Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

03. Sunset Metropolis

"Kapan terakhir kali lo bahagia?"

Aurora berhenti menyedot jus alpukatnya. Mata bulatnya yang bening mengerjap cantik. Pertanyaan gue sukses merebut perhatiannya dari jus alpukat. Tapi hanya sejenak karena setelah itu, Aurora kembali menyesap minumannya hingga habis.

"Hari ini," jawabnya sambil meletakkan gelas kosong di meja.

"Oh... hal apa yang bikin lo bahagia hari ini?" tanya gue lagi.

"Karena gue bisa makan nasi padang gulai limpa dan minum jus alpukat."

Sejenak gue terpaku. "Sesimpel itu?"

Gadis cantik itu tertawa renyah. "Bahagia nggak harus tentang hal besar, kan?"

Gue mengangguk pelan. Kalimat itu sangat sederhana, tapi cukup mengguncang hati gue. Pada akhirnya gue cuma bisa membisu sambil menyesap minuman terakhir. Gue berpikir, kapan terakhir kali bahagia karena hal kecil? Kayaknya gue terlalu terpaku dengan hal besar sampai lupa kalau harus mensyukuri hal seremeh: gue masih bisa makan hari ini.

Well, gue juga nggak akan menyalahkan diri sendiri. Gue memaklumi kenapa gue seperti ini. Gue sadar, kesehatan mental yang nggak baik bikin gue makin parah dalam melihat sesuatu. Tapi ada satu hal yang bikin gue penasaran. Apakah Aurora nggak pernah merasa buruk? Buruk dalam arti, dia sampai pejuang kesehatan mental seperti gue.

Setahu gue, Aurora pernah in a relationship dengan artis yang punya fans militan. Kisah Aurora yang itu sudah jadi rahasia publik. Tapi secara personal, gue nggak pernah menanyakan detail ceritanya ke dia.

"Gue pernah ngerasain hidup susah di negara orang. Gue harus kuliah sambil kerja karena gue bukan anak beasiswa. Gue juga pernah dipecat karena nggak sengaja ngerusak properti toko. Kalo nggak ada Lisa, udah luntang-lantung gue di Korea," kata Aurora tiba-tiba.

"Beruntung banget lo punya sahabat kayak Lisa."

"Ah, sayang banget dia balik ke Korea lagi buat lanjut kuliah."

Gue gagal paham. "Kok gitu? Harusnya lo seneng dong dia bisa kuliah lagi."

"Gue seneng kok. Seneng banget. Tapi jujur, gue juga pengen dia ada di sini. Kayak ada yang ilang aja gitu," jelas Aurora dengan tatapan menerawang. "She's the best friend I've ever had."

Gue kembali terdiam. Bagaimana rasanya punya sahabat sebaik Lisa?

Gue pengen banget punya sahabat kayak gitu. Tapi trust issue ini terlalu tinggi. Gue terlalu berprasangka buruk pada orang lain. Kadang gue berpikir kalau Aurora berteman karena ada maunya saja. Padahal kalau dipikir-pikir, nggak ada yang salah dengan sikap Aurora. Dia baik.

"Udah?" tanya Aurora sambil merapikan piringnya.

"Udah."

"Gue traktir, ya."

"Beneran nih?" sambut gue berbinar.

"Bener," angguk Aurora seraya mengeluarkan dompet. Ia mencabut satu lembar seratus ribuan dari sana. "Harusnya lo lunch pakai bekal dari Bintang, kan? Tapi gue malah ajak ke sini. Jadi anggep aja ini bayaran atas rasa bersalah gue. Oke?"

Oh, iya.... Gue hampir lupa kalau ada bento dari Bintang di meja. Ada senyum tipis di bibir gue ketika Aurora melontarkan itu. Dia nggak butuh persetujuan dari gue dan langsung menuju kasir. Mungkin dia tahu kalau gue sedang nggak baik-baik saja. Pada akhirnya, gue pun hanya duduk manis di kursi sambil menunggu transaksi itu berakhir. Ketika pikiran ini akan terlempar ke sosok Juna, tiba-tiba ponsel gue bergetar.

Terus terang gue agak malas membaca nama Bintang di layar. Namun jempol ini kadang tidak tahu diri dan keterusan menekan layar hingga pesan itu terbaca.


Bintang (intern)
Lo marah?

Sheila
Why should I?

Bintang (intern)
Idk.

Sheila
I'm ok

Bintang (intern)
Kata orang yang sebenernya nggak baik-baik aja.


Balasan Bintang membuat gue memutar bola mata dengan malas. Gue memilih untuk mengabaikan pesan itu ketika Aurora kembali. Gadis cantik itu tersenyum manis.

"Balik, yuk."

Gue hanya mengangguk kecil dan mengikuti langkah Aurora untuk kembali ke kantor. Ponsel gue bergetar lagi. Geez.... Pasti Bintang lagi! Gue sudah terlalu malas meladeni ocehan bocah magang itu. Jadi gue pun mengabaikan vibrasi ponsel.

"Lo udah ada acara belum ntar long weekend?" Sebutir pertanyaan kecil mendistraksi.

"Long weekend akhir bulan ini? Nggak. Belum ada. Kayaknya gue mau rebahan aja sambil ngecek draft naskah," sahut gue lalu melompat kecil untuk menghindari lubang di jalan.

"Mau ikut gue nggak?" tawar Aurora.

"Ke mana?"

"Bandung. Seharusnya gue solo trip sih. Tapi kalo lo mau, ya hayuk aja."

"Mau!" balas gue secepat kilat.

"Tapi gue naik kereta, ya. Lo tau kan? Gue nggak punya mobil dan gak bisa nyetir mobil. Gue juga nggak mungkin minta lo nyetir dari Jakarta ke Bandung."

"Nggak apa-apa. Gue seneng kok naik kereta," angguk gue nggak keberatan.

"Ntar gue talangin dulu semuanya. Itung-itungannya belakangan."

Dan itulah rencana kecil dadakan antara gue dan Aurora. Sebuah langkah nekat kalau menurut sudut pandang gue. Ini bukan tentang draft naskah yang harus gue cek. Gue masih bisa kerja sambil jalan-jalan dengan bermodalkan tablet. Yang jadi masalah utama adalah kesehatan gue yang masih naik turun, terutama anxiety yang kambuh tanpa melihat tempat.

Gue nggak mau menyerah!

Harusnya traveling jadi obat yang bagus untuk tipe orang seperti gue. Traveling sering diplesetkan menjadi 'healing' bukan tanpa sebab. Kali ini gue sangat berharap kalau gue akan benar-benar heal dari semuanya.


🍂


            Meskipun gue nggak terlalu suka Jakarta, tapi night view tempat ini memang patut mendapatkan pujian. Sekian tahun tinggal di kota metropolis ini nggak lantas membuat gue bosan dengan pemandangan malamnya yang... well, cukup indah. Bukan hanya itu. Sejak dulu gue percaya kalau sunset indah hanya akan terlihat di daerah pantai atau laut. Ternyata gue sedikit keliru. Jakarta menampar gue dengan view sunset ala metropolisnya yang begitu mendebarkan. Contohnya senja ini. Semburat jingga kemerahan, keemasan, atau kadang ungu itu memantul cantik di kaca-kaca gedung pencakar langit.

Ya, secantik itu memang akhir dari perjalanan matahari setelah seharian menghangatkan Bumi. Pikiran gue pun terlempar secara random pada perkataan seorang author ternama, Beau Taplin.

"Sunsets are proof that endings can often be beautiful too."

Gue hanya berharap, akhir kisah gue bisa seindah matahari terbenam.

Music for anxiety relief mulai sayup dari pendengaran. Gue melepas satu earphone dengan tarikan napas panjang. Nggak pernah terlintas sedikit pun dalam benak jika gue berada dalam situasi ini. Gue yang sejak kecil suka sekali membaca buku motivasi dan kisah para tokoh hebat, ternyata harus melewati fase di mana kadang gue ingin menyerah pada kehidupan.

Ke mana gue yang dulu?

Gue rindu Sheila yang dulu. Sheila yang kuat dan enggak mengenal kata 'anxiety'.

"Loh? Bintang belum balik?"

Suara teguran Aurora membuat perhatian gue terpecah.

Bintang belum pulang? Seingat gue, dia sudah turun duluan dengan tas ransel andalannya. Sontak gue pun ikut memandang Bintang. Pemuda itu menghampiri gue dengan wajah datar.

"Ada yang ketinggalan, Kak," sahutnya lalu menyambar kotak bento di hadapan gue.

"Apaan?" tanya Aurora heran dengan sikap Bintang.

Bintang mengacungkan kotak bento itu sambil tersenyum polos. "Ini. Nanti diomelin mama kalo tupperware-nya ilang."

Aurora terkekeh sambil berlalu pergi setelah mendengar jawaban tak terduga itu. Perihal tupperware hilang memang jadi salah satu problem dengan kasta tinggi di dunia emak-emak. Wajar Bintang kembali lagi demi sebuah tupperware. Eh, tapi masa sih mamanya Bintang juga marah-marah perkara tupperware hilang? Padahal baru tadi siang gue berpikir kalau mamanya Bintang baik banget. Ternyata bisa jadi reog juga kalau perkakas koleksinya hilang.

"Kak, udah kelar?"

Gue merapikan meja tanpa sepatah kata pun.

"Kak Sheil," panggil Bintang tiba-tiba.

Gue menoleh tanpa ekspresi. "Lo nanya gue?"

"Iya. Udah kelar? Gue mau anter lo pulang," jawab Bintang.

"Gue kan udah bilang. Gue bawa mobil."

"Gue juga udah bilang, gue nggak mau lo kenapa-kenapa. Jadi biarin gue anter lo balik, Kak," tukas Bintang dengan pendiriannya yang sekokoh batu karang.

"I'm super fine. Nggak usah khawatir," kata gue meyakinkan seraya melepas satu earphone yang sejak tadi menempel di telinga.

Tanpa permisi, Bintang menyambar ponsel gue yang tergeletak dengan layar menyala di atas meja. Satu alis gue terangkat melihatnya mengangguk-angguk. Sedetik kemudian, ia menunjukkan layar ponsel ke hadapan gue—si pemilik ponsel. Kali ini kedua alis gue terangkat. Bingung.

"Kalau lo baik-baik aja, lo nggak akan dengerin ini," katanya.

Gue merebut ponsel. "Nggak usah sok tau."

"Tangan lo tremor tuh," balas Bintang yang terdengar sangat mengejek.

Akhirnya gue menghela napas panjang. "Oke. Lo menang."

Bintang tersenyum puas mendengar kepasrahan gue. Lalu di detik-detik berikutnya, hanya langkah kaki kami yang terdengar bersahut-sahutan di koridor. Bintang, si anak magang itu bersikeras membawakan tas gue. Tentu gue nggak akan menolak. Gue biarkan dia melakukan sesukanya selama nggak merugikan gue. Lagipula gue memang benar-benar tremor. Nggak ada salahnya kan kembali merepotkan Bintang.

"Katanya punya cowok. Kok gue nggak pernah liat cowok lo, Kak?" tanya Bintang sambil menyalakan mesin mobil.

"LDR."

Gue yakin Bintang hanya berbasa-basi busuk. Karena itu, gue memilih jawaban singkat dan padat. Lagipula gue adalah tipe orang yang nggak suka pamer hubungan, termasuk di sosial media. Prinsip gue adalah stay private. Biarkan saja orang lain menganggap gue single atau jomlo mengenaskan karena nggak pernah update soal pacar. Lebih baik begitu daripada privasi Juna terusik. Gue juga nggak mau ada cewek genit yang menggoda Juna.

Bintang nggak mengatakan apa pun lagi dan mulai fokus mengemudi.

Bicara soal Juna, jujur gue bahkan nggak follow akun instagram dia. Bukan karena gue sok atau sombong sama pacar sendiri. Tapi....

Jujur banget nih, ya.

Gue malu sendiri liat feeds instagram Juna yang nilai estetikanya sangat merosot jauh di bawah rata-rata. Jika ada mata pelajaran Estetika Feeds dan Story Instagram, gue yakin si Juna nggak akan memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Bahkan kalau remidi pun, gue yakin seyakin-yakinnya dia bakal dapet nilai yang mepet. Itu pun karena belas kasihan guru.

Ya, gue tau Juna ganteng. Tapi tetep aja gue nggak suka liat feeds instagram yang isinya foto selfie dan seleranya bapak-bapak banget. Ya Tuhan.... Bisa-bisanya cowok gue nggak estetik gini. Malu juga gue mau pamerin dia di sosmed.

Juna dikaruniai fisik rupawan, tapi tidak dikaruniai aesthetic sense of art.

He's 10 but... sucks in sense of art.

"Foto di story lo bagus," puji Bintang seolah terkoneksi dengan pikiran random gue.

"Thanks."

"Gue suka liat instagram lo. Cakep. Story lo juga bikin gue bisa dapetin insight baru," sambung Bintang yang membuat cuping hidung gue melebar.

Gue nggak tahu, itu pujian tulus atau hanya sebuah aksi sugar coating untuk gue biar masa magangnya lancar. Entahlah, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Yang jelas, gue nggak akan memasukkan pujian itu ke dalam hati. Mengabaikan ucapan manis itu, gue pun mengambil ponsel dalam tas.

"Kalo lo nggak suka sama bentonya, bilang aja. Lo nggak harus nerima pemberian gue kok kalo nggak berkenan. Sayang juga kalo makanannya sia-sia begini."

Hati gue sedikit sedih mendengarnya. Sembari membuka status whatsapp, gue berkata pelan, "Kasih aja ke pemulung atau pengamen di jalan. Ntar gue ganti tupperware-nya."

"Gue becanda doang soal tupperware itu," sahut Bintang.

Sontak jari gue berhenti menggulirkan layar.

"Mama nggak akan peduli soal kotak makanan yang hilang. Gue mau habisin makanannya aja udah seneng dia." Bintang melanjutkan penuturannya yang cukup melunakkan hati gue.

"Terus ngapain lo bohong soal tupperware?" Akhirnya gue tergelitik juga.

"Biar gue bisa ambil kotak bentonya dan kasih ke orang yang butuh. Banyak orang yang kelaperan. Gue nggak suka buang-buang makanan."

Seketika gue merasa bersalah. Gue rasa, gue memang terlalu egois dan berburuk sangka tadi. Terlepas dari perasaan Bintang yang tulus atau enggak, seharusnya makanan itu tetap gue hargai. Kepala gue tertunduk. Jari gue kembali menggulir layar di tengah keheningan situasi. Nama Juna berhasil membuat gue berhenti sejenak untuk menekan statusnya.

"Hmmm?" heran gue dengan dahi berkerut.

Juna mengunggah foto cardlock sebuah hotel bintang empat di Jakarta. Hah? Masa iya sih Juna di Jakarta? Kok dia nggak ngabarin gue sih?

GUYS, SPAM KOMEN YANG BANYAK YA BIAR AKU SEMANGAT LANJUT KWKWKW.

MAU KOMEN 100 BIJIK JUGA GPP. AKU SENENG BANGET.

TUNG-ITUNG BENTUK SUPPORT KALIAN KE TULISAN INI.


MAKASIH BANYAKKKKKK <3

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro