Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 6

"Kalian semua sudah bekerja keras! Kami akan segera membantu nanti!" teriak Zhen Chen.

***

Melihat semua keceriaan dan kedamaian tempat ini seketika membuat Que Mo tersenyum dan menatap Zhen Xian. Tatapan penuh terima kasih karena sudah menerima dirinya yang orang asing tanpa melihat atau bertanya latar belakang dirinya.

"Que Mo, bagaimana menurutmu tempat ini? Apa kau suka?" tanya Zhen Xian.

"Aku tidak pernah melihat tempat seindah dan sedamai tempat ini." Jawabnya.

"Tentu saja, karena itu lupakan kehidupanmu dulu dan mulailah dari awal." Kata Zhen Xian lagi.

Que Mo tidak mengatakan apa-apa tapi hanya diam sementara mereka semakin dekat dengan sebuah rumah yang sederhana tapi cukup besar yang tak jauh dari lahan bunga.

"Die! Niang!" panggil Zhen Xian dan Zhen Chen bersamaan.

(Die berarti ayah dan Niang itu berarti ibu)

"Apa yang terjadi? Apa adikmu terluka?" tanya ibu pada Zhen Chen.

"Jangan khawatir hanya luka kecil." Jawab Zhen Xian.

Zhen Chen menurunkan Zhen Xian dengan hati-hati yang dibantu dengan kedua orang tua mereka. Kemudian dengan cepat Zhen Xian memperkenalkan Que Mo kepada kedua orang tuanya serta menceritakan singkat pertemuan mereka.

Sama halnya dengan Zhen Chen yang menceritakan tentang pertemuan dirinya dengan Jin Kai.

"Selama kalian baik-baik saja itu sudah cukup." Kata ayah.

"Hari sudah sore, mari masuk dan makan malam bersama. Kau juga Que Mo." Ajak ibu masuk.

Sementara ayah di luar menghampiri para pekerja. Memberitahu mereka semua untuk pulang dan melanjutkan besok. Tak lupa mengucapkan terima kasih atas kerja keras mereka semua hari ini dengan senyum ramah yang selalu diperlihatkan hampir setiap harinya.

Di sisi lain, Zhen Xian sibuk membantu ibunya di dapur menyiapkan makanan sedangkan Zhen Chen sibuk mencari pakaian untuk dikenakan Que Mo kemudian meminta dirinya untuk membersihkan diri dengan menggunakan pakaian yang barusan diberikan Zhen Chen. Sementara Que Mo bersikap canggung dengan semua kebaikan yang diterimanya lalu pergi mengikuti perkataan Zhen Chen.

"Xian'er kemarilah." Panggil Zhen Chen.

"Tunggu sebentar!"

Tidak sabar menunggu, Zhen Chen hanya menarik tangan Zhen Xian dan membawa ke kamarnya.

"Duduk di sana!" tegas Zhen Chen.

Zhen Chen mengambil botol obat dari meja dan menghampiri Zhen Xian yang duduk diam di ranjang.

"Apa kau wanita? Lihatlah lukamu?" kata Zhen Chen sambil berjongkok.

Zhen Chen mengoleskan obat dengan perlahan sambil meniup sedangkan Zhen Xian hanya tersenyum melihat perhatiannya Zhen Chen selama ini padanya.

"Aku sungguh beruntung memilikimu ge." Katanya pelan.

"Lain kali jangan pergi sendiri tanpaku. Apa kau mengerti?"

Zhen Xian mengangguk mengerti dan mata mereka saling bertatapan. Saat itu, Zhen Chen mengelus lembut kepala Zhen Xian lalu mengeluarkan tusuk konde chahua.

"Wahhh! Sungguh cantik... terima kasih ge."

Dengan senyum senangnya, Zhen Xian memeluk erat Zhen Chen dan Que Mo masuk melihat mereka yang berpelukan.

Tanpa merasa canggung atau aneh, kedua saudara Zhen tidak peduli dengan kehadiran Que Mo yang mungkin merasa aneh dengan situasi sekarang.

"Aku akan menggunakannya setiap hari sekarang," kata Zhen Xian riang.

Zhen Xian bangun lalu memasangkan tusuk konde di depan cermin. Melihat dirinya dengan senyum lebar kemudian melihat bayangan Que Mo di cermin, memicingkan matanya dan berbalik menatap Que Mo.

"Que Mo, kurasa usia kita tidak jauh berbeda. Apa aku benar?"

"Benar, aku juga baru sadar setelah melihatmu sekarang." Tambah Zhen Chen.

"Aku berusia 17 tahun." Jawab Que Mo.

"17 tahun...? Kau dua tahun lebih tua dariku dan dua tahun lebih muda dari Chen ge."

"Bagaimana aku memanggilmu?" ujar Zhen Xian lagi.

"Harusnya aku yang bertanya bagaimana memanggil kalian."

"Kenapa repot-repot memikirkan hal itu. Bukankah kita teman jadi panggil saja nama." Kata Zhen Chen.

"Baiklah sudah diputuskan." Kata Zhen Xian.

"Kalian keluarlah! Makanan sudah siap!" teriak ayah dari luar.

Mereka kemudian keluar dan duduk di meja bersama. Ibu menuangkan sup di mangkok setiap orang dan makan setelah melihat kedua orang tua mereka sudah makan.

"Kalau boleh tahu... aku akan tinggal di mana?" tanya Que Mo segan.

"Apa maksudmu? Tentu saja di rumah ini." Kata Zhen Xian.

"Kami punya kamar kosong jadi kau bisa tinggal di sana." Tambah Zhen Chen.

"Aku tidak ingin merepotkan kalian. Aku bisa tinggal di mana saja asalkan tidak di sini, kalian semua sudah cukup baik menerimaku yang yatim piatu ini. Jadi..."

"Apanya yang yatim piatu. Sekarang kau sudah punya keluarga jadi berhentilah bicara omong kosong." Potong Zhen Xian.

"Xian'er berhentilah."

"Jika kau tidak ingin tinggal di sini maka kau bisa tinggal di rumah para pekerja. Aku akan mengantarmu ke sana setelah makan. Bagaimana?" ujar Zhen Chen lagi.

"Hmmm...."

Mereka semua kemudian makan bersama dengan saling mengambil dan membagikan lauk dari piring ke piring.

Tidak terkecuali dengan Que Mo yang perlahan mulai terbiasa dengan suasana baru, kehidupan baru bahkan nama barunya.

---***---

Notes:
Dulu di tiongkok ayah dan ibu dipanggil die dan niang tapi untuk sekarang panggilan itu sendiri tidak digunakan lagi, kalo adapun mungkin sudah sangat sangat sangat jarang sekali.

Aku juga mau kasih tahu cara membaca kata 'die'.

Die di sini dibaca seperti bahasa indonesia jangan dibaca 'die = mati (dlm bahasa inggris ya hehehehe)'. Sementara bunyi akhiran 'e' itu sama dengan 'e' saat membaca kata 'kue'^^

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro