Ending
15 Agustus 2016 menjadi hari yang bersejarah bagi seluruh warga Korea setempat. Pasalnya, tepat di tanggal 15 Agustus merupakan perayaan hari kemerdekaan Korea Selatan. Di sepanjang jalan banyak ditemukan lambang bulat merah dengan potongan garis biru di sudut-sudutnya. Tidak hanya di sepanjang jalan, bendera kebangsaan itu berkibar dengan gagah di taman tempat Sehun bersantai sekarang. Masker hitam yang biasa ia gunakan untuk menutupi wajahnya tidak membuat laki-laki itu gerah di cuaca yang terbilang panas ini.
Sehun menatap lurus ke depan, tapi fokus matanya tidak sejalan dengan yang ada di pikirannya sekarang. Matanya menangkap sosok anak perempuan yang sedang berlarian sambil memegang ice cream, sementara pikirannya jauh terpelanting ke satu tahun silam, di saat untuk kedua kalinya ia bertemu seseorang yang mampu membuatnya berdebar seketika.
"Aaaahhh ...."
Anak perempuan yang Sehun lihat tadi menjerit histeris, saat ice creamnya terjatuh di bak pasir. Membuat Sehun berdecik kesal karena pikirannya telah terganggu. Namun, karena perasaan iba ia menghampiri anak kecil tersebut dan berusaha menenangkannya dengan berjanji akan membelikan ice cream yang baru untuknya.
Sehun memutar matanya ke segala penjuru taman, berharap ada seseorang yang bisa mengantarkan anak ini ke keluarganya. Namun, tiba-tiba saja pundak Sehun ditepuk, yang mengakibatkan Sehun menoleh dan terkejut. Bukan, bukan karena sakit atau apa, tapi karena sosok yang ada di hadapannya sekarang bukanlah wajah asing yang tak dikenalnya.
"Yeseul?" Sehun menyipitkan matanya, masih dengan perasaan tidak percaya, laki-laki itu bertanya lagi, "bagaimana Kamu bisa ada di sini?"Yeseul, yang juga sama terkejutnya hanya bisa menampilkan senyum khasnya, senyuman yang berhasil membuat Sehun terpikat hingga sekarang.
"Ini keponakanku," Yeseul menepuk-nepuk anak perempuan yang ice creamnya tadi terjatuh.
"Berhubung ini hari libur, ia mengajakku untuk pergi ke taman dan membeli ice cream."
"Ohh ...." Sehun bingung harus memberi respon apa. Jawaban singkat yang baru saja keluar dari bibirnya menandakan bahwa laki-laki tersebut masih shock dengan kehadiran Yeseul yang tiba-tiba itu.
"Itu ... ice creamku tadi terjatuh." Anak perempuan yang berdiri di tengah-tengah Yeseul dan Sehun berhasil memecah suasana yang hening di antara mereka. Yeseul yang baru saja melihat ada secumpuk ice cream dalam bak pasir, sudah dapat menyimpulkan siapa pemilik ice cream tersebut.
"Kau itu memang ceroboh, So Hye."
"Paman ini berjanji akan membelikanku ice cream lagi." Soh Hye melirik sekilas ke arah Sehun, memperlihatkan wajah memelasnya yang membuat Sehun menahan tawa.
"Oke ... oke ... akan kubeli—"
"Tidak, tidak perlu, kami akan pulang sekarang. Ayo Soh Hye." Sebelum Yeseul sempat menarik tangan So Hye, tangan kanannya telah lebih dulu ditarik oleh Sehun. Gadis itu berbalik dengan tatapan datarnya, "ada apa lagi?"
"Aku kan sudah janji akan membelikan ice cream. Jadi ikut aku, oke?"
Akhirnya mereka bertiga pun pergi ke kedai ice cream yang letaknya tak jauh dari taman. Suasana yang ramai membuat mereka harus menunggu antrian cukup lama. Setelah kurang lebih lima belas menit mengantri, Sehun datang membawakan pesanan ice cream mereka, masing-masing dengan ukuran jumbo.
"Sudah berapa lama kita tidak bertemu?" tanya Sehun membuka percakapan.
"Hmmm... tiga bulan, mungkin?"
"Aku masih penasaran, kenapa pertemuan kita selalu dalam ketidaksengajaan, dan apakah ... apakah Kau masih memendam rasa dengan Kai?"
Yeseul mengangkat kepalanya saat mendengar nama Kai disebut. Namun, gadis itu tidak memberikan jawaban apa pun. Hening. Sedetik. Tiga detik.
"Dan—"
"Aku tidak tahu kenapa kita bertemu dalam keadaan yang seperti ini. Mengenai Kai, kurasa Krystal mampu menambah kebahagiannya. Aku mendukung mereka, asal Kai bahagia."
Bohong. Yeseul memilih diam dan menyimpan perasaanya hanya untuk dirinya sendiri. Walaupun beberapa waktu ini perasaannya kepada Kai semakin berkurang. Perasaannya mulai dipenuhi oleh sosok Oh Sehun.
"Apa aku sama sekali bukan tipe-mu?"
Baik Yeseul maupun So Hye sama-sama terkejut dengan pertanyaan Sehun barusan. Namun, So Hye memilih untuk melanjutkan makannya dibanding mendengar masalah percintaan bibinya.
"Jujur saja ... aku sekarang tidak suka yang namanya berbasa-basi, jadi aku hanya langsung menanyakannya padamu sekali. Apa aku sama sekali tidak punya kesempatan untuk memiliki hatimu?"
Yeseul melepaskan sendoknya dengan spontan saat mendengar itu. Bagaimana mungkin, seorang idol yang diidam-idamkan oleh setiap wanita bisa secara langsung menyatakan perasaan kepada dirinya? Apa kali ini Yeseul sedang bermimpi? Ah, sepertinya tidak. Ini nyata. Member termuda dari boyband EXO duduk di hadapannya dan mengajaknya berkencan.
"Ah, aku harus bagaimana .... "
"Aku —" gadis itu tampak berpikir sejenak. Mungkin ini saat yang tepat bagi Yeseul untuk kembali membuka dan menata hatinya untuk orang yang baru. Lagipula, Sehun itu tipikal orang yang setia menunggu dan menyiapkan segalanya dengan hati-hati. Satu hal lagi, Sehun tidak sama seperti Kai.
"Aku tidak tahu dengan apa yang akan aku katakan, tapi tidak ada salahnya kalau kita mencobanya, kan?" Yeseul menggigit bibir bawahnya saat ia mengatakan kalimat itu. Hal ini membuat pipinya berubah menjadi rona merah karena malu. Ya, seperti perkataanya beberapa bulan lalu, bila memang Sehun adalah tujuannya, maka mereka akan dipertemukan kembali oleh takdir. Seperti sekarang yang terjadi. Mereka bertemu kembali karena takdir.
Sehun diam-diam menyembunyikan perasaan senangnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Dua buah cincin polos berwarna silver tanpa ukiran. Yang satu ia pasangkan ke jari manisnya sendiri. Sementara yang satunya, ia pasangkan ke jari manis milik Yeseul.
"Aku membelinya satu tahun yang silam, beberapa hari setelah kita bertemu. Setiap kali aku ingin memberikannya padamu, ada saja alasan-alasan yang membaut rencanaku tidak pernah berhasil. Namun, sekarang, aku bisa melakukannya meskipun harus menunggu waktu yang cukup lama."
Yeseul merasa tersentuh dengan pengakuan Sehun barusan. Rasa berdebar Jadi, apakah selama ini Sehun jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya?
"Kenapa Kamu masih mau menungguku?"
"Entahlah, bahkan aku sendiri tidak tahu kenapa. Anehnya, tiap kali aku mencoba melupakanmu aku malah semakin mengingatmu dengan lebih jelas. Pertemuan kita yang selalu tidak disengaja itu membuatku yakin bahwa kita sebenarnya dipertemukan oleh takdir."
"Aku mencintaimu Yeseul-ah." Sehun meremas pelan kedua tangan gadisnya. Perasaan haru dan bahagia sekarang mendominasi hatinya. Seseorang yang ia sukai akhirnya mau memberinya kesempatan. Kini, hati Sehun dan bendera kebangsaannya sedang mengalami hal yang sama, sama-sama berkibar di tengah langit Seoul yang cerah.
"Eonni7 ... Oppa8! jangan lakukan adegan dewasa di depan mata polos Sohye!"
FIN
Catatan :
1. Hyung : panggilan kakak laki-laki dari lelaki yang lebih muda
2. Magnae : bungsu
3. Exo L : fanbase Exo
4. Dispatch : media korea
5. Yobboseyo : Hallo atau sapaan ketika awal berbicara di telepon
6. Anniya : tidak
7. Eonni : panggilan kakak perempuan dari perempuan yang lebih muda
8. Oppa : panggilan kakak laki-laki dari perempuan yang lebih muda
Hai Darla! Kami dari kelompok Ir. Soekarno mengucapka selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71. Begitupula selamat Hari Kebebasan Korea Selatan yang ke-71 juga. Yup, Korea dan Indonesia memang berselisih dua hari kemerdekaannya. Hehehehe. By the way. terima kasih telah membaca hasil karya kami. Jangan lupa vote dan komentar ya! Kami tunggu reviunya!
Kelompok Ir. Soekarno FWC
Vinda, Fanny, Ellina, dan Zea.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro