Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

DJV : Bagian 14

Malam pementasan berjalan dengan meriah, tanpa ada yang tahu bahwa nyawa seseorang tengah berada di ujung kehancuran. Tak ada yang menyadari betapa mencekamnya suasana di rooftop, tak ada yang menyadari bahwa malam itu ada sosok iblis yang bersemayam di balik rupa yang piawai menyembunyikan taring di antara mereka.

Malam kian larut, namun suasana semakin meriah. Acara pementasan dilanjutkan dengan penampilan band sekolah. Ini menjadi momen yang sangat dinanti-nantikan oleh para siswa.

Personil band SMA Garuda atau yang lebih populer disebut Smagar band ini sangat digemari para siswa. Kedua vokalisnya adalah si kembar yang populer dengan kepiawaian mereka dalam bernyanyi, terutama Sena, adik kembar Cessa. Sena sering disebut si suara emas karena karakter vokalnya yang unik. Gadis itu sebenarnya sudah bergabung dalam eskul cheers, namun atas dasar permohonan para personil lainnya, Sena akhirnya setuju ikut bergabung dengan eskul band sekolah.

"Sumpah ya, suara Sena itu emang menenangkan banget. Pantesan anaknya famous," celetuk Dito. Mereka akhirnya bisa bersantai karena pementasan drama yang berjalan lancar.

"Good looking jangan dilupakan," sambung Gege.

"Tapi, cantikan Cessa kok."

"Tuh kan, keluar juga deh insting buaya!"

"Loh, gue hanya mengatakan yang sebenarnya. Atau mungkin ini penilaian gue doang? Pokonya yang jelas menurut gue, Cessa lebih cantik. Bukan berarti Sena nggak cantik," kata Dito menjelaskan.

"Menurut gue tetap cantikan Sena. Soalnya dia good attitude!

Dito melirik Gege yang mengeluarkan nada sinis itu. " Cantikan lo deh kayaknya."

"Apa sih, lo!" teriak Gege kesal. Memang teriakannya sama sekali tak mengganggu, karena suasana di sekeliling mereka sangat ramai. Banyak siswa yang memilih berdiri lebih dekat ke panggung dan ikut bernyanyi layaknya sedang menghadiri konser band papan atas. "Makin mirip sama buaya tahu nggak lo!"

"Walaupun gue nggak begini juga lo tetap ngatain gue buaya." Suara Dito menjadi serius.

Martha mendesah lelah. "Udahlah. Ayo dong, malam ini jangan marahan dulu. Mending kita santai, menikmati pertunjukkannya. Jangan buang tenaga dengan berdebat."

Nasihat Martha tak diindahkan sama sekali. Dua orang itu masih saling menatap penuh marah.

"Lama-lama gue nikahin juga lo pada!"

Gege tertegun. Gadis itu menatap Martha. "Lo tadi bilang apa?" Gege menahan senyumnya. "Sekarang udah ngomong pake lo-gue?" Gadis itu lalu tertawa.

Martha tampak baru menyadari hal itu, gadis itu melipat bibirnya, sadar sudah terlalu kasar. "Aku capek, Ge. Makanya begitu."

"Aneh juga rasanya denger lo ngomong pake sapaan begitu. Berasa lagi sama orang lain," ujar Dito jujur.

"Lo marah nih ceritanya?"

Martha menatap Gege sebentar, kemudian membentuk senyum kecil di bibirnya lalu menggeleng pelan. "Nggak. Aku nggak marah kok. Aku hanya mau kalian fokus ke pertunjukannya aja, ketimbang harus berdebat seperti tadi."

Martha kemudian fokus ke atas panggung, memilih untuk menikmati pertunjukkan. Kali ini dia akan membiarkan saja Dito dan Gege bertengkar, kalau dipikir lagi keduanya pasti akan terus seperti itu meski sudah diperingatkan berulang-ulang. Sepertinya, Dito dan Gege memang dekat dengan cara bertengkar. Apakah memang persahabatan bisa semenarik itu?

Sementara itu, tak jauh di belakang Martha, tatapan Elka masih belum lepas. Annisa merasa bosan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk beranjak dari kursinya dan ikut dengan beberapa siswi yang mengajaknya bernyanyi bersama. Kebetulan, lagu yang sedang dinyanyikan oleh Cessa dan Sena adalah lagu kesukaannya. Elka membiarkan saja tingkah Annisa itu. Lagi pula, jika dibandingkan dengan anak-anak SMA, mungkin Annisa jauh lebih kekanakan.

Ponsel Elka berdering. Deretan angka tanpa nama muncul di layar pondelnya. Gadis itu mengangkat panggilan tersebut, kemudian menempelkannya ke telinga. Untuk beberapa saat, Elka hanya bisa mendengar suara bising seperti radio kemudian suara mic yang berdenging memekikan telinga. Elka sampai harus sedikit menjauhkan ponsel itu dari telinganya.

"Kamu mencariku?"

Elka membulatkan mata, sekujur tubuhnya merinding. Ternyata suara bising sebelumnya adalah alat pengubah suara. Elka langsung memperhatikan Martha, gadis itu tidak beranjak sama sekali, bahkan sekarang sedang tertawa riang. Dan baru saja gadis itu ditarik paksa bergabung ke rombongan yang sedang ikut bernyanyi di dekat panggung.

Elka salah menduga.

"Ding dong, ding dong!" Suara dari panggilan itu terdengar lagi. Terdengar lambat dan pelan. "Ayo kita uji, suara bel sekolah apakah lebih kuat dari teriakan?" Perkataan itu disertai kekehan. "Ding dong, ding dong."

Panggilan diputuskan. Elka tak bisa menjawab sama sekali, gadis itu mematung, lidahnya kelu.

Annisa menghampirinya. "El, ayolah gabung sini! Seru juga ternyata." Elka tak bergeming. Melihat ekspresi di wajah Elka, gadis berhijab itu akhirnya tahu ada yang tidak beres. "El, kamu kenapa?"

"Ada korban selanjutnya lagi. Ini pembunuhan berantai dengan motif acak."

"Tapi, bagaimana bisa kamu tahu?" tanya Annisa terkejut.

"Kita ketahuan, pembunuhnya sadar kita sedang mencarinya." Elka menatap Annisa serius. "Dia memberi clue pembunuhannya yang menunjukkan sepertinya akan ada yang tewas besok pagi." Terdapat jeda yang agak panjang, sementara Annisa sudah bisa meraba dari mana sumber informasi yang Elka dapatkan. Melihat Elka meremas kuat ponselnya. "Di sekolah ini lagi."

"Astaga." Annisa mengusap mukanya. "Kita harus hubungi Kak Tomi, besok kita harus sama-sama waspada dan mengawasi semua siswa."

Sayangnya, mereka salah.

***

Pagi menjelang, Elka, Annisa dan Tomi sudah berwaspada. Tomi mengawasi dari dalam mobil, ia memperhatikan tiap siswa yang masuk gerbang, memastikan tidak ada orang mencurigakan. Sementara di dalam sekolah, Elka juga berpatroli di koridor untuk memastikan keadaan. Annisa pun demikian. Mereka seperti kehilangan arah, pasalnya mereka tidak bisa meraba teka-teki dari si pembunuh. Seperti misalnya, bagaimana kriteria korbannya, sehingga mereka tak bisa menebak siapa saja yang akan menjadi korban.

Bell pertanda dimulainya jam pelajaran berbunyi. Elka langsung teringat perkataan si pembunuh mengenai bell itu. Jantung Elka berpacu, seperti terburu-buru ia menaiki tiap undakan anak tangga.

Namun, suara jeritan menghentikan pergerakan Elka. Jeritan itu makin kuat, seperti saling sahut. Elka berlari ke menuju tembok yang membatasi teras kelas, menatap dari lantai tiga. Sosok dengan jas hitam mengkilap tergeletak di bawah sana dengan darah yang mulai menggenang. Elka bisa melihat Tomi berlari menuju TKP, kemudian juga ada Annisa yang shock di bawah sana. Suara langkah para siswa menganggu pendengaran Elka, mereka berlari dengan tergesa-gesa turun ke bawah. Elka teringat sesuatu, rooftop.

Gadis itu kemudian berlari menuju ke lantai atas. Ia dengan cepat melawan arus, berlari berlawanan dengan para siswa yang juga seperti terburu-buru ingin melihat kejadian di bawah sana.

Saat Elka akhirnya sampai di tangga yang akan membawanya ke rooftop, gadis itu berhenti sejenak menatap ke atas sana. Tangga yang satu ini lebih curam dari tangga sebelumnya, lorongnya pun lebih gelap karena memang tangga ini jarang digunakan, pegangan tangga yang terbuat dari besi itu mulai berkarat.

Dengan napas berat, Elka melangkahkan kakinya, mengeluarkan pistol dari dalam saku celana bagian depan, kemudian gadis itu memasangkan alat peredam. Elka membuka pintu rooftop, bunyi engsel berkarat sungguh membuat dirinya mengeryit.

Elka langsung menodongkan pistolnya saat melihat sosok yang berdiri di dekat tembok pembatas rooftop.

"Martha?"

Gadis itu menengok. Dia benar-benar Martha. Kenapa gadis itu ada di sini? Belum juga kebingungan Elka terjawab, suara ponsel menganggunya. Deretan angka tanpa nama. Elka memperhatikan Martha yang masih membisu, seperti kebingungan juga.

"Halo." Elka menjawab panggilan.

"Bagaimana, kamu menemukan jawaban? Suara apa yang lebih kuat? Bell sekolah atau teriakan anak-anak sekolah?" Elka kembali mematung. "Ding dong, ding dong. Kamu salah, silakan coba lagi."

Panggilan diputuskan. Elka menatap Martha dengan wajah pias. Gadis itu lantas membanting ponselnya kuat-kuat. Sial, dia kebingungan!

****

A.N

Ding dong, ding dong.
Halo temans, aku nonton di beberapa media covid-19 makin marak di daerah Jawa dan Bali. Buat teman-teman yang ada di sana, tetap stau healty ya. Semangat dan selalu jaga kebersihan kita.

Semoga part kali ini bisa menghibur.

Sulteng, 2 Juli 2021
Emeliiy

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro