03
Ada anak kelas sebelah, namanya Acacia tapi seringnya dipanggil Sashi. Tiap liat dia kemana-mana sama Mandala si Muka Kuda itu, gue refleks berbisik dalam hati, buat diri gue sendiri.
"Mulai lagi deh. Apa nggak capek lo cemburu-in orang yang bukan milik lo?"
— Juanda Sapta Widara
***
"Tante ngomong apa?"
Jennie sudah buka mulut, siap menumpahkan semua fakta terpendam yang dikumpulkannya selama setengah jam terakhir—mulai dari suaminya mantan pacar Jef yang menurut Jennie oke punya hingga sosok Sashi yang dilihatnya di lockscreen ponsel lelaki itu. Namanya Jo dan meski terkesan kaku, Jennie mendapat kesan jika dia adalah tipikal suami nggak neko-neko yang sayang keluarga. At least, jika dia tidak sayang keluarganya, dia tidak akan berbesar hati membiarkan Jef si brengsek menemui istrinya atau menggunakan foto anak perempuan yang bukan anak kandungnya sebagai lockscreen ponsel.
"Om-om ini—"
"Jen, stop it." Jef menoleh pada Jennie, dengan cepat memasang badan di depan perempuan itu sambil memegang salah satu tangannya. Dia agak menunduk, karena Jennie lebih pendek darinya. "Tris bilang anak itu belum tahu. Sebodoh-bodohnya gue, gue merasa saat ini bukan waktu yang tepat. Dia baru kehilangan ibunya. So... please?"
Jennie belum pernah mendengar Jef bicara dengan nada se-memohon itu padanya.
"Okay." Jennie akhirnya menyerah.
Tapi malah ganti Sashi yang terlanjur dibikin penasaran yang bicara. "Tante tadi ngomong apa?"
"Nggak jadi."
"Dih, aku udah keburu kepo!" Sashi merengek. "Tante tadi bilang something soal anak perempuan sambil nunjuk ke aku. Kenapa?"
Jef yang telah kembali memosisikan dirinya di samping Jennie agak memiringkan badan sedikit, hanya untuk membisikkan ejekan. "Hasil kedodolanmu kui loh."
"Nggak. Saya cuma... hng... kamu mirip... anak perempuannya om-om ini!"
"Oh. Cuma mirip. Kirain apa." Sashi berdecak. "Ini om-om gendheng yang di restoran ramen tadi, kan? Dih, apes banget saya mesti ketemu om lagi di sini."
"Wes jaman edan, makin akeh bocah seng kurang ajuar." Jef membalas sekenanya.
"Biasa deh, budayanya generasi tua kayak generasi om tuh selalu ngerasa generasi sendiri lebih baik dan ngata-ngatain yang muda. Harusnya mah introspeksi. Takutnya aja, besok-besok udah—"
"Udah apa?!" Jef galak.
"Loh, kok malah nesu sih, Om?!"
"Kamunya yang ngajak saya berantem!"
Sashi memutar bola mata dengan cara yang bikin Jef berhasrat kepingin menggamparnya setidaknya sekali. Tapi dia menahan diri, tetap bergeming di tempatnya berada. Tangannya terkepal kuat hingga uratnya mencuat, bikin Jennie mengernyit padanya, disusul mengerjapkan mata beberapa kali. Entah kenapa, bahkan walau salah satu dari mereka belum tahu soal fakta yang sebenarnya, perdebatan antara dua orang di depan Jennie sudah terlihat sama persis seperti pertengkaran antara ayah dan anak.
"Kasian amat anak om yang katanya mirip sama saya. Apes bener. Kalau saya jadi dia, ogah deh saya punya bapak kayak om. Emosian abis. Tiap detik mode senggol-bacok terus mesti. Hadeh."
Jef tidak menyahut, hanya buang muka. Sashi memandangnya sekali lagi dengan alis terangkat, ganti melihat pada Jennie sejenak sebelum berlalu pergi dari tempat itu. Selama beberapa lama, tak ada yang bicara. Jef sibuk menenangkan dirinya sendiri sementara Jennie lebih tertarik menonton punggung Sashi yang bergerak pergi sebelum benar-benar hilang di belokan koridor rumah sakit.
"Oy." Jennie memanggil ketika akhirnya dia menoleh lagi pada Jef.
Lelaki itu tidak menjawab.
"Wes, let it mbrebes wae, Gouw."
Jef langsung mengaum. "Lo ngomong apa sih?!"
"Iku air matamu wes di ujung, arep metu. Wes nangis wae ra popo."
"Kenapa gue harus nangis?!"
"Anak lo barusan bilang kalau dia ogah punya bapak kayak lo."
"Dih. Bodo. Dia yang rugi."
"Oh ya?"
"Woyajelas!" Jef pun meneruskan dengan cerocosan berapi-api, mirip-mirip lah sama pidato emosional pejuang yang berusaha membakar semangat rakyat di masa pra-kemerdekaan. "Apa yang kurang dari gue? Ganteng, checked. Tajir, checked. Jago masak, checked. Selera musik kekinian, checked."
"Lo lagi ngomongin anak lo, bukan cari cewek."
"Apa bedanya?"
"Lo bisa mengepang rambut nggak?"
"Hng... itu..."
"Lo bisa bikin telor mata sapi yang kuningnya utuh, nggak mbeledos gitu, bisa nggak?"
"Bisa lah! Gini-gini gue tuh tetap chef!"
"Oh ya. Lupa." Jennie berpikir sebentar. "Lo kuat bangun pagi buat nganter dia ke sekolah nggak?"
"Soal itu..."
"Nggak ada satupun poin plus di lo soal per-ayah-an, kecuali berperan sebagai ayah dalam proses pembuahan. Kalau soal itu, lo memang jagonya." Jennie masih meledek, tapi nada suaranya terkesan muram. Beberapa orang berjalan melewati mereka menuju arah yang dituju Sashi tadi. Sebagian besar mengenakan masker. Sebagian lainnya kelihatan menahan tangis. "Mau balik ke sana lagi nggak?"
Jef menggeleng. "Kayaknya keluarganya udah mulai ngumpul. Kehadiran gue hanya akan mengundang pertanyaan. Gue juga harus menghargai suaminya, dia lagi berduka."
"Anak yang lo bentak tadi juga lagi berduka. Hancur banget malah kelihatannya dia. Lo nggak lihat gimana dia nangis tadi?"
Jef menghindari tatapan Jennie. "Gue nggak mau bahas anak kurang ajar itu. Gue mau pulang. Pake mobil lo ya? Malas nunggu taksi online."
"Lo yang nyetir. Bodo."
"Iya, anjir."
"Apa gue nginep di tempat lo aja ya malam ini? Toh besok weekend."
Jef berhenti melangkah, mendelik pada Jennie. "Dih."
"Kenapa? Lo nggak terima?! Mau ngelarang gue nginep di tempat lo?! Gue kirimin Rosé lagi kayak kemarin, mau?"
"Up to you wae lah."
Mereka meneruskan berjalan menuju parkiran. Seperti biasa, dalam situasi apapun, mustahil berharap seorang Jennie bisa diam. Selama mereka melangkah, gadis itu sibuk bicara tentang banyak hal, mulai dari konser penyanyi Hollywood favoritnya yang bakal segera digelar di Jakarta sampai rekomendasi restoran kepiting di daerah pinggiran kota yang baru buka. Entah, Jef tidak terlalu memikirkan, soalnya tanpa permisi, kata-kata yang Sashi ucapkan terus terngiang dalam telinganya, tanpa sedetikpun mau pergi.
Ogah deh saya punya bapak kayak om.
Damn it, why does it hurt?
*
Jika melihat Mami yang tambah kurus dari hari ke hari membuat Sashi sedih bukan kepalang maka berdiri di samping ranjangnya untuk mencium keningnya terakhir kali rasanya tidak tertahankan. Namun Sashi harus melakukannya. Dia akan jadi anak durhaka jika membiarkan Mami pergi tanpa memberi salam terakhir. Walau begitu, Sashi agak lega. Mami terlihat seperti sedang tidur nyenyak, meski kini wajahnya jauh lebih pucat. Itu bagus, sebab beberapa bulan terakhir, lebih banyak malam Mami lewati dengan terjaga karena sakit di badannya membuatnya tidak bisa tidur sama sekali.
Mami, untuk minggu depan, aku mau cake red velvet buat kue ulang tahunku, Sashi berbisik dalam hati sambil menanamkan sebuah kecupan di kening Mami, berusaha mati-matian menahan air mata.
Tak lama, dia menegakkan tubuh dan melihat ke belakangnya. Papi berada di sana, tersenyum muram sambil mengulurkan tangan. Geraknya agak canggung dan Sashi merasa sedikit aneh, namun dia membalas uluran tangan itu. Papi menggandengnya—ini bisa jadi hanya terjadi setahun sekali, itu pun kalau Papi sempat merayakan malam Natal di rumah bersamanya dan Mami—keluar dari kamar perawatan Mami. Kehadiran mereka lekas tergantikan oleh anggota keluarga lain yang juga ingin menyampaikan salam perpisahan dengan Mami.
Papi membawa Sashi ke ruang perawatan lainnya di rumah sakit itu, yang sengaja disewa oleh keluarga mereka buat anggota keluarga yang ingin menginap—mudah melakukannya, soalnya pemilik rumah sakit swasta ini juga teman akrab Papi sejak masih kuliah.
"Soal Mami—"
"Malam ini, aku nginep di tempat Dery. Aku udah bilang Dery. Papanya Dery juga punya hamster baru, udah nanya melulu kapan aku bisa nginep karena mau pamer."
Jo memandang remaja perempuan di depannya sesaat, lalu mengangguk. "Mandala di depan? Panggil juga kesini, deh. Sekalian Papi mau ngomong sama dia."
Dery yang dari tadi stand-by nguping di depan pintu langsung buru-buru merapikan baju dan rambutnya. Namanya juga mau dihadapkan ke calon mertua. Harus rapi dan terlihat seperti anak bermasa depan cerah lah—ya walaupun melihat dari latar belakang keluarganya sekarang, kehidupan Dery nantinya bakal lebih shining shimmering glowing daripada muka artis Korea.
Sashi mendelik kala dia membuka pintu dan mendapati Dery masih sibuk menata rambut. "Lo mau ketemu Papi gue, bukan mau fashion show."
Dery hanya nyengir, tapi mukanya sok dibikin berwibawa saat dia berjalan di belakang Sashi agar lebih dekat dengan Jo.
"Mandala, Sashi katanya mau nginep di tempat kamu. Om titip ya? Sekalian salamin ke papa-mama kamu. Oke?"
"Siap, Om!"
Jo berpaling pada Sashi. "Besok pagi mau Papi jemput?"
Sashi menggeleng. "Nggak usah. Nanti aku dianter Dery aja."
"Nanti ngerepotin."
Dery buru-buru menyambar. "Nggak kok, Om!"
"Hm, ya sudah kalau begitu." Jo mempersempit jaraknya dengan Sashi, berniat memeluk gadis itu. Tapi entah kenapa, dia ragu-ragu, membuat gestur tubuhnya jadi sangat awkward. Akhirnya, Jo tidak jadi menarik Sashi ke dalam dekap, malah mendaratkan tangan di pundak anaknya dan meremasnya pelan. "Hati-hati ya. Jangan tidur terlalu malam."
Dan jangan terlalu banyak nangisnya, Jo meneruskan namun dalam hati, merasa aneh jika dia menyuarakannya keras-keras.
"Iya, Pi."
Papi... juga. Apa yang berada dalam benak Sashi malah lain lagi.
Jo membiarkan Sashi pergi bersama Dery, sebelum kemudian dia menghela napas dan mundur perlahan, terduduk di tepi ranjang perawatan yang berada di dekatnya. Lelaki itu tertunduk, disusul air mata yang menetes berkejaran di pipinya. Tidak butuh waktu yang lama buat air mata itu untuk memicunya terisak sampai kedua bahunya berguncang. Jo membungkam suara tangisnya dengan telapak tangan, sementara air mata masih terus mengalir sederas air bah, enggan untuk berhenti.
At least now, you, My Love, is no longer in pain.
Tetapi tentu saja, kepergian perempuan itu mencipta retak dalam hatinya. Perihnnya menjalar, membuat napasnya sesak. Delapan belas tahun bukan waktu yang singkat. Dulu saat baru mengenal seorang Patricia Gunawan, Jo merasa menggenggam tangannya, sesebentar apapun itu, tetap jadi sesuatu yang bakal dia syukuri.
Kini dia sadar, dia telah jadi serakah. Tidak peduli berapa lama waktu yang telah dihabiskan perempuan itu bersamanya... apakah delapan belas tahun... atau lebih jika dia bisa memilih... atau bahkan dua kali lipatnya...
Jo tidak akan pernah merasa cukup.
Dia tahu dia harus merelakan, namun untuk kali ini, biarkan dia menangis sepuasnya sebab hingga akhir, meski hampir dua puluh tahun telah berlalu, dia tetap jadi pihak yang terbenam dalam kekalahan.
*
Mereka baru saja tiba di apartemen Jef ketika Jennie tiba-tiba berujar. "Makan apa ya? Padahal tadi barusan makan ramen, tapi udah lapar lagi."
"Perut lo tuh isinya setengah populasi Afrika kali ya?" Jef bertanya sambil melemparkan kunci mobil ke atas sofa, tentu maksudnya untuk mencerca.
"Bodo." Jennie memutar bola matanya, tak peduli sama sekali. Dia langsung saja duduk santai di sofa ruang tengah apartemen Jef, mata sepenuhnya tertuju pada layar ponsel. Di jaman modern dimana Go-Jek sudah eksis seperti sekarang, Jennie tergolong jarang menggunakan layanan Go-Food. Habisnya bagaimana ya, sebagian besar restoran yang dia suka dimiliki oleh sahabat-sahabatnya. Kalaupun tidak, Jennie tuh tipikal orang yang rajin menyimpan nomor restoran. "Yang deket dari sini apa, sih?"
"KFC, paling."
"Itu aja, deh."
"Jam segini makan ayam?"
"Kalau lo nggak mau yaudah."
"Mau." Jef membalas, nggak tahu malu.
Jennie berdecak.
"Gue ke toilet dulu." Jef berkata lagi, bikin Jennie menoleh padanya.
"Baru juga nyampe rumah, udah gercep aja melakukan ritual harian."
Jef berhenti bergerak tepat di depan pintu kamar mandi. "Ritual apa?"
"Ritual membuang-buang bibit anak bangsa."
"Kampret!"
"It's the truth, though." Jennie berkata dan Jef baru saja menutup pintu kamar mandi di belakang punggungnya waktu dia dengar Jennie bilang, "Halo. Kaepci?"
Jef membiarkan sahabatnya itu melakukan apa yang mau dia lakukan. Begitu masuk ke kamar mandi, dia langsung menyalakan keran. Nggak dipake sih, jadi teknisnya dia sedang buang-buang air sekarang. Memang luar biasa. Tapi mana peduli Jef soal usaha orang-orang buat menyelamatkan Bumi, terutama sekarang saat perasaannya tengah hancur berantakan. Air terus mengalir, mencipta kegaduhan yang Jef butuhkan. Dia duduk di atas toilet yang ditutup, diam saja sementara air mata mulai mengecupi pipinya.
Because I love you, Kak Jeffrey. I always do.
Patricia Gunawan, indeed, was the most beautiful angel he ever had in his life. Bukan cuma hari ini, tapi Jef sudah berpikir begitu sejak bertahun-tahun lalu, waktu mereka berdua hanya sepasang remaja berseragam putih-abu yang sedang dimabuk cinta. Tris berbeda dengan kebanyakan gadis yang pernah dekat dengannya. Dia tulus. Dia mendukung apa yang Jef lakukan tanpa banyak kata, tapi memastikan diri selalu ada di sana. Bekal makan siang yang dibuatkannya untuk Jef hampir setiap hari... senyum penuh pengertian di wajahnya setiap dia mendengar Jef bercerita tentang sesuatu yang ingin dia lakukan... bahkan caranya menatap Jef tadi...
Semuanya berkumpul jadi satu seperti fragmen-fragmen yang membentuk serangkaian sekuens film, membuat air mata Jef mengalir makin banyak.
The night with her is still the most wonderful ever in his life. It was the very first time he made love, not just having sex. Every little things from that night seem crystal clear. Her scent, her touch, the way she whispered his name.
Ada banyak alasan mengapa seorang Jeffrey Gouw enggan settle down dan menutup perjalanan panjang kisah cintanya dengan satu perempuan meski dia sudah berumur lebih dari cukup untuk melakukan itu. Bukan hanya karena dia tidak bisa membayangkan dirinya sendiri memiliki anak, tapi bisa jadi... mungkin... karena jauh dalam lubuk hatinya... entah bagaimana dia berharap dia bisa dipertemukan lagi dengan perempuan itu.
Yah, mereka memang bertemu lagi pada akhirnya. Namun pertemuan seperti ini bukan jenis pertemuan yang Jef inginkan. Dan secepat itu, setidak terduga telepon darinya yang datang kemarin, kini dia telah tiada lagi. Kali ini, untuk seterusnya. Sejauh apapun Jef mencari, bahkan sampai ke ujung dunia, Jef tidak akan pernah menemukannya.
Sebab kali ini, bukan waktu yang memintanya, melainkan Dia yang berkuasa dari atas sana.
Jef masih terisak tanpa suara ketika pintu toilet diketuk. Keras. Jelas sekali, karena Jennie lebih barbar dari preman Pasar Turi dan punya tenaga turbo layaknya seribu kuda dijadikan satu.
"OPO MENEH, COK?!" Jef kesal luar biasa karena kesyahduannya menangis diusik.
"YEEE, KOK SITU NGE-GAS?!" Jennie balas meneriaki Jef, memastikan suaranya terdengar diantara ributnya bunyi air yang mengucur dari keran. "Manukmu piro?!"
"YO SIJI!"
"Dudu manukmu seng iku, Gemblung! Manuk Kaepci."
"Telu."
"Okay." Jennie beralih bicara dengan petugas layanan delivery KFC yang pasti sedang mengalami mental breakdown sekarang. "Hot chicken crispy-nya tujuh ya, Pak."
Jef lega, sudah siap melanjutkan menumpahkan duka ketika suara Jennie terdengar lagi.
"Beb, nggawe sego opo ora?!"
"ORA!"
"Sip. Tanpa nasi ya, Pak."
Jef menghela napas, kehilangan mood untuk lanjut menangis dan kini menyeka bersih pipinya dari jejak air mata. Namun tentu saja, bukan Jennie namanya jika bisa membiarkan hidupnya tenang.
"Minum e?"
"Whatever seng anyes!"
"Koka kola opo Seprit?!"
"SPRITE! FOR GOD'S SAKE, JEANNETH KARTADINATA—"
"Seng gede opo seng cilik?!"
"SENG GUEDE!" Jef emosi berat. "NOW PLEASE JUST LEAVE ME ALONE, CAN YOU?!"
Jennie cemberut, menggerutu sambil menjauhi pintu, tetapi cukup keras buat bisa terdengar oleh Jef yang masih berada dalam toilet. "Sensi bener gitu aja nge-gas. Besok-besok ganti spesies aja lo jadi gas elpiji!"
"BODO!"
*
Keesokan harinya, betulan Dery yang mengantar Sashi ke rumah duka. Orang tuanya juga ikut, tapi Papa sangat paham pada perjuangan cinta anak semata wayangnya, jadi mereka menggunakan mobil yang berbeda. Terus kelihatannya Sashi memang sesedih itu. Sepanjang malam, Dery menemaninya, mengajaknya main uno sampai ribet minta diantar supir keluarga Dery buat cari restoran fast food yang masih buka jam tiga pagi karena mereka tiba-tiba lapar.
Dery kasihan sama Sashi, tapi dipikir lagi, dia rada merasa berdosa karena agak senang. Soalnya dari kemarin sampai pagi ini, Sashi tuh nuempeeeeeel terus ke dia macam perangko ke amplop. Nempel ndusel buat ngumpetin mukanya tiap nangis. Sebagai lelaki murahan, digrepe-grepe oleh cewek yang disukai jelas sangat nagih ya, pemirsa.
"Tunggu dulu, Bol." Dery menahan sebelum Sashi meraih kenop pintu. Dia memberikan kacamata hitam pada Sashi yang langsung mengernyit.
"Gue bukan mau berjemur di pantai!"
"Lo nangis lama banget kemarin. Mau mata lo kelihatan kayak gitu di depan teman-teman yang dateng?"
"Hm..."
"Nanti kalau Ojun datang juga gimana, hayo? Sorry to say aja ya, raimu iku we sewelas-ro las karo demit. Juelek'e pol."
"Drol."
"Apa? Mau protes karena framenya nggak kotak?" Dery menebak, karena sepemahamannya, Sashi paling anti pakai kacamata yang framenya mendekati bulat. Sugesti aja sih, soalnya Sashi merasa mukanya tuh bulat banget.
"Makasih ya." Sashi memeluk Dery sebentar.
Dery? Kalau ngasih kacamata bisa bikin Sashi meluk dia kayak gini, besok-besok dia kasih sepabriknya sekalian.
Siapa tau dapet lebih kayak misalnya... cium gitu, kan?
Ehehehehehe. Buat yang nggak bisa memiliki kayak Dery, halu tuh udah paling nikmat. Mau gimana ya namanya juga kenyataan tidak bertemu keinginan, maka hanya bisa jadi apa? Betul, sebatas impian dan harapan babu seperti pungguk yang merindukan rembulan.
Rumah duka sudah ramai oleh banyak orang. Semuanya mengenakan setelan hitam-hitam. Beberapa yang datang memandang Sashi dengan kasihan, tapi Sashi mengabaikan kata-kata simpati mereka. Dia berpegangan kuat-kuat pada salah satu lengan Dery dan terus menunduk selama berjalan. Untungnya, kacamata hitam Dery mampu menyembunyikan matanya yang bengkak dengan baik.
Selain rekan bisnis dan kolega Papi, banyak juga teman-teman Sashi yang datang. Juga beberapa guru yang memang kenal dekat Mami, karena Mami itu betulan tipe ibu yang berdedikasi. Sejak Sashi kecil, Mami selalu di rumah, mengurusinya dengan baik hingga dia tidak pernah merasa kurang perhatian, apalagi merasa tidak diperhatikan dan tidak dicintai.
Namun dari sekian banyak yang datang, kehadiran Ojun sangat unexpected buat Sashi. Gimana ya, Sashi nggak merasa sedekat itu sama Ojun. Tapi yah bisa jadi, Ojun memang sebaik itu.
Hari ini Ojun ganteng banget, kalau Sashi tokoh manga, Sashi pasti udah mimisan seember. Dia pakai kemeja hitam dan celana jeans tanpa sobek-sobek yang juga hitam. Rambutnya rapi, hitam juga. Serba hitam kayak gitu, Ojun luar biasa seksi. Dia memberikan penghormatan terakhir lebih dulu ke Mami lalu meletakkan bunga yang dibawanya—sumpah, Sashi saja baru ingat kalau Mami memang sesuka itu sama bunga anyelir putih dan hari ini, Ojun membawa beberapa tangkai yang dia letakkan dalam baki dekat peti Mami.
Setelahnya, baru Ojun mendekati Sashi. Tentu Sashi sudah siap-siap. Dia sudah memastikan rambutnya kelihatan rapi dan tangannya tidak lagi terkait di lengan Dery.
"Yang kuat ya, Sashi." Ojun berujar saat dia tiba di depan Sashi. Sashi mengangguk, terhipnotis oleh pembawaan Ojun yang sangat berwibawa. Yeokshi¸ namanya juga Ketua OSIS kebanggaan sekolah, pasti aura pemimpinnya sudah terdeteksi sejak dini. "Kalau ada apa-apa dan butuh bantuan, hubungi gue aja."
Dery yang berdiri di samping Sashi langsung melengos, bikin Ojun meliriknya dengan ujung mata sebelum kembali fokus pada Sashi. Lalu begitu saja, tiba-tiba tanpa Sashi duga, Ojun memeluknya. Sashi melongo... kemudian...
JEDUAAAAAARRRRRRRR...
Dery melotot, dalam hati membatin; juangkrek ki bocah, gercep bener urusan ambil-mengambil kesempatan! Dasar oportunis! Asu buntung! Tak santet koen kelar dari sini!
Ojun tersenyum tipis usai melepas pelukannya pada Sashi. "Gue bakal berusaha buat bantu. After all, kita kan teman."
Teman.
Asem coy, Sashi membatin.
"Makasih ya, Jun."
"Sama-sama."
Kemudian Ojun pun berlalu, bergabung dengan para pelayat lainnya yang telah memberikan penghormatan terakhir.
"Drol."
"Hoh?" Dery dongkol betulan sekarang, tapi mau salty ke Sashi nggak tega. Mending Sashi happy karena seseorang yang bukan dia daripada nangis terus-terusan, kan?
"TOLONG PEGANGIN GUE SEBELUM GUE MELEDAK."
Dery bergeming.
"Drol!"
"Its your mother's funeral, Geblek. Masih bisa aja ya lo?"
"Ya gimana, kagak sewindu sekali juga gue dipeluk Ojun!??? Terus salah gue gitu?!???" Sashi berujar dalam bisik nyolot.
"Ck."
"Dih, kok responnya gitu?"
"Maunya gimana?"
"Lo nggak lagi kebelet berak kan?"
"Nggak."
Cuma lagi cemburu menguras jamban doang, Bol.
Namun sekesal-kesalnya Dery, dia tetap setia berdiri di samping Sashi, menemani Sashi menyapa para pelayat yang datang. Ada lebih banyak lagi yang memeluk Sashi, walau sebagian besar ibu-ibu temannya Mami Sashi. Papi tidak terlihat dimanapun dan Sashi tergerak mencarinya karena lelaki itu tidak juga muncul padahal mereka sudah akan bertolak ke pemakaman.
Sashi dan Dery sepakat bagi tugas. Dery akan mencari Jo di seluruh ruangan di lantai satu sementara Sashi naik ke lantai dua. Sebetulnya Sashi juga tidak menebak papinya bakal berada di lantai atas sih, tapi ternyata lelaki itu betulan berada di sana dan dia tidak sendirian. Sashi mengernyit kala dia mendengar percakapan antar dua orang. Selain papinya, ada lelaki lain di sana, yang kini duduk memunggungi tangga.
"Patricia menitipkan ini untuk diberikan pada anda." Jo berkata seraya meletakkan sebuah kotak di atas meja. "Ini bagian dari wasiatnya. Keinginan terakhirnya. Saya harap anda menjaganya dengan baik."
Lawan bicara Jo tidak sempat menyahut sebab Sashi sudah memotong dengan tanya. "Pi?"
Kedua lelaki itu menoleh, bikin Sashi melotot sampai hampir tersedak tatkala dia mengenali lawan bicara Jo sebagai om-om sinting yang dilihatnya kemarin di restoran ramen dan rumah sakit. Om itu mengenakan setelan hitam hari ini, dengan rambut yang ditata seperti kemarin, dengan sedemikian rupa hingga ada rambut yang membingkai tepi dahinya tanpa menutupi kening. Om itu terkejut, tapi hanya sebentar.
"LOH, PAPI KENAL OM GILA INI DIMANA?!"
"Cangkemmu kui—" Jef batal meneruskan ucapannya ketika dia sadar bagaimana Jo menatap mereka bergantian. "—well."
"Kalian sudah pernah ketemu?"
"Unfortunately." Sashi dan Jef membalas berbarengan, yang mana saking kompaknya sama-sama membuat mereka kaget. Keduanya saling pandang, lantas kompak melipat tangan di dada seraya membuang muka.
Jo menghela napas. "Jika begitu, ini seharusnya lebih mudah. Setelah kita kembali dari pemakaman, kita harus ngomong. Bertiga. Sashi juga. Papi akan menjelaskan semuanya ke kamu, juga soal siapa sebenarnya Om—"
"Jeffrey. Bisa panggil Jef aja." Jef memotong.
"Om Jef, gitu?" Sashi sinis.
"Nggak usah pake 'om'. Jef aja."
"Oalah, rak sadar umur." Sashi berujar, berbalik pergi diikuti helaan napas panjang Jo.
Jef? Emosi jiwa tingkat mahadewa.
to be continued.
***
Catatan dari Renita:
beneran jadi update daily anjir wkwkwkwkwkw kalian tuh ya bisaan banget.
tapi kalau dikasih target ngga tau kenapa jumlah silent readers jadi berkurang hih dasar pada keluar kalau udah digituin.
jadi ya begitulah. kok pada ada yang nangis sih padahal ini baru awal banget gitu lho.
buat yang bingung cari terjemahannya, kan aing udah bilang kalo ada di kolom komentar in-line. kalau tenggelam ya... iku deritamu wkwkwkwkwkkwwk
yak, cerita ini baru dimulai dan... lets see... siapapun yang jadi sama sashi, apakah mereka bisa menghadapi papi jo sama ayah jef???????
lalu gimana dengan percintaan papi dan ayah??????????
ea ea ea lets see
tapi mami tris memang seindah itu siiiiih wkwkwkwk even ayah jef dan papi jo nggak bisa move on ehehe
tenang semua akan dikupas pelan-pelan wkwkwk
kemudian... pasang target lagi lah biar enak.
1,8K votes and 1,5K comments for next chapter.
dah.
hahaha.
bonus tante jennie, yang akan jadi partner in crime sashi dalam mengerjai papahnya.
Semarang, September 29th 2019
19.23
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro