
Page 40 (1)
Last part, ya.
Terima kasih buat yang udah baca dan terus meninggalkan jejak. Ditambah komen yang seru dan menyemangati aku buat nyelesaiin cerita ini sampai part 40 😭😭
Either it will have sad or happy ending, I really enjoy write this story.
Thank you 😍😘 y'all
"K-k-kau?"
Daniel tertegun per sekian detik. Iris kecilnya terus mengerjap. Sulit membayangkan sosok masih bersedia menemuinya. Mungkin memang tidak sama seperti dulu, tapi tetap hati Daniel berdesir. Setelah luka yang ditorehkannya, pertemuan ini tak pelak membuatnya haru.
"Kapten!" Taejung yang tiba bersama sang ibu sontak berlari dan langsung memeluk Daniel yang seketika mematung.
Pelukan Taejung begitu hangat. Kendati begitu, hatinya turut terluka. Sangat dalam. Tanpa disadari, air mata Daniel berderai. Lolos begitu saja. Dengan kesalahannya yang tidak terampuni, Daniel merasa tidak pantas mendapatkan kebaikan seperti ini.
Sohyun ikut mendekat. Berkata, "Taejung sudah bilang kalau kemarin kau datang. Dia bercerita begitu bahagia. Katanya kau menemani dan mengajaknya bermain."
Daniel masih terdiam. Taejung sendiri masih begitu nyaman memeluk pria berbahu lebar itu.
Sohyun meneruskan, "Taejung sudah diperbolehkan pulang. Dan hari ini dia memaksaku untuk menemuimu karena mengkhawatirkanmu."
"Khawatir?" ulang Daniel tak mengerti.
Sohyun menarik Taejung untuk menjauh dari Daniel. Menurunkan badannya, ia berujar pada Taejung sambil tersenyum, "Taejung-ah, ada hal yang perlu Ibu sampaikan pada Paman Daniel. Bisakah kau sebentar menunggu di mobil bersama Paman Sungjae?"
Tidak langsung mengiyakan, Taejung menatap Sohyun dan Daniel secara bergantian. Sebelum akhirnya ia mengangguk. "Baiklah." Meski meragu, Taejung sepakat dan menyetujui pinta sang ibu.
Sekarang, hanya menyisakan Sohyun dan Daniel yang masih berdiri berhadapan. Canggung dan terkesan menyakitkan.
"Sohyun-ssi—"
"Aku ke sini bukan untuk memaafkanmu, Tuan Kang," potong Sohyun tanpa menatap Daniel, "aku datang karena Taejung." Wanita Kim itu mempertegas maksud kedatangannya. "Taejung mengkhawatirkanmu. Dia bilang sepertinya kau berencana pergi jauh karena semalam kau berpamitan padanya," lanjut Sohyun dan mengambil jeda. Setelahnya, Sohyun memberanikan diri menatap Daniel yang menatapnya sendu. "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya akan kaulakukan, tapi bisakah jangan membuat Taejung khawatir, Tuan Kang? Dan aku berharap untuk seterusnya berhentilah menemui Taejung."
Daniel tertunduk. Setiap kata yang diucapkan Sohyun ibarat pisau tajam yang mengiris hatinya jadi potongan luka. Memang, penyesalannya datang terlambat. Hingga akhir, setiap hal yang ingin dilakukannya dengan harapan bisa dimaafkan, tetap berujung sia-sia. Dosa tetaplah dosa. Inilah hukuman yang pantas untuknya. Beban yang melekat di dirinya. Selamanya.
"Aku bermaksud menyerahkan diri. Hari ini aku akan mengakhiri penderitaan yang kubuat. Meski terlambat, aku tetap akan membayar kesalahan yang kutorehkan padamu, Sohyun-ssi. Maafkan aku karena sudah membuat Taejung khawatir. Seperti yang kauinginkan, aku tidak akan pernah lagi muncul di hadapan Taejung. Aku akan menghilang. Tapi, bolehkah aku meminta satu permintaan? Anggap ini permintaan terakhirku."
Sohyun menatap nanar pada selembar foto yang baru dikeluarkan Daniel dari dalam dompetnya. Foto yang tidak ternilai harganya, menurut Daniel. Berisikan kenangan indahnya, meski berakhir sebagai angan.
Foto Taejung yang tersenyum lebar dalam balutan seragam kapten kecil, itulah harta terakhir Kang Daniel. Gambaran kebahagiaan saat keduanya menghabiskan waktu bersama bak ayah dan anak. Pada kenyataannya, tidak ada hubungan yang pantas tersematkan untuk keduanya. Mereka tak lebih dari orang asing.
Daniel terssenyum kecut. "Aku mengambilnya saat kami pergi berdua. Sekarang, aku akan mengembalikannya padamu. Kurasa aku tidak pantas menyimpan ini. Maaf, karena ini satu-satunya yang bisa kukembalikan padamu."
Usai Sohyun menerima pemberianya, Daniel pun pergi. Meninggalkan Sohyun yang terpaku sebelum beberapa detik kemudian bulir bening itu lolos dari kedua sudut mata wanita Kim tersebut. Sangat benar kalau ia membenci pelaku pemerkosaannya. Terlebih Daniel dianggapnya bersembunyi di balik wajah malaikat. Bersikap baik padanya hanya untuk menutupi kesalahan di masa lalu. Semua hal manis yang pernah dilakukan Daniel, bagaimana ia yakin semua itu tulus? Apa Daniel tahu kehidupan yang harus dijalaninya setelah malam keji itu? Setiap hari ia menangis dan meringkuk ketakutan, berharap yang terjadi padanya cuma mimpi buruk. Lantas, adilkah semuanya berakhir dengan begini?
"Tuan Kang!"
Seruan Sohyun sontak menghentikan langkah Daniel yang hampir memasuki mobilnya. Pria berbahu lebar itu menoleh dan menemukan Sohyun mempercepat langkah mendekatinya.
Sohyun menyerahkan kembali foto yang diberikan Daniel. "Serahkan sendiri ini pada Taejung. Aku mungkin membencimu, tapi tidak dengan putraku. Ia pasti akan membenciku karena menjauhkan dirinya dari paman yang tulus menyayanginya. Lagi pula masa laluku denganmu tidak ada kaitannya dengan Taejung," pungkas Sohyun tegas.
Atensi Sohyun beralih pada sosok wanita baya yang baru keluar dari rumah kediaman Kang. Dari parasnya yang mirip Daniel, Sohyun menebak bahwa itu adalah nyonya besar Kang. Air mukanya tampak kuyu dan menyedihkan. Terus menatap intens pada Daniel seolah takut kehilangan putranya.
"Ibumu juga pasti membutuhkanmu, Tuan Kang. Setelah yang terjadi padaku, aku tidak ingin kau kehilangan harta berharga lainnya. Ataupun orang lain menderita karenamu. Cukup kepergian Kang Yena yang membuat hidupmu menjadi buruk," ujar Sohyun, "aku mengatakan ini bukan karena kasihan padamu. Tidak! Sebaliknya, aku mengatakan ini karena aku tidak akan pernah memaafkanmu. Kau yang membuat lubang neraka di hidupku, karena itu kaupantas membayarnya lebih berat dari yang selama ini kurasakan. Masuk penjara terlalu mudah untuk membuatmu merasa lega. Melainkan kau harus hidup dengan perasaan bersalah itu setiap harinya. Seperti yang kualami, kau harus tersiksa dengan mimpi buruk yang terus menghantuimu. Itulah hukuman yang pantas untuk kaujalani."
Dan semuanya sudah disampaikan. Satu lagi kisah yang berhasil diakhiri Sohyun. Sekarang, ia hanya perlu menatap masa depan. Menapaki cerita baru dengan Taejung. Dimulai dengan menciptakan kenangan indah bersama. Dimulai hari ini.
***
Sebulan sudah berlalu. Tidak ada yang berubah. Setidaknya di kehidupan Jungkook. Kalaupun ada, itu hanya menyangkut statusnya yang tidak lagi menikah. Dia dan Jennie telah resmi bercerai.
Setelah bercerai, Jennie sendiri memutuskan pergi ke New York. Sendirian. Memulai hidup baru dengan identitas sebagai Jennie sang model. Tidak ada yang bilang jalan yang diambil Jennie mudah. Namun, jauh lebih sulit bila ia terus bertahan pada jalan berliku yang terus menggiringnya pada fase terendah.
Ibu Jennie—mantan mertua Jungkook—kini mendekam di penjara. Dijatuhi hukuman bertahun-tahun atas kejahatan yang dilakukan. Pasal berlapis dituduhkan padanya; penculikan, pemerasan, dan percobaan pembunuhan Taejung. Butuh waktu yang lama agar wanita baya itu bisa kembali mengecapi kebebasan.
Jungkook sempat menyekap sang mantan ibu mertua selama dua malam agar sosok itu bisa merasakan ketakutan yang dialami Sohyun dan Taejung. Air mata dibayar air mata, begitu cara Jungkook mengartikan kemarahannya. Sebelum akhirnya nyonya Kim diserahkan kepada pihak berwajib. Sekaligus menyudahi kehidupan besar keluarga Kim sebagai salah satu jajaran konglomerasi di Korea Selatan. Saham perusahaan mereka merosot hingga dinyatakan bangkrut.
Di sinilah Jungkook sekarang. Kembali berkutat pada kehidupannya selaku CEO di Jeon Corp. Terkungkung pada kehidupan monoton yang disesalinya sebagai takdir. Tak terasa sudah sebulan ia berpisah dengan Sohyun dan Taejung. Selama itu pula dia tidak pernah menghubungi atau menemui keduanya. Kerinduannya dilampiaskan pada tumpukkan pekerjaan yang seakan tidak ada habisnya. Berujung hambar.
Jungkook tidak ingin lagi bermimpi. Tepatnya, ia pasrah. Tersisa dirinya sendiri yang melewati hidup tanpa warna. Hubungan dengan keluarganya yang sedari awal sudah buruk, kini jauh lebih buruk. Jungkook tidak lagi berbicara pada kedua orang tuanya. Tidak pula menuruti keinginan sang Ibu setiap menghubunginya sekadar untuk makan malam bersama. Ia bahkan tidak peduli walau nantinya akan dicoret dari nama Jeon. Selamanya.
"Permisi, Tuan Jeon."
Tanpa melihat sang sekretaris yang masuk, Jungkook terus fokus membaca setiap lembar kontrak yang sudah ditangguhkannya beberapa minggu.
Sang sekretaris kembali berbicara, "Ada pesan dari nyonya Jeon kalau hari ini bakal ada pertemuan keluarga. Nyonya Jeon meminta Anda untuk hadir pukul 05.00 P.M di—"
"Hentikan!" potong Jungkook biram sembari menggebrak meja kerjanya, "kau bisa keluar sekarang!"
"Tapi—"
"Pergi sekarang atau kau boleh meninggalkan perusahaan ini untuk selamanya."
Jungkook tetap seorang Jungkook. Kembali pada jati dirinya yang lama. Kesan sombong dan angkuh yang membuat banyak orang menghindarinya.
***
Pip!
Aneh. Ini sudah ketiga kalinya Jungkook gagal membuka pintu apartement. Seingatnya ia tidak pernah mengubah password, lalu kenapa pintu tetap enggan terbuka? Ah, apa sekarang pun pintu ikut menyudutkannya selaku orang yang dibenci banyak orang?
"Cih, bahkan rumahku sendiri kini menolak kedatanganku," monolognya sambil menggaruk rambutnya kesal.
Pip!
Alis Jungkook sontak mendelik sesaat terdengar pintunya terbuka. Bukan dari arah luar, tapi suara itu terdengar dari dalam apartemen. Selanjutnya, mata Jungkook melebar tatkala menemukan sosok yang menyambutnya. Membuat hatinya berkecamuk. Rasa pelik yang sulit dijabarkan.
Ayah!"
Suara itu lekas membuat tenaga Jungkook menguap. Tumpuannya mendadak lemas seketika Taejung berlari, lalu memeluknya. Meyakinkan bahwa ini bukan mimpi, Jungkook berulang kali mengusap rambut tebal Taejung. Memastikan figur kecil yang mendekapnya bukanlah halusinasi. Wangi lavender menguar. Aroma yang kerap kali digunakan Taejung.
"Ibu?"
Disusul seorang lagi yang hadir dan menyambut kepulangan Jungkook. Ada ada dengan hari ini? Bahkan ia tidak sedang berulang tahun. Namun, Jungkook merasa perasaannya berdesir hangat. Sulit dipercaya, sosok wanita baya yang kerap terlihat bak momok menakutkan, kini tersenyum hangat padanya. Hari ini terlalu baik untuk dikecapi.
***
To Be Continued
Jadi, part 40 adalah part akhir cerita ini. Tapi dibuat dalam dua bagian;
40(1) dan 40(2) karena terlalu panjang.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro