Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Tujuh

"Tunggu."

Dhormy terdiam. Terlebih tarikan pada tudung jaketnya belum juga terlepas. Mentari bergegak maju, beberapa saat setelah melepaskan tangannya pada tudung jaket Dhormy. Dengan wajah yang memerah karena tangis, Mentari kini berdiri tegap di hadapan Dhormy.

"Terima kasih."

Senyum simpul Dhormy terangkat. Entah dari dorongan siapa, Dhormy tersenyum. Pertama kalinya pada orang yang baru saja ia kenal. Agaknya Dhormy sedikit tertarik dengan gadis di depannya ini.

"Ini balas budi gue. Sekarang, impas." Pemuda bertubuh jangkung itu berlalu dari hadapan Mentari.

Mentari di tempatnya tersenyum mengantarkan kepergian Dhormy. Dalam hati, ia merasa teramat senang. Sudah lama ia ingin berinteraksi dengan cowok itu. Ia tertarik padanya saat beberapa kali tak sengaja bertemu. Jika dulu Mentari hanya bisa melihat dari jauh sosok Dhormy, kini ia dapat melihatnya dari jarak dekat. Meski tak sedekat nadi.

Meski begitu, dalam hatinya Mentari masih menyangkal jika ia jatuh cinta pada pemuda putih pucat karena alerginya itu. Mentari berpikir bahwa ini hanyalah sebuah rasa tertarik saja. Bukan jatuh hati. Ia tertarik pada Dhormy karena nasib mereka yang serupa. Ya, hanya itu tidak lebih.

Bergegas Mentari kembali masuk ke dalam toilet, membersihkan wajahnya agar terlihat lebih segar. Seketika ia melupakan semua yang terjadi padanya beberapa saat yang lalu. Hanya karena Dhormy. Mengingatnya saja membuat Mentari kembali tersenyum.

Benar katanya dulu. Dhormy bukanlah cowok angkuh seperti yang teman-temannya bilang. Ia mungkin terlihat angkuh karena ingin melindungi dirinya sendiri. Cowok itu baik, teramat baik. Dan Mentari masih berusaha mendekatinya, membuat Dhormy berteman dengannya. Karena hanya satu keinginan Mentari saat ini. Ia ingin Dhormy menjadi temannya. Hanya itu.

.

Dhormy sendiri terkejut begitu mengingat kembali apa yang telah ia lakukan hari ini. Membantu seseorang? Bahkan Dhormy tak percaya ia telah melakukannya. Berbekal nekat, hanya itu yang ia lakukan tadi. Terlebih, hatinya entah mengapa ingin sekali membantu Mentari begitu melihatnya ketakutan dan wajah penuh air mata seperti tadi. Dhormy hanya ingin membalas budi akan kebaikan cewek itu tempo lalu. Tapi entah kenapa hatinya malah berkata sebaliknya.

Cowok itu merasa bahwa ada sesuatu yang terjadi padanya, tapi ia tak tahu apa. Dhormy terhenyak begitu mendengar suara bel pulang. Ia memilih untuk pulang paling terakhir. Tak ingin mendapatkan tatapan mengerikan dari banyak orang. Lagi pula, Theo sudah biasa menunggunya. Berbeda jika sang ayah yang menjemput, mau tak mau Dhormy harus lebih bergegas dan berusaha mengabaikan tatapan aneh dari orang-orang.

Dhormy segera memakai sarung tangan yang akhirnya kembali ia kenakan setelah dua minggu lamanya enggan memakai. Jika bukan karena ibu yang meminta, Dhormy tak pernah mau memakainya.

Bagi cowok itu, mengenakan masker serta jaket tebal saja sudah terlihat aneh. Apalagi jika harus memakai sarung tangan serta payung. Ia lebih terlihat aneh atau bahkan seperti orang yang kurang waras.

Melihat sekolahnya mulai sepi, Dhormy melangkah pelan. Melongok ke kanan dan kiri, mencaritahu apakah masih ada Toni atau tidak. Karena mau dibilang Dhormy berani pun, tetap saja ia terlihat lemah di mata Toni. Tak ada apa-apanya.

Setelah merasa semuanya aman, Dhormy melangkah dengan wajah tertunduk. Beberapa siswa yang masih ada di sekolah pun memperhatikannya. Sebagian ada yang mengatainya diam-diam, sebagian lagi ada yang acuh tak acuh. Dhormy bersyukur, setidaknya hari ini, ia tak mendapat perlakuan khusus dari siapapun kecuali satu. Kata-kata menyakitkan itu tetap saja ada. Tak akan pernah hilang.

Helaan napas lega menyambut begitu Dhormy sampai di halte yang kini sepi. Ia sedang menunggu kakaknya yang katanya menunggu tak jauh dari tempatnya berada. Tepat ketika Dhormy hendak duduk, seseorang mengagetkannya dengan menjulurkan sebuah cokelat.

"Buat kamu," katanya.

Dhormy mendongak. Matanya sedikit melebar begitu melihat mentari ada di depannya. Menjulurkan tangan yang sedang memegang cokelat merek terkenal serta dengan senyum yang lumayan terlihat manis. Apalagi dengan kacamata tebal di matanya. Dharma merasa gadis itu semakin terlihat manis saat mengenakan kacamatanya. Bukan seperti tadi, wajah tanpa kacamata bersimbah air mata.

"Gue nggak suka cokelat. Sorry."

Terlihat gadis di depannya ini sedikit kecewa. Namun tak juga menampilkan wajah sedihnya. Mentari masih setia dengan senyum andalannya.

"Oke, kalau begitu aku makan sendiri. Dan kamu temani."

Dhormy sebenarnya ingin menolak tapi Mentari terlanjur duduk di sampingnya dan segera membuka bungkus cokelatnya.

"Kata orang, cokelat itu mampu meredam kesedihan. Makanya aku bawain kamu cokelat." Dhormy diam saja. Ia tak tahu hendak merespon Mentari seperti apa, karena jujur Dhormy baru kali ini berdekatan dengan lawan jenis selain ibu dan adiknya. Bahkan ketika kerja kelompok pun, Dhormy memilih menjauh.

"Kok diem aja sih? Kamu mau juga? Atau mau nyobain?" Dhormy menggeleng. Ia merasa geli mendengar seorang gadis berbicara aku-kamu padanya.

"Kamu risih, ya? Oke. Aku diem." Mentari akhirnya diam. Dhormy tak menyangka akan hal itu. Ia sebenarnya ingin cepat pergi saja. Karena berhadapan dengan Mentari membuatnya merasa aneh, lebih ke gugup.

Dasar payah.

Dhormy menggeleng begitu mulutnya tak sengaja mengucapkan kata-kata menyakitkan itu. Untung saja Mentari sepertinya tidak begitu memperhatikan. Dhormy jadi tak perlu menahan malu.

Hening menyapa kedua anak Adam ini. Hingga mata Dhormy melihat mobil yang sangat ia kenal, maju perlahan dan akhirnya sampai di depannya. Seketika embusan napas lega Dhormy keluar begitu tahu jika itu mobil kakaknya. Akhirnya, Dhormy bisa terbebas dengan belenggu aneh ini.

Sedangkan Mentari terdiam setelah memakan habis cokelatnya. Lumayan, berarti ia tak bersikap mubadzir. Matanya memicing saat sebuah mobil melaju perlahan dan akhirnya berhenti di depan mereka. Membuat Mentari bertanya-tanya sejenak sebelum akhirnya menemukan jawaban.

"Jemputan kamu?" Dhormy di sampingnya mengangguk.

Kebetulan sekali pada saat itu, ojek online yang Mentari pesan datang. Akhirnya, mereka beranjak bersamaan. Dhormy sengaja mempercepat jalannya dan memasuki mobil tanpa sepatah kata pun. Sedangkan Mentari masih sempat-sempatnya melambaikan tangan padanya. Sungguh Dhormy malu setengah mati. Apalagi sekarang kakaknya sedang tersenyum jahil padanya.

"Lo punya pacar?"

"Nggak!" jawab Dhormy cepat.

"Kalau bukan pacar, cewek itu siapa, dong?"

Dhormy terdiam, sedangkan otaknya tengah berpikir. "Temen."

Theo tepuk tangan dengan bangga. "Gue bilang juga apa. Pada akhirnya lo tetep punya temen. Seenggaknya lo masih jauh lebih beruntung di banding orang-orang yang sama kek lo, tapi mereka nggak punya teman."

Dhormy mengangguk saja. Tak ingin kakaknya semakin lama mengoceh. Ia akan terlambat pulang dan ibu pasti akan kembali mengomel.

"Udah buruan jalan!"

"Galak amat, sih, mentang-mentang udah punya temen."

"Dia bukan temen gue."

"Kalau bukan temen berarti pacar. Tadi aja bilangnya temen, sekarang bukan. Jadi, kalian pacaran nggak, sih?" Theo tersenyum lebar. Menggoda adiknya adalah hal yang paling menyenangkan.

"Sialan."

Bersambung...

170219

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro