Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

VIII : Leave

Setelah aku sempat menangis sebelum Ai kembali, kini aku telah berjanji kepada diriku untuk tidak melakukannya lagi.

Tapi aku berbohong kalau aku tidak sedih.

Tapi aku malu atas kejadian spontanitasku.

Kemarin itu ciuman pertamaku. Aku tidak tahu kalau melakukannya terkesan terlalu nekat -- entah keberanian itu datang dari mana.

Hari ini aku masih harus berlatih bersama Aijima dan itu berarti, aku akan menemui Ai yang kerap melangkah di lorong istana.

Aku meraba bibirku yang sepertinya telah melakukan hal berdosa-garis-miring-tercela. Belum lagi, aku menyatakan perasaanku. Rasanya aku ingin menghilang saja karena dia tidak bereaksi sama sekali.

Seharusnya aku bilang kalau aku kagum saja. Tidak, dia tidak akan percaya dengan alasan itu. Aku khawatir kalau dia akan menatapku jijik.

Penyesalan selalu datang belakangan.

Keberanianku kini seperti sebongkah kerikil yang terbawa angin kemudian lenyap terkikis menjadi abu.

Tok. tok.

"[Reader]-chan? Kau belum bangun?"suara khas itu sudah pasti berasal dari laki-laki bersurai kuning dengan tubuh pendeknya, Syo Kurusu.

Aku masih bergelung di balik selimut. Pukul sepuluh pagi sudah bisa dikatakan cukup terlambat untuk melakukan pertahanan diri di pagi hari.

"Aku tidak enak badan, Syo."bohongku menjawab pertanyaannya dari dalam kamar.

Masa bodoh. Sudah termakan harapan dan lagi-lagi dikecewakan, laki-laki sok berwajah datar itu tidak sekalipun minta maaf. Tidak menutup kemungkinan, ada saatnya aku akan melempar Ai dengan batu bata tepat di wajahnya. Siapa tahu dia akan menatapku sinis sambil meringis. Itu malah jauh lebih manusiawi.

Tok. Tok.

Kesabaranku mulai teruji sehingga diriku langsung bergegas membuka pintu.

"Kataku, aku tidak enak bad--,"ucapanku terpotong karena yang berdiri di depan pintu ternyata adalah Ai.

Gugup, aku langsung menutup pintu dari dalam tapi dicegat oleh jemari Ai yang terjepit.

"E-eh!"panikku langsung membuka pintu.

"Kau sakit?"tanyanya polos, tidak sekalipun meringis karena jemarinya terjepit. Seharusnya bantingan pintu yang kulakukan cukup kuat.

Aku mendengus. "Karenamu, aku sakit. Hei, seharusnya kau khawatir soal dirimu sendiri lebih dulu."

Refleks, aku meraba jari-jarinya yang selalu dingin walaupun bisa dikatakan cuaca cukup hangat hari ini. Kini aku tidak tahan berlama-lama dengannya karena masih merasakan malu yang mendalam.

"Ai, soal perasaanku .., bisakah kau melupakannya?"pintaku tidak berani menatapnya.

"Kenapa aku harus melupakannya?"

Aku menghela nafas. "Kemarin aku hanya emosi--pokoknya lupakan."

Ai memegang pipiku yang bersemu merah. "Pipimu panas. Aku tidak mau melupakannya."

Panik, aku menepis jemarinya. "Jangan sentuh aku seperti itu."

Ai melipat tangannya. "Aku tidak tahu alasannya jadi aku terus melakukannya sampai aku tahu jawabannya."

Ya Tuhan, dia ini normal atau tidak, sih?

Ai pun memegang bahuku. "Biarkan aku masuk."

Aku merentangkan tanganku untuk menghalangi pintu masuk. "Kamarku berantakan dan tidak ada apa-apa."

Dengan tindakan yang kulakukan, dia malah tidak merasa canggung sama sekali. Aku yang selalu merasa panik, gugup, dan kebingungan harus berbuat apa ketika berada di dekatnya.

"Jadi permintaan Raja ditolak?"

Aku menghela nafas karena dia membawa jabatannya. "Jangan banyak berkomentar kalau sudah masuk ke dalam."

Ai pun masuk dan mengamati kamarku. Sekali saja jika dia menilai kondisi kamarku, aku akan mengusirnya.

"Mana pita rambut yang kuberikan padamu?"Ai menghampiri meja rias yang masih kosong tanpa menampung apa-apa.

Aku menyusulnya kemudian membuka laci. "Ini."

"Duduk,"ungkapnya yang sudah pasti adalah titah. Aku pun duduk menghadap cermin meja rias. Ai memegang sisir dan ketika aku menyadari apa yang dilakukannya, dia menatapku.

"Aku akan mengikat rambutmu. Kenapa kemarin kau tidak menggunakannya?"Ai menjelaskan tindakannya.

Aku memberenggut. "Aku takut merusak pemberianmu."

Ai menyentuh rambutku dengan jemarinya, "Kalau diberikan harus digunakan. Rusak tidak apa, asalkan jangan sampai dibuang,"

Kutatap rambutnya memang gondrong dan diikat menyamping. Aku menatapnya dalam diam, tetapi aku menangkap sesuatu yang bisa kusimpulkan.

Ai ..., tidak membenciku meskipun kejadian spontanitas yang kulakukan di antara kami terjadi. Ai tidak jijik melirikku.

Hanya karena sikapnya, aku merasa bahagia. Aku mungkin akan mengenang apa yang dilakukannya, aku akui dia adalah pemimpin wilayah Asvagarde yang sangat dihormati oleh berbagai kalangan.

"Ai, terima kasih, ya."

Ai yang mengikat rambutku berkata, "Kau harus jadi lebih kuat. Aku tidak bisa selamanya menampungmu."

Tapi aku tahu dia tidak punya perasaan apa-apa kepadaku. Kesamaan di antara kami bahkan tidak ada sama sekali.

"Aku mengerti. Karena itu kau ingin sekali membebaskanku kan?"

Ai menatapku dari pantulan cermin. "Bukan begitu. Setiap orang punya kebebasan dan aku mencoba menghargai hal itu. Aku tidak bisa seenaknya merenggut hidupmu dengan terkurung di sini."

Aku menatap kalung yang diberikan Ai. Dia yang menjembatani kebebasan yang kuinginkan, mempertemukanku dengan dunia yang sangat luas.

Tapi sebenarnya, ucapannya selalu logis.

Aku menarik lengan baju putih miliknya. "Ai, aku masih punya hutang kepadamu. Aku belum membuktikan bahwa aku penulis yang menginspirasimu."

Sebenarnya alasan itu yang membuatku ingin menetap di sini, yang berangsur-angsur membuatku jatuh hati kepadanya.

"Itu sudah tidak penting lagi."ucapnya yang terdengar dingin nan menusuk hati usai mengikat rambutku persis dengan model rambutnya.

Aku menggigit bibir bawahku. Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Padahal dia yang menentangku. Padahal aku sedang berjuang untuk membuktikannya.

Sejujurnya, mengetahui batin milik Ai sama saja mencari jarum dalam jerami. Tidak mudah, juga menyakitkan. Aku tidak ingin menyerah dalam menggapai hatinya.

♡ ♡ ♡ ♡ ♡

Pintu kamarku menjeblak terbuka. Reiji telah tiba bersama Syo. Sepertinya aku merasakan firasat buruk, apalagi melihat sorot wajah muram mereka.

"Atas perintah Mikaze-sama, kau harus keluar."Syo menatapku canggung sambil menggaruk tengkuk. Mungkin dia keberatan mengurusiku karena aku sering merepotkannya.

"Ta-tapi...,"tatapku bingung. "Aku tidak punya hunian di mana pun."

"Soal itu, kau akan menemukan hunian dengan bantuan Reiji,"Ai menyahut.

Tepatnya aku memang bukan apa-apa selain incaran selama berada di dalam menara seumur hidupku. Menghuni di dalam istana dan belajar banyak hal adalah hadiah yang kudapatkan dari kedua kakiku.

Dan itu hadiah terindah bagiku.

Nyatanya, aku memang akan disuruh angkat kaki. Nyatanya, aku memang selalu menyusahkan orang lain. Padahal aku sudah berjanji akan berada di sisi Ai di hadapan Camus.

Aku tidak tahu alasannya apa, tapi aku ingin mereka semua baik-baik saja.

Aku beranjak membuka lemari kemudian membereskan seadanya. Kuangkat kakiku menghampiri Reiji dan Syo. Tepatnya aku meninggalkan mereka yang masih berada di dalam kamarku. Mungkin mereka akan menyusulku, kalaupun tidak juga tidak masalah.

Aku akan menghadapi jalanku sendiri.

"Aku tidak akan melupakan apa yang terjadi di antara kita. Terima kasih. Aku sangat bahagia."ucapku yang sudah pasti terdengar bergetar.

Dalam langkah yang sunyi, aku mencoba menahan jejak buliran air mata yang tidak segan ingin meluncur. Mungkin saja jika aku tidak berada di dekatnya, aku akan menemui banyak jawaban atas misteri dengan sendirinya.

Tepat saat aku melangkah, kurasakan seseorang mendekap mulutku dengan sebuah sapu tangan. Aku berusaha memukulnya, tetapi tidak mempan karena pertahananku semakin menipis. Kesadaranku semakin buram, meredup, kemudian menghilang.

"Hmphhh!!!"

"Tuan putri, sepertinya waktu bersenang-senangmu usai sampai di sini,"

Siapa ..., dia?

Tuan ..., putri?

Aku ..., akan dibawa ke mana?

To Be Continued

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro