Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

thirteenth note

Jealousy is that pain which a man feels

from the apprehension that he is not equally beloved

by the person whom he entirely loves.

—Joseph Addison—

*

Pagi lainnya kembali dimulai di rumah Jeno. Seperti biasa, cowok itu selalu sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Dia duduk tenang di kursi makan, sementara Mama menyiapkan kotak bekal untuk dia bawa. Tidak biasanya, Bongshik tak sibuk bermalas-malasan di teras atau berlari di atas rumput penuh embun halaman depan. Kucing itu santai saja duduk di dekat kaki kursi Jeno—dan diam-diam, Jeno berbagi sedikit potongan sosis gorengnya pada Bongshik. Yah, harusnya tidak apa-apa. Mama baru akan bereaksi keras jika Jeno sampai membiarkan Bongshik makan dari piring yang sama dengannya. Mama menghampiri meja makan tidak lama kemudian, dengan dua kotak bekal di tangan.

"Kok dua, Ma?"

"Satu buat Jevais ya."

Jeno terdiam, menahan diri untuk tidak mendengus. "Kenapa nggak sekalian Mama bikinin bekal aja buat Injun?"

"Oh, iya. Mama baru ingat. Yaudah, sebentar." Jeno tercengang, karena niatnya dia bicara begitu hanya untuk sarkas saja, bukan betul-betul meminta Mama turut membuatkan bekal buat Injun. Tapi segalanya sudah terlanjur. Mama kembali dengan kotak bekal tambahan tidak sampai sepuluh menit kemudian. "Oke. Satu kasih Jevais. Satu untuk Juna."

"Nggak sekalian teman sekelasku aja semuanya Mama bikinin bekal."

"Pengennya sih gitu, tapi nasinya nggak cukup." Mama menukas jahil, menyadari perubahan nada suara Jeno.

"Anak Mama tuh cuma satu, bukan tiga!" Jeno menggerutu, lalu matanya jatuh pada potongan sosis di kotak bekal yang belum ditutup. "Itu punya siapa, sosisnya dibentuk gurita terus dikasih mata?!"

"... Jevais kayaknya. Mama sengaja pilih tempat makan warna putih soalnya katanya dia suka warna putih."

"Kok punyaku nggak dibikin gurita juga?!"

"Oh ya. Mama lupa. Lagian, emang kamu suka kalau sosisnya dibikin lucu-lucu kayak gurita gitu? Bukannya waktu kapan Mama bikinin omurice pake smiley face, kamu protes bilang kalau kamu bukan anak-anak lagi?"

"Yah tapi kan Nana juga bukan anak-anak lagi, Ma!"

"Iya, sih. Tapi setahu Mama, Jevais belum pernah bawa bekal sendiri ke sekolah karena nggak ada yang bikinin dia kotak bekal. Mungkin kalau sosisnya dibikin lucu, dia bakal senang."

"Kenapa Mama selalu manggil Nana pake 'Jevais'?"

"Itu kan namanya."

"Mama nggak panggil aku 'Ezekiel'!"

"Kamu mau dipanggil Ezekiel?"

Jeno cemberut, mengabaikan pertanyaan bernada geli dari Mama dan membuka ponselnya. Dia sengaja mengecek notifikasi Instagram, langsung kecewa karena tidak ada satupun komentar atau like dari Giza. Padahal kemarin sore, dia sempat memposting foto terbaru Bongshik. Biasanya, Giza tidak pernah lupa meninggalkan komentar, tidak peduli sesingkat apa pun komentar itu. Jeno menghela napas, membuka direct message dan mengirim sebaris pesan buat Giza.

Giza, kamu baik-baik aja?

Semenit... dua menit... Jeno masih memperhatikan layar ponselnya ketika Mama tiba-tiba menyentak. "Kalau sarapannya sudah selesai, siap-siap ke sekolah, Nak!"

Jeno tersekat, lantas mengangguk walau kekhawatiran masih membayangi matanya.

*

"Oy, Bucing!"

Jeno baru berjalan melewati depan Warmil Bang Horas saat dia mendengar Nana memanggilnya. Refleks, cowok itu menoleh dan mendapati Injun tengah bersamanya. Mereka duduk di teras warung kopi seperti biasa, ditemani oleh piring kecil berisi gorengan. Segelas air putih untuk Injun, dan segelas kopi yang lebih hitam dari dosa manusia milik Nana. Jeno berpikir sejenak sebelum akhirnya berjalan mendekat.

"Nih!" Jeno meletakkan kotak bekal milik Injun dan Nana di atas meja—hampir seperti membanting waktu dia meletakkan kotak buat Nana.

"Apaan nih?"

"Mama bilang, ini kotak bekal makan siang buat kalian."

"Buset, baik bener nyokap lo! Nyokap gue mana inget bikinin gue kotak bekal!" Injun berseru girang, cepat-cepat meraih kotak bekal itu. Senyumnya melebar seketika saat dia merasakan hangat merambat dari bagian bawah kotak bekalnya. Senyum itu perlahan berubah jadi pekikan kala Injun membuka kotak bekalnya sedikit, mengintip apa yang ada di dalamnya. "Waduh, ini sih makanan restoran kalah!"

"Kotaknya nggak boleh hilang, soalnya kata Mama saya, itu mahal!" Jeno membalas ketus.

"Siap!"

Reaksi Nana sendiri tidak seheboh Injun. Cowok itu menerima kotak bekal yang ditujukan untuknya, menunduk sedikit, lalu tersenyum. Ekspresi wajah yang belum pernah Jeno lihat, bahkan ketika Nana bersama Kasa. Seharusnya Jeno senang, karena kelihatannya, Nana hanya punya sedikit alasan untuk tersenyum—paling banter, dia hanya memiliki Injun, Kasa dan Nenek. Namun entah kenapa, rasa aneh yang bercokol dalam dada Jeno masih tidak mau pergi.

"Bilang makasih ya ke Mama kamu." Nana akhirnya berujar.

"Oh ya, ingat nggak kalau hari ini bakal ada ulangan bahasa Inggris?" Injun tiba-tiba ganti membicarakan sesuatu yang lain.

"Inget." Jeno menjawab. "Kan minggu kemarin kita udah bikin perjanjian sama Pak Terry."

"Perjanjian—ah, perjanjian yang itu?!" Nana kontan berdecak tatkala dia teringat perjanjian apa yang Jeno maksud. Minggu lalu, saat kumpul di Markas, mereka memang sempat bikin perjanjian tidak tertulis. Dalam ulangan bahasa Inggris hari ini—yang akan diawasi langsung oleh Terry—Jeno, Injun dan Nana janji akan belajar sebaik-baiknya serta mendapatkan nilai lulus KKM tanpa mencontek. Sebagai gantinya, Terry yang selalu bergaya semaunya di sekolah akan muncul dengan seragam batik seperti guru-guru lainnya. Jika nilai Jeno, Injun dan Nana mencapai KKN, Terry berjanji bakal mengajak mereka jalan-jalan ke luar kota di akhir pekan.

"Kalian udah belajar, kan?"

"Dikit. Nama-nama hari dalam bahasa Inggris sih tau lah ya. Sunday, Monday, Wednesday, Thursday, Friday, Sat-Satrioday!"

"Saturday!" Jeno melotot, mengoreksi kesalahan Nana dan memicu tawa Injun.

"Kampret, Satrio mah nama tukang batagor stadion sono!"

"Yah, beda dikit lah. Saturday. Satrioday. Namanya juga speako."

"Speako?"

"Kalau typo kan tulisan tuh, kalau speako ya omongan."

"Terserah." Jeno beralih pada Injun. "Kamu udah belajar?"

"Belom sama sekali."

"HAH, KOK GITU?! Nanti kalau kita nggak jadi jalan-jalan ke luar kota gimana?!"

"Gini Jeno, ada orang bijak pernah bilang," Injun berdeham, mulai memasang ekspresi layaknya Guru Shifu dalam film animasi Kungfu Panda. Kurang jenggot putih panjang saja. Kalau dia berjenggot macam Gandalf, pasti tangannya sudah sibuk elus-elus jenggot. "Jika kita mempelajari banyak hal, maka kita akan melupakan banyak hal. Jika kita mempelajari sedikit hal, maka kita akan melupakan sedikit hal. Oleh sebab itu, gue memutuskan untuk nggak mempelajari apa-apa."

"Kenapa begitu?!"

"Jika gue tidak mempelajari apa-apa, maka gue juga nggak akan melupakan apa-apa."

"Kalau nggak ada yang dipelajari ya mana ada yang kamu lupain!"

"Tepat sekali!"

Jeno mendengus frustrasi. "Sia-sia banget dong saya belajar keras semalam. Kalau gini caranya, akhir minggu ini kita bisa disuruh bersih-bersih Markas lagi sama Pak Terry!"

"Kita masih tetap bisa menang, makanya tadi Nana panggil lo buat melipir ke sini dulu!"

"Gimana caranya?"

Injun terkekeh, merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan selembar kertas beserta sebatang pulpen. Jeno mengerjap, lalu berseru dengan sorot mata penuh penolakan.

"Kita nggak boleh nyontek! Kalau ketahuan nyontek, nanti kita kena pinalti!"

Injun menepuk-nepuk pundak Jeno dengan ekspresi wajah penuh percaya diri. "Itu yang patut digaris bawahi, saudaraku. Kalau ketahuan. Berarti kalau nggak ketahuan, nggak apa-apa, dong? Benar, saudara Nana?"

Nana menyeruput kopinya sebelum manggut-manggut dengan jempol terangkat.

"Saya nggak mau ikut-ikut kalau gitu!"

"Nehi-nehi, kita bertiga tuh udah sepaket, macam kembar siam gitu, nggak bisa dipisahkan. Jadi mau nggak mau, lo harus ikut!"

"Kalau ketahuan nanti gimana?!"

"Makanya, kita berusaha untuk tidak ketahuan."

"Berusaha apanya?!"

"Jangan pernah menyepelekan usaha karena sesungguhnya tidak ada hasil yang mengkhianati usaha!" Injun balik berseru, berhasil membuat Jeno benar-benar kehilangan kata-kata. "Komandan Toil itu mungkin duitnya banyak, tapi cara mikirnya tidak semenakjubkan isi dompetnya. Kita bakal pake kode khusus buat contek-contekan nanti. Gue udah negosiasi sama Vera, anak cewek yang bahasa Inggrisnya paling kinclong di kelas. Dikarenakan Komandan Toil itu pemalas, mesti deh dia make model soal pilihan ganda!"

"Kenapa gitu?"

"Soalnya ngoreksinya cepet, bray. Tinggal lihat kunci jawaban terus sat-set-sat-set silang yang salah dan jadilah nilai ulangan lo minggu ini!"

"Oh ya, bener juga." Jeno paham maksud Injun.

"Jadi kita pake kode ini." Injun mulai menulisi lembar kertas yang tadi dia keluarkan. "Alif buat A. Ba buat B. Tsa buat C. Dal buat D."

"Huruf hijaiyyah?"

"Yoi!"

"Dih, nyontek pake huruf hijaiyyah tuh dosanya double tau!"

"Salah pemahaman lo! Justru karena pake huruf hijaiyyah, dosa nyontek kita bisa dikorting sampai 50%!"

"Hah, kok gitu?!"

"Soalnya segala sesuatu yang berkaitan dengan Arab-araban itu identik dengan kebaikan, jadi bisa menyeimbangkan dosa kita karena nyontek!"

"Kata siapa?"

"Kata gue. Barusan."

"Tapi kan—"

"Nggak usah pake tapi, pokoknya percaya aja sama gue!" Injun memotong ucapan Jeno, kemudian meraih gelasnya yang masih terisi setengah dan menenggak sisa air mineral di sana hingga tandas. "Sekarang, kita jalan ke medan perang! Yuk, ke sekolah!"

Perasaan Jeno tidak enak, namun dia tidak membantah. Ketiganya melanjutkan perjalanan menuju sekolah, terlambat lima menit karena ketika tiba di kelas, Terry sudah lebih dulu ada di sana. Injun memimpin jalan, berlagak seperti preman kampung kesiangan.

"Assalamualaikum ya ahli kubur—mana nih yang hari ini berbatik ria—astaga naga!" Injun tersekat di tempat, kehilangan kata-kata meski hanya sejenak kala Terry berdecak seraya beranjak dari duduk.

"Kalian terlambat lima menit lebih!"

"Bapak, mana janjinya mau pake batik?!"

"Ini saya udah pake batik kayak guru-guru lain."

"Mane batiknya?!" Nana ikut angkat bicara.

Terry mendengus, membuka seluruh zipper jaket kulit yang dia pakai, menunjukkan batik yang berada di baliknya. Injun, Nana dan Jeno berpandangan. Betul, sih, Terry pakai batik. Tapi gayanya membuat batik itu tidak kelihatan seperti seragam harian guru di sekolah mereka. Terry mengenakan kaus hitam di balik kemeja batiknya yang sengaja hanya dikancingkan separuh, ditambah jaket kulit yang berada di bagian terluar.

"Maksud kita tuh pake batik beneran, Komandan! Bukan batik ala-ala fashion show! Dikiranya teh koridor sekolahan ini tuh catwalk?!"

"Perjanjian kita berhenti pada ketentuan pasti: yang penting saya pake batik."

"Yaudah, berarti perjanjian kita soal masalah contek-mencontek juga masih bisa diralat dong!"

"Woyajelas tidak bisa!" Terry berkacak pinggang. "Sekarang kalian, gerombolan penyamun sontoloyo yang suka telat, duduk di kursi kalian masing-masing!"

"Pak!"

"Duduk atau Iteung saya depak dari Markas?!"

"Bapak nih memang super duper semprulita trilili ulala banget!" Injun mendelik sebelum berjalan setengah hati ke tempat duduk. Terry mengabaikan kata-katanya yang pasti dimaksudkan untuk meledek. Mulai membuka kelas hari itu dengan gayanya yang menurut Injun dan Nana sok cool tapi berhasil membuat anak-anak cewek betah memandanginya—kemudian mulai membagikan soal.

Pada menit-menit awal, situasi masih kondusif. Tapi lama-lama, Injun kehilangan kesabaran dan mulai beraksi. Cowok itu melempar kode pada Nana yang duduk tak jauh darinya melalui tatapan mata, dilanjut Nana yang menendang pelan kaki kursi Jeno yang berada di depannya. Jeno menoleh, cemberut namun tidak membantah. Cowok itu menyodorkan penghapusnya, yang kelak akan jadi perantara penyampaian jawaban huruf hijaiyyah dari Vera, si anak yang menurut Injun masih punya DNA bule meski hanya sesenti karena bahasa Inggrisnya paling fasih diantara seluruh penghuni kelas.

Tidak butuh waktu lama bagi Vera untuk menciptakan kunci jawaban yang kelak akan beredar ke tangan para masyarakat sekelas. Penghapus milik Jeno harus rela jadi korban kemaksiatan para manusia yang malas belajar sehingga menghalalkan segala cara supaya nilai ulangan tidak perlu diremedial. Injun memperkirakan waktu dengan tepat, memastikan tiap anak hanya punya jatah waktu setengah menit buat menyalin keseluruhan jawaban dan tiga puluh detik untuk memastikan penghapus sakti berpindah dengan selamat.

Meja demi meja, akhirnya penghapus itu landing sempurna di tempat Injun. Injun terkekeh, meraih penghapusnya, bersiap mengintip serentetan huruf hijaiyyah yang akan jadi pembuka jalan baginya morotin isi dompet Terry akhir minggu ini ketika suara berdeham terdengar di belakangnya. Itu suara Terry.

"Kamu ngapain, Artajuna?"

Injun menoleh, menyunggingkan senyum lebar tanpa dosa. "Mau menghapus jawaban yang salah, Bapak Toilku tercinta."

"Good." Terry manggut-manggut. "Tapi saya melihat ada sesuatu yang janggal."

"Janggal mah nggak di sini, Pak, tapi di Bogor!" Injun ngeles.

"Itu Jonggol!" Terry sewot. "Ada sebuah keganjilan yang baru saya sadari."

"Perasaan bapak aja kali."

"Ini mengherankan." Terry maju beberapa langkah, lalu berhenti tepat di samping meja Injun. "... kamu... mau menghapus jawaban yang salah?"

"Yoi, Komandanku tersayang."

"Kamu kan nulis pake pulpen, masa ngapusnya pake penghapus pensil?!"

Injun serasa baru mendengar bunyi tiupan pertama sangkakala. Dia melirik Nana yang langsung tepuk jidat, sementara Jeno kontan merebahkan kepalanya di atas meja layaknya seseorang yang sudah tidak punya kemauan melihat matahari esok pagi.

"Siniin penghapusnya!"

"Jangan, Pak!" Injun refleks melindungi penghapusnya sekuat tenaga, serupa Voldemort melindungi horcrux berisi separuh nyawanya.

"Nggak usah lebay kayak mau diapa-apain aja!" Terry melotot. "Sini penghapusnya!"

"Pak! Mending Bapak minta nyawa saya aja daripada penghapusnya!"

"Wah, pasti ada apa-apa ini!" Kecurigaan Terry kian menguat. Akhirnya tanpa banyak basa-basi, dia merebut penghapus dari tangan Injun yang langsung memekik-mekik heboh. Nana ternganga, Jeno masih ogah melihat dan teman-teman sekelas terperangah di tempat. "Hm, sudah saya duga."

Injun memandang nanar pada kertas berisi deretan kode-kode jawaban dalam huruf hijaiyyah di tangan Terry. "Pak—itu—"

"Kamu nyontek, ngaku!"

"Bukan, Pak. Itu huruf hijaiyyah! Saya—saya lagi... saya lagi... berniat bertaubat dan masuk pesantren begitu lulus SMA, Pak! Jadi saya sekalian belajar ngaji! Sumpah ini mah, demi batu gledeknya Ponari! Bapak ketabrak mobil kalau Bapak nggak percaya!"

Terry hampir saja menepak kepala Injun, tapi takut ada yang merekam. Nanti bisa-bisa dia viral di Internet dan terhujat oleh netizen senegara karena disinyalir melakukan kekerasan di kelas. "Kamu yang bersumpah, kenapa saya yang ketabrak mobil?! Ngaco aja! Ini pasti contekan! Alif untuk A, ba untuk B, tsa untuk C dan dal untuk D! Ngaku kamu!"

Injun mengerjap takjub. "KOK BAPAK TAHU!?"

"Saya ini udah berpengalaman nyontek sejak kamu masih zigot. Ngerti kamu?!"

"Berarti harusnya nggak apa-apa, dong!"

"Ya nggak apa-apa, kalau gurunya bukan saya! Lagian ngaco bener, nyontek kok pake huruf hijaiyyah!" Terry mendesis.

"Ya kan, Pak, biar nyonteknya auto halalan toyyiban!"

"Terserah! Pokoknya barang bukti sudah saya amankan. Injun, Nana, Jeno, kalian saya tunggu di Markas setelah pulang sekolah."

"KOK SAYA, PAK?!" Nana dan Jeno bertanya kompak, bikin Injun menatap mereka dengan pandangan terluka.

"Gue nggak menyangka gue bersahabat dengan pengkhianat!" serunya dramatis.

"Karena penghapus ini milik Jeno dan saya yakin, Nana ikut andil dalam skenario terlaknat ini."

"Bapak tau dari mana kalau itu penghapus saya?!"

Terry membalik penghapusnya, menunjukkan rentetan huruf yang diguratkan menggunakan pulpen di badan penghapus. Rentetan huruf yang terbaca J-E-N-O. Otomatis, Jeno merutuki kebiasaannya memberi nama setiap benda yang dia miliki—bahkan sepatunya juga dicoreti J-E-N-O di bagian solnya.

"Oke, lanjutkan kerjain soalnya! Khusus untuk kalian bertiga para sontoloyo, kalian didiskualifikasi dari ulangan ini."

"PAK!" ketiganya berseru di waktu yang bersamaan.

Akan tetapi, tidak sulit bagi Terry mengabaikan mereka.

*

Siangnya, pada jam istirahat, usai makan siang, Jeno, Injun dan Nana bergerak menuju kantin untuk membidik target mereka berikutnya terkait keperluan tampil saat Pensi. Khusus untuk misi kali ini, hanya Injun yang akan diterjunkan. Kenapa? Sebab diantara mereka bertiga, cuma Injun yang berpengalaman menghadapi seorang Shavela Vladivia—bahkan sudah sampai kena geprek segala, tapi hamdallah, masih diberi umur untuk tetap hidup dan bernapas dengan organ lengkap.

"Doa gue bersama lo, Jun." Nana menepuk bahu Injun yang menarik napas panjang, berusaha tampak teguh dengan tekad berlapis baja.

Lala sedang duduk sendirian, menghadapi semangkuk bakso panas yang baru dia tambahkan sambal. Injun sengaja mendekat dari belakang, takut kena guyur kuah bakso jika dia mendekat dari depan. Saat dia sudah tiba di dekat Lala, tanngannya lembut menyentuh bahu cewek itu, seperti cowok yang menepuk pelan punggung pacarnya dengan sentuhan penuh cinta.

"Sayang..."

Lala yang baru mencicipi sesendok kuah baksonya langsung terbatuk-batuk heboh. Injun ikutan heboh, buru-buru meraih botol air mineral Lala di atas meja. Botol air mineral itu masih tersegel, tapi Injun dapat dengan mudah membukanya dan menyodorkannya pada Lala yang masih tersedak. Lala tangkas meraih botol air mineral tersebut, menenggak isinya banyak-banyak sebelum kemudian melotot sangar pada Injun yang malah nyengir.

"Lo mau bunuh gue ya?!"

"Aduh sori, nggak sengaja. Gue kan nggak tahu kalau lo kagetan. Gue juga nggak ada niat bunuh lo. Kalau lo mati, nanti yang gue godain siapa? Nanti yang ngupas mangga colongan gue siapa? Nanti yang—"

"Sekali lagi lo ngomong, gue tojos lo pake garpu!"

"Ampun." Ekspresi wajah Injun berubah serius, lalu dia meraih kotak tisu dan menarik beberapa lembar dari sana, menyodorkannya pada Lala. "Mau dielapin apa elap sendiri?"

"Apanya?"

"Ada keringat di dahi lo. Juga, hidung lo merah banget. Pedes ya tadi keseleknya?"

"Terserah!" Wajah Lala memerah, buru-buru dia menarik tisu dari tangan Injun yang kini tertawa kecil. Jantung Lala rasanya langsung kosidahan. Soalnya gimana ya, Injun yang menunduk sedikit, terus tersenyum manis itu kelihatan kalem banget. Ekspresi yang jarang Lala lihat.

Kan gemay jadinya, Lala berpikir dalam hati, berusaha menahan diri untuk tidak mengeluarkan ponsel dan memotret Injun supaya senyum itu dapat terabadikan dan dia lihat berulang kali sebelum pergi tidur.

"Sayang—"

"Sekali lagi lo panggil gue 'sayang', gue tonjok lo sampai nggak bisa ngomong selama tiga hari!" Sori banget, Jun, tapi gue harus melakukan ini sebelum jantung gue batuk-batuk kayak knalpot bajaj rombeng! Lala membatin dalam hati, berupaya keras mengontrol tangannya agar tidak tremor.

"Ih, galak banget! Kalau tau-tau gue naksir, tanggung jawab ya!" Injun masih saja bernyali untuk menggoda. "Gini Shavela yang cantik, bentar lagi Pensi kan ya. Pas Pensi tuh, biasanya ada—"

"To the point aja. Nggak usah banyak bacot. Waktu gue nggak banyak."

"Gue sama dua teman gue mau tampil waktu Pensi. Gue harus gimana biar bisa masuk ke daftar acara?"

"Hubungin anak acara. Bukan gue."

Injun mulai melancarkan serangan mautnya, alias genit-genit menggoda sambil merengek sok manja. "Yah... maunya hubungin lo. Gimana, dong?"

Kuat-kuat La... kuat-kuat...

Lala terbatuk. "Lo bisa kontak Davin. Dia anak acara. Nanti gue kasih—"

"Nggak mau sama Davin. Maunya sama lo."

Yak, jantung gue akan mbledos dalam hitungan 10... 9... 8...

Lala mencoba menenangkan diri. Wibawanya sebagai petinggi OSIS harus senantiasa terlindungi. "Emangnya... lo mau nampilin apa pas Pensi?"

"Belum tahu. Kalau nyanyi terus di akhir minta lo jadi pacar gue, boleh?"

ANJIAAAAAAAAAAAAAAANG KAUW ARTAJUNA...

"Nggak."

"Oh, yaudah kalau nggak boleh." Injun mesem-mesem. "Mau tampilin band. Ini penting. Dan gue nggak akan menghancurkan acara lo, kok. Sumpah. Soalnya Pak Toi—maksud gue Pak Terry juga ikut terlibat. Bolehin ya? Nggak usah ditaro di depan nggak apa-apa, yang penting kebagian durasi aja."

"Gue..."

Injun meletakkan telapak tangannya di atas punggung tangan Lala, menatap lembut layaknya cowok yang tengah dimabuk kekaguman akut. "Lala... gue nggak tahu mau bilang ke siapa lagi kalau bukan ke lo..."

Mari semuanya mengheningkan cipta untuk separuh jiwa Shavela Vladivia yang sudah terbang ke alam baka...

Lala melegakan tenggorokannya sebelum bicara. "Oke. Nanti gue coba sampein ke Davin."

"Oh ya, satu lagi."

"Apa?" Kenyolotan Lala sudah hilang sepenuhnya, terbang pergi ke akhirat bersama separuh nyawanya.

"Nanti pas gue tampil, jangan lupa maju di tengah lagu. Kasih gue bunga."

"Ogah! Minta aja cewek lain!"

Dasar baut gerobak baksoooooooooooo!

"Nggak mau cewek lain, maunya lo."

Sekali lagi mulut manis lo ngomong, Jun, gue langsung masuk keranda dan minta dikubur, deh...

"Lihat aja nanti."

"Makasih, Lala cantik." Injun menyempatkan diri memberikan seulas senyum terbaiknya—tanpa peduli itu bisa bikin Lala semaput di tempat duduk—sebelum berbalik dan berjalan menjauhi kantin. Akan tetapi, dia belum jauh meninggalkan Lala saat seorang gadis mungil berambut panjang dengan gaya busana feminin menghalangi langkahnya. Gadis itu pendek, hanya sepantaran bahunya. Kulitnya terang, kontras dengan rambutnya yang hitam, tergerai halus menyentuh punggungnya. Injun belum pernah melihatnya dan dari baju bebas yang dia kenakan, jelas dia bukan siswa sekolah ini. Wajahnya kalem, tampak lugu, tapi saat menatap Injun, senyum gadis mungil itu tertarik.

"Kak Artajuna?"

"Sori, gue kenal lo?"

"Finally, I found you.






bersambung ke fourteenth note 

***

Catatan dari Renita: 

sori telat wkwkwk ada beberapa kesibukan karena hari ini pengumuman hasil UN adik gue wkwk jadi gimana yang juga pengumuman hari ini? nilainya memuaskan? no matter what, i think you did your best! 

tadinya gue mau memasukkan bagian nana-kasa tapi sepertinya injun-lala lama tidak tersorot wkwkw i hope you like this chapter cause i was having fun writing it 

terus nggak kerasa juga ya, sekarang udah akhir mei. selamat siap-siap lebaran buat yang merayakan dan jaga kesehatan selalu buat semuanya. 

kayaknya so far itu dulu. makasih untuk semua respon, entah itu vote dan comment di chapter sebelumnya. semoga chapter 14 bisa di update lebih cepat wkwkwk doakan mood gue bagus jadi bisa buru-buru nulis chapter berikutnya. 

oke, sekian dan terimakasih. 

sampai ketemu di chapter berikutnya. 

ciao! 

Bandar Lampung, May 29th 2019 

19.30

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro