Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

9

"Hei, maaf ya lama," ujar Dyo seraya melepaskan coat yang dikenakannya dan menyampirkan ke kursi cafe yang berada di dekat akademi dance Shira.

Shira yang berkutat dengan komputer tabletnya mengangkat kepala dan mengembangkan senyum. "Aku juga belum lama kok. Gimana? Mas siap?"

Dyo mengembuskan napas perlahan lalu mengangguk mantap. "Siap."

"Kamu duduk sini, Mas," pinta Shira sambil mengangkat tas di kursi sebelahnya. Mempersilakan Dyo duduk.

Shira meletakkan tab-nya di atas meja dan menghubungi nomor Mas Davin. Saat dering tunggu masih mengalun, Dyo berdeham-deham membersihkan tenggorokannya. Walau hanya lewat daring, Dyo benar-benar dilanda gugup berkenalan dengan keluarga Shira. Namun, fase ini harus mereka lewati.

"Semangat, Mas!" Shira mengepalkan tangannya memberi semangat. Dia juga tak kalah gugup. Apakah akting mereka bisa dipercaya?

Panggilan video itu kemudian terhubung dan layar menampilkan wajah kakak-kakak Shira yang duduk berdampingan. Mora, Daffa dan Davin.

"Kak, ini namanya Mas Dyo," kata Shira dengan senyum gugup.

Dyo melambaikan tangan dan tersenyum.

"Halo, Kak Davin, Kak Daffa, juga Kak Mora. Saya Dyo. Maaf baru sempat kenalan dan saya minta maaf kalau sekarang baru bisa lewat video call."

Davin menatap Dyo dengan tatapan penuh selidik, lalu mengangguk. "Kapan kamu kenal sama Shira?"

"Memang belum lama kenal, Kak. Saya ketemu Ashira waktu ada acara di Kedutaan dan kebetulan kami satu gedung apartemen."

"Apa?! Kalian satu apartemen?!" seru Davin emosi.

"Bukan, Kak! Cuman satu gedung. Mas Dyo udah dua tahun tinggal di sana," jelas Shira.

"Situ kerja apa emangnya?" tanya Daffa, kakak Shira nomor tiga.

Dibanding Mora dan Davin, Daffa memang lebih santai dan umurnya hanya beda tiga tahun dari Shira, yang berarti Daffa seumuran dengan Dyo. Namun, sekarang Daffa berlagak sengak, membuat Shira muak dan ingin menjambak rambut kakak yang paling dekat dengannya itu.

"Programmer di Perusahaan Game, Kak," jawab Dyo, tetap memanggil dengan sebutan kakak.

"Game?! Kamu emangnya bisa hidup dari game? Apa nama perusahaannya? Jangan-jangan perusahaan bodong dan ecek-ecek jangan kira kamu bisa nipu adik saya ya!" Mora memperingatkan dengan berapi-api.

Dyo menelan ludah, rasanya ia sedang diinterogasi. "Nama perusahaan saya Noir Interactive Studios."

"Di mana itu?"

"Masih di Seoul, satu kawasan dengan LG dan Samsung."

"Nama gamenya apa?" tanya Daffa dengan mata menyipit sekaligus penasaran.

"Thunderfront Assault yang baru-baru ini rilis. Sepertinya udah rilis di Indonesia."

Davin bersuara dengan nada yang tajam. "Kamu yang bikin gamenya?"

"Bener, Kak. Sama tim saya."

Daffa yang memang maniak game menganga lebar. Thunderfront Assault jadi salah satu game favoritnya, apalagi banyak game populer lainnya yang juga berasal dari perusahaan Noir Interactive Studios.

"Lulusan apa kamu?"

"Teknik Informatika, Kak."

"Di mana?"

"S1 nya di UI, S2 nya di Manchester."

"Manchester, Inggris?!" seru Daffa heboh sampai Davin menyikutnya untuk lebih kalem.

Dyo mengangguk lalu melirik Shira. Shira tersenyum canggung, memohon pemakluman atas reaksi norak kakak-kakaknya. Mereka sekeluarga belum pernah keluar negeri. Merantau juga tidak pernah terlalu jauh dan selalu sepaket bersama keluarga.

Giliran Mbak Mora yang menganga. "Kamu nggak lagi nipu kami, kan?"

"Kakak-kakak bisa liat Linked In saya kok, atau data saya di PDDIKTI."

"Ini aku kirimin link Linked In Mas Dyo ya," ujar Shira lantas mengirimkan Linked In milik Dyo.

Di sana termuat riwayat kerja Dyo dan latar belakang pendidikannya juga achievement lainnya yang bukan main-main. Bukan hanya dalam skala nasional tapi juga internasional.

Mora bersedekap, tak mau langsung luluh dengan background mentereng yang Dyo miliki. "Kalian yakin akan ke jenjang serius? Kalau kamu main-main, putus aja sekarang. Kami udah punya calon buat Shira."

"Kak! Apaan sih!" protes Shira tak terima.

"Saya serius, Kak. Kalau kalian merestui, kami akan menikah secepatnya."

"Apa?! Apa nggak terlalu cepat?" tanya Davin.

Shira menyembunyikan bombastic side eye mendengar pernyataan Davin. Aneh, padahal tadi Davin sendiri yang ingin segera menikahkannya di Indonesia dengan pria random pilihan mereka.

"Kami udah tau background masing-masing dan saya rasa kami cocok. Saya takut Ashira diambil orang. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama sama dia."

Ashira dan kakak-kakaknya melongo.

CINTA. PADA. PANDANGAN. PERTAMA.

Kanda Nindyo Samudera benar-benar membual.

"Kami memang kebetulan satu gedung apartemen. Tapi Bunda sama adik saya sedang liburan di sini, jadi kalian nggak perlu khawatir. Kami nggak melanggar norma apa pun."

Dyo bicara serius dengan tubuh tegak dan kedua tangan tertaut sopan seperti calon anggota DPR yang sedang berkampanye dengan janji-janjinya. "Saya akan memastikan Shira selalu aman dan membahagiakannya seumur hidup saya."

Shira panas dingin mendengar omongan Dyo. Begitu juga kakak-kakaknya yang terlihat terhipnotis. Dyo merasa kakak-kakak Shira mulai sedikit melunak.

Setelah panggilan video berakhir, Shira menghela napas lega. "Aku nggak ngira mereka bisa cukup tenang. Aku kira mereka bakal nyerang Mas habis-habisan."

Urat tegang Dyo akhirnya mengendur. "Itu awal yang baik. Kita harus ngejaga komunikasi sama mereka. Kakak-kakak kamu sukanya apa? Keponakan kamu juga suka apa? Kita kirimin hadiah dari Korea buat nunjukin kalau kita serius."

Shira tersenyum dan mengangguk. "Mas coba nyuap mereka?"

"Apa pun harus kita lakuin. Ini bagian dari strategi kita. Jangan khawatir. Ini all on me, gajiku cukup kok."

Shira tertawa sekaligus bersyukur. Pernikahan ini berjalan lebih mulus daripada yang ia kira. Latar belakang Dyo yang bonafide benar-benar bisa membuat kakak-kakaknya goyah. Masih dalam posisi duduk berdampingan, Shira mencatat pada komputer tabletnya daftar hadiah untuk kakak-kakak, ipar dan keponakannya.

Kemudian mereka membahas rencana pernikahan.

"Sebelum itu, aku harus mastiin sesuatu."

Dyo menyesap ice americano-nya dan mengangguk. "Apa?"

"Mas bener-bener single atau nggak? Lagi ada gebetan? Mantan yang gagal move on? Istri di kantor? Simpanan nggak direstui?" tanya Shira bertubi-tubi seperti rapper.

Dyo menggulung lengan bajunya perlahan dan tersenyum geli mendengar pertanyaan Shira yang menatap penuh kecurigaan padanya. "Saya single dari dua tahun yang lalu. Mantan saya terakhir orang Korea dan saya ditinggal menikah. Mantan pertama saya waktu kelas 1 SMA dan dia juga udah nikah, sekarang punya anak tiga. Saya nggak ada gebetan apalagi 'istri di kantor' karena di tim saya cowok semua."

Shira manggut-manggut, lalu tiba-tiba melotot seperti menyadari sesuatu. "Mas, maaf kalau tersinggung. Tapi apa Mas punya orientasi seks berbeda?"

Dyo terperangah, tidak menyangka akan dapat pertanyaan itu. "Saya straight dan sama sekali nggak tertarik sama cowok. Sampai sini clear ya?"

Mengangguk, Ashira deg-degan waktu ditanya Dyo. "Gimana sama kamu? Ceritain sejarah percintaan kamu dan apa kamu sekarang lagi deket sama seseorang?"

Shira menarik napas perlahan sebelum menjawab serangan balik dari Dyo. "Oke, aku pacaran sekitar kelas 3 SMP. Cinta monyet karena sering di cie cie-in temen. Bertahan sebulan terus putus karena beda agama, dia katanya mau hijrah tapi ternyata malah deket sama cewek lain. Di SMA lebih banyak HTS dan dighosting. Cowokku pas kuliah juga beda agama, itu paling lama aku ngejalin hubungan karena sampai empat tahun. Seperti yang Mas tau pacaran beda agama nggak ada ujungnya kalau nggak ada yang ngalah. Sekarang dia juga udah menikah. Aku nggak punya gebetan lagi setelah itu. Aku juga lagi nggak naksir siapa-siapa kecuali cowok Kpop."

Lesung pipi Dyo terlihat jelas saat ia tertawa. Mereka sudah mengetahui sejarah percintaan masing-masing untuk meminimalisir konflik ke depannya.

"Aku nggak mau tiba-tiba dijambak atau diteriakin pelakor kalau ketauan nikah sama Mas," canda Shira setengah serius.

"Tenang aja, aku kayak lagu Super Junior."

"Apa?"

"Sexy, Free and Single."

Ashira tergelak. "Emang harus banget ada seksinya?"

Dyo mengedikkan bahu. "Menurut kamu aja gimana?"

Shira baru mengetahui sisi lain Dyo yang ini. Lucu juga. Tapi kalau ditanggapi serius, proporsi tubuh Dyo memang bisa dikatakan 'seksi'. Apalagi saat menggulung lengan kemejanya seperti sekarang. Tubuhnya tinggi dan bahunya lebar sekali. Perutnya juga tidak buncit.

Pipinya tiba-tiba memanas, Shira lantas menggelengkan kepalanya. Shira segera mengalihkan bahasan.

"Kita bakalan ngadain upacara pernikahan? Kita menikah di sini, kan?"

Dyo mengangguk. "Iya saya juga mikirnya gitu. Nggak papa kalau keluarga inti kamu aja yang hadir?"

"Nggak papa, Mas. Semakin sedikit yang tahu, semakin bagus."

Entah kenapa, kalimat Shira membuat hati Dyo berdenyut sakit.

"Toh pengeluarannya sama aja dengan ngadain resepsi di Indonesia. Di Korea acara pernikahan nggak sampai satu jam kan, Mas? Venuenya juga bisa gantian sama pengantin yang lain," imbuh Shira lagi sesuai risetnya tentang pernikahan di Korea. "Kita bisa kasih alasan kalau memungkinkan kita bakal resepsi di Indonesia nanti entah kapan waktu kamu dapet cuti."

Dyo mengangguk. Resepsi yang tentu saja hanya harapan palsu untuk keluarga mereka. Kalimat Shira 'semakin sedikit yang tahu, semakin baik' membuat Dyo sadar kalau pernikahan mereka bukan pernikahan sungguhan tapi mereka memang sedang menjalani kesepakatan dan menguntungkan masing-masing pihak.

"Berapa jangka waktu pernikahan kita?" tanya Shira.

"Gimana kalau dua tahun? Itu kayaknya udah cukup lama untuk nenangin keluarga kita." Dyo berusaha baik-baik saja. Kemudian sedikit menyesal, apa seharusnya ia mengatakan jangka waktu mereka lebih dari itu? 5 tahun? 10 tahun? atau seumur hidup?

"Dua tahun kedengarannya bagus," jawab Shira.

"Maaf tentang ini, tapi aku harus bilang. Aku mau nggak ada seks dalam pernikahan ini," kata Shira dengan tegas.

"Sure, saya paham dan itu memang perlu dimasukkan ke dalam kontrak kita. Tenang aja, saya bukan seseorang yang akan manfaatin keadaan."

"Satu lagi, Mas. Aku tau pernikahan ini berdasarkan kesepakatan tapi aku harap kita saling menghormati satu sama lain. Aku mau kita menjaga diri buat nggak berinteraksi dengan lawan jenis secara berlebihan, dan kita harus jaga nama baik satu sama lain. Of course kita nggak mungkin punya rasa cemburu tapi kalau keluarga atau temen aku tau kamu deket sama orang lain atau sebaliknya keluarga kamu liat aku sama cowok lain. Itu bakalan jadi masalah," ujar Shira hati-hati.

Dyo memandang Shira lurus. "Setuju, dan kalau kamu punya perasaan yang nyata sama orang lain, dan bener-bener yakin, kamu harus bilang ke saya karena kontrak kita akan berakhir saat itu juga. Saya nggak mau menghalangi kebahagiaan kamu."

"Nggak aku aja dong, Mas. Kamu juga. Jadi jika di antara kita punya perasaan ke orang lain dan yakin seribu persen, kita harus bilang dan kontrak kita berakhir. Deal?" Shira mengulurkan tangan ke hadapan Dyo.

Dyo menyambut jabat tangan Shira. Mereka tersenyum dan Shira menggoyangkan genggaman tangan mereka.

Senyum Shira mengembang puas, merasa lega dengan perencanaan mereka yang sejauh ini cukup baik.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro