan yang tanpa merasa bersalah sedikitpun duduk tenang di sofa yang berada tidak jauh dari meja kerja Fhatian.
"Waktu saya tidak banyak, Pak Pranaja yang terhormat," kata Belvina sambil membuka tab yang ia ambil dari dalam tas.
"Satu menit bagi kita sama-sama sangat berharga." Menutup laptop, Fhatian beranjak dari tempat duduknya. Menghampiri Belvina dengan membawa sebuah map berwarna biru.
"Apa ini?" tanya Belvina seraya menatap Fhatian yang tengah menyodorkan map biru tersebut.
"Segala hal tentang pertunangan sampai pernikahan ... kita." Mengambil duduk tepat di samping Belvina, Fhatian menyandarkan punggung sembari bersedekap.
Membuka map yang tadi diberikan Fhatian, mata Belvina dengan jeli membaca setiap kalimat, kata, bahkan huruf yang tertera di dalam map tersebut. Satu per satu mulai dipahaminya dengan kepala yang mengangguk-angguk tanpa sadar.
"Lo bisa tambahin apa yang sekiranya kurang," ucap Fhatian memberitahu. Tangannya menyodorkan sebuah pulpen ke arah Belvina.
"Nope. Gue ikut aja, selama tetap sesuai selera gue." Mengambil alih pulpen yang Fhatian ulurkan, Belvina meletakkan map beserta pulpen tadi ke atas meja. "Mau bagaimanapun, ini tetap acara penting di hidup gue." Tubuhnya turut bersandar di kepala sofa. Menatap langit-langit ruangan Fhatian.
"Are you fine?" tanya Fhatian sembari menatap Belvina dari samping.
Mengedikkkan bahu, kelopak mata Belvina terpejam. "Terkadang kita memang harus mengorbankan sesuatu hal yang penting demi hal lain yang jauh lebih penting," kata Belvina menyahut sesaat kemudian.
Keheningan mengambil alih beberapa saat setelahnya. Membiarkan baik Fhatian maupun Belvina tenggelam dalam pikiran masing-masing. Merenungkan keputusan besar yang telah mereka buat. Membayangkan masa depan seperti apa, yang akan keduanya bangun bersama setelah impian sebelumnya terpaksa diturunkan dari dunia khayal. Mengenyahkan list masa depan yang telah dirajut bertahun-tahun demi menghasilkan lembar kosong khusus tiap-tiap pengharapan tertuliskan kelak.
"Untuk engagement party, gue mau yang hadir hanya kerabat dekat aja. Acaranya juga nggak perlu mewah. Waktu kita nggak banyak. Ada beberapa pekerjaan yang harus gue selesaikan sebelum mengambil cuti pernikahan nanti." Setelah cukup lama bungkam, akhirnya Belvina kembali bersuara.
Fhatian menganggukkan kepala. Setuju atas usul Belvina. Lagi pula, pekerjaannya juga sedang menggunung. Mustahil rasanya ada waktu untuk mengadakan pesta pertunangan yang mewah dalam waktu dekat. Jika tidak ingin membuat Denis-asisten pribadi Fhatian-keteteran nantinya.
"Itu gaun sama cincin produk dari perusahaan gue, 'kan?" tanya Belvina memastikan.
"Hm. Calon istri gue punya apa yang dibutuhin, kenapa nggak sekalian aja dimanfaatin?"
Reflek, kepala Belvina ditolehkan ke arah Fhatian. Sorotnya tajam mengalahkan silet. "Tuan Fhatian yang terhormat ...."
Melihat reaksi Belvina, Fhatian terkekeh. "Bercanda, Bel." Tangannya terangkat merangkul Belvina. "Lagian, serius banget, sih?"
Mendengus, Belvina melepaskan tangan Fhatian dari bahunya begitu saja sebelum beranjak berdiri. "Udah nggak ada lagi yang perlu dibicarain, 'kan? Gue balik ke kantor dulu."
"Bel!" panggil Fhatian ketika Belvina baru saja akan memutar gagang pintu.
Membalikkan tubuh sedikit, sebelah alis Belvina terangkat. Menatap Fhatian bertanya. Ia sungguh sudah cukup banyak membuang waktu hari ini. Padahal, begitu banyak pekerjaan yang belum terselesaikan menanti di atas meja kerjanya.
"Cuman mau ngingetin, bukan hanya pekerjaan yang harus lo pikirin, tapi kesehatan lo juga." Seulas senyum tipis Fhatian berikan. Dari dulu, ia selalu saja mengkhawatirkan hal yang sama. Kesehatan Belvina. Itu semua disebabkan karena Belvina yang sering melalaikan kesehatannya demi tugas atau pekerjaan.
Membalas senyuman Fhatian, sedetik setelahnya Belvina benar-benar melenggang keluar dari ruangan Fhatian. Ada satu hal yang tidak ia sadari, jika sejak tadi kerja salah satu organ dalam tubuhnya mulai tidak stabil.
°°°°°BERSAMBUNG°°°°°
Double up, denggg author-nyaaa.
Ada yg menanti kelanjutan kisah Belvina dan Fhatian, nggak?
Sekadar mengingatkan, klik bintang di pojok bawah, yuppp....
Salam Kasih,
RosIta.
Kalimantan Barat, 16 Desember 2020
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro