Part 18
Yuza, Takao, dan Haruna bingung dengan apa yang tengah terjadi, wanita yang tadinya mengusir mereka sekarang justru terus menangis, bahkan memeluk Yuza.
Ditambah lagi Yuza baru saja memanggilnya Fujita Mito, wanita peramal yang mereka bertiga cari, tapi kenapa orang yang diduga menjadi tersangka paling utama yang seharusnya memiliki gambaran misterius dan menakutkan di pikiran mereka, sekarang hanyalah seorang wanita kurus, tidak terawat yang sejak tadi terus menangis?
Bahkan Yuza sendiri yang hampir tidak mengenali sosok Fujita Mito jika bukan karena tahi lalat di bawah bibirnya saat ini hanya bisa diam kebingungan melihat apa yang dilakukan Fujita Mito kepadanya.
Kenapa wanita itu terus menangis?
Kenapa wanita itu memeluknya dan terus meminta maaf?
Kesalahan macam apa yang telah ia perbuat kepada Yuza?
Apa yang membuat ia sampai sebegitu terpukulnya saat bertemu Yuza?
Yuza semakin bingung, tapi dia tidak tega jika langsung melepaskan pelukan Fujita Mito begitu saja, ia bukanlah anak yang sekasar itu pada orang yang lebih tua.
Jika boleh membandingkan apa yang ia alami di masa lalu karena perkataan jahat seorang Fujita Mito, maka seharusnya Yuza lah yang berhak menangis saat ini, tapi melihat bagaimana wanita itu terus menangis dan tidak berhenti meminta maaf,Yuza yang hanya seorang manusia biasa juga tidak tega.
"Maafkan aku Akiyama." ucap Fujita Mito di tengah isakannya. "Maafkan aku. Semua terjadi karena perkataanku. Maafkan aku." suara Fujita Mito terdengar sangat menyesal.
"A-aku tidak mengerti. " kata Yuza pelan.
Iya, Yuza memang tidak mengerti dan butuh penjelasan, tapi tidak tahu sekarang apa yang harus ia lakukan. Apa selama ini Fujita Mito mengerti dengan kesalahannya? Lalu kenapa ia harus lari dari kesalahannya? Bahkan sampai pindah ke tempat terpencil seperti ini?
Takao perlahan mendekati wanita itu dan memanggilnya pelan, "Fujita-san? Dapatkah kita bicara sebentar?" tanya Takao halus. Mendengar suara Takao, wanita itu kemudian melepaskan pelukannya pada Yuza.
Fujita Mito lalu mundur satu langkah, menyeka air matanya dengan tangannya, lalu berbicara kepada mereka berempat, "maaf sudah membuat kalian bingung. Masuklah, mari bicarakan di dalam saja." Ucapnya sambil mempersilahkan mereka bertiga masuk.
“Duduklah, akan kuambilkan minuman untuk kalian." Setelah wanita itu mempersilahkan mereka untuk duduk dan pergi ke dapur mereka bertiga mulai memperhatikan isi rumah itu.
Benar-benar tidak terawat, kardus-kardus yang tersusun tidak teratur, sampah di mana-mana, dan kursi tempat mereka duduk yang sudah sedikit berdebu. Apa Fujita Mito memang sejorok ini?
"Takao, menurutmu bagaimana? Apa benar dia pelakunya? Kalau iya bukankah kita dalam bahaya sekarang?" bisik Yuza bertanya pada Takao.
"Aku tidak yakin Yuza, tapi kalau menurutku dia bukan pelakunya. Perjalanan dari tempat kita sampai ke tempat ini dengan menggunakan kereta cepat saja memakan waktu lebih dari 7 jam, dan menurut pengakuan warga desa mereka selalu melihat dia duduk di depan rumahnya setiap hari, dan seminggu sekali pergi ke pemukiman warga untuk membeli kebutuhan sehari-harinya di warung. Jadi, dia punya alibi yang jelas.” Jelas Takao yang juga berbisik.
“Untuk selebihnya aku pikir lebih baik kita mendengarkan cerita dari sudut pandangnya dulu, mungkin ada sesuatu yang bisa menjadi petunjuk bagi kita." Tambah Takao menyarankan.
"Belakangan ini kalian terlalu sering berbisik di belakangku, apa kalian lupa kalau aku juga anggota dari tim ini?" tanya Haruna yang kesal karena menyadari Takao dan Yuza tengah berbicara di belakangnya.
"Bukan hal yang penting, lagi pula orang sepertimu pasti juga tidak mengerti." Balas Takao masih dengan senyuman khasnya yang sebenarnya tidak cocok dengan perkataannya barusan.
"Apa maksudmu?" Haruna semakin kesal.
"Ini, ambil dan makanlah." Baru saja Haruna ingin marah, Takao sudah menyodorkan sebuah makanan ringan kepada Haruna, membuat Haruna berhenti memikirkan perkataan Takao yang menghinanya dan malah langsung mengambilnya.
Yuza hanya menggelengkan kepala melihat tingkah aneh kedua temannya itu begitu pun dengan Kei yang ikut tertawa.
Ya, entah sejak kapan Kei ada bersama mereka, bahkan Yuza tidak menyadarinya, mungkin saat Yuza tertidur di stasiun sendirian Kei sudah ada di sana menemaninya.
Beberapa hari belakangan Kei hampir tidak pernah lagi menunjukkan sosoknya kepada Yuza. Sejak adanya Takao, Kei sudah semakin jarang menemani Yuza, ia pun tak tahu kenapa, tapi Yuza juga merasa tidak enak jika harus bertanya tentang itu, mungkin saja Kei punya urusan yang lebih penting dibanding menemani Yuza, toh Kei juga punya masalahnya sendiri.
Tidak berapa lama kemudian Fujita Mito kembali dari dapur dengan membawa sebuah nampan kayu dan empat gelas jus. Ia lalu meletakkan keempat gelas tepat di depan mereka bertiga.
Takao dan Haruna sempat kebingungan karena wanita itu meletakkan empat gelas berjejeran. Satu gelas dia letakkan tepat di sebelah milik Yuza, padahal di sana tidak siapa-siapa..
"F-fujita-san? Apa mungkin anda juga bisa melihat han-tu?" ucap Takao yang mulai bergidik ngeri.
"Hantu? Memang benar aku bisa melihatnya, tapi kalian tahu dari mana?"
"Mmm.. soal itu.. Fujita-san, tidak ada orang lain di samping Yuza." Jawab Haruna memberi tahu apa yang dia lihat dengan matanya.
"Eh?! Jadi anak manis yang satu ini bukan manusia ya, pantas saja aku sempat bingung kenapa kalian membawa anak kecil ke tempat seperti ini." Jawab Fujita Mito santai sambil terkekeh pelan.
"Setidaknya aku dulunya juga manusia." Ucap Kei kesal sambil memaksa mempertahankan senyumnya.Yuza hanya tertawa melihat keluhan sahabat kecilnya itu.
"Baiklah kalau begitu, mari kita mulai pembicaraannya." Fujita Mito kemudian duduk di kursi tunggal di sebelah kanan Haruna. Kali ini wajahnya terlihat serius.
“Jadi, aku harus mulai menceritakannya dari mana?” tanya wanita itu seakan sudah mengerti maksud kedatangan mereka.
Yuza sejenak melirik Takao dan Haruna, memberikan kode bahwa ia akan berbicara lebih dulu. Setelah menerima anggukan dari kedua temannya Yuza pun mulai bertanya.
"Saya hanya ingin bertanya. Lima tahun yang lalu kenapa anda datang ke rumah saya dan mengatakan itu kepada keluarga saya?”
Fujita Mito sejenak menarik napas panjang lalu menghembuskannya kembali dan mulai bercerita.
"Biar kuceritakan dari awal apa yang terjadi. Seperti yang kalian tahu aku dulunya peramal. Awalnya pekerjaan itu banyak menguntungkanku, tapi entah sejak kapan pekerjaan itu justru merugikanku.”
“Mulai merugikan?” tanya Haruna penasaran.
“Iya. Itu mulai terjadi saat namaku mulai dikenal banyak orang. Para pengunjung dari luar kota bahkan luar negeri datang untuk meramal nasib mereka. Salah satunya adalah pemuda Inggris bernama George Hugo.”
“George Hugo?” tanya Takao yang bingung kenapa Fujita Mito mengatakan nama itu.
“George Hugo adalah nama ayahku sebelum dia menikah dengan ibuku. Setelah menikah mereka memutuskan untuk memakai nama keluarga Ibuku, Akiyama.” Jelas Yuza pada Takao dan Haruna.
“Semua itu berkat saran dariku, ayahmu pindah ke Jepang dan menikah dengan wanita Jepang sampai mengganti nama keluarganya adalah hasil ramalanku yang mengatakan dia akan sukses.” Fujita Mito menggantung sejenak menggantung perkataannya.
"Namun, perlahan masa depan yang ditunjukkan kepadaku sudah bukan masa depan yang menyenangkan lagi. Tidak ada lagi masa depan yang sukses, tidak ada lagi percintaan yang terjamin bahagia, hanya ada kematian, perpisahan, kegagalan yang aku lihat dari masa depan mereka,"
"Aku takut jika para pelangganku berkurang, jadi aku mulai mengatakan kebohongan kepada mereka, sejak saat itulah aku pekerjaanku mulai mengalami kerugian, dan namaku mulai di cap buruk di masyarakat."
“Lalu, apa hubungannya semua itu dengan Yuza? Apa kau tahu bagaimana penderitaan yang dia rasakan karena kebohongan yang kau buat?” suara Takao mulai meninggi. Dia yang biasanya sopan kepada orang yang lebih tua kali ini terlihat berbeda.
“Aku tidak berbohong soal itu. Aku melihatnya di dalam mimpiku, Yuza yang ada di tengah kobaran api, aku melihatnya dengan jelas, oleh karena itu aku memberitahukannya kepada Tuan George, karena hanya dialah yang akan mempercayai kata-kataku.” Bantah Fujita Mito sekaligus menjelaskan keadaannya saat itu.
Yuza tersenyum tipis. Tidak jelas apa makna dibalik senyumannya itu, tapi jika mengingat dari apa yang dikatakan Fujita Mito, maka itu adalah sebuah senyum yang melambangkan kesedihan.
Yuza menatap Fujita Mito dengan senyuman tipisnya dan mulai berkata, “Iya, ayahku percaya semua kata-kata anda, Fujita-san. Dia sangat percaya sampai ia rela mengurungku di dalam gudang sendirian, dan bahkan memalsukan kematianku.”
Fujita Mito hanya menunduk mendengar perkataan Yuza. Ia tak mampu membalas tatapan Yuza yang penuh dengan kesedihan.
“Jadi, itu yang anda inginkan Fujita-san? Anda ingin Yuza dikurung dan dianggap mati oleh keluarganya sendiri?” tanya Haruna menegaskan.
“Tidak, yang aku harapkan saat itu bahkan lebih buruk dari yang kalian pikirkan. Aku ingin Yuza di—“
“Hentikan! Kumohon hentikan sampai di sini apa yang ingin kau katakan di depan Yuza.” Kali ini Takao berdiri, suaranya lebih tinggi dari sebelumnya. Dia nyaris menendang meja di depannya jika bukan karena tangan Yuza yang menahannya Takao, dan memintanya untuk duduk kembali.
“Tidak apa-apa Takao. Aku mengerti apa yang dirasakan Fujita Mito saat itu, jika aku di posisinya mungkin aku akan melakukan yang sama. Merelakan satu nyawa untuk menyelamatkan banyak nyawa.” Jelas Yuza dengan suaranya yang terdengar tenang, tapi ada kesedihan yang seakan dipendam dalam kata-kata itu.
“Tapi Yuza, itu tidak benar, akan selalu ada pilihan untuk menyelamatkan semua orang.” Balas Takao tidak setuju.
Haruna lalu menyentuh pundak Takao dan mencoba menenangkannya. “Takao tenangkan dirimu. Yuza lebih paham dengan apa yang dia rasakan dibanding kita."
Itu benar, Yuza adalah orang yang mengalami semua itu. Dialah yang paling mengerti bagaimana perasaannya setelah melewati semua itu. Dianggap kutukan, kehilangan keluarga yang ia sayangi, hidup seperti hantu, bukanlah apa yang ia inginkan.
Namun, jika ia bisa memilih masa lalunya, jika dia diberikan kesempatan untuk kembali ke masa lalu, maka yang akan dia lakukan adalah merelakan nyawanya asal adiknya, kedua orang tuanya, keluarga Yamada, Haruna dan orang-orang di panti asuhan, serta Takao dan neneknya dapat hidup bahagia.
“Jadi kenapa anda pindah tiga tahun yang lalu?” tanya Haruna penasaran.
“Aku pindah karena aku ketakutan, aku takut jika Yuza akan membalaskan dendamnya padaku karena apa yang aku lakukan.” Haruna mengerutkan dahinya saat mendnegar jawaban Fujita Mito.
“Lalu, kenapa meminta maaf pada Yuza tadi, bukankah seharusnya kau ketakutan bukan malah meminta maaf?” tanya Haruna lagi.
“Tiga tahun yang lalu aku memang sangat ketakutan, tapi sejak aku tinggal disini aku mulai memikirkannya lagi, ini mungkin salahku, seharusnya aku tidak mengatakan itu kepada siapa-siapa, seharusnya kubiarkan saja itu menjadi mimpi buruk, mungkin saja ini semua terjadi karena ucapanku.”
Suara Fujita Mito dipenuhi dengan penyesalan, ia sangat menyesal sampai tak mampu menatap Yuza secara langsung.
“Jika kau memikirkan hal seperti itu, kenapa tidak meminta maaf langsung kepada Yuza?” tanya Takao menambahkan.
“Aku terlalu malu.” Fujita Mito tampak gemetar sesaat, dalam tundukannya mereka dapat melihat air mata mulai menetes dari wajah wanita tua itu. Ia kemudian mengangkat wajahnya dan menatap Yuza langsung.
“Maafkan aku Akiyama Yuza.”
Matanya tak berhenti meneteskan air, tidak ada kebohongan dalam diri wanita itu, hanya penyesalan yang dapat dilihat saat wanita itu mulai membuka suaranya lagi, “maaf.”
Melihatnya, Yuza langsung meraih tangan ringkih wanita tua itu, menggenggamnya erat sambil tersenyum hangat. Senyuman itu seakan menunjukkan bahwa ia telah merelakan semuanya jauh dari lubuk hatinya.
"Tidak Fujita-san, apa yang kau lakukan tidak semuanya salah, kau hanya ketakutan saat itu, dan apa yang kau lakukan saat itu adalah hal yang wajar, aku tidak bisa menyalahkan siapa pun karena itu. Aku justru berterimakasih karena saat itu kau pasti memikirkan keselamatan keluargaku, aku berterimakasih kepadamu untuk itu.”
Yuza bukanlah manusia yang sempurna, ia juga dapat merasa tidak adil atas apa yang ia alami, ia juga suka menyalahkan dirinya sendiri, tapi ada keadaan di mana Yuza tidak sampai hati melihat seseorang menangis karenanya.
Sekali pun dia suka menyalahkan dirinya dan selalu pesimis tentang hidupnya, Yuza tetaplah seorang anak yang baik dan naif, jika dia punya pilihan untuk memaafkan dan merelakan semuanya, kenapa ia harus menyimpan dendam?
"Tapi... karena aku... karena aku-"
"Fujita-san, itulah Yuza, dia sangat menyebalkan, ‘kan?” potong Takao yang tampaknya sudah mulai tenang karena kata-kata yang diucapkan Yuza.
Takao akhirnya mengerti kalau yang ia lakukan tadi sangat salah, ia membentak Fujita Mito karena menggap Yuza lemah, tapi seharusnya Takao lah yang paling memahami itu, Yuza lebih kuat dari pada apa yang ia lihat.
"Yosh! Karena kalian sudah mulai tenang, jadi untuk sekarang mari kita bersihkan rumah ini.” Ucap Haruna mencoba untuk mencairkan suasana
"Benar juga, maaf mengatakan ini Fujita-san, tapi rumah ini terlihat sedikit kotor," tambah Takao.
"Maaf, aku hampir tidak pernah membersihkan rumah ini selama 3 tahun.” Balas Fujita Mito sambil tersenyum malu.
"Ya, ini bahkan lebih kotor dari tempat tidur Yuza dahulu." Kata Kei sambil menggelengkan kepalanya, dan Yuza hanya tertawa melihat komentar Kei yang secara tidak langsung juga menyinggung Yuza.
###
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro