Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

DJV : Bagian 2

Halo, temans.
Aku hanya mau bantuan kalian, ketika sedang membaca dan kalian menemukan kesalahan dalam PUEBI atau typo, tolong ditandai ya. Biar cepat aku revisi.

Gomawo ;)

Happy reading

***

"A-aku baru pertama kali ke ruang ganti tim basket. Ternyata lumayan besar yah." Martha pasti benar-benar sudah gila karena mencoba membuka pembicaraan dengan Tristan.

Respon Tristan yang bahkan tak menoleh sedikit pun, menambah kesan tolol pada Martha. Tristan melangkah menuju lokernya dan tanpa canggung membuka bajunya di hadapan Martha. Gadis itu kontan melototkan matanya dan mematung. Otaknya langsung memerintah untuk berbalik, namun tertahan karena ingatan untuk memenuhi keinginan Gina. Martha menutup mata kuat-kuat, jantungnya memacu dengan cepat.

Gila. Gila. Gila.

Martha pasti sudah gila karena saat ini, gadis itu mengangkat kameranya dan memutuskan untuk memotret pemuda itu.

Martha benar-benar mendapatkannya!

"Ruang permandiannya ada di sebelah sana." Tristan bersuara tanpa menoleh.

Martha mengangguk dengan gugup. "A-aku bisa sendiri." Suaranya canggung diiringi tawa yang jelas dipaksakan.

Tristan terlihat mengganti sepatunya, kemudian bersiap pergi dari sana. "Kalau gitu gue bisa cabut duluan kan?

Martha mengangguk kaku. " I-ya."

Tanpa berkata-kata lagi, Tristan melewatinya. Tetapi, cowok itu bahkan belum sampai di ambang pintu. Tristan memundurkan langkahnya, hingga bersebelahan dengan Martha yang masih menyembunyikan rasa gugupnya.

"Lo punya selera yang bagus."

Tubuh Martha kaku sepenuhnya, gadis itu menahan napas. Seperti tersiram air es, Martha benar-benar membeku. Sementara, selepas mengatakan itu, Tristan berlalu tanpa mengindahkan ekspresi Martha yang terpaku dengan wajah pucat pasi.

Sial. Martha pasti benar-benar tamat kali ini.

***

Martha tidak tahu apa yang biasanya orang lain lakukan ketika stres, ketika merasa tertekan atau ketika merasa tubuhnya terlalu lelah. Yang jelas, bagi Martha semua itu bisa diatasi dengan membaca novel di tengah-tengah perpustakaan sekolahnya yang super besar ini. Salah satu yang Martha sukai dari sekolahnya adalah perpustakaan. Perpustakaan sekolahnya mempunyai dua lantai, lantai pertama diisi dengan buku-buku pelajaran atau pun yang berbau edukasi lainnya, sementara di lantai dua berisi novel-novel, dongeng, antologi, kumpulan puisi, pantun, biografi dan masih banyak lagi.

Martha sangat suka melihat jejeran buku di tiap rak-rak berukuran raksasa yang berdiri kokoh seperti menyatu dengan dinding. Kemudian juga rak yang membentuk sekat dan menciptakan lorong di perpustakaan itu. Martha benar-benar tak pernah bosan meski sekarang adalah tahun keduanya menjadi siswi SMA Garuda. Luar biasa.

Untuk itulah, saat merasa sangat capek dengan segala aktifitasnya hari ini, Martha memutuskan berkunjung ke perpustakaan. Sebelumnya, Martha sudah menerima pesan dari Gina. Tentu saja isinya berupa ancaman dan tagihan. Dasar orang kaya, seenaknya saja memerintah. Martha mengabaikan pesan itu, biar saja Gina yang mencarinya sendiri. Lagian, Gina pasti akan puas dengan hasil kerjanya.

Saat sampai di lantai dua perpustakaan, Martha langsung menuju ke rak yang menyediakan novel. Entah novel terjemahan atau novel lawas, Martha tetap menyukainya. Setelah menemukan novel yang ingin dibacanya, Martha membawa diri ke meja panjang yang berada di tengah lorong rak-rak buku itu.

Namun, sebelum mendudukkan diri di sana. Martha terkejut menemukan seseorang sedang berbaring di bangku panjang yang berada di samping meja. Sebuah buku tiba-tiba saja terjatuh, tampaknya buku itu digunakan untuk menutup wajah orang tersebut.

Saat orang itu bangkit dan mengambil kembali bukunya, Martha langsung mundur. Gadis itu berniat untuk cepat-cepat kabur, namun semesta tak berpihak kepadanya kali ini.

"Hei, lo mau duduk kan?"

Martha memasang senyum aneh. Belum sempat menjawab, matanya lebih tertarik pada buku yang berada di tangan Tristan. Ya, orang itu adalah Tristan.

"Kamu suka membaca dongeng? Em, jadi maksud kamu ada urusan itu ke perpustakaan? Buat baca dongeng?"

Sebelah kening Tristan terangkat. "Apa semua anak jurnalistik punya skil kepo kayak lo?" Martha menyesal sudah bertanya. Tristan kemudian kembali pada posisinya semula, tebakan Martha benar, buku dongeng itu diletakan Tristan ke wajah. "Lo boleh duduk, asal jangan berisik."

"Emangnya ada orang yang berisik di perpus?"

"Ngejawab aja sih lo!" sahut Tristan agak kesal. Pemuda itu bahkan mengangkat buku yang menutupi wajahnya dan melotot pada Martha. "Ribet lo dibilangin!"

Martha akhirnya duduk dalam diam. Tetapi sayang sekali, Martha benar-benar tidak terbiasa dengan suasana hening. Apalagi dia tahu, Tristan tidak benar-benar tidur. Pemuda itu justru sesekali memeriksa handphone, entah untuk apa. Hanya menghidupkan, kemudian mematikannya lagi. Terus seperti itu setiap lima menit.

"Kamu suka baca dongeng?" Tuh kan! Martha tidak tahan. Dia kembali bertanya dan pertanyaannya masih sama seperti di awal. Sungguh soal.

"Hmm." Tetapi kali ini, Tristan menjawabnya.

"Seberapa banyak dongeng yang kamu baca?"

"Cuman dongeng ini doang." Hal itu membuat Martha sedikit memajukan kepalanya dan mengintip judul dongeng itu. "Kumpulan dongeng Grimm bersaudara".

"Dongeng Grimm?"

"Hmm."

"Kamu membacanya ulang-ulang?"

Tristan tidak menjawab, pemuda itu kembali mengecek ponselnya yang kali ini mengeluarkan suara getaran kecil. Posisinya berubah menjadi duduk, tangannya menempelkan benda pipih itu ke telinga, kemudian berbicara dengan lawan bicaranya secara singkat. Martha tidak tahu apa yang terjadi, dia juga tak mungkin bertanya kepada Tristan.

"Baik, saya segera ke sana." Itu adalah ucapan terakhir yang dikatakan Tristan sebelum pergi dari sana. Pemuda itu terlihat buru-buru dan sedikit tersirat rasa cemas di wajahnya.

Buku dongeng itu tertinggal di atas meja. Martha meraihnya, memutuskan untuk mengabaikan novel yang sebelumnya ia pilih, kemudian membuka kumpulan dongeng tersebut.

Martha membacanya.

***

Tristan tergesa-gesa berlari di Koridor rumah sakit. Pemuda itu mengabaikan keringatnya yang membanjir dan juga napas yang mulai tersengal. Langkahnya perlahan melambat, pemuda itu akan segera sampai di ruangan yang akan ia tuju. Terlebih dahulu Tristan mengusap keringatnya dan merapikan kemeja yang berantakan. Tak lupa, pemuda itu juga menyugar rambutnya dan memasang senyum senatural mungkin.

Setelah itu, ia melangkah ke sebuah ruangan dan membuka pintu ruangan itu. Pandangan Tristan langsung bertemu dengan tatapan sayu si pemilik ruangan. Senyum Tristan melebar, gadis berbando pink berwajah pucat itu ikut mengulas senyum.

"Tristan, akhirnya kamu dateng." Seorang suster menyapanya. "Maaf ya menelepon kamu tiba-tiba, tapi Eve ingin bertemu dengan kamu secepatnya. Saya tidak mengagetkan kamu 'kan?"

Tristan menatap perawat itu dengan tatapan maklum. "Nggak apa-apa. Makasih suster."

"Kalau begitu, saya tinggal dulu ya."

Tristan mendekat ke brankar dan mendudukan diri di sisi kasur. Tangannya langsung mengusap kepala gadis yang tengah duduk bersandar itu. "Kangen ya?"

Gadis itu mengangguk, wajahnya menjadi sedikit memelas. Hal itu membuat Tristan sedikit tertawa dan mencubit pipi Eve dengan gemas.

"Gimana sekolahnya?" tanya Eve. Gadis itu memang suka sekali menanyakan perihal sekolah. "Aku kangen sekolah."

"Sabar ya, sebentar lagi kamu pasti sembuh."

Eve mengulas senyum tipis, terlihat memaksakan. Penyakit leukimia yang ia derita sungguh bukan hal sepele yang bisa ia abaikan dan bisa dengan mudah membuat pikirannya tenang. Tristan menyadari raut wajah Eve yang berubah, pemuda itu mengusap pipi Eve. Pandangan keduanya bertemu pada satu titik.

"Sekolah aku lancar, semua orang di sekolah juga merindukan Ratunya." Tristan tertawa dan hal itu menular pada Eve. "Makanya, kamu harus semangat untuk sembuh. Sudah dua bulan, rasanya sekolah kehilangan nyawanya tanpa kamu."

"Kamu semakin mahir. Sudah berapa cewek yang kamu patahkan hatinya selama dua bulan terakhir."

"Aku nggak merasa mematahkan hati satu orang pun."

Eve menyeringai, seperti tak percaya. "Baiklah, aku percaya."

Eve dan Tristan adalah teman dekat. Keduanya saling mengenal sejak kecil, tak ada yang tahu pasti seperti apa spesifik hubungan mereka. Namun, tak banyak yang memercayai hubungan persahabatan keduanya. Banyak yang percaya bahwa sebenarnya Eve dan Tristan sudah bertunangan.

Tristan menyodorkan potongan apel pada Eve. "Ohiya, ada kejadian menganggetkan pagi ini. Mungkin ini akan menjadi kejadian yang tidak pernah dilupakan sepanjang sejarah SMA Garuda."

"Oh, ya?" Eve mengunyah dengan santai.

"Kamu kenal Gina 'kan?"

"Oh, gadis sombong yang omongannya sampah itu?"

Tristan tertawa singkat. "Ya. Gina yang itu. Dia dibunuh."

Eve masih mengunyah dengan santai, gadis itu hanya mengangguk-angguk dan menerima potongan apel dari Tristan tanpa ada reaksi yang berlebihan.

"Eve, kamu denger aku kan? Gina dibunuh."

Eve mengangguk. "Iya aku dengar. Lantas kenapa?"

Tristan terdiam. Lantas kenapa, katanya? Senyum Tristan sedikit dipaksakan. "Ah, ya nggak apa-apa sih."

***

A.n.

Yuk, mulai perhatikan di part-part awal. Soalnya aku suka banget nih, ngasih fakta tersembunyi di awal dan akan dibuka pas akhir. Uhukk.

Btw, aku usahakan selalu update Deja Vu tiap hari jam 8 WITA pagi. Jadi, untuk daerah Jawa berarti jam 7 pagi ya.

Semoga kalian bisa ikut menikmati alurnya. Sampai jumpa besok!

Sulteng, 17 Juni 2021
Emeliiy

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro