Sakha masih bertahan dengan sikapnya, membisu di dalam mobil sembari menunggu datangnya keajaiban. Ia tak akan menyerah sampai Alea mau pulang bersamanya. Beberapa kali bola matanya mengarah pada pintu rumah sang mertua, tapi tak ada satu pun tanda bahwa Alea akan keluar menyusulnya.
Laki-laki itu mendesau. Ia pejamkan matanya sejenak. Kembali ia pandangi layar ponselnya. Sama sekali tak ada balasan dari Alea. Ia belum ingin menyerah. Diketiknya deretan huruf untuk kembali dikirimkan pada istrinya.
Sayang, please keluar. Kita pulang, ya. Kita bicarakan lagi semuanya. Sebentar lagi lebaran. Rasanya nggak enak banget, kalau kita terus-terusan marahan gini.
Satu menit, dua menit, waktu terus berjalan. Alea masih bergeming. Ia masih taat pada keangkuhannya.
Sakha tak pernah tahu, sang istri tengah terisak di kamar lamanya. Ia beberapa kali membaca pesan whatsapp dari sang suami, tapi egonya masihlah tinggi. Jauh di dasar hatinya ia juga merasakan kalut luar biasa. Di satu sisi, ia tak sampai hati menoreh kesedihan di hati suaminya. Di sisi lain, ia begitu takut Sakha akan mengulangi kesalahannya dan mengkhianatinya. Bisa jadi ia mengulangnya tidak bersama Lira, tapi wanita lain yang memenuhi kriterianya.
Alea merasa sejak dulu, Sakha tak pernah menjadikan dirinya yang utama. Laki-laki itu selalu mencari seseorang yang sesuai kriteria idamannya dan ia hanya datang padanya saat langkahnya mulai lelah. Alea mengingat kembali, saat Sakha cemburu karena ia dekat dengan Revan. Kini Alea bertanya, apakah Sakha menikahinya hanya karena takut kehilangannya? Takut dirinya dimiliki laki-laki lain sedang Sakha tak lagi punya pilihan. Ia merasa cintanya pada Sakha sebenarnya hanya bertepuk sebelah tangan.
Gerimis turun membasahi bumi. Alea terkesiap. Disibaknya tirai jendela kamarnya. Matanya menyipit. Mobil Sakha masih terparkir di halaman. Alea semakin khawatir kala gerimis yang turun perlahan menderas. Dinginnya malam karena hujan semakin menusuk tulang.
Suara ketukan pintu membuyarkan renungan Alea. Wanita cantik itu membuka pintu. Sang ayah berdiri mematung dan menatapnya tajam.
“Lea, papa lihat mobil Sakha masih ada di luar. Sepertinya dia berharap kamu pulang bersamanya. Lebih baik kamu ajak dia masuk. Kasihan hujan deras. Pasti dingin di luar.”
Alea terdiam. Ia ragu untuk menuruti nasihat Rayga. Namun ia juga tak tega membiarkan Sakha di luar dalam mobilnya.
“Apa lagi yang kamu pikirkan, Alea? Apa kamu tega membiarkan suami kamu menunggu?”
Alea masih membatu. Tentu ia tak tega. Tak akan pernah tega...
“Dengerin Papa, Alea. Tidak ada pernikahan yang sempurna. Kamu pikir, Papa bertahan sama Mama karena jalan yang dilalui mulus tanpa cela? Tidak, Alea. Jalan yang kami lalui berliku. Kadang ketemu kerikil, kadang ketemu batu besar. Dan selalu ada perbedaan di antara kami, entah perbedaan pola pikir, pandangan, keinginan, prinsip, dan masih banyak lagi. Kami sadar, kami dua pribadi yang tentu saja berbeda. Tidak ada pasangan yang sama dalam segala hal. Kesalahpahaman kerap terjadi, bertengkar, marahan, cemburu, semua itu menjadi bumbu dalam pernikahan. Setiap ada masalah, hadapi dan atasi, jangan pernah menyepelekan apalagi lari.”
Nasihat Rayga begitu membekas di hati Alea. Pintu hatinya terketuk dan terbuka pelan-pelan untuk mengalah pada egonya.
“Ya, Pa, terima kasih banyak untuk wejangannya. Alea akan meminta Sakha untuk masuk.”
Rayga tersenyum. Ia tahu, Alea masih sangat mencintai Sakha. Ia tak ingin anak dan menantunya tak akur begini, apalagi mereka terhitung baru menikah.
Alea mengambil satu payung lalu berjalan menuju pintu depan.
Sakha terperanjat saat mendengar pintu ruang depan bergeser. Ia melihat sosok wanita yang ia cintai dengan sebuah payung dalam genggaman.
Tatapan Sakha tak lepas meneliti penampilan istrinya dari atas hingga bawah. Ia tak menyangka, Alea yang dulu begitu keras kepala dan enggan berjilbab, kini terlihat sangat anggun dengan jilbabnya. Ia tahu, ia tak pernah salah memilih. Ia tak salah memilih Alea menjadi istrinya.
Seketika kata-kata Argan terngiang dalam benak.
“Sakha, kebahagiaan istri itu tergantung pada suaminya. Bukan berarti mutlak tergantung suami, karena namanya kebahagiaan memang bersumber dari hati individu itu sendiri. Maksud pernyataan kebahagiaan istri tergantung suami itu artinya cara suami memperlakukan istri berdampak besar pada kondisi psikis istri, bahkan bisa memengaruhi penampilan fisiknya juga. Sebagai contoh, suami yang kasar, temperamen, suka menyakiti istri maka perlakuannya ini akan membuat istri terluka, tidak bahagia dengan pernikahannya. Rasa sakit di hati berimbas pada fisiknya. Misal dia jadi tidak selera makan, akibatnya berat badannya turun drastis. Suami yang baik akan membantu sang istri menemukan versi terbaik dirinya, sedang suami yang tidak bertanggung jawab bisa saja membuat kehidupan istri serasa jatuh pada titik terendah. Ini berlaku sebaliknya juga. Jadi suami istri itu saling melengkapi satu sama lain, harus belajar bareng, saling memperbaiki diri. Dan dalam proses ini jangan berharap akan berjalan instant. Semua ada tahapnya. Termasuk bagaimana membimbing istri. Tidak bisa langsung berharap dia akan menjadi lebih baik kalau diri kita sendiri tidak mau memperbaiki diri. Butuh kesabaran untuk sama-sama belajar. Butuh yang namanya menurunkan ego dan melapangkan hati.”
Sakha kembali tersentak kala wajah Alea terpampang di depan kaca mobil dengan payung menaungi tubuhnya. Sakha membuka kaca jendela. Ia tersenyum, tapi Alea hanya menatapnya datar.
“Masuk ke dalam aja, di sini dingin. Mana hujan deras,” ucap Alea masih bernada datar.
Sakha mengangguk. Ia membuka pintu mobil. Alea mencondongkan payungnya ke depan agar bisa memayungi Sakha. Sakha mengambil alih gagang payung itu. Keduanya saling menatap tapi tak berani untuk memandang lebih lama karena rasa kikuk itu masih mendominasi.
Keduanya jalan beriringan masuk ke dalam rumah tanpa saling bicara. Karena sudah malam, Alea langsung berjalan menuju kamar. Sakha mengikutinya. Ini membuat Alea bertambah canggung. Tanpa Alea persilakan, dengan santainya Sakha masuk ke dalam kamar. Ia duduk di ujung ranjang, sementara Alea berdiri dan menatap nanar sang suami. Suasana masih sedemikian beku. Keduanya belum ada yang berinisiatif untuk memecah keheningan.
Hingga akhirnya Sakha berdiri dan mendekat ke arah sang istri. Alea masih terpaku dan tak bereaksi apapun ketika kedua tangan Sakha memeluk tubuhnya.
“Maafkan, aku...” ucap Sakha lirih. Ia mempererat pelukannya.
Alea tak berkata-kata. Bibir itu masih terkunci. Tetesan bening itu tiba-tiba lolos dari kedua sudut matanya.
“Please maafkan aku. Kita pulang bareng. Aku nggak bisa kalau nggak ada kamu, Lea...” Sakha mendekap tubuh Alea lebih erat.
Alea semakin terisak. Sakha melepas pelukannya dan menghapus jejak sembab di mata istrinya.
“Apa kamu nggak bisa memaafkanku?” Sakha menatap tajam Alea dengan gerak jari yang masih aktif menyeka air mata Alea yang terus menetes.
Alea mengatur napasnya, berusaha untuk lebih stabil.
“Aku memaafkanmu. Namun aku masih ragu akan perasaanmu. Aku tahu, kamu mungkin nggak benar-benar mencintaiku dan memilihku karena memang tak ada lagi yang bisa kamu pilih. Mungkin juga semata karena takut kehilanganku. Mungkin kamu memang tidak benar-benar mencintaiku. Sedari dulu, aku bukan kriteriamu.”
Jari-jari Sakha yang tengah bergerilya di wajah Alea seketika terhenti. Ia turunkan jari-jari itu. Hatinya tercabik mendengar tuduhan Alea. Sungguh menyakitkan. Ia tak mengerti kenapa Alea berpikir sekejam itu.
Tangis Alea semakin mencekat, “Aku bahagia saat kamu melamarku. Aku bahagia menjadi istrimu karena kamu adalah orang pertama yang mengenalkanku akan arti jatuh cinta. Aku bahagia karena aku berpikir aku telah memenangkanmu. Ternyata semua salah. Aku nggak pernah memenangkanmu. Hingga detik ini hatimu seolah masih terus berpetualang untuk mencari yang lebih baik dariku... Yang memenuhi kriteriamu.”
Sakha menatap Alea dengan sorot mata yang sudah mengembun.
“Aku sadar, aku nggak akan pernah bisa cukup baik untukmu. Aku banyak kekurangan.” Alea melanjutkan perkataannya. Ia usap bulir bening yang mengalir deras.
Sakha meraih tangan Alea dan tak kuasa menahan laju air mata yang tumpah.
“Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu? Bagaimana bisa? Aku mencintaimu Lea, sungguh... Tidak ada yang lebih baik dari kamu karena buat aku, kamu yang terbaik. Aku minta maaf untuk semua kesalahan, untuk semua kekuranganku yang nggak bisa membahagiakanmu. Maafkan aku untuk segalanya.” Sakha mengelap tangisnya dengan ujung jarinya.
Alea semakin terisak mendengar sedu sedan tangis Sakha.
“Aku memilihmu bukan karena tidak ada lagi yang bisa aku pilih. Aku memilihmu karena aku benar-benar mencintaimu. Bukan semata takut kehilanganmu... Tidak Alea... Aku benar-benar mencintaimu.” Sakha menangkup kedua pipi Alea dan kedua ibu jarinya kembali menyapu jejak-jejak tangis yang masih membasah.
Alea masih terisak. Ada rasa bahagia sekaligus haru yang saling bersahutan, menciptakan gaung di segala sudut.
“Aku mencintaimu...” ucap Sakha sekali lagi dengan sepenuh hati.
Alea menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya. Ditatapnya sang suami dengan cinta yang tak pernah pudar.
“Aku juga mencintaimu...” balas Alea.
Warning : ada 18+nya
Keduanya melempar senyum. Syahdunya hujan yang mengiringi menjadikan malam ini lebih romantis untuk keduanya. Seolah lama tak bersua, Sakha menyalurkan kerinduannya dengan mencium bibir Alea begitu rakus. Alea tak kalah gemas dengan tingkah sang suami yang menyerangnya ganas, seperti macan yang tak diberi makanan beberapa bulan.
Keduanya berpelukan, saling menghangatkan meski akhirnya keduanya juga saling melucuti pakaian masing-masing, membiarkan dinginnya malam menelusup ke setiap celah tubuh. Namun dingin itu tak bertahan lama, karena keduanya kembali saling menghangatkan dengan cumbu mesra dan pelukan yang begitu erat.
Dengan lihai Sakha membaringkan tubuh Alea di ranjang, menjejakkan setiap kecupan di setiap jengkalnya. Hingga akhirnya Alea melepas ciumannya dan menatap Sakha tajam. Sakha yang sudah tersulut gairah berusaha untuk mencium bibir Alea lagi, tapi buru-buru Alea mencegahnya dengan menempelkan jari-jarinya di bibir sang suami.
“Kita ada di rumah mama papa...” Alea menajamkan pandangannya.
“Kenapa emangnya? Di mana pun sama aja....” Sakha mendekatkan bibirnya di telinga Alea, “sama-sama nikmat...”
Alea tersenyum, “tapi... Nggak bebas....”
“Mendesahnya jangan keras-keras... Nikmati saja... Aku udah nggak tahan...” tanpa menunggu lagi Sakha kembali mencium bibir Alea dengan ganas.
Malam itu menjadi malam kesekian yang diwarnai dengan percintaan panas yang mengantarkan keduanya pada kenikmatan yang tak bosan untuk direguk. Dan selalu terselip doa agar percintaannya ini membuahkan sesuatu yang manis, hadirnya buah hati.
******
Udah dulu ya... Agak ngantuk hehe.. terus voment ya. Maaf kalau nggak selalu bisa balas. Kalau lagi bener2 free, aku sempetin bales.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro