Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Extra Part 1


Btw banyak yang minta Nurani dan Arfan ada di lapak sendiri. Maaf aku gak bisa ya, takut keteteran, gak akan dibikin panjang juga. Jadi cukup di extra part. Karena masih banyak yg ingin momen manis Sakha Alea, ya ada kisah mereka juga di extra part. Jadi isinya kisah dua pasangan ini. Extra part itu ibarat bonus, udah di luar bab-bab utama, jadi semata untuk menyenangkan pembaca dan menjawab rasa penasaran yang belum terjawab. Jadi gak perlu minta lebih harus di lapak sendiri atau gimana ya. Nikmati apa yang disajikan.

Terus dukung dengan vote & comment, ga susah kok ahhaa.

Sakha dan Alea kembali ke rumah lama mereka. Rumah yang sebelumnya dikontrakkan itu kini kembali mereka tinggali. Ezar begitu bahagia bisa tinggal bersama kedua orang tuanya. Selama ini yang ia tahu bahwa kedua orang tuanya tinggal terpisah karena sang ayah harus mengajar di tempat jauh. Banyak hal yang belum ia mengerti. Terkadang ia bertanya kenapa ia tak seperti teman-temannya yang tinggal seatap dengan kedua orang tuanya dan sering menghabiskan waktu bersama. Kini ia tak lagi merasa berbeda. Ia sama dengan teman-temannya yang bisa berkumpul dengan orang tuanya sepanjang hari.

Sakha tetap mengajar di pesantren meski tawaran untuk kembali mengajar di universitas sering menghampiri. Dia sudah terlanjur mencintai dunia pesantren. Dia tinggal di rumah, bukan di pondok pesantren karena jarak rumah dan pesantren tidak begitu jauh. Ia juga semakin getol menggeluti bisnis jual beli madu dan herbal. Jangkauan pemasarannya sudah meluas ke seluruh Indonesia. Alea tetap mengelola butik dan merancang baju, hanya saja ia lebih baik lagi dalam memanage waktu. Ia tak mau waktunya tersita untuk bekerja. Belajar dari pengalaman masa lalu, ia prioritaskan keluarga.

Kehidupan keluarga kecil itu begitu bahagia. Cinta antara Alea dan Sakha semakin kuat dan tak ada lagi sesuatu yang ditutupi. Keduanya selalu terbuka dalam berkomunikasi dan saling memahami dengan pekerjaan masing-masing.

Sakha tetap menjadi pribadi sederhana, yang setiap pergi mengajar setia dengan motornya kendati ia mampu untuk membeli mobil. Satu mobil Alea sudah cukup menjadi kendaraan yang setia mengantar keluarga itu ke mana pun. Penampilan Sakha pun tetap sederhana dengan baju koko dan peci yang sering menghias kepala. Kesederhanaan Sakha membuat Alea belajar untuk lebih bersahaja dan sederhana meski secara materi mereka hidup berkecukupan. Keduanya tak pernah lupa untuk membantu sesama yang membutuhkan. Sakha masih aktif menyantuni anak-anak yatim semasa masih mengajar di Wonosobo. Bahkan di hari libur, santri-santrinya di Wonosobo kerap menelepon atau video call untuk sekadar menanyakan kabar dan mengatakan bahwa mereka rindu diajar kembali oleh Sakha.

Laki-laki itu juga menjadi lebih kuat dalam membentengi hatinya dari perhatian perempuan non mahram. Ia tak pernah berpikir untuk menduakan Alea. Baginya Alea yang terbaik dan ia tak lagi bisa berpaling. Alea sadar benar sedari dulu banyak perempuan di luar sana yang mengagumi suaminya, tapi ia percaya pada Sakha. Begitu pun jika ada lelaki di luar sana yang memberi perhatian pada Alea, wanita itu tak pernah menggubris. Sakha pun percaya pada sang istri bahwa Alea akan selalu menjaga hati untuknya. Kecemburuan atau cekcok kecil wajar menjadi bumbu rumah tangga, tapi sejauh ini mereka bisa meredam keegoan dan menjaga keutuhan keluarga di atas segalanya.

Hari libur ini, Sakha ingin menghabiskan waktu di rumah saja. Alea juga telah menyerahkan tugas pada asistennya. Zahra masih aktif membantunya tapi tidak bisa sesering dulu karena sekarang ia pun telah menjadi ibu dari seorang putri yang sedang aktif-aktifnya berlari ke sana kemari. Hari ini Alea juga ingin menghabiskan lebih banyak waktu di rumah.

Sakha menemani Ezar mewarnai gambar di ruang tengah, sedang Alea membuat cemilan untuk mereka berdua. Ada stok terong di kulkas, ia olah terong itu menjadi terong crispy. Alea belajar banyak dari ibu mertuanya tentang bagaimana cara mengolah sayur agar bervariasi dan disukai anak-anak.

Foto koleksi pribadi : terong crispy buatan suami

Tiba-tiba pelukan mendarat di perutnya. Kecupan bergerilya di pipi dan lehernya. Alea tersenyum dan melirik Sakha yang juga menatapnya lembut.

"Kamu sukanya gangguin aku masak," senyum merekah di kedua sudut bibir Alea.

"Kamu masak apa, sih?" tanya Sakha masih memeluk pinggang Alea dan menyandarkan dagunya di bahu sang istri.

"Aku bikin terong crispy. Mudah-mudahan kamu dan Ezar suka, ya."

"Apa pun yang kamu masak, aku suka," balas Sakha.

"Kasihan Ezarnya ditinggal sendiri," ucap Alea sembari mengangkat terong yang sudah matang. Ia mematikan api lalu berbalik menghadap sang suami.

Mata itu saling menatap. Rasa saling mengagumi  semakin menguat. Setiap hari layaknya jatuh cinta. Sakha mengecup kening Alea lembut lalu menurun mencumbu bibir Alea yang tak pernah bosan untuk ia pagut. Sakha semakin memperdalam ciumannya tapi seketika panggilan Ezar membuyarkan momen panas yang tengah terbangun.

"Papa...," teriak Ezar dari ruang tengah.

Sakha melepas ciumannya. Alea dan Sakha tertawa. Terkadang Sakha tak bisa mengendalikan diri, lupa pada waktu dan masih ada Ezar yang belum tidur siang.

"Masih ada malam. Kamu suka nggak sabar." Alea mencubit pipi Sakha pelan.

Sakha tertawa kecil dan berbisik lirih di telinga Alea, "Kamu menggoda banget soalnya."

Keduanya tertawa sekali lagi hingga panggilan Ezar yang kedua kali membuat mereka bergegas menuju ruang tengah.

Keluarga kecil itu makan terong crispy dengan lahapnya. Ezar bergantian menyuapkan terong ke mulut mama dan papanya. Ketiganya tertawa bahagia. Sakha bergantian mengusap rambut Ezar dan Alea. Dia sangat bersyukur dengan kehidupan yang ia jalani. Alea dan Ezar adalah hartanya yang paling yang berharga. Ia akan selalu menjaga orang-orang terdekat yang menjadi sebelah sayapnya, separuh jiwanya.

******

Nurani merenung di dapur warungnya. Kandungannya semakin membesar sementara ia masih belum siap menerima ajakan Arfan untuk tinggal bersamanya. Ia merenungi isi kajian yang ia ikuti rutin dua kali seminggu.

“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allâh dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allâh dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allâh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Al-Baqarah/2 : 228].

Ustazah mengatakan bahwa dalam rujuk tidak disyaratkan ada keridhaan dari wanita. Di dalam masa iddah, laki-laki lebih berhak untuk diterima rujuknya meski sang wanita tidak menyukainya. Jika masa iddah telah selesai dan wanita ingin kembali pada mantan suaminya maka harus ada akad nikah baru.

Nurani mengelus perutnya yang semakin buncit. Arfan telah mengatakan dia telah merujuk dirinya. Nurani kembali membaca salah satu artikel perihal rujuk.

Cara untuk rujuk, ialah dengan menyampaikan rujuk kepada istri yang ditalak, atau dengan perbuatan. Rujuk dengan ucapan ini disahkan secara ijma’ oleh para ulama, dan dilakukan dengan lafazh yang sharih (jelas dan gamblang), misalnya dengan ucapan “saya rujuk kembali kepadamu” atau dengan kinayah (sindiran), seperti ucapan “sekarang, engkau sudah seperti dulu”. Kedua ungkapan ini, bila diniatkan untuk rujuk, maka sah. Sebaliknya, bila tanpa diniatkan untuk rujuk, maka tidak sah. Sedangkan rujuk dengan perbuatan, para ulama masih bersilang pendapat, namun yang rajih (kuat) -insya Allâh- yaitu dengan melakukan hubungan suami istri atau muqaddimahnya, seperti ciuman dan sejenisnya dengan disertai niat untuk rujuk. Demikian ini pendapat madzhab Malikiyah dan dirajihkan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullâh dan Syaikh as-Sa’di rahimahullâh.[2] Apabila disertai dengan saksi, maka itu lebih baik, apalagi jika perceraiannya dilakukan di hadapan orang lain, atau sudah diketahui khalayak ramai.

Referensi: https://almanhaj.or.id/2184-cerai-apa-bukan-bagaimana-tata-cara-rujuk-yang-syari.html

Nurani merasa bersalah karena masih bersikukuh untuk tak mau diajak pulang ke rumah orang tua Arfan. Laki-laki itu tak menyerah. Ia menyiapkan satu rumah agar Nurani mau pulang bersamanya. Ia berjanji tak akan tinggal serumah lagi dengan orang tuanya. Nurani masih mempertimbangkan. Ada sebongkah luka yang tidak bisa mengering begitu saja.

Arfan masih sabar menunggu. Hampir setiap hari ia datang. Ia membawakan buah-buahan, baju untuk Nurani dan ibunya, sering pula menanyakan apa yang diinginkan Nurani, dia akan membawakannya. Laki-laki itu berusaha memberikan serangkaian perhatian pada Nurani. Sebelum tidur dia akan menyempatkan waktu untuk menelepon Nurani meski terkadang wanita itu tak mengangkat teleponnya.

Tentu saja Nurani masih mencintai laki-laki itu dan perasaannya tak berubah hingga kini. Namun terkadang ia merasa takut Arfan akan kembali menyakitinya dengan tidak mempedulikannya. Ia sering berpikir jika Arfan hanya menginginkan bayinya, bukan dirinya.

Kata-kata Arfan kembali terngiang.

"Rani, aku mohon tinggallah bersamaku. Kita telah rujuk, bukan? Aku ingin memulai semua dari awal. Kita buka lembaran baru. Aku sadar kalau aku mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu."

Setitik bulir bening jatuh. Ia bahkan tak menghindar saat Arfan mencium bibirnya setelah selesai bicara. Ciuman hangat yang dialiri rasa rindu yang seolah memuncak.

Nurani menyeka air matanya. Lagi-lagi ia merutuki diri, apakah ia begitu jahat? Apakah ia begitu egois? Ia tahu, anaknya tetap membutuhkan seorang ayah.

Nurani melangkah ke depan. Beberapa pelanggan tampak lahap menyantap soto buatannya yang mulai terkenal karena cita rasa yang khas. Nurani bersyukur banyak yang menyukai soto buatannya.

Wanita itu melangkah keluar dari warung dan bertanya-tanya kenapa Arfan belum datang. Laki-laki itu biasa mendatangi warungnya saat jam makan siang.

Matanya memandang lepas ke seberang jalan. Entah kenapa ia merasa lega saat mobil Arfan terlihat gagah mematung di tepi jalan. Laki-laki itu keluar dari mobil dengan menenteng dua paper bag. Senyum melengkung di kedua sudut bibirnya.

Nurani mematung menatap Arfan tanpa ekspresi berarti. Arfan melebarkan senyumnya. Wajahnya begitu berseri dengan binar mata tajam yang seolah hanya tertuju padanya.

Laki-laki itu menyeberang jalan. Kejadian begitu cepat hingga sebuah truk menabraknya dan dua paper bag yang ia genggam jatuh ke jalan. Isi tas itu berhamburan. Sepatu bayi dan sepatu untuk Nurani berceceran di aspal.

Nurani menjerit sekeras-kerasnya terlebih ketika tubuh Arfan tergeletak di aspal dan bersimbah darah.

"Mas Arfaaannnn...."

*****

Wanita itu menangis dengan jari bergetar memegang tasbih. Air mata tak jua berhenti mengalir. Sudah beribu doa ia panjatkan demi kesembuhan sang suami. Hanya satu yang ia inginkan, sang suami segera terbangun dari komanya. Sudah tiga hari dan belum ada perkembangan berarti.

Wanita itu terus menyalahkan dirinya. Ia menyesali atas keangkuhannya yang telah menolak ajakan Arfan untuk tinggal di rumah baru yang sudah Arfan siapkan. Ia tak mau kehilangan Arfan.

Derai air mata tak mampu menjadi penawar. Kesedihan itu kian menggerogoti pertahanannya. Terlebih sikap keluarga Arfan semakin membencinya. Ibu dan adik-adik Arfan melarangnya menjenguk pria itu di rumah sakit. Ia hanya bisa menanyakan keadaan Arfan pada dokter maupun perawat.

Nurani berusaha memejamkan mata. Semakin cepat tidur maka semakin cepat ia membebaskan diri dari beban pikiran yang mencekat.

Dalam tidurnya ia seolah melihat Arfan tersenyum padanya. Seorang anak menuntun tangannya dan mendekat ke arah laki-laki itu. Mimpi yang manis. Saat ia terjaga, tangis kembali menyayat ketika ia menyadari semua tidaklah nyata.

******

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro