Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 9

Selamat datang di chapter 9

Tinggalkan jejak dengan vote dan komen

Tandai jika ada typo (hobi yang susah dihilangkan sebagai kodrat kesalaham human)

Thanks

Happy reading everyone

Hope you like it

❤️❤️❤️

WARNING TERUNTUK HUMAN 21+
ADEK-ADEK DILARANG KERAS MEMBACA CHAPTER INI
KARENA MENGANDUNG EKHEM-EKHEM
BILA MEMAKSA JANGAN SALAHKAN SAYA KALAU KEJANG-KEJANG YA

_____________________________________________

Horizon sukses menguasai seluruh pikiran serta tubuhku

—Skylar Betelgeuse
_____________________________________________

Musim panas
New York, 15 Juni
09.30 p.m.

“Aku ingin menikah denganmu.”

Susunan kata yang membentuk sebuah kalimat tersebut mengundang tawa seorang pria. Seolah itu merupakan kalimat terlucu yang baru dia dengar sepanjang hidupnya. Perangainya mengejek, dengan mata sekelam malam yang menyipit sehingga tampak bertambah sinis. Sepasang iris yang sama gelapnya dengan rambutnya yang sebagian menjuntai ke dahi.

Aku masih bergeming di tempatku berdiri. Nyaris kehabisan napas, tenaga dan juga kepercayaan diri dalam usahaku yang begitu keras untuk mendorong kalimat mustahil itu keluar dari hasil pita suaraku yang bergetar. Tanganku berkeringat dingin setelah pria bercambang yang duduk di kursi kerjanya itu mengganti tawa tersebut menjadi dengkusan dan smirk smile.

Sambil menyugar helaian-helaian yang jatuh di dahi, dia menatapku tajam, lalu berkata, “Kemarin kau jelas-jelas menolakku mentah-mentah. Sekarang kau ingin menikah denganku. Apa kepalamu terbentur sesuatu, Skylar Betelgeuse?”

Aku bersumpah kemarahanku sudah merayap ke ubun-ubun. Asal dia tahu, aku juga tidak ingin menikah dengannya jikalau tidak sedang terdesak oleh konspirasi alam semesta yang seakan memang menggariskan takdirku tersudut. Namun, tentu aku tak bisa mengatakan semua itu. Bisa-bisa semua rencanaku gagal. Oleh karenanya, aku harus menjawab dengan suatu alasan yang paling masuk akal untuk menjalin sebuah pernikahan.

“Aku baru menyadari perasaanku padamu.”

Semoga, dia tidak bisa mencium tabiatku.

“Hm ... menarik,” gumamnya dengan intonasi datar. Ucapan yang jelas bertolak belakang dengan tingkah lakunya. “Katakan saja alasanmu kenapa bisa berubah pikiran secepat ini. Mungkin aku akan mempertimbangkan untuk menikah denganmu.”

“Horizon Devoss ... aku mencintaimu. Sudah kukatakan bahwa aku hanya baru menyadari perasaanku. Kau tahu ... kadang itu seperti permainan psikologis. Perasaan-perasaan yang belum kita sadari. Ya ... hal-hal semacam itu. Kau pasti tahu persis bagaimana maksudku,” cetusku bak pujangga cinta tersohor. Aku menginginkam dia menangkap umpan bualanku.

Rupanya, lagi-lagi tawa geli dan mengejek yang terlukis di wajahnya. “Bagaimana kalau aku mengujimu dulu untuk membuktikan ucapanmu?”

“Tentu saja, harus ada ujian untuk membuktikannya,” ucapku lantang. Seolah tidak ada keraguan sedikit pun yang terselip dalam nada jawabanku. Padahal jantungku berdebar keras. Ada ketakutan sekaligus penasaran ‘sedikit ujian’ apa yang akan dia berikan padaku.

Mengenal Horizon selama dua tahun menjadikanku sedikit banyak mengenalnya luar dalam. Dia adalah pemilik Diamond Bank, separuh asetnya berada di Amerika dan sekarang sedang berencana mengguritakan banknya ke Asia, dan juga betapa arogan, seenak jidat serta dominanya pria itu.

Meski demikian, justru karena itu aku tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan. Namun, saat kuputuskan menginginkan keberhasilanku menikahi Horizon, aku sudah berpikir masak-masak. Mereka-reka segala kemungkinan yang harus kulakukan untuk membuktikan kesungguhanku.

Well, ini sangat sederhana.”

Napas lega diam-diam berembus dari hidung serta mulutku. Aku pun ikut mengumbar senyum, sebelum akhirnya senyum lega itu runtuh seketika dan terbangun menjadi hambar akibat kalimatnya yang lain.

“Seduce me until I wanna bedded you. And Lemme think about your wish, Sky.” (Rayu aku hingga aku ingin menidurimu. Dan biarkan aku memikirkan tentang harapanmu, Sky)

Beruntungnya, aku sudah memperkirakan dan memersiapkan diri untuk hal ini. Demi bisa membuatnya menikahiku.

So, here I go ..., the show time to seduce him. And I promise to tame a dominant man was named Horizon Devoss. (Jadi, ini dia ..., waktu untuk merayunya. Dan aku berjanji untuk meluluhkan seorang pria dominan bernama Horizon Devoss)

Aku melepas jaket kulit hitam yang sesungguhnya sangat gerah kukenakan dan menyampirkannya di sandaran kursi depan meja kerja Horizon. Semata-mata untuk menutupi penampilanku yang lumayan seksi, menurutku—mulanya, sekarang aku jelas ingin mengumbarnya untuk mengkonfrontasi Horizon. Dengan jantung berdebar-debar, aku mencoba memindah berat tubuh ke arahnya yang tampak menungguku setelah terkesiap sedikit dengan awalan yang kulakukan.

Dalam kegugupan yang membanjiri seluruh sel-sel tubuhku, dengan setenang mungkin aku mendekati Horizon. Dia memutar kursi kerjanya sedikit untuk menghadapku yang sudah tiba di sampingnya. Lalu tanpa tedeng aling-aling memosisikan diri duduk di pangkuan pria itu mirip wanita jalang.

Horizon kembali sedikit menarik sudut bibirnya, lagi-lagi kuartikan sebagai ejekkan. Namun, aku sudah tak peduli. Walau seluruh akal sehatku memerintah untuk hengkang dari sana sekarang juga, tetapi aset-aset ibu yang saat ini harus kuprioritaskan.

Aku membalas tatapan Horizon yang mengintimidasi serta berpotensi membuatku kabur—dalam kasus normal pasti aku akan melakukannya, kemudian meraih kedua pipinya dan secara perlahan memajukan wajah untuk mencium bibirnya.

Aku bersumpah jantungku rasanya akan jatuh ke lantai ketika Horizon mencela, “Are you serious? You gonna seduce me with your that kiss?”

Sekarang, aku bersumpah ingin memukul mulutnya. Apalagi ketika dia mengatakan ‘your that kiss’ seolah-olah satu ciuman kilat itu buruk sekali. Tak berarti apa pun. Oh ayolah, aku baru saja memulai dan dia sudah ingin berperang melawan egoku dengan ejekannya yang lain.

Look at you, seperti remaja yang baru mendapat ciuman pertama. Bagaimana mungkin kau akan berhasil membuatku menidurimu kalau seperti itu? Ayolah, Sky. Aku mulai bosa—

Aku menyambar kesempatan itu untuk membungkam mulutnya yang arogan itu dengan ciuman. Maksudku, bukan sekadar kecupan seperti tadi. Namun, benar-benar ciuman. Dengan segenap upaya untuk membangunkan lidahnya lalu mengajaknya menari bersamaku. Dan kukerahkan semua kemampuanku yang bersumber dari ajaran Alton untuk memenuhi ujian Horizon sekarang.

Ah! Aku tidak tahu kenapa dia harus melintasi otakku saat ini. Dan sekelebat omongannya juga menyusupi benakku.

Beib, boleh aku meminta satu hal padamu?” pinta Alton ketika kami menonton film di apartemennya. Begitulah kami, tidak bisa kencan ke mana pun seperti kebanyakan pasangan yang saling jatuh cinta pada umumnya karena selain dia dan aku merupakan public figur, ayahku juga tidak merestui hubungan kami.

Aku menghentikan kegiatanku mengunyah popcorn untuk bertanya, “Apa itu?”

“Berjanjilah padaku untuk tidak sembarangan menyerahkan dirimu. Maksudku, berjanjilah untuk tidak melakukan lebih dari ciuman dengan siapa pun. Seperti yang kita lakukan. Aku memang tidak berhak melarangmu, tapi aku pikir ini demi kebaikanmu karena aku menyayangimu.”

Aku hanya berpikir bahwa Alton adalah pria manis dan tidak seberengsek atau searogan penampilannya yang hampir sama dengan penampilanku—karena itulah aku menyukainya. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa untaian kata-kata yang menyusun kalimat itulah yang akhirnya mengantarku pada ujung hubungan kami saat itu.

Aku memperdalam ciumanku pada Hirizon, sebab merasa lebih emosional daripada tadi. Kelegaan yang tercipta dari rasa senang kini singgah pada titik di mana akhirnya dia membalas ciumanku.

Kalau boleh jujur, aku tidak pernah  menyangka indra pengecap Horizon akan semanis ini. Ciumannya lembut tetapi menggoda membangkitkan sisi liarku. Isapannya yang kuat seolah mengikutsertakan jiwaku.

Banyak hal yang bersliweran dalam benakku, tetapi ketika pria itu melepaskan diri hanya untuk menurunkan ciumannya ke leherku, semua pikiran-pikiran itu secara ajaib kontan hilang. Aku hanya fokus pada tubuhku yang merinding. Seperti tersengat listrik dengan arus ramah sehingga menimbulkan sensasi tersendiri. Sensasi menyenangkan serta merilekskan kendati jantungku rasanya akan lepas karena berdetak terlalu kencang.

Kepalaku seperti disetel mendongak secara otomatis, membiarkan seluruh rambut pirangku jatuh ke punggung untuk mempersilakan Horizon menebarkan tandanya di sana. Tangannya yang besar menyusup ke sela-sela rambut bagian belakang kepalaku dan menakannya sedikit kuat, sehingga aku merasa diinginkan. Sementara itu seluruh lenganku melingkari tubuh dempal pria itu.

“Oh!” Aku tidak percaya bisa mengeluarkan erangan erotis dan rasanya akan seperti ini, akan senikmat ini ketika tubuhku mengambil alih pikiranku untuk pasrah kala mendapat sentuhan-sentuhan dari mulut lembab Horizon. Rasanya, dia menyalurkan energi panas untuk membakar gairahku yang mulai muncul. Ditambah cambangnya yang bergesekan dengan kulit leherku, aku seperti kehilangan jati diriku.

Horizon sukses menguasai seluruh pikiran serta tubuhku.

“Responsif. Inilah yang kubutuhkan,” bisiknya sebelum menggigit daun telingaku. Dan aku merasa akan pingsan ketika tangannya menggeser lengan bajuku lengkap dengan tali bra. Jadi, tidak hanya pundakku yang terlihat, tetapi juga setengah dada kiriku.

Aku luar biasa malu dan ingin menutupinya. Namun, tidak bisa melakukannya sebab akalku sudah hilang. Jadi, aku membiarkan tangan Horizon menyelinap di balik kaos dan merayap ke punggungku untuk melepas pengait bra. Sementara hidung, mulut serta gigi-giginya bekerja di leher, dada dan pundak kiriku.

Napasku memberat, terengah-engah sewaktu dia berbisik, “Kau berhasil mempengaruhuku.“ Dan untuk mempertegas kata-katanya, aku tidak perlu diberitahu sebab bisa merasakan bukti gairahnya di bawah pahaku. Namun, sepertinya Harizon tidak akan keberatan bila menunjukkannya. Pertanda dari tangannya yang mengeja untuk  membuka kaki-kakiku lalu membimbing tanganku yang dingin agar menyapanya. Aku pun semakin membelakak karena ukuran pria itu.

Fuck,” umpatnya yang disuarakan dalam bisikan. Lalu Horizon menjeda cumbuannya untuk menggendongku menuju kamarnya. Secara praktis lengan-lenganku melingkar di lehernya.

“Tidak sabar ingin mencicipimu, Sky,” bisiknya sebelum menyambar bibirku. Kemudian melahapnya dengan rakus seakan-akan dia memang sedang kelaparan. Aroma Leather tubuhnya menolong badai gairahku lebih muncul.

You’re a good kisser. Aku jadi semakin tidak sabar dengan apa yang bisa kau lakukan untuk menyenangkanku malam ini. Dengan mulutmu, tanganmu, dan kehangatanmu di bawah sana.”

Semestinya, aku menampar Horizon keras-keras karena kata-katanya yang kurang ajar. Namun, sekali lagi aku tidak bisa. Sudah kukatakan bahwa entah mantra apa yang dia lantunkan sehingga berhasil menyihirku, menyetir tubuh dan pikiranku untuk pasrah.

Dia membuka pintu dengan tangannya yang masih membopongku, lalu menendang  benda itu hingga tertutup. Setelahnya mendudukkanku di ujung ranjang untuk melepas kaos motif tengkorak besar keren yang kukenakan. Dan secara praktis menyuguhkan braku yang sudah tidak beraturan.

Pipiku memanas ketika kaos polos abu-abu yang dikenakan pria itu menjadi sasaran berikutnya. Harus kuakui, dada Horizon sangat bidang. Dengan otot-otot liat di perutnya yang sixpack. He’s fucking damn hot.

Di saat masih asyik memuaskan indra pengelihatanku, Horizon melepas kedua botku, menyisakan kaus kaki lalu membawa tubuhku ke tengah kasur sambil merangkak naik menaungiku untuk melahap habis bibirku.

Tangannya yang besar dan hangat  pun tidak tinggal diam. Dia mengerahkan semuanya untuk membimbing tali bra supaya lepas dari lengan-lenganku. Pada jeda yang tidak kuinginkan, Horizon menjauh. Seperti memindahi pandangannya pada tubuh bagian depanku lalu berkata, “They’re beautiful, Sky. Persis seperti dugaanku. Puncaknya berwarna merah muda.”

Jadi, dia pernah berfantasi liar tentangku? Dasar kurang ajar!

“Ah!” Aku mendongak, implusif mengeluarkan erangan erotis itu. Di saat emosiku yang baru tumbuh karena pengakuannya dan hendak berkembang, Horizon malah berhasil menekannya dengan tindakan yang pertama kali ini kurasakan.

Dia menakup salah satu dadaku lalu membawa puncaknya untuk diteggelamkan dalam indra penyecapnya. Dan aku merasa seperti akan gila. Badanku panas-dingin, kaki-kakiku secara praktis melingkari pinggangnya dengan jari-jari yang menekuk rapat. Pun ada sesuatu yang seperti mengaduk-aduk perutku ketika Horizon menyiksaku dengan gigi-giginya. Lalu menggilir keduanya secara bergantian. Tanganku pun secara otomatis meraih rambut dan menekan kepalanya.

Ini sungguh konyol. Seharusnya aku yang berusaha membuatnya menginginkanku tetapi rupanya dia juga berhasil membuatku menginginkannya. Tanpa paksaan, pun tanpa terikat misi. Sebab pikiran itu sudah terbang beberapa saat lalu.

Aku merasa lega sekaligus tidak rela kala pria itu melepaskan diri. Sambil berusaha bernapas secara nomal, tangan Horizon membalik tubuhku untuk meraih zipper rok pendek yang kukenakan. Dengan sentakan cepat  benda itu terlepas dari kedua kakiku dan Horizon juga memperlakukan penutup terakhir yang kukenakan.
Sekali lagi Horizon membalik badanku lalu berkata, “Lebarkan kakimu, Sky.”

Lagi-lagi aku merasa tercekat. Pipiku memanas dan kepalaku mendongak ketika Horizon menyapu permukaan lipatan tubuhku yang berdenyut. “Look at you, Sky. So wet down here.”

Lalu erangan-erangan erotis itu terus mengalir dari tenggorokanku dan memenuhi kamar Horizon ketika pria itu mempekerjakan indra pengecapnya di sana. Sesuatu yang baru kualami. Aku pun refleks menjambak rambutnya dan menekan kepalanya sambil terengah-engah.

“Horizon ... kau ... kau membuatku gila. Rasanya ... aku akan meledak Horry. Apa yang kau lakukan padaku?”

Dan tidak sampai satu detik waktu bergulir, tubuhku rasanya mengalami ledakan kenikmatan yang luar biasa. Horizon seperti menerbangkanku ke awan hitam yang kegelapannya memerangkapku. Namun, saat kubuka mata dan melihat sekeliling, rupanya itu bukan hanya sekadar warna hitam. Ada berbagai macam warna bila aku melihat dari sisi yang berbeda. It’s iridescent.

“I will into you.” Kata-kata Horizon praktis membangunkanku dari euforia itu. Dan rupanya pria bermata gelap tersebut sudah tidak mengenakan apa-apa, bukti gairahnya sangat jelas.

Saat Horizon kembali melebarkan kakiku menekuknya bermaksud hendak mengisiku, aku menghentikannya. “Tu-tunggu Horyy, a-aku ingin mengakui sesuatu.”

“Ck, ayolah. Jangan sekarang. Jangan mengacaukanku. Tuntaskan apa yang kita mulai.”

I’m-I’m still virgin. Ha-hati-hati. Yap. Aku hanya akan mengatakan itu.” Meski rasanya malu sebab di umur yang tergolong dewasa ini aku masih memiliki selaput hymen utuh—not an American women at all, aku tetap mengatakannya supaya dia memperlakukanku dengan lembut.

“K-kau apa? Masih perawan?” tanyanya dengan nada seakan-akan tak percaya.

“Maaf, harus merepotkanmu dengan itu. Tapi. Ya, seperti yang kau dengar. Aku—hmp.”

Aku tidak jadi merampungkan kalimat tersebut sebab Horizon membungkamku dengan ciuman lembut, bukan liar. Beberapa saat dia mengambil jarak untuk menempelkan keningnya pada keningku. Horizon lantas berkata, “Look. Lihat aku, Sky. Aku akan bertanya padamu sekali sebelum kita benar-benar melakukannya dan kita sama-sama tahu itu tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya.”

Jujur saja, ucapannya membuatku takut dia menolakku dan aset peninggalan ibuku akan dikuasai momster. Sudah kukatakan aku bertekat untuk menikah dengan Horizon dengan cara apa pun. Dan bila sekalipun harus melanggar janjiku pada Alton yang nantinya akan berhasil membuat Horizon menikahiku, aku tidak keberatan. Sama sekali tidak keberatan.

Aku menyentuh pipi pria itu dengan lembut. “Aku menginginkanmu, Horry. Just ... be carefull. Jangan kasar-kasar karena ini pengalaman pertamaku.”

Aku tidak bisa membaca pancaran mata Horizon. Dia mengangguk, lalu memerintahku untuk merilekskan diri sambil terus menatapnya. Lalu, secara perlahan, Horizon mulai mengisiku.

Aku menutup mulut menggunakan tangan sambil mengernyit kesakiktan dan melihat ke bawah sana. Rupanya Horizon baru mengisi sedikit.

Just relaks, aku hanya butuh menerobosnya sekali dan—”

“Argh! Sakit sekali, Horry!”

Horizon berdiam diri sebentar supaya aku beradaptasi, sebelum akhirnya mengosongkan dan mengisiku kembali dengan gerakan pelan. Namun, semakin lama gerakan-gerakan teratur itu semakin cepat. Dan aku tidak lagi mengerang kesakitan, melainkan mengerang karena kenikmatan yang diciptakan Horizon.

Lalu semuanya berubah menjadi liar serta tak terkendali. Aku kembali dilanda ledakan-ledakan yang sudah tak asing lagi. Dan yang terakhir, pria itu mengumpat berkali-kali ketika meledak di dalam diriku.

Sialnya, aku baru sadar dia tidak memakai pengaman.

_____________________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote, komen dan benerin typo, kelen luara biasa

Bonus foto Skylar Betelgeuse

Horizon Devoss

See you next chapter teman temin

With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻

Jum’at, 27 Agustus 2021

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro