Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Ini adalah pilihan

Jika berada di dekat lelaki yang dicintai adalah sebuah kesalahan. Biarlah ia yang menanggung sebab akibat dari pilihannya.

🌼🌼🌼

Minggu adalah hari kemalasan nasional bagi banyak orang, tak terkecuali untuk sebagian penghuni rumah keluarga Anggara. Baru 3 dari 6 orang yang tersadar dalam buaian alam mimpi.

Baik Deva yang biasa rajin saja, sekarang masih menjelma sebagai kebo ganteng. Justru Aldo yang sehari-hari suka bangun telat, kini telah berkutat dengan koran di gazebo belakang.

Menyaksikan kejanggalan fenomena tersebut, Rara sempat berpikir konyol kalau jiwa Aldo dan Deva salah memasuki tubuh.

Gadis manis berpakaian trainning lengkap itu terpaku menatap Aldo dari kejauhan. Niat awal ingin pemasanan sebelum jogging keliling komplek gagal total, ketika mendengar sapaan abang pertamanya tadi.

"Tutup mulutnya, Non. Segitu kagetnya," kekeh Bi Inem. Wanita berumur setengah abad itu menoel jahil dagu Rara agar mengatupkan rahang.

"I...itu?"

"Yang itu belum seberapa aneh, Non." Bi Inem menarik Rara menuju ruang tv. Seonggok kaki entah milik siapa, menjulur keluar melewati bahu sofa. "Mas Ryan dari tadi malam udah datang, terus malah tidur di situ."

Sontak mata indah Rara membelo kaget. "Terus kenapa aku baru tau?"

"Kan, Non Rara udah tidur dari sore. Malamnya Mas Ryan datang."

Kedua alis Rara menungkik bingung. Jin gabut mana yang telah merasuki Ryan, karena buaya darat yang selalu sibuk di malam minggu itu justru menyambangi rumahnya. Kalaupun sampai menginap, pasti tak jauh-jauh dari ajakan battle war game bersama adik bontonya.

Malas menerka-nerka, gadis itu segera pamit pergi jogging. Aktivitas sehat yang kerap dilakukannya pada Minggu pagi, sebelum nanti lanjut latihan rutin ke dojo.

Lima belas menit pemanasan di teras rumah, Rara segera mengayun lari kecilnya mengelilingi komplek. Tak sadar bila beberapa orang telah menunggu kehadirannya.

Salah satu dari mereka melirik arloji. "Yakin dia bakal jogging pagi ini?" Seseorang yang bertanya menatap ragu gadis berjaket biru di samping jok kemudi. Sebab gumpalan awan kelabu di atas sana sangat pantas dijadikan makhluk bumi sebagai alasan mager a.k.a malas gerak sewaktu weekend.

"Hmm... dia cukup konsisten kalau urusan olahraga. Makanya bisa jadi atlit nasional."

Kedua orang itu terus menunggu, hingga targetnya muncul di ujung persimpangan jalan.

"Yaudah, gue ambil posisi dulu. Tapi ingat, Mel! Cuma diserempet, gak lebih," peringatnya.  ''Gue gak mau ambil resiko kita bermasalah sama pihak berwajib.''

Si pengemudi yang tak lain adalah Meldi—mantan yang dendam diputuskan Ryan secara sepihak itu mendengkus malas sebelum mengangguk singkat.

Tak jauh dari sana, Rara bersiap menyebrang menuju taman komplek. Ia bersyukur keadaan yang sepi, karena gadis berkuncir itu suka bingung untuk menyebrang jalanan besar seperti milik perumahannya ini. Dalam prediksinya, ia masih sempat melintas ke sebrang selagi mobil sedan hitam di ujung sana melaju pelan. Namun, perkiraan Rara melenceng begitu kendaraan roda empat itu kian melaju lebih cepat menghampiri. Tubuh jangkungnya sempat berguling dan berakhir menabrak trotoar jalan. Beruntung Rara tak merasakan sakit yang berarti, berkat perlindungan oleh seseorang yang lebih dulu menariknya ke dalam dekapan kokoh.

''Ra? Rara?!'' Seruan khawatir terdengar nyata dalam pendengaran Rara. Namun, beberapa waktu ia hanya diam meresapi kilas peristiwa yang terjadi begitu cepat dan bisa saja berakibat fatal untuk kelangsungan hidupnya.

"Cevara?! Are you okay?'' Seseorang itu cekatan memeriksa keadaan luar gadis yang ditolongnya barusan. Tak ada luka maupun lecet, hanya saja stelan training dan jaket Rara sangat berdebu akibat adegan guling-guling mereka tadi.

Tangan besar sang penolong menepuk pelan pipi Rara yang berhasil menarik kesadaran gadis berwajah syok tersebut.

''Ah ... i'm fine,'' lirih Rara setengah sadar. Kepalanya tertoleh pada belokan jalan yang telah menelan kepergian dari mobil yang nyaris menabraknya. "Maybe, Al.''

''1402 JH,'' terang lelaki bertubuh tinggi di samping Rara. ''Gue sempat lihat plat mobilnya.''

Anggukan kecil menjadi respon Rara dan kembali mengesap teh hangat yang baru saja diantar ibu penjual lontong. Lelaki berkulit putih susu itu menatap serius. Aliando Alvagamada atau yang akrab disapa Al—superman dadakan Rara pagi ini menghela napas lirih. Paham jika gadis yang tengah sarapan bersamanya itu masih kepikiran akan kejadian tadi. Berteman lumayan dekat saat di bangku SMP, membuat Al mengerti kalau insiden itu bukan sekedar kesengajaan belaka. Al tau, dulu pun tak jarang Rara menerima perundungan dari pemuja fanatik Ryan di sekolah. Memang tak secara terang-terang karena takut Rara membalas dengan kemampuan bela dirinya.

"Gue curiga ini ada sangkut pautnya sama pacar-pacar Ry—''

"I know,'' potong Rara. ''But it's okay. I'm fine dan gue minta tolong buat gak cerita hal ini sama siapa pun.''

"Tapi, Ra! Ini udah keterlaluan!'' Suapan lontong di tangan Al kembali turun demi memprotes keputusan Rara. Namun, gadis itu hanya menggeleng singkat, berekspresi seolah baik-baik saja.

"Ra—''

"Udah biasa,'' kekeh Rara samar. ''Percaya, deh. Gue bisa jaga diri sendiri.''

Kejadian serupa sudah sering diterimanya. Bahkan belakangan ini banyak nomor tak dikenal yang mengirim pesan berisi ancaman dan caci maki yang menyakitkan kalau saja Rara tipe gadis bermental baperan. Semua kebencian mereka, ia simpan sendirian. Selain tak ingin menimbulkan kekhawatiran ketiga saudara posesifnya, Rara juga malas bila Ryan merasa bersalah seperti waktu dulu. Ia tak suka menjadi alasan orang-orang terdekatnya khawatir dan merasa bersalah. Karena para manusia sampah yang mengusiknya tak layak mendapatkan senyum puas saat melihat Rara menjadi lemah.

Jika berada di dekat lelaki yang dicintai adalah sebuah kesalahan. Biarlah ia yang menanggung sebab akibat dari pilihannya.

Perdebatan kecil antar teman lama itu berakhir dengan Al yang menyerah secara terpaksa. Bagaimana pun ia harus menghormati keputusan yang telah dibuat. Lelaki itu mengantar pulang Rara yang disambut dehaman bernada kurang mengenakkan dari sosok yang menunggu di teras rumah—Ryan.

''Bagus, ya, Ra. Gue sampai nginap di sini buat ketemu lo. Tapi malah ditinggal jogging dan—'' Telunjuk lancang Ryan terarah kesal pada kembaran tiang menara sutet yang berdiri menjulang di samping Rara. ''Perginya sama dia?!''

Lain Al yang terkekeh, lain pula Rara yang merotasikan kedua bola matanya. Mulut cerewet Ryan di pagi hari bukanlah sesuatu yang menarik untuk didengar.

"Yaudah, Ra. Gue pamit balik, ya.''

''Balik sana lo! Kalau bisa jangan datang-datang lagi!'' seru Ryan penuh emosi. Matanya melotot garang mengantar kepergian ketua BEM kampus sekaligus mantan ketua Osis di jaman SMP-nya itu.

Bibir seksi lelaki itu baru akan mengomeli Rara, kalau saja tak sadar jika sosok jangkung Al masuk ke dalam rumah sebrang dari tempat tinggal sahabatnya. Melihat Ryan yang sibuk sendiri, Rara memilih masuk.

"Itu apa?! Kalian tetanggan? Seriously?'' cecar Ryan menyusul. "Dan lo gak ada cerita apa pun?''

Deva yang berada di pantry dapur menoleh heran menonton kedatangan Rara bersama rentetan panjang lebar Ryan yang mengekor di belakang.

''Morning, Abang.''

Senyum Deva ikut mengembang disertai balasan sapaan adik perempuannya. "Morning sweet heart, mau sarapan? Biar Abang ambilin?''

"No, thanks. Tadi udah sarapan di luar sama Al.''

''Nah itu! Al! Aliando Alvagamada! Sejak kapan manusia jelmaan tiang sutet itu tinggal di depan rumah kalian? Dan Rara gak cerita sama sekali! Kebetulan apa sengaja buat dekatin lo lagi?'' Dada berotot Ryan naik turun menyuarakan pertanyaan berulangnya.

Kedua abang beradik itu saling bertatapan yang kemudian Deva tanggapi. ''Memang adek gue harus laporan 24 jam full sama lo?''

"Bukan gitu, Bang!''

''Terus gimana?''

''Di kampus, Al itu banyak gebetannya. Gak baik kalau Rara dekat sama dia.''

''Ooh...gitu. Berarti lo juga gak boleh dekat-dekat sama Rara, dong? Gebetan lo 'kan berkali lipat lebih banyak,'' ceplos Aldo yang ikut bergabung bersama Deva dan Rara.

Ketiga saudara itu tak kuasa menahan gelak tawa mereka saat Ryan terlihat kebingungan sendiri untuk membalas apa. Ryan memilih diam dengan bara api yang masih menyala dalam perasaannya. Fakta Al pernah menjadi lelaki yang menarik perhatian Rara, kini mengusik batin Ryan. Bagaimana jika kedekatan gadisnya dengan mantan pujaan hati semakin intens dan Al akan mengambil Rara darinya.

Lamunan singkat Ryan terputus begitu mendengar Rara pamit bersiap untuk pergi latihan karate.

"Gue antar, Ra. Sekalian pulang,'' tawar Ryan. Namun, gelengan singkat Rara yang menjadi jawaban sebelum lanjut menaiki tangga menuju kamarnya.

''Lho, what happen kunaon, Beb? Akang teh mau antar kamu!''

Aldo mendengus geli mendengar seruan gombal manusia gembel bernama Ryan. "Bacot, Yan. Bokap gue yang mau antar anak gadisnya latihan.''

"Sana lo izin ambil alih kalau berani,'' timpal Deva dingin, mengarahkan dagu pada Anggara yang baru keluar kamar.

Punggung kokoh Ryan berbalik cepat mendapati sosok tegap Anggara. Kalau sudah berhadapan dengan calon mertua, mau tak mau Ryan harus mengalahkan. Lagian duda keren satu itu pasti sangat merindukan putri sematawayangnya.

"Yaudah, deh. Sebagai mantu yang baik, gue pamit balik duluan. Bye, para abang ipar!''

Dojo (場 Dōjō) adalah bangunan tempat pertandingan, latihan, dan belajar untuk semua cabang seni bela diri Jepang.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gimana, nih menurut kalian soal fan fanatik? Serem, ya☹

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro