Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 25

Halo teman-teman
Maafkan ini bukan isi dari chapter 25

Saya cuma mau ngasih tau kalau chapter 25 udah bisa dibaca di karyakarsa saya bernama Chacha Prima

Ini linknya: https://karyakarsa.com/chachaprima/divorce-plan

Temen-temen boleh langsung mendukung saya di karyakarsa atau bisa menunggu chapter ini lengkap

Oh ya, selain spoiler di atas, saya juga akan kasih spoiler yang lainnya.

____________________________________________________

Orang yang jatuh cinta tidak akan mendengarkan perkataan orang lain untuk mencegahnya mengorbankan diri sendiri demi orang yang dicintainya

—Revina Betelgeuse
____________________________________________________
 


“Kudengar dari ayah mertuamu kalau Horizon sudah kembali ke sini.”

Akan sangat memalukan jika aku tidak bisa menjawabnya lantaran tidak tahu. Horizon tidak memberiku kabar di mana dia berada. Dan alasannya sangat jelas kenapa. Jadi, aku berbohong pada Momster dengan mengangguk.

Lalu apa kau tahu hal apa yang lebih mengejutkan?

Tanpa tedeng aling-aling, Momster mengajak, “Kau tidak perlu khawatir dan langsung pulang ke rumah. Dia pasti masih butuh istirahat.”

Well, jika seandainya Horizon memang sudah di penthouse, aku memang tidak berniat untuk pulang. Dia tidak ingin aku di sisinya karena berisik, bukan?

Namun, bukan itu yang kujawab. “Iya, dia butuh istirahat.”

“Kalau begitu, kau bisa makan siang denganku, kan, Sayang?”

Aku menganga. Dikarenakan ajakan itu dilontarkan di sekeliling kru yang berlalu-lalang di koridor, aku jadi tidak bisa menolak. Apa kata orang kalau aku dan Momster tidak akur?

“Aku ingin ke restoran Rosa Mexicano,” kata Momster kepada sopir pribadinya sesaat setelah kami duduk di kursi belakang BMW hitamnya yang mengilat seperti pelangi.

Selama perjalanan ke restoran yang terletak di Manhattan tersebut, Momster tidak berbicara sepatah kata pun. Aku pun tidak sudi membuka obrolan dan lebih menyibukkan diri dengan melihat-lihat gedung tinggi serta promenade yang dipadati pejalan kaki. Banyak turis berjalan di trotoar. Well, tidak heran. Musim panas memang waktu yang tepat bagi seluruh umat manusia di muka bumi untuk berlibur.

Uh, seandainya aku punya waktu libur lagi.

Sebaliknya, ketika ibu tiriku itu rampung memesankan brunch-ku pada pelayan yang telah meninggalkan meja kami, Momster baru berkata, “Sayang, kau tidak terlihat seperti biasanya.”

Berhubung belum mengerti ke arah pembicaraan Momster, aku pun bertanya, “Maksud Mom?”

“Maksudku, ini di luar performa menyanyimu. Hari ini penampilan menyanyimu bagus. Tapi, dua hari ini kau terlihat tidak berpenampilan baik.”

Bola mata biru terang Momster yang diarahkan ke pakaianku membuatku mengerti. Oleh sebab itu aku setengah mendengkus dan setengah tertawa. “Are you kidding me? Jelas-jelas dari dulu penampilanku seperti ini dan Mom tidak pernah mempermasalahkannya,” bantahku. Tanpa memutus kontak mata dengan Momster, aku menunjuk seluruh pakaianku untuk memperjelas kata-kataku.

“Maksudku bukan itu.” Momster mendesah. rasa-rasanya baru kali ini aku mendengarnya. Wanita itu kemudian meralat kata-katanya. “Begini, katakan padaku sejujurnya. Apa kau tidak menuruti saranku kemarin?”

“Em ....”

Mulutku menganga lebar sebelum terkunci rapat sampai membentuk garis tipis. Aku juga mengalihkan pandangan ke sekitar. Ke arah pengunjung yang baru datang, ke dinding restoran yang sebagian besar berjendela Prancis, ke ornamen-ornamennya, ke langit-langit kaca tinggi yang dililit lampu-lampu gantung kecil, ke karpet garis-garis merah, kuning, dan hijau.

Mungkin karena melihatku seperti ini, Momster berkata lagi. “Maksudku lihatlah rambutmu.” Aku langsung melihat dan menyentuh rambutku yang tergerai. Pada saat bersamaan, Momster melanjutkan, “Terlihat kusut dan agak berantakan. Kantong matamu juga agak menghitam. Apa kau menginap di New Jersey dan baru kembali tadi pagi?”

Ya! Aku harus mengakui penampilanku dua hari ini memang agak berantakan dan jorok. Namun, aku tidak memiliki waktu untuk melakukan sesuatu dengan itu. Lagi pula, seharusnya hal tersebut sama sekali bukan menjadi urusan Momster. Dan, oh! Jangan tanya bagaimana aku ingin sekali mengumpati nenek tua ini jika tak ingat perkataannya yang benar mengenai kejadian di New Jersey.

Sayang seribu sayang, aku tidak ingin menjawabnya dengan kebenaran. Gengsiku kadang agak setinggi harapan orang tua bila menyangkut Momster. Lebih-lebih, prediksinya benar. Aku tidak ingin menanggung malu. Jadi, aku pun menjawab dengan memberikan pertanyaan lain. “Bukankah tidak masalah selama performa menyanyiku baik? Lagi pula aku tidak terlambat bekerja.”

Momster mengangguk dan jambul sempurna di kepalanya sama sekali tidak ikut bergoyang. Kurasa hair spray membuatnya demikian; bertahan. Mungkin angin topan juga tidak mampu merobohkannya.

“Itu memang benar, Sayang. Kau tidak terlambat dan performamu baik. Tapi, tidak dengan penampilanmu kemarin dan lihatlah. Kata Bethany kau kelaparan kemarin sampai habis hampir empat roti lapis dan espreso takaran dobel. Siang ini, kau memesan brunch. Kau merangkap sarapan dan makan siangmu hari ini.”

“Maaf, tapi aku tidak melihat adanya korelasi antara penampilan dan selera makanku dengan performa menyanyiku. Khususnya hari ini.”

“Maksudku, aku mencemaskanmu, Sayang. Aku tahu kau pasti mengkhawatirkan Horizon. Sebagai istri yang suaminya sedang sakit, kau pasti sangat ingin menemui dan menjaganya. Tapi bisakah kau juga perhatikan kesehatanmu sendiri?”

“Karena semua sistem sudah diatur semestinya? Karena jadwal-jadwal sudah dibentuk dan tidak bisa diganggu gugat atau mendapat toleransi kalau mengalami kekacauan? Karena kerugian yang harus diganti kalau sistemnya kacau? Tapi bagaimana dengan antisipasi yang memang kadang terjadi dan tidak bisa ditebak-tebak?” tekanku agak emosional. “Dan terima kasih karena telah mengkhawatirkanku. Tapi aku baik-baik saja, Mom. Aku sudah dewasa dan paham soal itu. Sungguh, aku baik-baik saja.” Atau berlagak baik-baik saja. Padahal aku merasa remuk.

Momster mengelak, “Memang benar, tapi bukan karena sistem atau apalah seperti yang baru saja kau sebutkan itu.”

Dudukku langsung tegak seirama dengan kepalaku yang agak menjauh karena heran. “Lalu karena apa?” tuntutku penasaran.

____________________________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote, komen atau benerin typo

Kelen luar biasa

Bonus foto:

Horizon Devoss

Skylar Betelgeuse

Well, see you next chapter teman temin
 

With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻

Sabtu, 21 Januari 2023
 

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro