Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

third note

That's what people who love you do.

They put their arms around you when you're

not so lovable.

—Deb Caletti—

*

Berbeda dari kebanyakan remaja seusianya, Jeno bukan orang yang suka aktif di media sosial. Sebelumnya, waktu teman-teman sekelasnya di sekolah lama keranjingan main facebook, Jeno justru merasa facebook itu merepotkan dan membuang waktu. Saat anak-anak sebayanya bertukar PIN Blackberry Messenger atau ID LINE, Jeno tetap setia dengan fitur SMS—sampai Mama yang sudah beralih memakai LINE memaksa Jeno untuk ikut membuat akun LINE. Di era sekarang, di mana Instagram jadi salah satu platform media sosial terpopuler terutama di kalangan anak muda, Jeno masih tak berminat, hingga Mama menunjukkan video-video kucing lucu yang ada di Instagram. Akhirnya, Jeno berubah pikiran dan bikin akun Instagram. Seringnya sih, akun itu dipakai untuk searching video terkait dunia permeongan atau posting foto-foto seksi Bongshik.

Beberapa followers yang tidak mengenal Jeno di dunia nyata sempat terkecoh, mengira kalau akun itu betul-betul akun Instagram khusus untuk kucing. Sebagian diantaranya bahkan sempat bertanya, kenapa kucing lucu yang kerap nongol di linimasa mereka dinamai Ezekiel Noelish Karsa. Awalnya, Jeno masih sabar menjelaskan jika itu namanya dan nama kucing peliharaannya adalah Bongshik, tapi kemudian, cowok itu terlalu capek untuk menjawab semua pertanyaan yang masuk. Jadilah, rakyat Instagram yang mengikuti akun Jeno terbagi ke dalam dua kubu; mereka yang sudah tahu kalau Ezekiel Noelish Karsa bukanlah nama kucing dan mereka yang berpandangan kalau Ezekiel Noelish Karsa adalah nama kucing paling ribet se-Indonesia.

Selain ngebucin pada Bongshik, membantu Mama, pergi ke sekolah, main game di ponsel dan baca komik, aktivitas lainnya yang paling sering Jeno lakukan adalah mengupdate akun Instagramnya. Tetap sih, seringnya hanya foto Bongshik yang sedang makan, sedang minum, sedang mengorek sand paper dalam litter boxnya sampai Bongshik yang sedang terkejut terheran-heran menyaksikan drama seru antara Haji Sulam dan Haji Muhidin dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji—yang sekarang sudah tamat dan karena Bongshik bosan nonton sinetron Indonesia, dia beralih jadi catfannya Park Bogum usai menyaksikan drama Encounter. Kayaknya, seandainya diberi pilihan untuk mencakar foto Park Bogum atau foto Jeno, Bongshik bakal langsung mencabik-cabik foto Jeno tanpa banyak cingcong.

Dari sekian banyak followers akun Instagram Jeno (dan Bongshik), ada satu akun yang rajin sekali memberi respon berupa like dan komentar di setiap foto yang Jeno unggah. Kebanyakan menunjukkan betapa gemasnya pemilik akun itu pada tingkah-laku Bongshik. Jeno jadi berpikir, seandainya Bongshik berkesempatan menggelar jumpa penggemar, maka pemilik akun itu pasti bakal datang paling pagi, berada paling depan dan berteriak paling kencang bahkan kalau Bongshik hanya mengeluarkan seorang meong-meong dengan wajah tsunderenya yang walau menggemaskan, sering menggugah untuk ditampol. Ibarat kata fans K-pop, pemilik akun itu adalah penggemar garis keras yang memiliki motto hidup oppa is mine—dalam perkara ini, bisa diganti jadi Bongshik is mine.

Pagi ini, Jeno mengunggah fotonya yang bermasker bersama Bongshik dan seperti biasa, akun itu kembali meninggalkan komentar.

gizamalona: cakep banget, bongshik...

Biasanya, Jeno mengabaikan mayoritas komentar yang masuk, paling juga hanya membalas satu atau dua—karena kata Mama, Jeno akan terkesan sombong kalau tidak membalas sama sekali. Tapi untuk pertama kalinya, profil akun itu membuat Jeno penasaran. Sempat berpikir sejenak, Jeno memutuskan mengklik akun yang bersangkutan, hanya untuk dibuat terdiam sesaat kemudian.

Itu akun cewek yang dilihatnya di depan Warmil tempo hari. Cewek dari sekolah sebelah, yang katanya telah lama bermusuhan dengan sekolahnya. Cewek yang juga pacar cowok sangar bertato bernama Sariffudin dengan nama keren Dean.

Tidak ada banyak informasi di akun itu, karena pemiliknya tidak memasang foto profil. Hanya ada tiga foto yang diunggah berbulan-bulan lalu, dengan jarak yang amat jauh, satu foto kaktus dalam pot, satu foto seekor kucing jalanan dan satu lagi fotonya sendiri, di depan sebuah bangunan sekolah dengan seragam khas yang membedakan sekolahnya dengan sekolah Jeno. Cewek itu tersenyum pada kamera, membuat hati Jeno serasa melayang karena seolah-olah senyum itu ditujukan buatnya. Selain tiga foto tersebut, ada nama yang tertera dan bio singkat; suka kucing.

S. Giza Imalona, Jeno bergumam dalam hati, membaca namanya. Namanya cantik.

Jeno tak lanjut menelusuri akunnya lebih jauh, karena tidak ada banyak hal yang bisa dieksplorasi. Cowok itu bingung sebentar, lantas secara impulsif, mengunggah foto lainnya. Kali ini, foto yang Jeno upload adalah fotonya bersama Bongshik di teras rumah, sepulang sekolah dan belum sempat berganti seragam. Mama yang memotret diam-diam, menampilkan Jeno sedang duduk di depan mangkuk makanan Bongshik seraya menatap penuh perhatian.

Meski sudah bisa ditebak, jantung Jeno tetap nyaris melorot dari tempatnya tatkala notifikasi komentar baru dari akun cewek itu masuk—oh ralat, bukan komentar. Kali ini, cewek itu mengirimnya direct message.

gizamalona: lo anak ceka?

ezekielnk: anak mama sih, tapi iya saya sekolah di ceka

gizamalona: hah, masa?! tetanggaan dong sama sekolah gue!

ezekielnk: iya, udah tau.

gizamalona: tau dari mana?

ezekielnk: tadi saya buka akun kamu

gizamalona: stalking?

ezekielnk: iya.

gizamalona: lo lucu banget sih haha jujur amat. nggak malu ketahuan stalking orang?

ezekielnk: malu.

gizamalona: terus kenapa jawab jujur?

ezekielnk: soalnya... bohong itu dosa.

gizamalona: what are you? a five years old?

ezekielnk: emang cuma anak kecil yang nggak boleh bohong?

gizamalona: bukan maksud gue begitu.

ezekielnk: maksudnya?

seen.

Jeno panik.

ezekielnk: maaf ya kalau saya bikin kamu tersinggung.

gizamalona: no, no. gue baru sadar apa yang lo bilang ada benarnya.

gizamalona: thankyou, ezekiel.

ezekielnk: jeno. saya biasanya dipanggil jeno.

gizamalona: ternyata owner Bongshik memang selucu kucingnya haha. salam kenal, jeno.

gizamalona: boleh jujur soal sesuatu? tadi gue bete banget karena sesuatu, tapi balasan lo berhasil bikin gue ketawa.

gizamalona: i wish i have at least one friend like you

ezekielnk: boleh jujur juga nggak?

gizamalona: go ahead.

ezekielnk: saya penasaran sama nama depan kamu.

gizamalona: lo harus jadi temen gue dulu baru bisa tahu.

Jeno bingung. Dia sempat mengetik 'saya mau jadi teman kamu' yang lantas dia hapus dan ganti dengan 'ayo temenan!' dan dia hapus lagi sebelum akhirnya cowok itu betul-betul menyerah. Dia tidak tahu harus membalas apa. Bertanya ke Mama sepertinya tidak mungkin. Bertanya pada Injun dan Nana hanya akan menjerumuskannya dalam kebodohan. Bertanya pada Bongshik, mereka terkendala language barrier. Bertanya pada rumput yang bergoyang, jawabnya belum pasti, masih barangkali. Setelah bimbang beberapa lama, akhirnya Jeno tidak membalas sama sekali.

*

Siang ini, Jeno terpaksa makan di kantin karena Mama menitipkan perkedel kentang buatannya khusus untuk diberikan Injun dan Nana. Jeno sempat bilang pada Mama kalau Nana dan Injun lebih doyan kopi hitam daripada perkedel, tapi Mama hanya tertawa dan tetap membungkuskan beberapa potong perkedel sambil bilang kalau itu tanda terimakasih Mama karena Injun dan Nana sudah mau menjaga Jeno. Tadinya, Jeno berniat memberikan perkedel itu di kelas, tapi namanya juga Injun dan Nana, bel tanda istirahat kalah gercep dengan mereka. Jadilah, Jeno terpaksa mencari mereka di kantin. Harusnya, setelah memberi perkedel itu, gampang bagi Jeno untuk balik ke kelas, kalau saja Injun dan Nana tidak menahannya, memaksanya makan bareng mereka.

Kantin lebih ramai dari biasanya, membuat Jeno sadar apa yang dikatakan Injun dan Nana soal perkara geng-geng-an di sekolah itu benar adanya. Hampir semua siswa yang berada di kantin duduk bersama kelompok pertemanan mereka masing-masing, mulai dari yang biasa saja seperti layaknya anak sekolah pada umumnya sampai yang ekstrem serupa Tomi dan gerombolannya. Mereka yang tidak punya kelompok pertemanan hanya bisa membeli makanan dan membawanya ke kelas sebab tidak kebagian tempat duduk. Kalau bukan karena Injun dan Nana—yang sepertinya sudah punya kursi default sendiri di kantin—mungkin Jeno juga tidak bakal kebagian tempat duduk dan mesti makan sendiri di kelas.

"Gila nih perkedelnya enak bang—ohok—ohok—" Nana yang sedang mengunyah gigitan pertama perkedel dari Mama Jeno kontan tersedak begitu matanya tak sengaja melihat sosok Lala yang berjalan ogah-ogahan menuju kantin. Injun mendelik, tapi tetap menggeser gelas es teh Nana supaya lebih mudah dijangkau.

"Kamu pasti nggak berdoa dulu sebelum makan." Jeno mencetus, memandang Nana dengan tatapan menghakimi.

"Bukan itu! Jun, lihat tuh sih Medusa! Dia ke kantin! Bukannya kantin udah jadi zona terlarang buat dia?"

Injun ternganga, menoleh ke arah pandang yang sama dengan Nana. "Anying beneran dia ke kantin! Wadoh, apa jangan-jangan setelah gue ledekin kemarin, dia keselnya baru hari ini ya? Eh, tolong, dong! Lindungi gue! Bisa berabe kalau gue kena geprek lagi!"

"Bukan geprek lagi sih levelnya ini tuh udah presto." Nana menimpali. "Gue bantu pantau, deh. Kalau udah kelihatan gerak-geriknya dia mau ngejurus ke lo, gue bakal mengalihkan perhatiannya. Pas itu, lo langsung ngibrit aja ke markas. Lala pasti nggak bakal berani sama Iteung!"

"Tunggu, terus lo gimana?"

"Nggak apa-apa. Gue berkorban sedikit, yang penting temen gue nggak jadi bahan presto!"

"Nana..."

"Pertemanan kita selama ini memang seberharga itu, Jun!"

Jeno terbatuk, memandang sebal pada Nana dan Injun yang berlagak super dramatis, sementara Lala yang jadi bahan adegan sinetron mereka hanya melenggang santai menuju warung penjual ketoprak tanpa sekalipun melirik pada Injun. "Kalian drama banget."

"Masih mending, kita dramanya sesama manusia. Lah lo?" Injun membalas pedas.

"Kalian beruntung Bongshik bukan manusia." Jeno membela Bongshik. "Bongshik tuh, jadi kucing aja cakep banget dan berhasil memikat kucing-kucing lain di sekitar rumah. Apalagi kalau dia manusia? Bisa-bisa kalian semua silau karena kecakepannya!"

"Dasar bucing!"

Nana membiarkan Injun meledek Jeno karena kini fokusnya kembali tertuju pada Lala yang baru selesai memesan ketoprak. Cewek itu sempat berdiri sebentar dengan piring ketoprak di tangan, menatap ke penjuru kantin yang sesak oleh orang sebelum akhirnya menghela napas panjang. Dia berjalan melewati bangku-bangku yang semuanya sudah diduduki. Jeno, Injun dan Nana tetap diam, sampai secara tidak terduga, Lala berhenti di belakang Injun dan menatapnya dengan mata menyipit.

Nana bersiul, pura-pura sibuk dengan es tehnya, sementara Injun menoleh dengan wajah yang sok dibuat santai.

"Yak, dengan saya, silakan passwordnya apa?"

Lala berdecak kesal.

"Passwordnya salah tapi berhubung kamu kelihatannya butuh bantuan, jadi ya udah, nggak apa-apa. Kenapa nih Maemunah tiba-tiba berhenti di dekat abang?"

"Tumben hari ini lo pake dasi. Udah tobat?"

Injun memandang pada kerah bajunya sendiri, sadar dia pakai dasi dengan rapi hari ini—sesuatu yang bisa dibilang, terjadi mungkin hanya enam bulan sekali. "Oh, ini. Iya, lagi kepingin jadi anak baik. Kenapa? Tambah ganteng ya?"

Ada semu di pipi Lala yang mati-matian coba dia tutupi. Cewek itu mendengkus kesal, tak lanjut bicara dan bermaksud untuk kembali ke kelas bersama makan siangnya, namun panggilan Injun otomatis membuat niatnya urung dilakukan.

"Medusa!"

"Gue nggak suka lo manggil gue Medusa."

"Terus maunya dipanggil apa?"

"Ck."

"Dipanggil 'sayang' gitu mau?"

"..."

"Cie, baper ya? Hehe, makanya jangan jutek-jutek, jadinya kan yang berani manggil 'sayang' cuma gue." Injun terkekeh, lalu menggeser duduknya dan menepuk ruang kosong tepat di sebelahnya. "Gue tahu lo nggak punya teman dan makan di kelas tuh kelihatan menyedihkan. Jadi nggak apa-apa kalau lo mau duduk di sini bareng gue, Nana dan Jeno."

"Nggak minat."

"Gue nggak lagi dagang bangku, jadi nggak penting sebenarnya mau lo minat apa nggak. Cuma, emang lo kuat jadi bahan omongan teman-teman lo seandainya lo makan sendirian di kelas? Ketua OSIS, pintar, anak IPA, masuk sepuluh besar rangking paralel tapi nggak punya teman makan siang. Ih, kasihan amat."

Wajah Lala merah padam. Dia berdiri kaku di sana seakan-akan sesuatu telah memaku kakinya ke lantai. Injun masih memandangnya santai, dengan tatapan playful yang tak pernah gagal bikin Lala lemah. Tapi tentu saja, dia tidak pernah menunjukkannya atau menceritakannya pada siapapun. Di dunia ini, yang tahu soal perasaannya buat Injun cuma lembar buku hariannya saja.

"Duduk aja, nggak apa-apa." Jeno yang iba melihat Lala kebingungan, akhirnya angkat bicara. Kata-katanya membuat Lala menghela napas, kemudian duduk di sebelah Injun. Normalnya, orang yang makan bersama pasti setidaknya mengobrol, meski hanya sedikit. Namun Lala tidak bisa melakukan itu. Sepanjang menghabiskan ketopraknya, dia hanya diam, makan dengan gerak pasti seperti robot. Nana tertawa, meledeknya, yang dibalas Lala dengan pandangan dingin.

Tidak sampai sepuluh menit, Lala telah menghabiskan makanannya. Cewek itu tidak banyak basa-basi, langsung beranjak dari duduk. Tetapi Injun kontan memaksanya kembali terhempas ke bangku, tak tampak gentar sekalipun Lala langsung melayangkan pandangan mematikan padanya sesaat kemudian.

"Kayaknya lo lupa ya kalau gue masih bisa nendang dan nonjok orang?" Lala bertanya dengan suara berbahaya yang biasanya, selalu berhasil bikin Injun mati kutu.

"Nggak."

"Lo ini benar-benar minta ditonjok ya?"

"Ditonjok pake cinta? Boleh juga." Injun terkekeh, wajahnya kelihatan senang. "Gue baru menyelamatkan lo dari kemungkinan rasa malu sepanjang masa lo bersekolah di sini, jadi mestinya lo neraktir gue beberapa potong gorengan atau es kelapa atau sederhananya, satu ucapan terimakasih sebetulnya cukup."

"Apaan?"

Injun tidak menyahut, malah membuka jaketnya dan melipat jaket itu sedemikian rupa hingga tampak rapi. Tidak hanya sampai di sana, Injun memegangnya seakan-akan benda itu adalah bendera pusaka. Lantas cowok itu menyerahkan jaketnya pada Lala, diiringi oleh nyanyian yang membakar keberanian.

"Maaaaaajuuu... tak gentaaaaarrrrr... membelaaaaa yang daaaaataaaar...."

Jeno dan Nana berpandangan, memicu pecahnya tawa Nana. Cowok itu lalu berinisiatif memperheboh suasana dengan menambahkan sound effect tepuk tangan sesuai irama nyanyian Injun.

"Maaaaaajuuuu... tak gentaaaaarrrrr... Jepang suuuuudaaaah menyeraaaaaaaaangggg..."

Lala tersekat, sementara Nana kontan manggut-manggut, paham apa yang dimaksud Injun. Nana sudah lama sekali naksir Kasa dan Injun punya adik perempuan, jadi mereka sudah mengerti apa makna di balik 'Jepang menyerang' atau 'bendera Jepang'. Itu adalah saat-saat krusial bagi kaum perempuan, di mana mereka datang bulan secara tidak terduga hingga meninggalkan jejak bercak di bagian belakang rok atau celana yang biasanya diserupakan dengan lingkaran merah ngejreng yang ada di bendera Jepang.

"Dariman—shit." Lala memaki, cepat-cepat menerima jaket Injun dan mengikatkan lengan jaket itu di sekeliling pinggangnya. Setelah memastikan bendera Jepang di bagian belakang rok sekolahnya tertutupi, Lala bangkit, menatap setengah hati pada Injun yang masih senyum-senyum sok manis. "Thankyou. Nanti jaketnya gue balikin."

"Kamu ketus, tapi gemesin. Jadi nggak apa-apa."

"Ck."

"Tapi kalau bisa, selipin gocap ya di kantung jaketnya."

"Najong."

Injun masih nyengir ketika Lala berjalan menjauh meninggalkannya, sampai cewek itu teringat pada sesuatu dan dia kembali lagi menghampiri Injun.

"Kenapa? Lupa nitipin hati ke gue ya?"

"Tadi lo bilang 'maju tak gentar membela yang datar', maksud lo apa ya?"

"Masih nanya?"

"Gue serius."

"Gue juga serius." Injun menukas santai. "Itulah yang... datar."

"Apa?"

"Itulah." Injun terkekeh. "Tapi tenang aja, meski begitu, lo tetap cantik kok. Lagian, nggak ada orang yang sempurna di dunia ini, kan? Daripada yang segede bola dunia tapi palsu kayak punyanya Lucinta Luna, gue lebih suka yang asli kok, jadi tenang aja—argh!" Kata-kata Injun terinterupsi oleh jerit kesakitannya sendiri karena Lala menginjak ujung kakinya keras-keras. Cewek itu bersungut-sungut, mendesis geram pada Injun yang meratapi nasib jempol kakinya, lalu bergerak pergi begitu saja.

"Gila ya, badannya kecil gitu tapi injakannya maut banget. Ni gajah duduk kembar aja kalah nih sama injakan maknyusnya si Medusa!"

"Lagian suruh siapa kamu menyinggung dia." Jeno menjawab seraya menutup kotak bekalnya. "Saya mau balik duluan ke kelas."

"Bareng lah!"

"Kenapa mesti bareng?"

"Soalnya kita teman."

"Kita bukan tem—"

Ponsel mereka bertiga bergetar di saat yang bersamaan, karena alasan yang juga tak berbeda. Ada chat baru yang dikirimkan Pak Terry dalam groupchat mereka. Isinya simpel, meminta Injun, Nana dan Jeno menemuinya di lab biologi yang sudah tak terpakai di lantai dua, setelah pulang sekolah.

"Oke, kita mungkin memang bukan teman." Nana berujar begitu sambil memasukkan ponselnya kembali ke saku seragam. "Tapi kita bakal jadi budak orang yang sama selama sebulan ke depan, jadi gue rasa, lo mesti berhenti menganggap gue dan Injun orang asing."

"Saya nggak mau gaul sama anak nakal." Jeno bangun dari duduk. "Soalnya nanti saya jadi ketularan nakal."

"Atas dasar apa lo nyebut kita nakal?"

"Seragam kalian berantakan, kalian telat masuk kelas, kalian melawan guru."

Nana tertawa pongah. "Cuma itu?"

"Iya."

"Berarti lo nggak paham kalau dunia ini nggak hitam-putih, Jeno. Dengan mindset yang kayak gitu, lo nggak akan sampai kemana-mana. Lo sama aja dengan orang yang nganggap IPA itu otomatis punya masa depan cerah dan IPS itu otomatis bermasa depan suram."

"Seenggaknya, saya nggak bakal masuk ruang BK serajin kalian."

Nana mendengkus, jelas kesal, namun Jeno mengabaikannya, memilih untuk kembali ke kelas tanpa mempedulikan Injun dan Nana.

*

Sepulang sekolah, jujur saja, Jeno kepingin langsung pulang. Tadi pagi, Mama bilang beliau akan membuatkan Jeno puding Oreo hari ini. Selain itu, Jeno juga sudah kangen pada Bongshik. Oh ya, satu tambahan lagi, Jeno juga penasaran apakah akun Instagram Giza—Jeno tidak tahu nama depannya, jadi cowok itu memutuskan memanggilnya Giza—mengirim direct message baru lagi padanya atau tidak. Namun gara-gara dia terlibat dengan Injun dan Nana, mau tidak mau dia harus ikut berkumpul di lab biologi yang sudah tidak terpakai. Lab itu adalah tempat yang dijadikan Injun dan Nana markas mereka, dengan penjaga spesial replika tengkorak manusia bernama Iteung dan berkaus 'I love Bandung'.

Pak Terry sudah menunggu mereka di sana begitu ketiganya tiba dengan sebuah catatan panjang di tangannya, dan kartu kredit berwarna hitam.

"Untuk tindak-lanjut lebih jauh soal perjanjian kita dan karena saya ogah membawa kalian para sontoloyo masuk ke ruangan saya setiap kita ada perlu, maka saya minta kepada Kepala Sekolah untuk membebaskan penggunaan ruang bekas lab biologi ini. Bisa kalian lihat, ruangannya masih berantakan, berdebu dan nggak banget, jadi saya ada rencana untuk membenahi beberapa bagiannya. Ruangan ini bakal dibersihkan dan dimake over mulai besok. Jadi untuk kalian, budak-budak saya, tolong habis ini, kalian beli alat-alat kebersihan macam sapu, alat pel, cairan pembersih lantai dan semacamnya yang bakal diperlukan. Saya sudah bikinin daftar dan kalian bisa pakai kartu kredit saya buat belanja."

"Kartu begituan emang laku tah pak di sini?"

"Lhadalah, ora ngerti kon, cah gemblung! Pake kartu itu, kamu mau beli setoko-tokonya juga bisa!"

"Di Pasar Baru nggak ada tempat gesek kartu, Pak Toil." Injun menyela.

"Oh ya?"

"Yeu, lihat sekarang, yang gemblung tuh siapa?"

"Yaudah, belanjanya di mal aja, yang bisa pake kartu kredit."

"Jauh atuh dari sini!"

"Naik taksi. Nanti saya kasih ongkos."

"Beneran?!" mata Nana langsung berbinar.

"Iya! Tapi beneran naik taksi loh ya! Jangan kalian pada naik angkot terus bilangnya naik taksi."

Injun dan Nana bersikap sigap, memberi hormat pada Pak Terry selayaknya calon perwira tengah menjalani pelatihan militer. "Siap, Komandan Toil!"

"Yaudah, laksanakan!"

"Sekarang, Komandan Toil?"

"Bukan. Tahun depan."

"Oke. Tahun depan."

"YA SEKARANG LAH!" Pak Terry jadi nyolot sebab jawaban sarkastiknya malah dianggap serius. "Nanti di bawa ke rumah salah satu dari kalian aja dulu. Besok pagi, salah satu dari kalian bakal saya jemput buat berangkat sekolah, sekalian ngambil barang-barang yang diperlukan."

"Bentar, ini tugas kita cuma belanja aja, kan? Urusan bersih-bersih bukan kita, kan?" Nana bertanya.

"Ndasmu peyang, ya nggak-lah! Kalian jadi budak saya untuk alasan-alasan seperti ini. Ngerti?"

"Ini namanya kerja rodi, Pak!"

"Kalian sudah terikat kontrak. Ingat?"

"Tapi kita tanda tangannya terpaksa, Pak!"

"Makanya, jangan punya rahasia gelap!" Pak Terry terkekeh, lalu menyambung. "Pokoknya, kalian belanja sesuai daftar yang ada di kertas ini."

Injun, Nana dan Jeno menerima kertas itu, kemudian membaca isinya dengan seksama.

"Ada pertanyaan?"

Injun mengangkat tangan. "Pak, boleh ditambahin satu benda lagi, nggak?"

"Apa?"

"Kaus Supreme."

"Bener-bener sontoloyo ya kamu ini."

"Bukan buat saya, Pak!" Cepat, Injun membela diri, menuding pada Iteung yang nongkrong santai di sudut ruangan. "Buat Iteung! Kasihan kausnya nggak ganti-ganti dari tahun kemaren!"

"Iteung?"

"Iteung penjaga ruangan ini, Pak. Maskot kita. Andalan dan kebanggaan kita."

"Tengkorak itu?"

"Iya!"

"Rencananya mau saya buang, sih."

"APA?! Berani-beraninya bapak bersikap tidak menghormati Iteung—"

"Tapi yaudah deh, nggak jadi."

"Tapi kaus Supremenya jadi kan? Apa diganti aja ke merek Gucci?"

"Kamu tahu dari mana merek-merek kayak gitu?"

"Selebgram banyak pake, Pak! Iteung kan juga nggak mau kalah eksis!"

"Ngaco!" Pak Terry melotot. "Kalian bebas beliin satu kaus buat tengkorak itu, mau ditambah rok juga nggak apa-apa, tapi no Supreme, no Gucci, dan no barang branded lainnya. Jangan berani-berani melanggar kalau kalian nggak mau saya menciptakan sistem perbudakan yang menyiksa kalian!"

"Pelit."

"Bodo."

Sebetulnya, mendengar instruksi Pak Terry saja sudah membuat Jeno lelah duluan. Membayangkan belanja bersama Injun dan Nana di mal juga tidak kalah bikin pening kepala. Namun dia sudah menandatangani surat kesediaan pengabdian dan karena itu, dia tidak punya pilihan lain. Mereka langsung bergerak usai Pak Terry menutup pertemuan. Tapi yang bikin Jeno kemudian merasa heran adalah, bukannya mencari taksi atau memesan taksi lewat aplikasi daring, Injun dan Nana malah santai saja berjalan kaki keluar sekolah.

"Kita mau ke mana?"

"Ke mal."

"Naik taksi, kan?"

"Kemahalan. Gue punya alternatif lain yang lebih murah."

"Tapi Pak Terry tadi bilang—"

"Kita nggak sepenuhnya bohong. Nanti kita naik taksi. Pas pulang."

"Emang mau naik apa?"

"Tunggu."

Mereka berdiri di pinggir jalan beberapa lama. Jeno masih tidak bisa memahami situasi yang sedang dia hadapi, sementara Injun dan Nana malah memantau kondisi sekitar layaknya duo penembak jitu sedang memastikan situasi lokasi eksekusi mereka aman dan kondusif. Jeno hampir lelah menunggu, nyaris memaksa Injun dan Nana buat mengorder taksi betulan ketika mendadak, Injun berteriak heboh.

"ITU TUH TUH ADA PICK UP BELAKANGNYA KOSONG!"

Jeno speechless betulan, terpaksa berlari mengikuti Nana dan Injun yang kini berlari mengejar sebuah mobil pick up berwarna putih kusam. Sesuai ucapan Injun, mobil pick up itu tidak sedang mengangkut barang. Bagian belakangnya kosong sempurna.

"BANG, NEBENG BANG! NGGAK JAUH-JAUH KOK BANG!"

"Hadeh, naik aja!"

"Buru, naik!"

Nana dan Injun berhasil memanjat naik ke atas mobil pick up yang melaju lambat dengan mudah, namun itu tidak berlaku pada Jeno. Cowok itu kesulitan, tetap tidak berhasil mengejar mobil pick up yang melaju meski dia sudah berlari sampai napasnya ngos-ngosan. Itu membuat Nana memukul body mobil pick up dengan tangan, sementara Injun berseru heboh.

"BANG, BERHENTI DULU, BANG! TEMEN SAYA NGGAK BISA NAEK!"

"YE, BOCAH, DIKIRA NI TAKSI KALI YAK?!"

"PLIS LAH BANG! Kasian nih kalau sampai nyungsep, ntar kita dimarahin mamanya!"

Abang yang menyupiri mobil pick up itu tidak kelihatan senang, tapi untungnya, mau berbaik hati menghentikan mobil. Jeno buru-buru menyusul, mencoba memanjat naik namun tetap kesulitan. Kelakuannya membuat Nana berdecak, sebelum akhirnya cowok itu mengulurkan tangan pada Jeno. Atas bantuan Nana, Jeno akhirnya berhasil naik dan mobil pick up pun kembali melaju. Angin berembus kuat, mengacak rambut mereka bertiga.

Jeno sempat ingin protes, bilang kalau yang sedang mereka lakukan ini berbahaya dan pelanggaran dalam berlalu-lintas, tapi ketika melihat bagaimana Injun dan Nana malah tertawa sambil menunjuk sembarang pada pertokoan di sepanjang tepi jalan yang menurut mereka punya nama lucu, Jeno urung melakukannya. Cowok itu malah duduk diam di sudut, lalu perlahan matanya terpejam sementara angin masih terus menampar wajahnya.

Ini adalah sebuah pelanggaran dan Jeno seharusnya merasa malu sebab sudah melakukannya, namun apa yang kini menguasainya bukan rasa malu, melainkan sesuatu yang belum pernah Jeno rasakan sebelumnya.

Sebuah rasa yang mengingatkannya pada satu hal; kebebasan.

*

Yeda bukan jenis orang yang banyak bicara, juga banyak bersuara, tapi sehari setelah kembalinya dia ke Düsseldorf, apartemen Terry jadi terasa lebih kosong dari biasanya. Keheningan yang dulu, pernah begitu dia nikmati. Senyap memberinya kemampuan mendengar lebih banyak. Mendengar lebih banyak membantunya memahami sesuatu secara mendalam dan kesan mendalam itu, tidak pernah gagal menginspirasinya mencipta sesuatu yang hanya punya beberapa kemungkinan sebagai akhir; masuk ke dalam tracklist album penyanyi-penyanyi berbakat nan terkenal dalam dan luar negeri, dipentaskan di panggung musikal oleh musisi berpengalaman yang selalu diakhiri dengan standing applause penuh kekaguman atau dalam mixtape pribadi seorang Tertius Senandika yang jika dinilai dengan uang, bisa berharga hingga miliaran. Dunianya lebih mengenalnya dengan nama Eroica—sebuah pseudonym atau nama samaran yang sengaja dia gunakan.

Tidak sampai enam bulan lalu, di mana sepi bukan lagi jadi miliknya.

Lelah dengan kesendirian, Terry malah terpikir untuk menyambangi kamar yang biasa Yeda tempati setiap cowok itu pulang ke Indonesia. Sesuatu yang aneh bagi sebagian orang, karena ayah-ibu dua bersaudara itu juga tinggal di Jakarta, di sebuah rumah yang tidak jauh dari apartemen Terry. Tapi yah, untuk Terry, tempat itu telah lama tak jadi rumahnya. Buat Yeda, apartemen Terry jauh lebih nyaman dibanding bertatap muka langsung dengan kedua orang tua mereka.

Kamar itu kosong, masih seperti dulu ketika terakhir kali Terry memasukinya. Ranjang berlapiskan seprei merah dan bedcover berwarna senada, favorit Yeda. Ada lemari besar di sudut ruangan, nakas di sisi tempat tidur dan jam yang seperti tidak pernah lelah mendetakkan jarum detiknya. Namun sesuatu yang berbeda menarik perhatian Terry sejenak setelah dia memasuki kamar itu. Tidak lain dan tidak bukan, adalah karena sebuah album foto lama yang tergeletak di atas ranjang.

Itu album foto miliknya.

Separuh diri Terry berteriak, menyuruhnya menjauh, merutukinya karena sudah mengunjungi kamar Yeda tanpa berpikir panjang. Setengah bagiannya yang lain memerintahkannya mendekat dan ternyata, itulah yang kemudian Terry lakukan. Dia melangkah menuju kasur, duduk di tepinya dan meraih album itu. Lembar-lembar kertasnya sudah menguning, usang walau tak diselimuti debu. Ada banyak foto-foto terkumpul di sana, sebagian besar foto masa kecilnya. Berbeda dengan Yeda yang sejak kecil harus pasrah berpindah-pindah tinggal dari mulai Vancouver, New York hingga Düsseldorf, Terry menghabiskan sebagian besar awal hidupnya di Semarang dan Yogyakarta. Maka tidak heran kalau latar tempat beberapa foto di awal kebanyakan berada di dua kota itu.

Terry membalik halaman demi halaman, sampai dia berhenti pada halaman yang memuat sejumlah foto. Dia terdiam, lama sekali. Seolah-olah foto itu punya sihir magis yang menusuk benaknya, atau mungkin menyeretnya ke masa silam.

Foto pertama adalah foto langit gelap dan Bukit Bintang. Cahaya lampu tersebar seperti kunang-kunang yang dibiarkan terbang tanpa arah yang ditentukan, kontras dengan langit kelam di atasnya. Ada tulisan di bawahnya, sebuah kutipan dari komposer Jerman, Ludwig van Beethoven; World, do you know your creator? Seek him in the heavens. Above the stars must He dwell.

Foto berikutnya adalah fotonya bersama salah satu teman lama yang entah bagaimana kabarnya sekarang. Mereka berada di Jalan Malioboro, terpotret dalam keadaan berangkulan dihiasi senyum. Masih ada tulisan lain di bawahnya; Never forget the days I spent with you. continue to be my friend, as you will always find me yours. TS—NY.

Foto terakhir menghantam Terry dengan telak, membuatnya serasa dapat tonjokan di perut. Tidak banyak yang ditampilkan foto itu. Hanya sosok seorang gadis berambut panjang yang sedang memetik gitar. Seperti foto-foto sebelumnya, selalu ada tulisan yang diterakan setelahnya.

Continue to love me, never misjudge the most faithful heart of your beloved.

Ever thine, ever mine, ever ours.

Terry membuang napas dan herannya, dadanya malah terasa kian sesak. Lelaki itu cepat menutup album foto yang sempat dia buka, lantas beranjak keluar dari kamar Yeda. Kesenyapan yang menyambut terasa mengganggu, membuatnya memutuskan mengambil kunci mobil, lalu berjalan menuju pintu depan. Dia tidak tahu tempat mana yang mau dia tuju. Rumah orang tuanya tidak lagi mungkin disambangi tanpa memicu perdebatan tanpa ujung yang hanya bikin frustrasi. Paman yang biasa jadi tempatnya menumpahkan segala perasaan telah lama tidak ada lagi. Dia cuma punya sedikit teman—Arkais dan Jo bisa jadi beberapa diantaranya, tapi mengunjungi mereka sepertinya bukan pilihan terbaik.

Denging itu menusuk telinganya lagi.

Akhirnya, Terry mengemudi tanpa arah. Mobilnya melaju menyusuri jalan-jalan ibukota, mengabaikan langit yang makin kelam, mengantar hari menuju tengah malam. Pikirannya bercabang kemana-mana, membuat fokusnya tidak lagi terarah pada apa yang ada di depannya. Terry baru tergerak menghentikan mobil kala menemukan sebuah minimarket di tepi jalan yang berada tidak jauh dari sebuah halte bus. Ragu sebentar, lelaki itu akhirnya membelokkan mobil ke area parkir minimarket tersebut.

Bagusnya, minimarket itu buka 24 jam. Terry masuk saja ke dalamnya tanpa rencana, sempat beradu pandang canggung dengan karyawan yang berdiri di belakang mesin kasir. Lelaki itu terdiam sebentar, sebelum berjalan menuju rak tempat mi instan diletakkan. Usai membuka kemasan mi instannya dan mengisinya dengan air panas, Terry melengkapinya dengan sebotol kopi dingin. Di teras minimarket terdapat beberapa meja dan kursi, tepat untuk duduk sejenak dan mencoba melupakan foto-foto yang tadi dia lihat.

Tetapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Melalui kaca bening, Terry melihat sosok familier tengah duduk di salah satu kursi teras minimarket. Kentara sekali dia baru saja duduk di sana, sebab saat Terry masuk minimarket, tidak ada siapapun di teras. Waktu telah merambat menuju larut dan teras minimarket seharusnya bukan tempat di mana dia berada sekarang. Wajahnya muram, tidak seperti yang kerap Terry lihat kala anak itu berada di sekolah. Dia tidak mengenakan jaket, hanya kaus berlengan pendek. Angin malam yang berembus membawa tanda bakal turun hujan, meniupnya hingga tanpa sadar, anak itu mengusap bahunya sendiri dengan telapak tangan.

Terry menghela napas panjang, lantas mendorong pintu terbuka dan berjalan mendekat.

"Lagi ngapain kamu, Sontoloyo Nomor Dua?"

Injun tersentak, lalu melotot saat dia mengenali siapa yang baru mengajaknya bicara. "Pak Toil?!"

Terry tidak menjawab, malah menarik kursi dan duduk di depan Injun.

"Ngapain bapak ikut-ikutan duduk?!"

"Kamu nggak lihat apa yang ada di tangan saya?" Terry menyahut nyolot. "Dari tadi, niat saya emang beli mi instan dan makan sambil duduk di sini. Harusnya saya yang tanya kamu, dong! Ngapain kamu di sini? Beli mi instan juga nggak. Cuma numpang duduk doang dan nggak modal, ya toh?!"

"Masih ada meja satu lagi, noh!" Injun tidak kalah nge-gas, menuding pada meja di sisi lain teras. "Bapak duduk sana aja!"

"Emang kenapa kalau saya duduk di sini?"

"Bosen lihat muka bapak melulu."

"Kamu kira saya nggak bosen lihat muka kamu?"

"Bapak sih mending, sering lihat muka saya... ya saya masih ganteng gini. Lah saya? Kurang kasihan apa coba ngelihat muka bapak bisa sampe tiga kali sehari. Ibarat kata minum obat, udah overdosis sampe berbusa!"

"Maksud kamu saya nggak ganteng?!"

"Bukan saya loh yang bilang. Hehehe."

Injun terkekeh, tapi itu tidak mampu membasuh sorot sedih yang masih membayang di matanya. Angin bertiup lagi, kali ini disertai oleh derai gerimis ringan. Terry memandang Injun lekat, bikin cowok itu mengernyit heran.

"Bapak kenapa ngelihatin saya kayak gitu?!"

"Nggak apa-apa."

"Jangan-jangan bapak suka ya sama saya?"

"Heh, semprul, dibilang juga, saya kalau mau belok ke jalan setan tuh milih-milih dan kamu nggak bakal masuk kualifikasi! Masih kege-eran aja." Terry berdecak seraya beranjak untuk melepas jaketnya.

Injun sontak mengerjap, jelas panik. "Bapak mau ngapain?! Astagfirullaaaaaaaaaah, ini tuh tempat umum, Pak! Tempat umum! Seenggaknya kalau mau ngerusak bocah lugu dan ganteng kayak saya tuh cari tempat yang bagusan kayak Hotel JW Marriot atau—" ucapan Injun tak terteruskan sebab cowok itu dibuat tersekat oleh Terry yang membungkuk, memakaikan jaketnya.

"Heran deh saya sama anak sekarang. Udah tahu malam, mau hujan, dingin, keluar rumah cuma kaosan doang. Pake tuh! Oh ya, nggak usah ge-er ya! Saya cuma nggak mau kamu sakit, terus nggak masuk sekolah, terus budak saya berkurang satu."

Injun tertunduk, menyentuh bahunya yang kini terlapisi jaket Terry. Jaket itu hangat dan entah bagaimana, membuat Injun serasa dipeluk.

"Kenapa malah diam?"

Lidah Injun kelu. Dia tidak bisa berkata-kata. Tapi satu-dua air matanya menetes. Terry terpana di tempat, sempat tidak tahu apa yang mesti dia lakukan, namun kemudian, pemahaman menghantamnya. Sama seperti dirinya di masa lalu, anak laki-laki di depannya ini tengah merasa kesepian, sedang merasa sendirian. Terry berdecak, berjalan mengitari meja.

Lalu begitu saja, dia meraih Injun ke dalam sebuah pelukan. 






bersambung ke fourth note

***

Catatan dari Renita: 

sebenernya diniatkan posting kemaren, cuma baru memungkinkannya hari ini. 

pertama-tama, mau bilang happy birthday untuk Renjun! semoga jadi anak mama-papa huang yang berbakti, kurang-kurangin savagenya dan makin deket sama semua abang-adek di nct. semoga sehat dan bahagia selalu aamiinnnnn. 

terus yang kedua adalah buat yang nggak keterima snmptn haha 

gini loh ya, lama-lama gue merasa lucu karena selalu ada permintaan 'motivasi' setiap tahunnya. please keep in your mind that im not a motivator. gue juga nggak suka dibikin motivator, karena kesannya kayak cuma omong kosong dan sugarcoated words buat menenangkan diri orang lain, ketika kenyataan sebenernya nggak kayak gitu. 

apa yang gue omongin, i mean it, karena gue sudah pernah melewati itu. 

snmptn itu untung-untungan. sebelum dimulai juga lo udah tahu, bakal ada yang dapet dan bakal ada yang nggak. ketika lo apply untuk itu, lo juga sudah tahu, hanya ada dua kemungkinan; lo diterima dan lo nggak diterima. sesederhana itu. 

gue merasa agak gimana gitu melihat orang-orang yang bersikap seolah-olah dunianya sudah berakhir karena gagal snmptn dan pas ada senior yang sharing gimana pengalaman dia nggak lolos snmptn dan malah lolos sbmptn, dibalasnya, 'cuma ada waktu dua minggu belajar buat sbmptn :) mungkin nggak sih? :)' 

first, you have to know that the universe doesn't revolve around you. dunia ini nggak punya kewajiban membuat lo bahagia. dunia ini nggak punya kewajiban memberi lo segala. sama kayak nggak ada kewajiban semua orang harus baik sama lo. 

kalau lo nggak mendapatkan sesuatu, sederhana itu, ya berarti emang bukan tempat lo di situ. kita semua punya tempat masing-masing di dunia ini, tapi kita perlu waktu untuk tahu di mana, dan sebagai apa. 

apalagi buat snmptn yang apa ya, lo nggak bener-bener tau kriteria dan sistem pemilihannya gimana. ibarat kata lotere. jadi buat apa bersedih untuk sesuatu yang nggak pasti, yang lo pun nggak punya kuasa menentukannya? 

always prepare for the worst. selalu bersiap menghadapi yang terburuk, jadi ketika kemungkinan terburuk itu datang, lo nggak sekaget itu. gue nggak pernah mengharapkan snmptn sama sekali, dulu. yang terpenting adalah gue belajar, dan di mana gue akan berakhir, itu berarti memang tempat gue di sana. 

nggak ada takdir yang tertukar. kalau lo emang ditakdirkan ada di suatu tempat, lo bakal ada di sana, entah bagaimanapun caranya, walau orang pikir mustahil. 

sebaliknya, kalau lo nggak ditakdirkan ada di suatu tempat, mau sekeras apa pun lo berusaha, mau lo udah kayak tinggal selangkah lagi ada di sana, bakal selalu ada penghalang yang menghalangi lo. 

lagipula, ini hanya satu dari sekian banyak kesempatan yang lo punya. harusnya kan jadi motivasi buat lo, dengan hilangnya kesempatan yang ini, berarti lo bisa fokus di kesempatan-kesempatan lain. jangan malah down dan ikut-ikutan melewatkan kesempatan lain. 

karena waktu satu pintu tertutup, berarti ada pintu lain yang terbuka buat lo. daripada galau dan diem terus di depan pintu yang udah tertutup, kenapa nggak berpindah ke pintu yang masih terbuka? 

agak harsh ya haha tapi kenyataannya memang begitu. snmptn bukan apa-apa, bukan sesuatu yang harusnya bikin lo down dan males berjuang, karena hidup ini nggak hanya sebatas itu. 

btw, makasih buat yang udah vote dan comments di chapter sebelumnya. 

sampai ketemu di chapter selanjutnya 

ciao

Semarang, March 23rd 2019 

15.45

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro