Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

LIMA

       "Terus lo balik sama siapa, entar?" Saiful menatap Aruni bimbang. Barusan, ia mendapat telepon dari adiknya yang mengabarkan kalau ibunya masuk rumah sakit. Tentu Saiful ingin segera menyusul. Namun, ia juga sudah berjanji pada Fely untuk menjaga Aruni serta mengantarkan gadis itu pulang.

Dengusan keluar dari bibir Aruni. Ditatapnya lekat-lekat manik mata Saiful. "Pentingan gue, apa nyokap lo?" Sebelah alis Aruni dinaikkan. Menantang. Menunggu jawaban dari Saiful.

Saiful berdecak. "Kebiasaan, deh! Perempuan tuh, sukanya nyuruh milih." Bukannya menjawab, Saiful malah menggerutu tidak jelas.

 "Udah … sana, ke rumah sakit! Lo mau, jadi anak yang durhaka, heh?" Aruni mengibaskan tangan. Mengusir Saiful.

 "Seriusan nggak apa-apa, nih? Nanti malah gue diterkam lagi sama si Nenek Lampir."

Aruni terkikik geli mendengarnya. Sungguhkah Saifil takut pada Fely? "Udah … urusan Fely biar gue yang ngomong sama dia entar." Aruni memberikan senyum semeyakinkan mungkin. Dia tahu, Saiful merupakan teman yang baik dan setia. Terbukti dari selama ini, laki-laki itu selalu berusaha menjaga Aruni juga Fely dari beberapa gangguan pembeli yang iseng. Ataupun rekan kerja yang lainnya. Baik perempuan maupun laki-laki. Saiful baik luar dalam. Perhatiannya tidak pernah pandang bulu. Begitu kesimpulan yang dapat Aruni tarik selama ia mengenal sosok Saiful.

Beberapa saat Saiful terdiam. Memikirkan mana yang harus dia pilih. Sampai akhirnya, laki-laki itu mengembuskan napas pelan. Sekali lagi, ditatapnya lekat Aruni. Bagi Saiful, Aruni sudah seperti adiknya sendiri. Meski mereka kenal setelah kedua gadis itu bekerja di supermarket, tapi rasa sayangnya sudah melebihi rasa sayang seorang teman. Namun, pandangan Saiful terhadap Aruni maupun Fely tidak lebih dari pandangan seorang kakak terhadap adiknya. Bukan pandangan seorang laki-laki pada perempuan. "Ya udah. Tapi lo harus janji, kalau ada apa-apa, langsung hubungi gue. Ya?"

Kepala Aruni mengangguk mantap dengan tangan yang bertengger di pelipis. Memperagakan gerakan hormat ke arah Saiful yang mampu mengundang tawa laki-laki itu. "Gue cabut dulu. Lo hati-hati baliknya entar," nasihat Saiful.

Sekali lagi, Aruni mengangguk patuh. "Siap, Abang! Lo juga hati-hati. Titip salam sama tante dan adek lo," sahut Aruni. Setelahnya, Saiful mulai melangkah keluar.

Sepeninggal Saiful, Aruni melanjutkan pekerjaannya, karena ada pembeli yang telah selesai berbelanja, tinggal melakukan pembayaran.

^^^

     Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, saat Aruni keluar dari supermarket. Ia terpaksa pulang sedikit telat, karena harus menunggu temannya yang menggantikan datang.

Cukup lama Aruni berdiri di halaman supermarket. Biasanya, ada Fely yang menemani pulang, tapi sekarang dia harus pulang sendiri. Tidak mungkin juga Aruni menelepon Saiful dan meminta laki-laki itu untuk datang ke supermarket demi mengantarkannya pulang. Itu sangat tidak mungkin.

Tarik napas, buang. Tarik napas, buang. Tarik napas, buang. Beberapa kali Aruni lakukan hal tersebut. Memejamkan mata, Aruni membulatkan tekad-nya untuk segera pulang sebelum hari semakin larut.

Senter ponsel menjadi penerangan pribadi untuknya. Sekalipun di sepanjang jalan sudah diterangi dengan lampu jalan, Aruni tetap merasakan kecemasan tersendiri.

Glek.

Susah payah Aruni menelan ludahnya. Jika ingin cepat sampai rumah, maka ia harus melewati sebuah gang. Memang ada jalan lain, tapi Aruni harus naik angkutan umum, karena itu sama saja dengan memutar arah.

 "Tenang, Ar. Lo pasti bisa!" gumamnya berusaha menyugesti diri sendiri.

Perlahan, kakinya melangkah menapaki jalanan gang yang lumayan cukup  gelap. Beberapa lampu jalan yang dipasang sepertinya rusak. Membuat penerangan di sepanjang gang cukup minim.

Napas Aruni mulai sesak, bahkan sebelum ia menempuh setengah perjalanan. "Lo bisa, Ar. Lo bisa." Lisannya terus bergumam.

 "Sendirian aja, Neng?"

Deg.

 "Sial!" umpat Aruni dalam hati. Ia lupa, kalau gang ini sering menjadi tempat nongkrong preman-preman.

Kaki Aruni mendadak kaku. Tubuhnya semakin gemetaran. Ponselnya tiba-tiba mati. "Astaga! Kenapa gue bisa sampai lupa charger hp, sih?!" Aruni membatin. Merutuki kebodohannya.

 "Neng budeg, apa bisu?" tanya preman yang berbeda dari yang tadi menyapanya.

Netra Aruni bergerak liar. Sepi. Jelas saja, gang ini sangat jarang dilalaui orang. Terlebih, hari sudah cukup larut. Tahu begini, Aruni lebih memilih naik ojek saja tadi. Yang jelas, jangan sampai membuatnya melewati gang ini. Penyesalan memang selalu datang di akhir.

 "Permisi, saya mau lewat." Suara Aruni kentara sekali bergetar ketika berucap barusan. Mengundang kekehan dari para preman.

 "Tidak boleh sampai Neng mau nemenin kita malam ini," sahut seorang di antara mereka dengan nada genit.

Napas Aruni kian sesak. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. "Jangan sekarang, please …." Dalam hati, ia terus berharap supaya bisa mengendalikan diri hingga sampai di rumah dalam keadaan selamat.

 "Kalo kita boleh tau, nama Neng siapa?" Dengan berani, salah satu di antara mereka mencolek dagu Aruni, hingga membuat tubuh gadis itu berjengit kaget.

 "Don't touch my girl!" Tiba-tiba, seseorang berseru dari ujung gang. Sosoknya berjalan mendekati Aruni yang tengah dikelilingi para preman.

 "Siapa lo?" Preman yang tadi menyapa Aruni pertama kali bertanya dengan nada angkuh.

 "She's my girlfriend."

Tubuh Aruni semakin bergetar. Perlahan, ia beringsut ke tepi tembok. Bersandar dengan napas yang mulai putus-putus.

Pendengaran Aruni menangkap para preman itu tengah berbisik-bisik, sebelum akhirnya salah satu mengatakan, "cabut!" Entah apa yang terjadi, namun sedikit banyaknya Aruni bisa bernapas lega. Tidak jauh lagi, jarak dirinya dengan rumah. Dia pasti bisa

 "Are you okay?" Sosok laki-laki tadi menghampiri Aruni. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran.

Tatapan Aruni sayu. Andai penerangan mencukupi, pasti akan terlihat jelas bibir ranumnya yang sudah pucat pasi.

 "Ayo! Gue anter sampai rumah lo." Laki-laki itu mengulurkan tangannya. Sayang, tenaga Aruni nyaris hilang. Bahkan, untuk sekadar menyambut uluran tangan si penolongnya saja ia tidak mampu.

Mungkin, mereka akan mengulang kejadian lalu.

^^^

      "Thanks," ucap Aruni dengan suara lirih.

 "My pleasure," sahut laki-laki yang sudah berbaik hati menolongnya itu. Bayangkan saja, dari tempat terakhir kaki Aruni mampu menapak, hingga rumah yang ia tinggali bersama Fely selama ini, laki-laki itu menggendongnya di punggung.

 "Saya bikinkan minum sebentar." Aruni sudah mulai beranjak dari tempat duduk, saat merasakan cekalan di pergelangan tangannya.

 "It's okay. Nggak usah repot-repot. Gue seneng bisa bantu lo lagi," kata laki-laki itu sembari menyunggingkan seutas senyum.

 "Lagi?" beo Aruni seraya kembali duduk. Tubuhnya masih sangat lelah. Jantungnya saja masih berdebar pasca kejadian tadi.

 "Lo lupa?" tanya laki-laki tadi dengan wajah sedih yang dibuat-buat.

Sepersekian detik memori Aruni mengobrak-abrik isi pikirannya, akhirnya apa yang ia inginkan ditemukan. "Lo yang waktu itu di supermarket, bukan?" tebak Aruni sedikit ragu.

 "Yup! Oh ya, nama gue Edvard." Laki-laki tersebut mengulurkan tangannya. Berniat mengajak Aruni untuk berkenalan.

 "Aruni," sambut Aruni menyebutkan namanya. Meski, Edvard sebenarnya sudah mengetahui nama gadis di depannya ini.

Netra Edvard lantas menatap rumah Aruni. "Ortu lo udah tidur, ya?" tanya Edvard seraya kembali menatap Aruni yang wajahnya tiba-tiba berubah.

 "Ayah sama Ibu udah meninggal sejak gue kecil," beritahu gadis itu sembari berusaha menyunggingkan senyum ke arah Edvard  yang sudah gelagapan di tempatnya.

 "Sorry … gue, nggak tau." Laki-laki itu menunjukkan raut penuh penyesalan.

 "Nggak apa-apa, kok."

 "Lo tinggal sendiri?" Lagi, Edvard bertanya.

 "Dari kecil gue tinggal sama keluarga Fely. Tapi, sekarang kita tinggal berdua di rumah ini, karena orangtua Fely juga udah meninggal." Aruni tidak mengerti, kenapa dia bisa menceritakan latar belakang kehidupannya dengan leluasa kepada seseorang yang masih terbilang asing untuknya. Yang jelas, ia merasa nyaman saat bersama Edvard. Entah karena alasan apa.

^^^^^

Up!!!

Habis nugas nyempetin buat up, denggg😉

So, pleaseee pakek bangettt apresiasi-nya mantemennn😍

See you soon😘

Kalimantan Barat, Rabu, 16 September 2020

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro