Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

3

"Anak cowok yang nggak bisa main bola itu namanya apa?" teriak Dito.

"Banciii!" jawab anak-anak lainnya dengan kompak.

"Jadi, siapa yang banci?" tanya Dito lagi.

"Argaaa!" jawab anak-anak itu sambil tertawa mengejek.

Arga menangis. Setelah gagal menendang bola dan terjatuh ke lapangan, kini ia diejek teman-teman sekelasnya dengan sebutan banci. Ejekan itu terdengar familier, pernah diucapkan seseorang kepada Arga. Ejekan yang begitu menyakitkan.

"Hahaha... gitu aja nangis. Dasar cengeng! Dasar banci!" cecar Dito. "Siapa pun yang temenan sama Arga, berarti dia sama-sama banci."

Akibat dari kata-kata yang diucapkan Dito, hampir semua anak laki-laki di kelas 1-A tidak mau berteman dengan Arga. Kecuali, seorang anak laki-laki bernama Fajar.

"Kenapa Fajar mau jadi teman Arga?" tanya Arga suatu hari, dalam perjalanan mereka pulang sekolah.

"Memangnya nggak boleh?"

"Bolehlah. Cuma, Fajar nggak takut dikatain banci juga?"

"Kenapa harus takut? Kita berdua kan, bukan banci. Lagian, kalaupun banci, memangnya kenapa?!"

"Fajar bisa bilang gitu karena Fajar bisa main bola,"

Fajar tertawa. "Kalau anak cowok yang nggak bisa main bola dikatain banci, lalu anak cewek yang jago main bola bakal dikatain apa?"

Arga mengedikkan bahu. "Arga benci sama Dito! Coba aja badan Arga lebih gede dari Dito. Udah Arga hajar dia habis-habisan!"

"Aku bisa hajar dia."

Arga tak percaya. Badan Fajar sama kecilnya dengan badan Arga. Fajar pasti hanya membual atau menghibur diri.

"Kenapa? Kamu nggak percaya?" tebak Fajar, tepat seperti yang Arga pikirkan.

Arga tidak menjawab.

"Lihat aja besok."

Keesokan harinya, Fajar benar-benar membuktikan kata-katanya. Begitu Dito tiba di kelas, Fajar menghampirinya dan tanpa tedeng aling-aling langsung meninju wajahnya. Pukulan berikutnya terjadi dalam rentang waktu yang cepat dan lebih keras. Fajar tak mengizinkan Dito membalas serangannya. Saat Dito hendak melayangkan pukulan, seorang anak menunjuk wajahnya sambil berteriak, "Darah!" Dito pun mulai menyadari lubang hidungnya meneteskan sesuatu. Urung melayangkan pukulan, Dito menyentuh tetesan itu untuk memastikannya. Ia pun jatuh pingsan setelah melihat darah di jari tangannya.

*

"Anak cowok yang pingsan cuma karena ngeliat darah terus ngadu sama guru itu namanya apa?" teriak Fajar pada hari berikutnya, saat Dito tiba di kelas.

Tak ada yang menjawab banci atau semacamnya. Mungkin teman-teman sekelasnya masih lebih takut kepada Dito daripada Fajar.

Dito menghampiri meja Fajar dan Arga dengan tampang sangar, lalu menggebrak meja dengan kasar. Matanya tajam menatap Fajar.

"Mau kutonjok lagi?" ancam Fajar sambil mengacungkan kepalan tangan.

"Kalau berani, jangan main kekerasan!" sergah Dito. "Kita adu penalti di lapangan."

"Ayo! Siapa takut?!" Tantangan diterima Fajar.

"Yang kalah, dapet hukuman."

"Apa?"

"Ngelakuin apa pun yang diminta si pemenang."

"Oke!"

Arga merasa gusar. Bagaimana bisa Fajar sepercaya diri itu? Bagaimana kalau Fajar kalah? Bisa mati mereka berdua. Dito akan bertindak semakin semena-mena.

Adu tendangan penalti antara Dito dan Fajar tak hanya disaksikan oleh anak-anak kelas 1-A, tapi juga oleh hampir semua siswa di SD Nusa Bangsa. Hari masih pagi, bel masuk belum berbunyi. Para siswa dari kelas 1 sampai 6 mengerumuni lapangan. Sebagian besar dari mereka mendukung Dito karena secara fisik terlihat lebih meyakinkan. Pemandangan itu membuat Arga semakin gusar. Terlebih lagi, Dito mengumumkan sanksi bagi si pecundang di hadapan para penonton.

Seorang siswa dari kelas 6 ditunjuk sebagai wasit. Ia melempar koin untuk menentukan siapa yang lebih dulu menendang bola. Adu tendangan penalti akan dilakukan sebanyak tiga kali, dan Fajar mendapatkan giliran pertama.

Fajar mengambil ancang-ancang, sambil menentukan titik tuju bola. Ia seakan tak gentar dengan gestur Dito yang intimidatif. Dengan penuh rasa percaya diri, Fajar menendang bola ke satu titik yang ia yakini takkan bisa diantisipasi Dito.

Arga menutup mata seraya berdoa, semoga tendangan Fajar menghasilkan gol. Ia masih menutup mata saat teriakan orang-orang terdengar riuh.

"Hahaha... sok banget sih, si Fajar ini!" komentar seseorang di samping Arga.

"Iya. Banyak gaya. Mana bisa dia ngalahin si Dito?" sambut anak lainnya.

Arga semakin waswas. Saat membuka mata, ia melihat senyum kemenangan Dito yang menyebalkan. Rupanya tendangan Fajar gagal.

Kini giliran Dito menendang bola. Fajar memasang kuda-kuda, bersiap menangkap bola dengan segenap kemampuannya. Lapangan sesaat hening. Lagi-lagi Arga menutup mata. Kali ini ia berdoa semoga tendangan Dito gagal.

Namun, rupanya tendangan Dito berhasil mencetak gol. Tanpa perlu membuka mata, Arga mengetahui hal itu dari sorak-sorai orang-orang.

"Hahaha... Dito dilawan!"

"Udahlah, si Fajar nyerah aja dari sekarang daripada malu."

Lutut Arga mulai terasa lemas. Ini pasti pertanda buruk. Kalau Fajar kalah, mereka berdua akan menanggung akibatnya. Kira-kira, permintaan macam apa yang akan diajukan Dito?

Kembali giliran Fajar menendang bola. Semua orang tampak meremehkannya. Beberapa orang menyoraki supaya Fajar menyerah saja. Namun, bukan Fajar namanya jika ia mundur sekarang. Kali ini, Fajar menggunakan taktik lain. Semacam tendangan tipuan. Tatapannya tertuju ke satu titik, tetapi kakinya membidik titik sebaliknya. Dengan kekuatan penuh, Fajar menendang bola itu, dan hasilnya....

"GOOOL!" teriak sang wasit, membuat Arga merasa sedikit lebih lega.

Orang-orang di dekat Arga mencibir, "Ah, cuma keberuntungan."

Skor kini 1-1, tetapi Dito punya kesempatan menang yang lebih besar. Apalagi pada tendangannya yang kedua, Dito lagi-lagi mencetak gol, sehingga kedudukan menjadi 2-1.

Kesempatan terakhir bagi Fajar. Jika ia gagal, permainan selesai, dan ia berakhir sebagai pecundang. Fajar tak mau gagal. Fajar tak boleh gagal.

Arga tak mau lagi berdoa. Bagaimanapun, doanya tak pernah dikabulkan. Mendoakan Fajar berhasil malah gagal. Mendoakan Dito gagal malah berhasil. Arga mulai pasrah. Mulai bersiap-siap mengumpulkan keberanian untuk menerima hukuman yang akan diberikan Dito.

Di luar dugaan semua orang, Fajar berhasil mencetak gol lagi. Skor 2-2. Sorakan penonton semakin riuh. Mereka mulai respek terhadap Fajar. Sementara itu, perasaan Arga semakin tak keruan. Masih ada satu tendangan tersisa bagi Dito. Jika Dito berhasil, riwayat Arga dan Fajar tamatlah sudah.

Penonton dicekam rasa tegang. Deg-degan. Hening. Senyap. Gerakan kaki Dito menendang bola seakan berjalan dalam mode lambat. Bola melambung perlahan, bergerak mendekati gawang. Fajar melompat berusaha menangkapnya, tetapi gagal. Bola itu luput dari jangkauannya. Melewati tubuhnya, sang bola terus bergerak mendekati gawang, tetapi malah terus melambung melewati bagian atas tiang gawang. Out!

Kedudukan terakhir masih 2-2.

*

Sebagai ungkapan rasa terima kasih, Arga mentraktir Fajar makan es krim di sebuah kedai sepulang sekolah. Fajar memilih satu skup es krim rasa cokelat, sedangkan Arga memilih rasa vanila.

"Fajar keren, euy!" puji Arga.

"Ah, biasa aja." Fajar bersikap rendah hati. "Si Dito memang jago main bolanya, tapi dia gampang marah. Olahraga tuh harus tenang."

"Tadi, Arga takut banget tendangan Fajar di babak tambahan nggak masuk." Arga berkata sambil menikmati eskrimnya. "Setelah masuk pun, Arga masih deg-degan. Takutnya tendangan si Dito gol juga. Syukur deh, bolanya bisa Fajar tangkap."

Fajar tertawa. "Kamu lihat muka kesel dia tadi? Lucu banget!"

"Iya!" Arga ikut tertawa membayangkan wajah si pecundang Dito. Merah dan menyebalkan, tapi juga menggelikan.

"Sekarang kamu nggak perlu khawatir. Si Dito nggak bakal berani ngejekin kamu lagi."

"Makasih banyak ya, Jar." Arga mengangguk penuh rasa syukur. Ah, seandainya ia bisa mengenal Fajar sejak sebelum masuk sekolah.

"Sama-sama, Ga."

"Maaf ya, gara-gara Arga, Fajar sempat dihukum Pak Gibran."

"Ah, nggak apa-apa. Cuma dapet peringatan doang. Kecuali, kalau si Dito nggak bangun lagi."

Mereka tertawa, mengingat kembali kejadian Dito pingsan gara-gara melihat darah yang menetes dari hidungnya. Dalam kepala mereka, Dito mirip Giant yang selalu mengganggu Nobita.

Hari itu menjadi hari terbaik bagi Arga. Dito, satu-satunya batu sandungan di sekolah, berjanji tidak akan lagi mengejek Arga dengan kata 'banci' atau kata apa pun yang tidak pantas. Dengan begitu, anak-anak lain pun akan berhenti mengejek Arga. Siapa pun tahu, jika mereka memperlakukan Arga secara tidak baik, mereka akan berhadapan dengan Fajar.

Dari Fajar, Arga belajar bahwa keberanian lebih penting daripada tinggi dan berat badan. Pada awalnya, semua orang meremehkan Fajar hanya karena badannya tak sebesar Dito. Namun, setelah perkelahian dan momen adu tendangan penalti itu, Fajar mulai diperhitungkan.

*

"Kenapa sih kamu nggak mau belajar sepak bola?" tanya Fajar suatu hari, selepas pelajaran olahraga. "Aku mau kok, ngajarin kamu."

"Bapak suka ngajarin Arga main bola di lapangan kompleks," jawab Arga, setelah bel istirahat berbunyi. "Tapi, Arga nggak suka sepak bola. Arga nggak suka olahraga. Jadi, mau latihan kayak gimana pun, hasilnya ya sama aja."

"Kenapa nggak suka olahraga? Olahraga kan bikin kita sehat dan kuat."

"Ya sama aja kayak Fajar yang nggak mau belajar matematika atau menggambar." Arga meneguk air mineral dari botol yang dibawanya dari rumah. Ia terlalu malu untuk bilang kalau setiap kali berolahraga, ia merasa dirinya amat sangat payah. Vitalitasnya tidak sebugar anak-anak lainnya. Ketangkasannya pun kurang optimal.

"Oh, itu sih jelas. Matematika bikin otakku kusut, panas, dan mau meledak. Menggambar bikin tanganku kram dan punggungku sakit. Nggak seru dan nggak bikin sehat."

"Matematika bagus buat otak kiri kita. Menggambar bagus buat otak kanan kita," sanggah Arga.

"Sok tahu."

"Ibu Arga bilang begitu."

"Semua orangtua sama aja. Suka berbohong soal kebaikan biar anak-anaknya nurut. Suka maksain kehendak mereka dengan berbagai alasan yang kedengarannya bagus."

"Ibu Arga nggak kayak gitu. Dia cantik, baik, pinter, dan nggak pernah bohongin Arga."

"Nggak mungkin. Kamunya aja yang terlalu polos dan nurut sama ibu kamu."

"Fajar suka membantah dan nggak nurut sama ibu Fajar?"

Fajar mengangguk. "Aku benci sama Mama."

"Kenapa?"

"Mama selingkuh."

"Selingkuh? Apa itu?"

"Masa kamu nggak tahu selingkuh?" Fajar menatap Arga tak percaya. "Katanya, matematika bagus buat otak kiri, menggambar bagus buat otak kanan. Tapi selingkuh aja nggak tahu."

"Nggak ada hubungannya sama otak, kalau Arga baru denger kata selingkuh aja dari Fajar barusan."

Fajar tertawa. "Jangan-jangan, kamu juga nggak tahu apa itu... coli?"

"Coli?" Arga tampak bingung sekaligus penasaran. "Arga baru denger. Apa itu coli?"

"Sumpah? Demi apa?" Tawa Fajar semakin pecah.

"Sumpah, demi apa pun." Arga semakin penasaran. "Jadi, mama Fajar selinguh atau coli?"

Terpingkal-pingkal, Fajar tak kuat lagi menahan rasa geli di perutnya.

"Fajar kok malah ketawa? Selingkuh itu apa? Coli itu apa? Kasih tahu Arga, dong!"

Kejadian itu sudah berlalu beberapa bulan yang lalu. Sekarang, kepala Arga tak hanya berisi perbendaharaan kata yang mustahil ia dapatkan dari guru dan orangtuanya, tapi juga berisi informasi dan gambar-gambar dan video yang hanya bisa ia dapatkan dari Fajar.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro