DJV : Bagian 10
Elka mendapat laporan dari Tomi bahwa tak ada informasi berarti seputar ponsel Gina, lelaki itu mengaku telah mencari ke rumah Gina dan rumah itu bersih. Sekarang Elka duduk di perpustakaan, menunggu kedatangan seseorang. Namun, tak berselang lama orang yang ditunggu tiba dengan senyum riang.
"Maaf lama," kata Martha sembari duduk dan meletakan bukunya di atas meja. "Aku punya nomor Gina, tapi aku nggak berhasil dapat alamat emailnya. Mungkin ada di arsip tata usaha, aku akan mencarinya lagi."
Elka mengangguk. "Nggak apa-apa, untuk sementara nomor ponsel saja udah cukup. Kita tunggu Annisa dulu."
Martha mengiyakan dengan semangat. Keduanya sedang berada di area perpustakaan yang membolehkan pengunjung membawa makanan, maka tak heran Elka dengan bebas meminum segelas susu pisangnya. Jika kalian ingin tahu, mengapa Martha begitu tiba-tiba ikut membantu pencarian nomor dan alamat email milik Gina? Yap, ini adalah permintaan Martha. Gadis itu ingin dilibatkan dalam penyelidikan ulang kasus pembunuhan yang menewaskan Gina. Biar bagaimana pun, ia merasa kasus ini sangat ganjil. Terlebih lagi, dia adalah orang terakhir yang berkomunikasi dengan Gina, mungkin? Martha tak tahu pasti siapa saja yang berhubungan langsung dengan Gina, hanya saja dia memang sangat ingin memiliki andil.
Apalagi ketika mengetahui identitas Elka dan Annisa, Martha tak henti-hentinya menyimpan kekaguman pada dua perempuan itu. Martha jadi bermimpi akan seperti mereka suatu saat nanti.
"Ya ampun, Annisa. Yang bener aja sih lo!" Lamunan Martha berhenti ketika mendengar seruan tertahan oleh Elka. Martha mengikuti arah pandang Elka dan mendapati Annisa berjalan dengan menenteng berbagai macam jajanan. "Astaga!"
Martha melongo, apalagi saat melihat wajah Annisa yang memasang cengir polos. Gadis berhijab itu duduk dengan ceria, memamerkan seluruh jajanannya yang hampir memenuhi meja bundar di hadapan mereka itu.
"Nggak pernah berubah ya, lo." Elka menekankan suaranya, tersirat nada lelah di sana.
Annisa memasang cengir. "Otak kita butuh suplai yang cukup. Terutama otak kecil aku."
"Yaudah, terserah lo, Nis. Martha ada nomornya, tapi alamat email tetap nggak dapat."
"Aku akan usahakan mencari di arsip tata usaha," sambung Martha cepat.
Annisa mengangguk-angguk sembari mulai mengunyah keripik kentang. "Oke. Untuk sementara itu cukup. Kalau kondisi ponsel itu mati, mungkin agak sulit. Mungkin aku bisa dapat salinan percakapan melalui whatsapp."
"Lalu Kakak bisa melacak apa saja melalui email?" tanya Martha penasaran.
"Seluruh akun media sosial, bahkan akun untuk ponselnya sendiri. Itu artinya, kemungkinan besar aku bisa mengakses log panggilannya."
Tanpa sadar, Martha menggumamkan kata 'wow'. Annisa benar-benar seorang hacker. Sebelumnya, Martha hanya bisa melihat aksi seorang hacker di layar televisi, sekarang ia benar-benar melihatnya di depan mata. Tetapi, memang hacker satu ini agak berbeda dari yang biasa ia nonton di serial film.
"Kita juga harus berusaha mendapatkan ponselnya."
"Untuk itulah, aku akan mulai melacak letak ponsel itu." Annisa mengeluarkan leptop mini yang selalu ia gunakan untuk kegiatan seperti ini.
Sebuah ponsel ia letakan di samping leptop. Kemudian beberapa kabel ia sambunhkan ke ponsel tersebut. Tampaknya ponsel itu adalah sumber jaringan, dan itu tentu saja dirancang khusus oleh Sam.
Annisa membuka sebuah situs yang membawanya ke login aplikasi yang hanya dapat terjangkau dengan link rahasia. Link tersebut dapat berubah secara otomatis ketika ada yang menggunakannya. Lantas, mengapa Annisa bisa begitu mudah mengaksesnya? Tentu saja, karena Annisa lah yang menciptakan aplikasi dengan situs rahasia tersebut.
Annisa menambahkan beberapa deret angka yang tak lain adalah nomor ponsel Gina. Setelah tombol enter ditekan, ratusan tulisan kecil berwarna hijau muncul memenuhi layar monitor yang hitam. Tangan Annisa menari dengan lincah, tak ayal matanya pun ikut bergerak lihai memperhatikan tiap unsur yang muncul di layar monitor.
Bunyi ketikan pada keyboard leptop berhenti, seiring dengan terdengarnya suara Annisa. "Dapat!"
Layar monitor kemudian menampilkan sebuah peta dengan satu titik berwarna merah yang menjadi fokus pada monitor itu.
"Aneh," kata Annisa membuat Elka dan Martha penasaran.
"Maksud lo aneh gimana, Nis? Ini letaknya gimana sih? Lo bisa baca peta hijau-hijau gini? Gue rasa sih gue nggak bego-bego banget, tapi kok gue hanya bisa ngelihat garis hijau memanjang doang sih?"
"Ya, aku hanya bisa memperkecil wilayah pencarian ponselnya sampai di sini. Kita nggak bisa memperkecil wilayahnya secara detail menggunakan maps." Annisa menjelaskan lagi. "Aku membandingkan tiap garis wilayahnya, riwayat keberadaan ponsel ini berpindah-pindah."
Elka dan Martha terdiam, menyimak penjelasan itu dengan penuh konsentrasi.
"Yang lebih aneh lagi, perpindahan letak ponsel itu terjadi beberapa hari belakangan. Itu artinya ponsel Gina berada di tangan seseorang."
Martha sukses merinding. Entah karena takut atau merasa sangat kagum dengan kemampuan Annisa ini. Demi apa pun, ia baru pertama kali melihat hal seluar biasa ini.
"Terus sekarang, ponsel Gina berada di wilayah?" Elka bertanya penasaran.
"Lihat." Annisa kembali menggerakan jarinya di atas keyboard, meminta Elka memperhatikan monitor. "Aku akan menyambungkan server ini ke jaringan satelit yang bisa mengetahui garis wilayah, secara otomatis komputer akan memberikan gambaran wilayah seperti yang ada pada maps."
Suaranya menjadi sangat hening ketika di garis kehijauan itu perlahan muncul beberapa tulisan tempat-tempat tertentu.
Dan pada titik merah yang diyakini sebagai tanda keberadaan ponsel Gina berada tepat pada tulisan SMA Garuda.
"Ponsel Gina ada di sekolah ini?"
Annisa menggeleng. "Bisa saja nggak. Wilayah yang bisa terbaca adalah beberapa tempat saja, coba kita perhatikan ada beberapa nama tempat yang nggak mampu terbaca oleh satelit. Seperti kafe di seberang sekolah ini, rumah sakit yang nggak jauh dari sini, ada mall, dan berbagai tempat yang sebenarnya nggak mungkin terlewatkan."
Annisa terdiam sebentar. "Sekali lagi aku jelaskan, aku hanya mampu memperkecil wilayah keberadaannya sampai di sini. Letak ponsel itu mungkin terlihat di SMA Garuda, namun wilayah sekolah ini juga mencakup beberapa tempat. Untuk itu bisa saja, ponsel Gina berada di tempat lain."
Elka dan Martha kompak bersandar di sandaran kursi. Sementara Annisa masih asik mengunyab keripik kentangnya.
Martha melepas kacamatanya, kemudian memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Elka meremas rambutnya dengan sebelah tangan, mengobrol dengan Annisa memang terkadang harus menggunakan seluruh kemampuan IQ yang dia miliki.
"Sebentar." Elka bersuara ketika ia mengingat sesuatu. "Lo bilang tadi keberadaan ponselnya terbaca pada beberapa tempat 'kan?"
Annisa mengangguk.
"Di mana aja?"
"Aku nggak bisa katakan itu di mana saja. Titik merahnya hanya berpindah tetapi tetap berada di sekitaran SMA Garuda."
"Itu berarti ponsel Gina nggak jauh dari sini."
Kemudian tiba-tiba saja Martha menambahkan, "Atau mungkin saja ponsel itu memang pernah dibawa ke sekolah ini, lalu ke tempat lain lagi seperti rumah sakit, atau di mana pun itu. Seperti yang Kak Annisa katakan, wilayah yang ditunjukan oleh satelit tadi, mencakup wilayah sekolah dan sekitarnya. Ada banyak jadi kita nggak bisa mengira di satu tempat saja. Tetapi, kemungkinan besar ponsel itu pernah dibawa ke sekolah ini. Duhh, serem." Martha bergidik di akhir penjelasannya.
"Tapi siapa?" Elka bergumam, benar-benar tak menemukan bayangan siapa pun untuk dijadikan orang yang pantas diselidiki. "Gue harus segera menyelesaikan profil Gina."
Percakapan tersebut berakhir, tanpa ada yang menyadari bahwa di balik rak buku yang tinggi itu ada Tristan yang sudah lebih dulu datang dan berbaring seperti biasanya. Spot tersebut memang jarang ditempati siswa lain, namun Tristan justru menggunakan itu untuk tidur. Tristan sama sekali tidak menyangka bahwa tidur siangnya akan diganggu dengan hal mencengangkan.
Tristan mengubah posisinya menjadi duduk, ia bersedekap dada. Hal apa yang sedang orang-orang ini lakukan?
***
A.n
Pada ribet nggak sih baca part ini? Aku risetnya juga sulit banget, hiks. Otaknya Annisa sebenarnya nggak bisa nyatu banget dengan aku. Tapi yah, yaudah. Gitu deh. Semoga kalian suka dan semakin merasa dekat dengan penyelidikannya, ya.
Sulteng, 25 Juni 2021
Emeliiy
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro