DJV : Bagian 25
Cessa dan Martha sampai di ruangan jurnalistik. Meski dengan memegangi kepalanya yang agak pusing, Martha tetap duduk tenang sembari mendengarkan Cessa bercerita dan mengoceh beberapa hal yang Martha sendiri tak terlalu peduli.
"Lo yang akan menerbitkan berita tentang lomba solo ini kan?" tanya Cessa tiba-tiba langsung beralih topik.
"Iya," jawab Martha singkat.
Cessa tersenyum dan duduk di atas meja sembari melipat kakinya. Bagian ini membuat perasaan Martha tak senang. "Gue pengen lo melakukan sesuatu. Hanya soal kecil doang sih. Tapi, begi gue itu penting."
Untuk beberapa saat, Martha hanya bisa memandang wajah Cessa tanpa ekspresi. Wajahnya yang masih agak pucat itu dihiasi tatapan kosong. "Apa?"
"Gue mendengar banyak isu negatif soal terpilihnya gue."
"Lalu?"
"Gue mau lo menulis sesuatu yang menyatakan kalau gue memang pilihan para dewan guru, bukannya Sena. Gue mau lo menulis sesuatu yang membungkam mulut fans-fans Sena di luar sana. Lagian bukan salah gue kenapa dia ngundurin diri!"
"Bukannya kamu yang menyuruhnya mengundurkan diri?"
Cessa melototkan matanya. Namun kemudian, senyumnya tersungging. "Lo pinter juga ternyata." Gadis itu turun dari meja, menghampiri Martha dan menepuk pipinya dia kali. "Pokonya gue mau hal itu. Lo pasti bisa karena artikel apa pun yang lo tulis selalu berhasil menarik perhatian dan opini anak-anak. Ini juga demi kebaikan sekolah kita 'kan?"
Setelah mengucapkan itu, Cessa tersenyum lagi kemudian ia berbalik meninggalkan Martha yang masih belum menunjukkan mimik wajah bersahabat. Gadis itu berdecak, melepas kacamatanya dan melemparkannya ke dinding. Benda itu hancur.
Sementara itu, di tempat lain. Tristan dan Eve masih belum menemukan cara untuk berdamai dengan keheningan. Eve perlahan masuk dan menutup pintu. Beberapa kali gadis itu terlihat mengembuskan napas berat. Dia menatap Tristan dengan penuh kelembutan. Khas seorang Eve, matanya yang lembut dan satu itu bisa saja memadamkan kobaran api. Layaknya embun yang bisa menghapuskan sisa-sisa malam yang kelam.
"Mungkin kamu benar. Aku pembunuhnya."
Tristan menatap gadis itu datar.
"Tapi, apa kamu yakin aku pembunuhnya? Kamu dapat petunjuk dari mana?" Eve menjeda. "Apa karena aku gampang depresi?"
"Beberapa kali kamu kabur dari rumah sakit 'kan?" tanya Tristan mulai membalas. "Aku dan dokter Ema mungkin nggak tahu ke mana tujuan kamu pas kabur. Setelah mengetahui kabar dari dokter Ema, aku memutuskan untuk mengawasi kamu. Dokter Ema juga menyarankan agar kamu dibawa ke psikiater, tapi aku berusaha mengelak karena aku
percaya kamu akan baik-baik saja. Kamu hanya butuh udara segar di luar sana. Aku menyalahkan diriku sendiri karena belum punya cukup waktu untuk kamu."
"Ya, karena kamu sibuk dengan Martha 'kan?"
"Tolong jangan lari dari konteks yang kita bicarakan, Eve!"
Keduanya menjadi terdiam.
"Aku mencari tahu ke mana kamu pergi dan saat pertama kali keluar secara diam-diam, kamu selalu mengarah ke sekolah. Saat itu Gina ditemukan tewas di dalam kelas. Anehnya lagi, Gina tewas tepat saat dia menginginkan semua foto-fotoku dari Martha. Kedua kalinya saat terulang kamu diam-diam pergi dari rumah sakit, aku melihat dari CCTV kafe yang nggak jauh jaraknya dari sekolah. Sekaligus menjadi kafe yang biasanya menjadi tempat nongkrong kita karena hanya membutuhkan waktu lima belas menit mengendarai mobil. Entah kenapa instingku mengatakan kamu akan ke sana." Wajah pucat Eve menggambarkan betapa paniknya ia. "Kamu berbicara dengan Aliska. Dan tepat malam itu juga Aliska tidak ditemukan."
Setelah memutuskan mengajak Martha untuk menyelidiki kasus, Tristan sudah bergerak lebih dulu. Banyak hal yang ia lakukan sebelum memutuskan mengajak Martha. Lelaki itu mengajak Martha karena murni ingin mendapat informasi penting seputar penyelidikan Elka dan Annisa, tak lupa juga Martha pasti memiliki beberapa informasi yang ia butuhkan. Dan hasilnya memang benar, informasi penting lainnya yang dia dapat adalah berupa note kecil yang dijatuhkan Reno. Bekerjasama dengan Martha memang keputusan Tristan yang tepat.
"Satu hal lagi." Tristan mengembuskan napasnya. "Pembunuh itu selalu mengaitkan pembunuhannya dengan dongeng. Apa itu masih kurang? Kamu mau membuat alibi seperti apalagi, Eve?"
"I-itu masih belum cukup membuktikan aku bersalah, Tris." Eve berkata dengan terbata. "Kamu menyelidiki aku seakan kamu yakin aku pembunuhnya. Kamu jahat, Tris."
Tristan mendengus dan menyukai rambutnya frustasi. Jika Eve telah berderai air mata seperti ini, dia jadi tak yakin apakah kuat berdebat lagi.
Satu hal yang tak diketahui Tristan dan Eve. Di ruangan itu tak hanya ada mereka berdua. Elka terdiam di pintu ruangannya. Gadis itu belum benar-benar keluar dari UKS. Setelah memberi obat kepada Martha, gadis itu masuk ke ruangannya dan menghubungi Annisa. Namun, hasil yang di luar dugaan ia terima.
Di ruangannya, Elka kembali menempelkan ponsel di telinganya. Panggilan masih tersambung dengan Annisa yang menunggu sembari menahan rasa penasaran.
"Annisa, lo ke rooftop sekarang. Kita ketemu di sana."
"Apa nggak bahaya kita ketemu di sana, El?"
"Nggak akan bahaya."
"Tapi, kita di lingkungan sekolah dan kalau membas kasus ini, sepertinya terlalu beresiko."
Elka tersenyum dan berkata dengan tenang. "Ikutin aja omongan gue. Ada hal penting yang harus lo tahu dan kasus ini akan segera berakhir."
Di seberang sana, Annisa terdengar mengembuskan napas berat. "Semua cerita kamu tadi memang luar biasa, El. Tapi, aku belum percaya dengan itu semua. Pengakuan itu nggak terjamin kebenarannya."
"Gue tahu." Elka tersenyum lagi. "Lagian, siapa bilang lo harus percaya dengan pengakuan Jenita yang gue ceritain tadi?"
Setelah mengatakan itu, Elka memutuskan panggilannya. Kemudian di seberang sana, Annisa hanya bisa ternganga memandangi ponselnya. Kebiasaan Elka tak pernah berubah sejak dulu, kebiasaannya yang berbicara penuh misteri. Annisa mengelus dada, berusaha agar tidak mengumpat.
***
Haru duduk sambil menandangi layar laptopnya ditemani segelas kopi dan tentu saja ada Tomi di sana. Tomi memandangi Haru dengan kagum, pemuda ini cocok bekerja di kepolisian. Kemampuannya yang luar biasa dan juga daya tahan tubuhnya yang kuat. Bagaimana tidak, sudah dia hari pemuda itu tak tidur, dia hanya istirahat untuk makan dan mandi, setelahnya akan mengamati layar leptop lagi. Pemuda itu berniat mengecek tiap CCTV jalan yang menunjukkan rute orang misterius yang meneror Elka saat di kediaman Nana.
"Mau tambah kopi lagi?" tanya Tomi.
Haru memandangnya sebentar, kemudian beralih ke gelas kopi. "Boleh." Kopinya hampir habis.
"Kamu bisa tidur barang dua atau tiga jam saja, Ru. Fisik kamu butuh istirahat." Tomi menasihati sembari membuatkan pemuda itu kopi lagi.
"Gue bisa tahan sampai lima hari."
Tomi berdecak, meletakkan gelas kopi di dekat Haru. "Pantesan. Nggak heran tubuhmu bisa sekurus itu."
Haru mengangkat kedua bahunya, menaikkan kacamata dan fokus menonton rekaman CCTV lagi. Kali ini, kerutan di jidatnya terbentuk.
"Ketemu!" serunya dengan semangat menekan tombol pause. Dia menunjukkan gambar di monitor kepada Tomi. "Kita harus ke alamat ini!"
Tomi menatapnya sebentar, kemudian mengangguk. "Setelah kamu tidur minimal dua jam."
***
A.N
Alhamdulillah, bisa update lagi. Deadline tinggal sebentar dongg, hikss. Semoga bisa!!!
Makasih kalian udah stay sampe sejauh ini.
Sulteng, 6 Agustus 2021
Emeliiy
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro