Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Obatnya Ryan

"Gue gak butuh apa-apa untuk sembuh dari sakit, cause you are a medicine for all of my pain, Ra. Only you, Cevara.''—Ganesha Haryan Putra.

🌼🌼🌼

Sore itu tribun lapangan basket outdoor penuh dengan teriakan nyaring dari pemilik para gunung kembar, alias kumpulan perempuan.

Ada yang berteriak layaknya orang normal sembari menyebut nama pemain favorit, ada pula jenis seperti orang kerasukan yang berteriak nama pemain lalu meniup terompet yang diakhiri berjoget-joget tanpa rasa malu. Kericuhan yang menambah penat Rara ketika mencoba menikmati aksi para lelaki berlengan seksi yang saling berebut si bundar berkulit oranye di bawah sana.

Tak terhitung, sudah berapa kali dahi Rara berkerut setiap mendengar pujian hiperbola para supporter bucin yang mengidolakan sahabatnya. Si objek tunggal yang menjadi perhatian Rara.

Walau terkadang ia lebih fokus menggerutu dalam hati, menimpali ocehan perempuan berisik di sekitarnya. Seketika ia menyesal menjadi bagian dari kerumuman itu, berdesakkan bersama puluhan atau bahkan ratusan orang hanya demi menonton tanding persahabatan antara jurusan akuntansi dan kedokteran daripada rebahan di kasur nyamannya.

Kalau bukan akibat Ryan yang mengancam mogok bicara seperti saat Rara pulang tanpa menonton latihan rutinnya. Dipastikan gadis berkuncir ekor kuda tersebut juga malas berada di sana.

Mungkin nyalinya patut dipersalahkan sekarang, sebab mogok bicara pada Ryan sama dengan tak akan ada bala bantuan mengerjakan tugas.

''Ryan semangat!!!'' teriak banyak gadis di bagian belakang.

Rara mengernyit memegangi telinga. "Astaga! Dia habis makan toa apa gimana, sih?!'' dongkolnya.

"Mati gue, woi! RYAN PAMER JIDAT ITU!!! ASTAGA MATI GUE KEREN BANGET!!!''

"MATI JUGA GUE, MASA BAJUNYA DIANGKAT-ANGKAT, WOI!!!"

Kedua telapak tangan Rara serempak kembali menutup telinga. Tak lupa, bibir ranum itu ikut menyumpahi kelakuan kurang ajar Ryan yang sengaja tebar pesona.

Memiliki jeda, Ryan menyempatkan mencari keberadaan seseorang. Tangan kekarnya santai menyuar rambut ke belakang agar tak menghalangi pandangan, sebelum beralih menyeka keringat menggunakan bagian bawah kaos basket. Tak sungkan membagikan pemandangan indah berupa jejeran otot kencang perut kotak-kotak kebanggaannya.

Lelaki basah itu menyunggingkan smirk nakal ke arah tribun, begitu netra tajam yang dinaungi sepasang alis tebal berantakannya menangkap sosok yang diharapkan hadir.

Rara dan wajah kesal yang duduk di bagian tengah.

Tepat pada detik berikutnya ia menerima bola. Satu langkah panjang Ryan menghantarkan nilai papan skor di ujung sana berubah tiga point.

Mata Rara spontan terpejam begitu lengkingan semakin gila, tiba sang kapten bertubuh atletis tersebut berhasil mencetak skor sempurna melalui lay up indah yang acap kali dipamerkan.

''Dasar tukang pamer! Gue sumpahin ke sandung baru tau ra—EH!''

Bukan hanya Rara yang memekik kaget. Hal yang sama pun banyak dilakukan pendukung lain, ketika menyaksikan Ryan terguling jatuh karena tersandung kaki lawan.

Gadis itu meringis penuh rasa bersalah, menyesali doa buruknya yang justru dikabulkan.

Perasaan khawatir sempat menyelimuti kegundahan hati Rara, sebelum perlahan memudar karena suara tawa dari arah samping. Seorang gadis berparas manis dalam bingkai wajah oval tengah terkekeh menunjuknya.

''Lo pelawak, ya? Udah disumpahin tapi habis itu panik sendiri waktu doanya terkabul,'' ucap gadis itu menepuk-nepuk pelan bahu Rara seolah mereka adalah teman dekat.

Alis rapi Rara terangkat sebelah, ia menarik diri memberi jarak pada gadis sok akrab yang lancang menyentuhnya.

''Eh, maaf gue kelepasan. Habis lo lucu, sih.''

Kepala cantik Rara hanya mengangguk sekilas, memilih acuh dan kembali memperhatikan Ryan di bawah sana yang sudah balik lari ke sana-sini. 

''Gue Seola. Panggil aja Ola." Tangan berkulit sawo matang terulur di depan Rara. "Kita satu jurusan dan sekelas juga. Tapi kayaknya lo gak kenal gue, deh. Karena tiap hari nempel terus sama Ryan atau gak sama Esa dan Juno. Oiya, gue juga pernah ikut UKM karate, sih. Sempat lihat lo juga yang jadi asisten pelatih di sana.''

Rara membeku sejenak. Gadis yang merupakan atlet karate kebanggaan kampus itu terlalu tertutup dan hanya bersosialisasi sekenanya, jadi jangan heran bila teman sekelas sendiri pun ia tak hafal nama dan cuma mengingat wajah saja.

Itu pun sudah termasuk lumayan bagi orang-orang yang ingin dikenal oleh Rara, karena bisa dibilang gadis itu termasuk idola kampus—sejenis dengan Ryan.

Bukan rahasia lagi mengenai keakraban Rara dan Ryan yang bagai perangko-kertas jika sudah bersama. Banyak yang mengetahui mereka bersahabat, walau tak sedikit pula yang menjodoh-jodohkan.

Namun, hingga detik ini. Harapan itu masih sekedar harapan, terbukti valid lewat sifat playboy brengsek yang sudah menjadi nama tambahan Ryan.

Meski punya kepribadian bertolak belakang, nyatanya mereka memiliki harmoni tersendiri dalam persahabatan.

Tangan Rara membalas jabatan Ola tanpa menyebutkan namanya sendiri. Bertingkah ramah dan mudah bercengkrama pada orang lain jelas bukan kepribadian Rara, kecuali pada anggota keluarga dan teman dekat.

Gadis itu punya trauma tersendiri mengenai hal beramah tamah pada seseorang. Ia tidak ingin mengambil resiko terluka untuk kedua kali, jika sampai mengulangi hal yang sama. Sesuatu yang lambat laun membentuk Rara dengan kepribadian yang sekarang.

Ia tersenyum tipis, menyudahi obrolan singkat Ola yang tak lama disambung bunyi nyaring dari pluit wasit yang menandakan akhir permainan.

Jemari lentik Rara tergerak mengeluarkan ponsel dari tas selempang, memotret separuh wajah atas berlatarbelakang kerumunan yang tengah menyerbu pemain basket. Apalagi kalau bukan aksi bakti sosial kepada pujaan hati, seperti menyodorkan minuman dingin gratis atau handuk bersih harum mewangi, sampai mendadak jadi dayang-dayang pemegang kipas.

Rara tidak akan sanggup tinggal lebih lama, maka itu melampirkan selfie sebagai bukti konkrit atas kehadirannya jika nanti Ryan mengomel.

''Lo balik atau mau jumpain Ryan?'' suara lembut Ola kembali hinggap dalam pendengaran Rara, menarik perhatian gadis yang bersiap mengenyahkan diri.

''Balik. Udah siap juga.''

''Gak samperin Ryan?''

''Enggak.''

''Kenapa?''

Rara menghela napas, sebenarnya ingin segera pergi sebelum Ryan memanggil seperti yang sudah-sudah.

Manusia yang bergelar fakboi profesional itu pasti akan menyerukan Rara untuk meminta bala bantuan agar bisa kabur dari gerombolan perempuan yang berebut mencuri perhatiannya, hal termalas yang akan Rara lakukan.

Memangnya dia apa? Bodyguard Ryan?

Tapi pertanyaan bawel gadis yang mengaku teman sekelas itu terus menghambat acara kaburnya.

"Malas, dia bau ketiak kalau habis main basket.''

Tawa Ola lolos berkat kalimat judes yang didengarnya.

Dari bawah sana, di sela kerumuman gadis-gadis yang malah senang mendatangi saat banjir keringat begini. Ryan memperhatikan seksama interaksi singkat Rara bersama gadis manis yang juga teman sekelasnya.

Laki-laki itu bergerak selembut mungkin menerobos lingkaran sesak yang menghimpit, agak panik melihat punggung sempit Rara mulai menjauh.

''Boleh agak jauhan gak?'' pinta Ryan seramah mungkin, jujur saja ia mulai pengap dikelilingi seperti ini. "Gue bisa mati kalau kalian pepet terus-terusan.''

Kasihan melihat raut kelelahan Ryan, para gadis itu sedikit mengendur. Tentu saja melihat celah lumayan besar membuat akal pikiran Ryan berputar cepat. Ia mengalihkan perhatian dengan menumbalkan duo jagoan anak basket lainnya.

''Wahhh! Esa sama Juno buka baju!'' hebohnya menunjuk dua orang tak tak tau apa-apa yang sedang duduk manja menikmati kipasan dari pacar masing-masing.

Tak menunggu lama, Ryan sedikit menerobos celah tadi. Merampas tasnya dan berlari secepat mungkin menyusul Rara yang hampir mencapai parkiran. Lelaki itu tertawa jahil menatap ke arah belakang, di mana para gadis gemas meneriakki namanya.

''Bodo amat, dah. Ketimbang sama kalian, gue lebih milih bareng Rara,'' gumam Ryan mempercepat lari menghampiri Rara yang belum menyadari kedatangannya.

Namun, bukannya belajar dari pengalaman. Ryan tak bosan mengagetkan Rara dengan menyentuh bahu gadis itu tanpa bersuara lebih dulu, menghantarkan lengannya terplintir sempurna di belakang punggung dengan posisi tubuh depan menempel pada sisi mobil dekat mereka.

"Sakit, Ra! It's me, Ryan ganteng, argh!''

Mata besar Rara membelo menyadari refleknya yang berlebihan. "Ya ampun, Yan! Maaf,'' ringisnya. ''Lo kagetin gue, sih!''

Gadis melepas kunciannya dan segera mengelus lembut lengan basah Ryan yang masih pura-pura kesakitan. Walau aslinya memang cukup sakit karena menerima plintiran dadakan.

''Lo itu perempuan apa bukan, Ra? Bar-bar poooll!''

''Ya, maaf. Salah lo juga.''

''Oh, minta maaf tapi tetap salahin orang, gitu?''

Rara berdecak. "Iya ... iya maaf,'' tulusnya. ''Maafin gue, ya. Kan gue udah datang nonton lo tuh, tadi.''

Gantian Ryan yang berdecak.

Sepanjang pertandingan, Ryan sering mencuri pandang melihat Rara. Tapi yang ditemuinya hanya wajah cemberut gadis manis itu, meskipun sebenarnya Ryan tetap merasa senang ketika melihatnya.

''Apaan, datang tapi dari tadi gue perhatiin muka lo kayak orang lagi tahan BAB! Bau jamban!''

"Berisik! Yang penting datang!''

Kaki jenjang Rara melangkah pergi. Menulikan telinga dari seruan toa lelaki di belakangnya.

''Eh, siapa yang izinin pergi?'' cegat Ryan melebarkan tangan tepat di depan Rara untuk menghalangi.

Gadis berkuncir itu merotasikan matanya. ''Harus banget minta izin lo?''

''Haruslah!'' tegas Ryan. "Gue ini 'kan imam lo, jadi apa-apa itu— Eh, bocah!''

Lengan kurus berotot padat milik Rara berhasil Ryan cegah sebelum gadis itu melarikan diri lebih jauh.

''Gue belum selesai bicara, Cevara Caraneshya!''

''Oh lo bicara? Gue pikir lagi kentut, habisnya bau!''

Lelaki berahang tegas itu tertawa jenaka mendengarnya nada ketus Rara, satu tangan lain tak tahan untuk tidak menjawil hidung kecil sahabatnya.

''Mulutnya kurang aja, ya. Cium, nih.''

"Najis!'' cuek Rara. ''Udah, gue mau pulang!''

''Gue juga.''

''Yaudah sana!''

"Oke!'' Kunci mobil yang sejak tadi Rara tenteng, kini telah berpindah tangan pada Ryan. ''Gue juga senang bisa pulang sama lo.''

Lelaki jangkung berkulit tan itu melenggang santai memasuki Jazz putih kepunyaan Rara, mengabaikan rentetan protes sang pemilik. Beruntung Ryan sempat menelfon supir untuk menjemput mobilnya, jadi sekarang ia bisa pulang bersama Rara sesuai rencana.

"Oi, naik gak? Atau lo mau nginap di lapangan?'' teriak Ryan diselingi tawa tak berdosa yang melongok dari jendela mobil

Mau tak mau Rara mengalah dengan perasaan dongkol sampai ubun-ubun. Tanpa melirik manusia di sisi kemudi, ia masuk begitu saja. Baru hendak menutup pintu, gadis itu memekik kaget mendapati Ryan yang bertelanjang dada.

Tadinya Ryan berniat menukar seragam basket basahnya dengan kaos sebelum meluncur pulang, tapi langkah Rara lebih cepat dari perkiraan. Hingga gadis polos tapi galak itu harus melihat tubuh shirtless-nya sekarang.

''Ganesha Haryan Putra!''

"Yes, sweet heart? Why? Mau kiss?'' Alis tebal nan rapi Ryan naik turun menggoda.

Bukan mulut Rara yang menjawab, melainkan tampolan dari pinguin berkaca mata di dashboard yang mewakili. Boneka yang menjadi teman Rara ketika mengemudi sendirian. Tokoh utama dari kartun favorit gadis tukang pukul itu.

''Lo, tuh, ya!''

Ryan membentuk tanda peace dengan jari. "Anggap aja latihan, Ra.''

"Latihan apaan!'' Gadis itu memukul lengan Ryan, tepat mengenai luka kecil pada sikut lelaki itu akibat terjatuh ketika bertanding tadi. Rara mendekatkan jarak pandangnya.

"Eh, ini karena jatuh tadi, ya?''

''Hmm ... sakit, Ra,'' lesu Ryan pura-pura kesakitan. "Pasti lo 'kan yang doain gue nyungsep tadi, tuh."

Rara mendelik sekilas yang kemudian buru-buru mencari kotak P3K.

Gadis manis itu telaten membersihkan luka dengan cairan yang Ryan sendiri tak berniat peduli, hanya rasanya sedikit perih ketika bersentuhan dan berakhir terasa dingin. Kemudian Rara kipas menggunakan telapak tangan mungilnya, lalu membubuhkan betadine dan menempelkan plaster bergambar yang Ryan sudah hapal betul berbentuk apa.

"Udah,'' ucap Rara tersenyum tipis. Sesuatu yang cukup mampu memaku pandangan Ryan yang enggan berkedip.

''Pororo lagi?''

"Yup. No Pororo, no life hehe,'' kekeh Rara hendak menutup kotak P3K, kalau saja tak sengaja menangkap memar dekat pelipis Ryan.

''Ini pasti bukan karena jatuh tadi, tapi lo berantem 'kan?!!''

Ryan membuang arah pandang, ia sengaja membesarkan volume radio lalu bergerak-gerak acuh seolah tak pernah mendengar ucapan Rara barusan.

"Ryan!''

''A ... apa?'' linglung Ryan. ''Gue gak berantem!''

''Bohong!''

''Memang! Eh ... i ... itu maksud—'' Ryan memukul bibirnya kesal.

Berbohong pada Rara adalah hal yang sulit untuknya. Jika dengan perempuan lain ia begitu fasih menutupi kebenaran, tapi tidak ketika ia berhadapan pada Rara.

Telunjuk gadis itu menyibak perlahan juntaian rambut yang menutupi bagian pelipis, ada luka terbuka lain yang di sana. Rara meringis membayangkan sesuatu apa yang membuat kepala Ryan sampai mengalami luka.

''Pejantan mana lagi yang ngamuk karena betinanya jalan sama lo?!'' ketus Rara. "Apa gunanya jadi pelakor, sih, Yan!''

"Wets! Gue bukan pelakor, ya.''

''Terus apa? Pebinor? Intinya sama aja, lo jalan sama cewek yang udah punya pasangan!''

"Gue gak pernah rayu mereka, Beb. Ciwi-ciwi emesh itu yang datang ke gue.''

''Terus malah lo tanggapin gitu?!'' balas Rara tak mau kalah sembari membersihkan luka Ryan. "Ini juga kenapa gak langsung diobatin?''

Senyum cerah Ryan terukir.

"Sengaja, biar malaikat cantik di depan gue ini aja yang obatin. Terus ditempelin plaster Pororo."

"Nih, malaikat. Malaikat pencabut nyawa!''

Rara menekan luka Ryan dengan kapas betadine-nya. Suara gaduh itu memenuhi tiap sudut mobil Rara.

"Galaknya, ya Tuhan,'' gumam Ryan. "Tapi lo tau gak, Ra. Kenapa gue jarang berobat untuk sakit apa pun itu.''

"Ya, karena biar gue yang obatin 'kan. Terus lo juga anti ke dokter!''

"Hm ... itu juga,'' kekeh Ryan. ''Tapi alasan sebenarnya, ya, karena cukup ada lo di hidup gue. Itu adalah obat sekaligus vitamin terampuh yang pernah ada.''

Netra gelap itu tertuju lurus menatap Rara yang mendadak kaku. Walau mengaku kebal dengan gombal-gembel Ryan, nyatanya ia masih suka mati kutu di beberapa kesempatan.

"Only you, Cevara.'' Gigi kelinci menggemaskan Ryan terpampang jelas dalam bingkai cengirannya.

Ada jeda yang mendadak menyelimuti, hingga akhirnya Rara berhasil menguasai diri kembali.

Tiap lontaran manis yang keluar dari mulut Ryan itu bagai bisa ular mematikan jika Rara tak pandai-pandai menata hati.

Gadis itu menghirup napas perlahan, menetralkan degup jantung yang masih berpesta. Sorot jutek Rara menghunus Ryan yang tampak santai setelah memporakporandakan perasaannya.

''Dasar ampas.''

''Love you too, Beb.''

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Hai readers, apa kabar hari ini? Semoga sehat selalu, jangan lupa vote dan komen yak^^
Ayo kita chat-chot di kolom komentar hehe.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro