Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Di Ujung Jalan

Aku termangu menatap pekatnya langit malam. Angin berbisik mengabarkan berita duka dan belasungkawa, lalu mengusap rambut yang terbalut kain panjang hitam yang kukenakan. Seolah memberikan sebuah kekuatan setelah kabar yang diberikannya.

Air mata jatuh membasahi pipi, semakin lama semakin deras aliran air yang membasahi wajah. Penyesalan menghampiri saat semua tak lagi sama, tak bisa diulang kembali.

Andai waktu dapat diputar kembali, andai semua dapat diperbaiki saat dia ada disisi, dan andai jarak yang membentang mampu untuk kugapai.

Namun, nyatanya hanya kalimat pengandaian yang mampu berputar, dan menari-nari dalam pikiranku.
Karena waktu yang telah berlalu, enggan untuk menengok dan memutar kembali pada masa itu.

Kini hanyalah perasaan bersalah, penyesalan yang datang terlambat, dan perasaan berdosa seolah berkompromi menyerangku tanpa ampun. Tak kuasa menahannya, tangisan yang berupa isakan pun berubah menjadi sendu lalu tersedu-sedu.

Entah bagaimana aku harus menjalani hari demi hari nanti. Esok, lusa, dan hari-hari berikutnya aku takut untuk melewatinya, apalagi seorang diri.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahkan terlintas dipikiran pun tidak. Aku tak siap untuk menjalaninya.

"Ya Rabbi ... tolonglah hamba ...  mohon ampunkan dosa hamba .... mohon kembalikan kedua orangtua hamba, mohon beri waktu hamba untuk berbakti dan membahagiakan beliau," doa yang kurapalkan dalam tangis.

"Mampukah aku terbang melintasi lautan yang luas dan melewati gunung yang menjulang tinggi tanpa kedua sayap yang kumiliki? Sanggupkah aku menyapa semesta seorang diri?" suara batinku.

Belum lama ia meninggalkan dunia ini, tapi aku merindukannya. Sosoknya yang menjadi penyemangat bagiku, apapun yang kulakukan selalu untuk kebaikannya. Namun,  Sang Pencipta telah menginginkan ia untuk berada di sisi-Nya.

Aku rindu masa-masa itu, aku rindu semuanya, aku ingin menghabiskan waktuku dengannya melewati hari demi hari penuh dengan kebersamaan dengannya.

Aku ingin semuanya kembali seperti sedia kala. Mengingatnya, membuat air mataku jatuh kembali membasahi pipi. Entah sampai kapan akan menyesali semuanya seperti ini.

"Akankah selamanya? Mohon berikan kesempatan hamba untuk mengucap permohonan maaf Yaa Rabb ...  bantulah hamba untuk bertemu dengannya, walau melalui mimpi.  Hamba ingin bertemu dengannya, mohon izinkan sekali saja Yaa Rabbi," kembali kurapalkan doa dalam hati.

Langit malam semakin pekat dan sang angin menusuk tulang-tulangku dengan gagahnya, namun aku merasa enggan untuk beranjak. Kutatap langit itu, sebuah lengkungan senyum tercipta dari bibir kecil milikku.

Baru aku sadari, bahwa betapa pun gelapnya sang malam, bintang dan bulan siap menemaninya.

"Assalamualaikum Nirmala," ucap seorang perempuan.

Seseorang memanggil namaku, suara itu pun tak asing menggema di telingaku. Kualihkan pandangan pada sumber suara tadi, dan benar saja, itu adalah suara Ningsih sahabat terbaik yang kumiliki.

"Wa'alaikumsalam," kubalas ucapan salamnya.

Sejenak, kami saling berpandangan dengan mata penuh haru. Tak lama kemudian, kami saling berpelukan.

Ningsih tahu persis apa yang kurasakan saat ini, kami bersahabat dari usia kami masih kecil hingga sekarang, semuanya masih sama. Tak perlu diceritakan, batin kami sudah mengetahuinya satu sama lain.

Aku menangis dalam pelukannya, tak kuasa menahan semua yang terjadi. Kehilangan dua malaikat yang teramat kusayangi bukanlah sesuatu yang mudah bagiku.

Sejak lama aku telah kehilangan sosok ibu yang bahkan belum pernah kuucapkan terimakasih dan kata maaf.

Terimakasih karena telah melahirkan ke dunia ini dengan pengorbanan yang begitu besar, dan maaf karena aku, ibu harus meninggalkan orang yang teramat mencintai dan dicintainya.

Ya, ibu rela meninggalkan dunia ini, mengorbankan nyawanya sendiri demi mengizinkanku melihat indahnya dunia ini.

Sungguh, betapa hebat perjuangan dan pengorbanan seorang ibu untuk anaknya. Usiaku yang menginjak 24 tahun ini belum mampu membanggakan dan memberikan hal yang terbaik untuk ibu.

Entah hal apa yang mampu aku lakukan untuk membalas segala yang telah ibu lakukan. Aku tak mampu untuk membalasnya, hal apa yang mampu seorang anak lakukan untuk membalas segala perjuangan sosok ibu?

Kurasa tak akan ada yang mampu untuk membalas segala pengorbanan itu, karena perjuangan dan pengorbanan ibu tak terbalaskan, sekuat dan sekeras apapun berjuang untuk membalasnya tak akan pernah sebanding dengan apa yang pernah ibu lakukan.

Sayangilah ibu, hormatilah beliau, dan jangan pernah menyakiti perasaannya. Jagalah perasaan ibu untuk tetap tersenyum. Ingin sekali aku membagi senyumku pada ibu, tapi itu tak mampu aku lakukan.

Aku memang tak melihat kehadiran ibu di sini, dan selalu berharap semoga ibu selalu melihat aku yang ingin tersenyum untuknya.

Selama ini aku hanya mampu untuk mendoakannya. Kelak, di surga-Nya semoga kami dipertemukan kembali.

Sejak bayi hingga dewasa aku melewati hari dengan seseorang yang sering di sebut ayah.

Namun, kini ayah pun telah pergi meninggalkanku. Meninggalkan aku sendirian di dunia ini. Ayah menyusul ibu menghadap Allah swt. Allah lebih menyayangi ayah dan ibu.

Aku belum siap dan mungkin tak akan pernah siap menghadapi ini semua. Andai saja aku tahu jika waktu sibukku tak sepanjang usia ayah, akan aku lakukan yang terbaik untuk ayah.

Aku akan menemani dan membersamainya melewati hari demi hari disisa umurnya.

Andai saja obsesi dan ambisiku tidak setinggi itu. Andai saja, aku mampu memutar kembali waktu, akan kuperbaiki semua dan menjadikan sebuah akhir yang indah.

Aku hanya mampu mengulang memori tentang kebersamaanku dengannya. Dari semua kenangan itu dapat kutarik kesimpulan bahwa, selama ini aku tak pernah melakukan apapun yang membuat ayah bangga. Bahkan aku menggoreskan luka yang cukup dalam di hati ayah.

"Semua sudah menjadi kehendak-Nya, Nir. Sabar dan ikhlaskan semuanya, terima segala ketentuan-Nya dengan hati yang lapang. Laa yukalifullahu nafsan illa wus'ahaa (Allah tidak akan membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya). Apalagi hamba yang taat dan menyayangi orangtuanya. Jangan berlarut dalam kesedihan, ya," ucap Ningsih dengan mengeratkan pelukannya.

Aku balas pelukannya tak kalah erat,  dan kuanggukan kepala sebagai respon dari nasihat yang diberikannya.

Tak lama Ningsih mengendurkan pelukan kami, mengusap bekas air mata di pipi.

"Aku ingin menyampaikan amanah yang dititipkan ayah kamu," Ningsih berkata sambil memberikan sebuah amplop putih dari dalam tasnya.

Aku menerimanya dengan raut penuh tanya, "Apa ini, Ning?"

"Kamu akan tahu setelah membukanya. Ingat ya, jangan menyalahkan diri sendiri. Semua sudah menjadi garisan takdir yang harus dilalui. Aku pulang, ya, besok kita ketemu," pamit Ningsih

Setelah Ningsih pulang, aku segera masuk rumah, tutup pintu dan tak lupa untuk menguncinya, kemudian aku duduk disebuah kursi. Perlahan kubuka amplop putih itu, ternyata isinya sebuah surat yang di tulis ayah. Dengan seksama kubaca kata demi kata yang tertulis dalam surat itu.

Teruntuk putri shalihah ayah, Nirmala

Assalamualaikum
Apa kabar kamu hari ini, Nak? Semoga Allah selalu memberikan kesehatan untuk kamu. Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup ya sayang.

Jangan terlalu sibuk bekerja hingga melupakan tubuh sendiri. Tadi ayah coba telpon kamu tapi tak ada jawaban, sepertinya kamu sedang sibuk bekerja.

Ayah ingin minta maaf, selama ini ayah belum bisa menjadi ayah yang baik untuk kamu. Ayah belum mampu memenuhi segala kebutuhan kamu, hingga kamu harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhanmu sendiri, juga kebutuhan ayah.

Terima kasih, kamu selalu tegar dan berjuang bersama ayah. Ayah bangga sama kamu, Nak. Kamu mandiri, juga pekerja keras.

Tetaplah untuk selalu menjadi putri shalihah ayah dan ibu. Tetaplah rendah hati, jangan terlalu berambisi dan terobsesi akan dunia saja, Nak.

Bukan tak boleh mengejar dunia, hanya saja kejarlah juga akhirat. Kelak, dunia juga akan membersamainya.

Pada akhirnya setiap insan akan kembali menghadap-Nya, maka persiapkan bekal. Jangan lupakan akhirat, ya, Nak.

Jaga kesehatan, semoga Allah memberikan kelancaran dalam segala hal, serta semoga kamu selalu dalam lindungan Allah swt.

Ayah rasa sudah cukup tulisan ayah kali ini. Nanti ayah akan tulis surat lagi. Eh, tapi jika kamu punya waktu ayah ingin ucapkan semua ini secara langsung. Semoga Allah mengizinkan.

Wassalamu'alaikum

Ayah

Tak terasa air mata ini kembali menerobos memaksa keluar. Semakin bertambah rasa bersalah ini. Kilasan memori kebersamaan dengan ayah pun berputar kembali di pikiranku.

Air mata ini tetap mengalir, enggan untuk berhenti. Tak henti-hentinya kuucapkan istighfar, memohon ampunan-Nya serta meminta ketenangan hati.

Kembali aku teringat perkataan Ningsih, bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.

"Ya Allah ... mohon lapangkan hati ini untuk menerima segala yang telah engkau gariskan dalam takdir hamba. Mohon maafkan atas segala kesalahan, dan perbuatan yang telah menyakiti hati ayah," ucapku berdoa.

*** Tiga bulan yang lalu***

Pagi yang cerah menyambutku hari ini, mentari tersenyum dengan manis dan langit memberikan warna indahnya, menjadikan siapapun yang melihatnya akan terpesona.

Hariku sama seperti hari-hari sebelumnya. Setiap pagi menyiapkan sarapan untuk ayah. Karena sarapan sangatlah penting, kuusahakan untuk selalu membuat sarapan setiap hari.

Tinggal disebuah desa kecil yang mayoritas penduduknya bercocok tanam, menjadikan keluargaku tidak pernah jauh dari hasil alam.

Kami hidup dari hasil tumbuh-tumbuhan yang ditanam. Ayah menggarap sawah milik salah satu warga sini, biasanya keuntungannya nanti dibagi hasil, sama rata antara pemilik tanah dan penggarap.

Untuk sarapan pagi ini aku buatkan singkong goreng ditemani teh manis hangat. Perpaduan yang pas dari keduanya.

Sarapan sudah tersaji di sebuah meja, tempat biasa kami menghabiskan sarapan bersama. Kupanggil ayah dan kami menikmati sarapan.

Setelah sarapan, kucoba kembali untuk mengajukan pertanyaan yang belum ayah setujui. Berharap, akan ada jawaban dan persetujuan dari ayah.

"Ayah, bagaimana jawaban atas pertanyaan Nirmala tempo hari?"

Ayah terdiam, sejenak seperti memilih kalimat yang tidak akan melukai hati anaknya.

Ayah menarik nafas dalam seolah ini adalah pilihan yang sulit, tapi harus dilakukan. "Apa kamu yakin, dengan pilihanmu itu?" Ayah bertanya kembali.

"Iya, Yah, Nirmala yakin. Dengan Nirmala pergi ke kota dan bekerja di sana, Nirmala akan mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan kita, dan ayah tak perlu bekerja lagi."

"Ayah masih mampu untuk memenuhi segala kebutuhan kita, Nak. Tak apa ayah bekerja membanting tulang, karena memang sudah menjadi kewajiban seorang ayah untuk membiayai segala keperluan anaknya."

"Sekali ini aja, Yah. Tolong izinkan Nirmala untuk berbakti pada ayah. Nirmala ingin seperti orang-orang yang mampu membelikan segala sesuatu untuk ayahnya."

"Kamu masih bisa bekerja di sini, Nak. Tak perlu pergi ke kota." jawaban ayah masih sama.

"Tiga bulan saja, Yah, tolong restui Nirmala. Setelah itu Nirmala akan kembali pulang," pintaku lagi.

"Yasudah, Ayah izinkan kamu untuk pergi merantau hanya tiga bulan, ya, dan jangan putus komunikasi. Sering telpon Ayah," pinta ayah.

"Siap bos, ucapku bersemangat." Aku langsung memeluk ayah.

"Terima kasih Ayah sudah mengizinkan Nirmala," ucapku lagi.

Dalam pelukannya, kurasakan Ayah menganggukan kepala. Aku tahu dan paham, ini adalah keputusan yang sulit. Namun harus kulakukan.

Tak terasa dua bulan berlalu dengan cepat. Sebulan pertama aku sering menghubungi ayah dan diakhir percakapan kami ayah selalu bilang cepat pulang.

Sebulan terakhir ini aku disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang menjadi tanggungjawabku.

Berkali-kali telpon dari ayah kuabaikan. Bukan bermaksud mengabaikan, tapi waktuku habis dengan kerjaan. Kupikir kembali, biarlah kutabung rindu ini sebentar lagi, aku akan kembali pulang. Aku harus fokus dengan apa yang kukerjakan.

Dan tepat saat aku bergegas untuk pulang, aku dapat kabar bahwa ayah sudah wafat dan warga menunggu kehadiranku untuk mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Duniaku hancur, yang menjadi tujuanku telah pergi dan tak akan pernah  kembali. Sayap yang kumiliki patah dan tak mungkin akan tumbuh lagi.

Dengan langkah gontai, kupaksakan kaki ini melangkah dan mencari kendaraan untuk menemui ayah untuk yang terakhir kalinya.

***

Ningsih terkejut melihat penampilanku. Bagaimana tidak, dengan wajah yang kusut, mata bengkak dan baju acak-acakan serta jilbab yang digunakan untuk menutupi kepala kupakai dengan asal-asalan.

"Kamu tahu, betapa kacaunya penampilanmu?" pertanyaan pertama yang diajukannya saat kubuka pintu.

Kuanggukan kepala sebagai jawabannya, dan aku tidak peduli seburuk apa penampilanku hari ini.

"Duduklah, Nir. Biar kuberi tahu," perintah Ningsih.

Aku menurut dan duduk dengan kutundukan kepalaku menatap lantai. Tak lama dia mengangkat daguku agar sejajar dengan wajahnya. Kini tatapan mata kami saling berpandangan.

"Aku tahu kamu sedih dan merasa kehilangan ayahmu, tapi kamu gak boleh seperti ini, kasihan ayahmu nanti, Nir. Ikhlaskan, terima semua ketentuannya dan perbaiki kesalahan yang pernah kau perbuat dulu.
Jangan merasa sendiri, ada aku di sini. Bukankah kita bersahabat?"

"Aku tahu, bahkan hingga air mataku habis pun tak akan mengembalikan ayah ke dunia ini. Aku hanya malu, aku merasa berdosa atas apa yang kulakukan selama ini.
Aku begitu menyakiti hati ayah, mengabaikan semua panggilan telpon darinya dengan alasan sibuk dengan pekerjaanku. Aku terobsesi dengan apa yang ingin dicapai dan berdalih untuk membahagiakan Ayah, tapi nyatanya menorehkan luka. Apa yang harus kulakukan untuk memperbaikinya, Ning?" air mataku jatuh kembali

"Cukup kau do'akan ibu dan ayahmu serta minta ampunan pada Allah swt. Jangan putus untuk selalu mendoakan beliau, ya. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya, jangan lakukan kesalahan yang sama di masa depan," ucap Ningsih panjang lebar.

"Kamu anak shalihah, aku yakin ibu dan ayahmu bangga," sambungnya lagi.

Aku memeluk erat Ningsih, bersyukur Allah telah menjadikan Ningsih sebagai sahabat yang selalu ada menemaniku.

Aku harus fokus dan syukuri apa yang saat ini masih ku miliki. Tanpa bermaksud melupakan apa yang telah pergi, tapi mengikhlaskan apa yang telah terjadi itu lebih baik.

Tak akan ku sia-siakan dia, dari kejadian ini aku mengerti bahwa setiap insan pada akhirnya akan berhenti di ujung jalan yang telah di tentukan Sang Pencipta.

Yang harus selalu kuingat, bahwa segala yang ada di dunia ini tak ada yang abadi. Termasuk jiwa pun akan meninggalkan raganya.

Dulu, aku lupa bahwa hidup akan berakhir dan bermuara pada-Nya. Berakhir di ujung jalan kehidupan di dunia ini, yang biasa disebut dengan kematian.

Perjalanan setiap insan berbeda-beda, tapi satu hal yang harus dilakukan adalah pergunakan waktu dalam perjalanan ini dengan sebaik-baiknya.

_ Selesai _

penuliskece2019

Hai teman-teman, DUJ merupakan cerpen pertama yang saya publish. Vote dan komen yuk, jangan lupa follow akun saya juga yah Winda1024. Maaf maaf bila menemukan typo dan penggunaan tanda baca kurang tepat bertebaran dimana-mana, harap dimaklumi. Hehe
Kritik dan sarannya di tunggu ya
🙏🏻🙏🏻

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro