Bukan Hal Yang Mudah
Segala sesuatu membutuhkan proses, nikmati prosesnya dan maknai perjuangannya.
_Winda_
"Mau sampai kapan begini terus, Risha? Masa usia udah seperempat abad tapi kieu wae." Suara Bi Sumi terdengar ke seluruh ruangan.
"Eh, sabar atuh, Sum. Teh Ida jeung Kang Asep oge biasa wae," ucap salah seorang pamanku, Mang Udin namanya.
Suasana ruangan terasa panas. Bisikan angin pun tak mampu mendinginkannya. Entah karena memang cuaca hari ini yang cukup panas atau memang hati dan pikiran yang menimbulkan rasa panas itu.
Lima orang yang berada dalam ruangan bercat putih itu, duduk di atas kursi panjang berlapiskan busa, cukup empuk dan nyaman saat mendudukinya. Sayangnya, rasa nyaman itu bukanlah menjadi topik pembicaraan bagi ke lima orang tersebut.
"Hapunten, Bi. Risha belum siap membina rumah tangga," ucapku hati-hati, takut menyinggung perasaan Bi Sumi.
Kulirik sekilas wajah bapak. Datar. Seperti biasa, ekspresi yang tak bisa ditebak. Tak mampu menebak apa yang akan beliau katakan ketika melihat ekspresi itu.
Satu hal yang pasti, bapak sedang memikirkan orang yang melakukan kekacauan ini. Siapa lagi kalau bukan aku, Arisha Najma. Bagus, Risha, kali ini alasan apa lagi yang akan kamu katakan.
Tak jauh dari tempat duduk bapak, kulihat ibu. Beliau memberikan seulas senyuman yang menentramkan. Seketika dadaku merasakan sesak, bagaimana bisa beliau tetap memberikan ketenangan lewat senyumannya setelah apa yang aku lakukan.
Tahan, Risha. Jangan nangis!
"Belum jodohnya. Jika memang nanti mereka berjodoh, sekeras apapun salah satunya menolak, Allah akan tetap mempersatukannya." Kali ini ibu yang berbicara.
"Tapi, Teh. Kan mereka udah datang, kalau memang gak siap, ngomonglah dari kemarin-kemarin. Kalau gini, ini mah malu-maluin, Teh." Bi Sumi masih meluapkan kekesalannya.
Terkadang niat baik belum tentu diterima baik pula. Tidak ada salahnya mengenalkan seorang laki-laki dan perempuan yang masih sendiri. Hanya saja, sebagai manusia biasa tidak bisa menuntut keduanya untuk terus melangkah bersama. Tetap ada Allah yang menentukan segalanya.
Aku tahu niat Bi Sumi baik, perhatian sama keponakannya, dan peduli pada perasaan ibu dan bapak. Tapi, kali ini belum waktunya untuk menerima uluran tangan seorang laki-laki.
Semakin menjulang tinggi sebuah pohon, maka semakin besar pula terpaan angin menyapa, sama halnya dengan kehidupan. Semakin dewasa usia seseorang, maka akan diperkenalkan dengan berbagai macam persoalan hidup. Sekarang Risha mengerti arti dari kalimat itu, Bu.
Kukira menjadi dewasa adalah hal yang menyenangkan, di mana bisa hidup enak tanpa perlu memikirkan tugas sekolah yang menumpuk, atau bisa bangun siang tanpa perlu takut akan di hukum oleh guru di sekolah.
Nyatanya realita tak seindah ekspektasi. Andai bisa meminjam mesin waktunya Doraemon, rasanya ingin sekali kembali pada masa kanak-kanak.
Seru sekali saat berucap kata andai. Tapi hidup harus terus berjalan, bahkan ketika merasa kurang menyenangkan sekalipun.
Tetap semangat Risha, tetaplah bersyukur.
Bersambung . . .
.............................................................
Assalamualaikum, teman-teman.
Udah lama gak pulang ke rumah orange ini. Apa kabar?
Kali ini aku ikutan challenge menulis 60 hari bersama teman-teman dari komunitas Istana Peri. Semoga aku mampu melewati dan menikmatinya.
Aku masih pemula, masih tahap belajar juga. Kritik dan sarannya dipersilakan, ya. 😊
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro