Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 40

Selamat datang di chapter 40

Tinggalkan jelas dengan vote dan komen

Tolong kasih tahu kalo ada typo juga ygy

Thanks

Happy reading everybody

Hopefully you enjoy and love this story like I do

❤️❤️❤️

____________________________________________________

Sesuatu yang dipaksakan seperti halnya dia berpura-pura mencintaiku memang tidak akan pernah berhasil

Horizon Devoss
____________________________________________________

Musim gugur
New York, 1 November
Pukul 06.30

Cericip burung di luar jendela menusuk pendengaran hingga taraf mengganggu tidurku. Aku terpaksa bangun dengan kepala amat berat bagai menyangga berton-ton baja. Bahkan rasanya aku bisa melihat seratus palu raksasa memukuli kepalaku tanpa ampun. Tidak hanya itu, rasanya pipi dan bibirku pun nyeri. Karenanya, aku refleks mengerang dan berguling ke samping.

“Bae, bisa tolong ambilkan obat anti nyeri?” pintaku dengan suara rendah dan serak khas orang bangun tidur. Sembari memejam, aku menggerapai kasur di sampingku untuk membangunkan Skylar. “Bae?” panggilku lagi di saat merasa tidak ada sahutan darinya atau sosoknya yang tertangkap tanganku.

Aku mengerang sekali lagi lalu membuka mata. Di posisi tengkurap, aku mengangkat kepala untuk celingukan. “Shit,” umpatku pelan. Tentu saja tidak ada Skylar di kasur sampingku. Dia mungkin sudah berangkat bekerja, seperti yang biasa dia lakukan belakangan ini; pergi bekerja pagi buta dan pulang hampir tengah malam.

Alisku mengernyit lebih dalam ketika menyadari suatu keanehan. Bahwa aku tidur di kamar yang ada ruang rahasiaku. Kamar yang telah kutinggalkan sejak lama demi bisa tidur bersama Skylar di kamar tamu.

Beberapa detik setelahnya aku mencoba mengingat kembali adegan tadi malam yang menjadi landasan kenapa aku bisa tidur di sini dan Skylar tidak protes—atau memang dia ikut tidur di sini? Sayangnya usaha yang kulakukan tidak membuahkan hasil sebab dentuman-dentuman di kepalaku tak mau diajak berkerja sama memberiku memori tersebut.

Berhubung tidak sanggup menahan deraan pusing yang tak tanggung-tanggung, aku memaksakan diri bangkit guna mencari obat di kotak First Aid yang terletak di dapur. Dalam perjalanan ke sana aku berharap sudah tersedia sarapan yang dimasak Skylar. Namun, betapa kagetnya saat aku mendapati seseorang di dapur sedang menuang kopi dari mesin espreso, bukanlah Skylar.

Morning, Horizon. Setelah menghabiskan kopi ini, aku baru berencana membangunkanmu agar kau bisa siap-siap kerja. Tapi kau sudah bangun lebih dulu. Oh, kau pasti pusing,” cetus wanita berambut pirang yang mengenakan kemeja biru dongker itu. Dengan senyum merekah dan bayangan kelabu di bawah matanya, dia melirikku sekali kemudian fokus ke cangkirnya lagi.

Aku berhenti di telundakan nomor tiga dari bawah guna mengucek mata. Barangkali aku masih di awang-awang atau di alam mimpi lantaran mendapati orang paling tidak mungkin datang ke sini, sedang mengubek dapurku. Namun, rupanya aku tidak berhalu ria. Itu benar memang dia.

“What are you doing here?” tanyaku yang telah mendekatinya. Sama sekali tidak memiliki gagasan masuk akal kenapa dia ada di sini dan bertindak seolah-olah dialah yang punya rumah. Meski kuakui dia memang sangat cocok sebagai tuan rumah di sini.

“Tentu saja mengurusmu.”

Mengurusku? Kenapa dia mengurusku?

“Ini obat sakit kepala. Minumlah agar pusingmu reda,” katanya lagi. Sesuai menyesap espresonya, Ginny Lauren mengulurkan sebuah pil di wadah plastik kecil beserta segelas air mineral.

Aku tak bisa berpikir lebih jauh sebab pusing ini amat menyiksa dan tujuanku ke dapur ialah untuk mencari pain killer. Lalu suatu kebetulan Ginny menawarkannya. Sehingga aku mengambil pil tersebut lantas meminumnya.

Kata Ginny, obat ini seharusnya ditelan setelah makan, tetapi karena melihatku sudah sangat kesakitan, dia memperbolehkannya. Ya, aku percaya saja. Toh, dia dokter. Seandainya terjadi apa-apa padaku, dia pasti akan mengatasinya.

“Aku memasak sarapan kesukaanmu, Horizon. Bacon, telur mata sapi bertabur garam dan merica, juga beberapa asparagus panggang. Makanlah dulu sebelum ke kantor.”

Sekali lagi Ginny mengulurkan sebuah piring berisi sarapan yang disebutkannya tadi. Kendati bimbang dan merasa aneh, tetapi bagai kerbau dicocok hidungnya, aku menuruti perkataan Ginny untuk sarapan bersamanya di meja pantri dapur.

Sekitar beberapa menit, tepat setelah sarapan kami sama-sama ludes tanpa ada obrolan sama sekali dan rasa dentuman-dentuman di kepalaku mulai menjinak, Ginny memulai sebuah percakapan dengan bertanya, “Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kenapa semalam kau bisa mengisap ganja sampai teler, Horizon?”

Ingatan samar dan setipis jaringan tubuh mendadak kembali. Benar kata Ginny. Semalam aku teler gara-gara mengisap ganja yang diberikan Alton. Lalu kejadian setelahnya aku belum ingat betul. Kuharap itu bukan sesuatu yang buruk. Namun, bila tidak, kenapa sampai ada Ginny Lauren di sini?

Lalu di mana Skylar? Kenapa aku belum melihat wujud istriku sejak membuka mata atau melihat hasil-hasil karyanya seperti sarapan yang dimasaknya lengkap dengan catatan atau aroma sabunnya yang menguar dari kamar mandi?

Entah kenapa aku mendadak jengkel sampai-sampai menjawab Ginny agak ketus. “Kenapa tidak? Ganja legal di negara ini.”

“Memang legal, tapi kau tahu sendiri itu bisa membuatmu teler dan—”

“Teler juga bagus,” sela dan tantangku.

“Kau boleh teler sesukamu. Tapi tolong tahu situasi dan tempat. Semalam itu benar-benar kacau. Aku hanya tak mengerti. Apa yang sebenernya kau pikirkan, Horizon?” tanya Ginny lagi.

Aku mulai tidak nyaman oleh pertanyaan menyudutkan yang seolah-olah menghakimi itu. Jadi, sembari mengangkat bahu, aku menjawab lebih ketus daripada sebelumnya. “Guess what? I don’t even know.”

Alis Ginny mengernyit. Ekspresi yang jelas-jelas menafsirkan keheranan. “That was ridiculous. Kau selalu berpikir sebelum bertindak. Pasti kau memiliki suatu alasan.”

Itulah masalahnya. Untuk yang satu itu, untuk sementara ini, aku belum menemukan alasan logis. “Kupikir pasti tidak penting. Mungkin aku hanya iseng.”

Tampaknya aku berhasil menularkan kejengkelanku pada Ginny yang jelas tidak sependapat. “Tidak penting dan iseng bagaimana? Tahukah betapa khawatirnya aku semalam saat kau adu jotos? Dan kupastikan seratus persen itu karena kau dibawah pengaruh mariyuana. Kau pasti tidak akan iseng memukuli orang. Memangnya apa yang telah diperbuatnya?”

“Adu jotos?” ulangku.

“Ya! Entah apa masalahnya. Kau memukuli seseorang yang dipanggil Alton. Kalian sama-sama emosi. Tapi pasti yang jelas dia juga teler sepertimu.”

Sementara Ginny mengomel, aku mengingat semua kejadian tadi malam dengan terang benderang. Tepat ketika Alton mengulurkan sebatang rokok ganja. Mula-mula aku menolaknya. “No, thanks. I’m good with it,” jawabku berusaha mengatur ekspresi dan nada suara tetap datar sambil mengangkat gelas koktailku. Juga mencari celah untuk pergi yang sayangnya tidak segampang pikirku.

Pria itu tersenyum miring lalu menyimpan kembali barang-barangnya sebelum menyalakan lintingan hasil racikannya. Setelah mengembuskan asap ke udara, dia berkata dengan ekspresi serta intonasi mengejek, “Kau pria baik-baik ya?”

“Aku tak pernah bilang begitu.” Lalu aku meminta sebatang rokok ganja dari kotak rokok Alton. Itu jelas tindakan impulsifku. Dia juga dengan senang hati meminjamkan pemantik. Tidak sampai beberapa detik berikutnya, aku sudah mengisap rokok tersebut.

“Omong-omong aku terkejut kalian menikah. Pasalnya kau bukan selera Skylar,” komentar Alton. Kami saling mengisap rokok seperti saling berkompetisi.

“Buktinya dia menikah denganku secara sadar dan tanpa paksaan dariku. Aku jelas seleranya,” jawabku dengan nada ketus. Sumpah, aku kasihan padanya karena tidak mendapat restu dari Mr. Flint untuk menjalin hubungan dengan Skylar. Aku jadi ingin sesumbar sebab dia agak menjengkelkan. Ralat. Dia benar-benar menjengkelkan dan sok tahu, sok menilai, dan sok-sok yang lainnya.

Beberapa isapan rokok ganja rupanya mulai mempengaruhi cara bicara Alton dan mungkin juga cara bersikap serta berpikirku. Namun, yang tak tereka, pria ini mengatakan sesuatu yang dapat membangkitkan emosiku dalam sekejap.

“Apa kau yakin dia menikahimu karena tidak terpaksa?”

“Maksudmu?” Aku mengamati rokokku dan mengisapnya lagi. Isapan kuat sampai rongga dadaku penuh asap rokok.

“Barangkali kau lupa. Tapi aku akan dengan senang hati mengingatkanmu.” Alton mengembuskan asap rokok melalui hidung dan mulut. “Kau menulis perjanjian panjang soal pernikahan kalian. Lebih-lebih pada poin harus menuruti segala perintahmu. Itu artinya pemaksaan, bukan?”

Aku terbatuk-batuk sampai nyaris menelan rokok. Lintingan yang masih tiga per empat itu lantas kujejalkan pada air mineral di gelas Skylar. Lalu tahu-tahu aku sudah berdiri di hadapan Alton dan memegang kerah kostum ninja pria itu sampai membuatnya berdiri juga. “Dari mana kau tahu soal itu?”

Gelak tawa Alton menggema di telingaku. “Astaga, rupanya ini benar. Kusarankan sebaiknya kau menceraikannya secepat mungkin. Biarkan dia bebas. Aku kasihan padanya. Setiap hari tidak fokus bernyanyi dan dimarahi Ched gara-gara terus memikirkanmu. Kau tidak pantas untuknya, Dude.”

“Beregsek!” Tinjuku telah mendarat di pipi kiri Alton sampai membuat rokok di tangannya terempas dan jatuh entah ke mana. Aku bahkan tak peduli jika itu dapat menimbulkan kebakaran. “Aku tak butuh pendapatmu! Jangan campuri urusanku!”

Alton balas menyerangku dengan tinjunya. “Semua orang tahu dia tertekankan karenamu! Kau pikir kami akan diam saja? Kau keparat!”

“Kenapa dia harus menceritakannya padamu? Kau pikir aku tidak tertekan? Dia terlalu kekanakan! Dia selalu bersikap seenaknya! Seandainya kakakku tidak membuatku berjanji padanya yang sedang meregang nyawa, aku tak akan menikahi Skylar! Aku akan menikah dengan tunanganku! Dia jauh lebih baik daripada Skylar yang notabene kesayangan kakakku! Kau tahu apa soal itu?”

“Dasar bajingan! Kalau begitu lepaskan Skylar! Kau sudah memenuhi perjanjian kakakmu! Apa lagi yang kau inginkan?”

Aku tertawa kencang. Terbahak-bahak pada situasi yang kusadari telah ramai. Banyak orang mengelilingi kami dan bersorak, memasang taruhan dan sejenisnya. Kemudian sebelum tinju Alton melayang ke wajahku lagi, aku dapat membalik posisi. Sambil meninju Alton, aku berteriak, “Apa lagi? Setidaknya dia jago di ranjang. Aku akan memanfaatkannya sampai tenggat waktu. Oh! Ya! Terima kasih sudah membiarkannya masih perawan selama ini, Dude.”

“Dasar sampah—uhuk—berengsek kau! Mati sana di neraka!”

“Siapa kau berani mendekteku? Minggat sana ke neraka!” Tak mau mengalah, aku menghajar Alton secara membabi buta. Beberapa pria mencoba melerai kami, tetapi pengaruh mariyuana telah melipatgandakan energiku.

Hingga aku mendengar seorang wanita berteriak menyela, “Horizon, apa yang kau lakukan? Hentikan, Horizon!”

Dalam sekejap, aku berhenti untuk melihat dan memastikan itu benar dia atau bukan. Aku khawatir sedang di tahap halusinasi. Setelahnya, aku benar-benar tidak ingat apa yang terjadi.

Maka, aku menghentikan penjelajahan ingatanku dan fokus ke saat ini lantaran menemukan suatu keganjilan.

“Apa yang kau lakukan di pesta itu? Siapa yang memberimu undangan?”

“A-aku.” Ginny terbata-bata dan tampak gemetar.

“Itu pesta khusus. Siapa yang memberimu undangan dan ada urusan apa kau datang ke sana?” ulangku lagi, kali ini dengan menekan setiap kata-kata yang keluar dari mulutku.

Setelah meneguk ludah, Ginny mulai memberi alasan. “Tidak penting siapa yang memberiku undangan. Yang terpenting aku bersyukur aku datang ke sana dan bisa meleraimu tepat waktu. Aku bisa mengurusmu, Horizon. Aku heran kenapa istrimu tidak ada di sana untukmu. Aku bahkan heran kenapa dia tidak pulang semalaman.”

“Kau bilang apa? Skylar tidak pulang semalam?”

Amarahku memuncak. Lagi-lagi Skylar selalu berbuat seenaknya. Tidak ada di saat aku membutuhkannya. Kupikir dia sudah berubah, mau menjadi ke arah yang lebih baik. Namun, ternyata aku keliru dan menyadari bahwa sesuatu yang dipaksakan seperti halnya dia berpura-pura mencintaiku memang tidak akan pernah berhasil. Tidak akan bertahan lama. Mungkin dia juga sudah lelah berpura-pura. Dan bagian paling penting, Skylar menceritakan isi kontrak itu pada Alton.

“Semalam aku berniat menunggunya sampai pulang, lalu berencana akan pulang karena berpikir dia akan mengurusmu. Tapi dia tidak pulang sama sekali. Jadi, aku tidak tidur karena menjagamu semalaman. Aku takut kau kesakitan atau semacamnya,” papar Ginny lagi ketika aku memundurkan kursi dan beranjak. “Kau mau ke mana, Horizon?”

“Ginny, aku sangat berterima kasih padamu karena telah menjagaku sampai tidak tidur semalaman dan membuatku sarapan. Tapi aku harus pergi.”

“Pergi ke mana?” teriak Ginny. Kudengar kursi digeser sewaktu aku naik tangga menuju kamar untuk mencari ponselku. Terdengar langkahnya mengikutiku. “Horizon, apa kau mau mencari Skylar?”

Aku tidak ingin memberitahu kebenarannya lantaran takut menyakiti hati Ginny. Sudah kukatakan sebelumnya bahwa sudah banyak dia terluka karena aku. Aku tidak ingin menambahkan lagi.

“Horizon, please .... Aku masih di sini. Kenapa kau malah mau meninggalkanku dan mencari Skylar yang jelas-jelas tidak peduli padamu?”

Aku tidak menjawab atau melihatnya. Setelah meraih ponsel, aku menuruni dua tangga sekaligus menuju foyer depan untuk mengambil kunci mobil di wadah kunci. Ginny masih mengikutiku sewaktu aku mengambil sepatu.

Kala aku meraih gagang pintu, wanita itu menghentikanku dengan berkata, “Aku sudah tahu semuanya, Horizon. Bukan sebuah fakta kau meninggalkanku karena ayahmu tak merestui kita seperti yang kau katakan beberapa waktu lalu. Aku sudah tahu kau dan Skylar membuat kontrak pernikahan karena kau menuruti permintaan terakhir River. Karena kakakmu sangat menyukai Skylar.”

Aku berbalik dan memandang Ginny ngeri sekaligus penasaran. Juga dengan jantung mengentak-entak kencang. Setengah berharap dalam keadaan teler semalam aku tak membeberkan fakta itu kepada Ginny. “Dari mana kau tahu?”

Mata Ginny memancarkan rasa sakit, tekanan, dan harapan saat bercerita, “Kemarin sore aku ada tugas di sekitar sini. Karena tak ingin cepat-cepat pulang dan ingin tahu kabarmu, aku menghubungi Ralph. Pertama-tama dia menolak menemuiku sebab akan menghadiri pesta Halloween. Pada saat itu aku sudah di depan pintu apartemennya. Lalu dia datang saat kami masih saling berbicara lewat telepon. Dia terpaksa menerimaku masuk.”

“Oh, jadi Ralph yang memberitahumu soal ini?” tuduhku.

Kurang ajar! Kenapa semua orang tidak bisa dipercaya? Kemarin Skylar. Sekarang Ralph yang notabene sahabat sekaligus pengacara legal yang kuminta untuk menjadi saksi perjanjian. Besok siapa lagi? Apa seluruh dunia juga harus tahu fakta ini?

Ginny menggeleng. “Tidak. Tentu saja tidak. Aku yang tak sengaja menemukan berkas-berkas perjanjianmu di meja kerjanya yang berantakan. Kau tahu, meja itu di sebelah dapurnya setelah pintu masuk persis dan di tumpukan teratas. Jadi, aku memohon padanya untuk menjelaskan tentang itu dan juga memaksanya untuk memberiku undangan pesta Halloween itu. Aku ingin menanyakannya langsung kepadamu yang katanya juga akan ada di sana. Kalau aku meneleponmu, aku yakin kau tak akan mengangkatnya karena kita sudah sepakat untuk tidak saling berhubungan waktu itu. Jadi, apakah itu benar?”

Aku memandang Ginny cukup lama. Apa yang harus kukatakan sekarang? Aku benar-benar tidak ingin menorehkan luka lebih dalam lagi kepadanya. Aku juga tidak ingin dia membenci kakakku karena melakukan ini padaku. Semasa hidup River, selama mengenal Ginny, kakakku memang tidak menyukainya entah apa alasannya. Lalu ayah menjadi semacam pendukung nomor satu atas sikap River. Pada waktu itu aku protes, tetapi mereka berdua tidak memberiku alasan logis. Mereka hanya mengatakan Ginny tak akan cocok denganku.

Dan jauh lebih mudah bagiku mengakui pada Ginny tentang setengah fakta bahwa ayah tidak merestui hubungan kami. Maka dari itu aku harus mengakhiri hubunganku dengannya. Alasan lain, karena dia tahu betul bagaimana aku ingin menyenangkan hati ayah setelah ditinggal River.

Sementara aku sedang berusaha menata kata-kata, Ginny menuntut sekaligus mengatakan sesuatu yang mengejutkan.

“Horizon .... Itu surat perjanjian legal, bukan? Kulihat sebentar lagi kalian akan bercerai. Apa setelah itu kita bisa kembali bersama? Kalau diminta menunggu, aku bersedia. Aku masih sangat mencintaimu, Horizon Devoss .... Kita bisa memulai dari awal.”

____________________________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote dan benerin typo

It means a lot to me

Bonus foto:

Skylar Betelgeuse

Horizon Devoss

Well, see you next chapter teman-temin

With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻

Rabu, 28 Juni 2023

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro