
1.b
Keesokan paginya, Nirma terbangun dengan rasa ngilu yang menghujam. Dia sampai meringis menahan nyeri pada punggungnya. Mau tak mau Nirma harus tetap bangun dan bersiap-siap pergi bekerja. Apalagi siang nanti dia akan melakukan sesi wawancara dengan Amanda Kartopo. Aktris yang tengah naik daun berkat sinetron Kelihatan Cinta.
Nirma sudah lima tahun bekerja sebagai wartawan di sebuah perusahaan media yang menaungi beberapa majalah dan tabloid. Salah satunya majalah Gemintang. Di sana Nirma bertugas sebagai wartawan divisi hiburan, yang membuatnya banyak bersinggungan dengan para selebriti.
Tidak ada yang mencolok dari kamarnya. Warna-warna monokrom lebih mendominasi seisi kamar wanita dua puluh tujuh tahun itu. Tempat tidur ukuran single, dilapisi seprai berwarna abu-abu, tanpa motif apa pun. Lemari pakaian yang tidak terlalu besar menjadi satu-satunya perabotan yang ada selain tempat tidur.
Nirma memeriksa ponselnya. Terdapat beberapa pesan Whatsapp dari rekan kerjanya, banyak pesan dari grup kantor dan alumni sekolah, dan tak ketinggalan rentetan pesan dari Arka. Terlalu manis dan mengandung banyak kata cinta yang kekasihnya itu utarakan lewat pesan.
Setelah selesai menyakitinya Arka akan menghujaninya dengan banyak permintaan maaf dan janji untuk tidak mengulanginya lagi. Namun, segala maaf dan penyesalan itu hanya serupa embun yang akan menguap, lalu turun kembali dan membuat basah.
Tidak apa-apa. Bagian diri Nirma yang lain selalu berusaha menguatkan, meski sebagian dirinya lagi sudah terlalu rapuh menerima perlakuan kasar itu.
Selesai mandi dan bersalin pakaian, Nirma keluar kamar dengan membawa ranselnya. Dia melihat Vanesa tengah menuang kopi ke gelas sambil memperhatikan layar ponsel. Dua piring nasi goreng sudah tersedia di meja. Nirma beruntung mempunyai teman seperti Vanesa yang mau repot-repot membuatkannya sarapan, atau pun makanan lainnya. Vanesa cukup pengertian dengan Nirma yang memang memiliki pola makan kurang teratur.
"Tuh, pagi-pagi udah ada yang antar bunga," celetuk Vanesa sesaat setelah Nirma duduk di meja makan.
Nirma mengangkat alis, dan Vanesa segera menunjuk ke arah meja di dekat sofa dengan dagunya. Mata Nirma langsung disuguhi sebuket bunga mawar merah yang cukup banyak jumlahnya.
"Dari Arka," terang Vanesa kemudian menyesap kopinya setelah itu berkata lagi, "Baik banget Arka bisa seromantis itu. Kalau Niko jangan harap, deh."
Vanesa membandingkan Arka dengan pacarnya yang sering dikeluhkan wanita berkulit sawo matang itu jauh dari sifat romantis.
Nirma tidak berminat untuk memeriksa bunga pemberian Arka. Dia yakin akan menemukan ucapan permintaan maaf dan kalimat penuh cinta juga di sana. Dia menyuap nasi goreng ke mulut. Menyimak Vanesa yang tiba-tiba saja membacakan sebuah berita kriminal.
"Ditemukan tubuh seorang wanita sudah terpotong-potong dalam sebuah kotak." Vanesa benar-benar membacakannya. Dia tak menutupi keantusiasannya akan berita yang berkaitan dengan pembunuhan.
Vanesa melanjutkan, "Tidak ditemukan kepala korban. Dan menurut keterangan polisi organ dalam juga tidak ada."
Nirma menghentikan suapannya. Mendengar kasus mutilasi sambil mengunyah makanan bukan sesuatu yang mengenakkan. Lain halnya dengan Vanesa yang memang sering membawa kasus-kasus seperti ini ke ruang diskusinya di grup penggemar cerita-cerita detektif. Kemudian membedah dan menganalisa sendiri segala kemungkinan yang bisa saja terjadi dalam suatu kasus kriminal. Mulai dari motif pelaku, cara membunuh, hingga korelasinya dengan si korban.
Vanesa meletakkan ponselnya di atas meja. "Ini kasus yang sama seperti lima kejadian lain. Polisi menyebutnya kasus Kotak Mawar, karena pembunuhnya selalu memasukkan banyak kelopak bunga mawar di dalam kotak. Pembunuhnya pasti orang yang sama," tutur Vanesa lalu berdecak heran dengan pembunuhan Kotak Mawar yang belum terpecahkan.
Nirma menyudahi makannya beberapa menit kemudian. Meneguk segelas air putih, lalu meraih ranselnya yang tersampir di kursi. Sama sekali tak berniat melihat bunga mawar pemberian Arka. Malah Vanesa yang mengagumi keindahannya.
Sebelum mereka berdua sama-sama keluar apartemen, Vanesa sempat berujar, "Beruntungnya kamu, Nir, punya pacar seromantis Arka."
Nirma hanya tersenyum menanggapinya. Tak bisa membayangkan apa yang akan dikatakan Vanesa kalau mengetahui sifat Arka yang sebenarnya.
•••
Nirma selalu menumpang mobil Vanesa, karena kebetulan kantor mereka berdekatan dan sama-sama berada di bilangan Sudirman. Sehingga Nirma bisa lebih menghemat pengeluarannya. Beruntungnya lagi, Nirma pun tak perlu mengeluarkan biaya untuk tempatnya berteduh. Vanesa yang menawarkan tumpangan di apartemennya.
Nirma sebetulnya tak enak hati kalau menumpang secara cuma-cuma. Akan tetapi Vanesa yang merupakan sahabat baiknya sejak SMA itu, memang tulus membantunya. Vanesa paham kalau hidup Nirma sejak orang tuanya tiada sudah cukup sulit.
Apalagi rumah yang terbakar tidak bisa diklaim asuransinya, karena ada faktor kesengajaan. Birokrasi terlalu menyulitkan bagi wanita yang dirundung kemalangan seperti Nirma. Dia akhirnya mengikhlaskan dan hingga saat ini sisa-sisa puing rumahnya yang terbakar masih bisa dilihat, yang seolah menjadi sebuah situs kelam dari hidupnya.
Mobil Vanesa berhenti di depan sebuah gedung kantor berlantai sepuluh. Nirma keluar dari mobil itu dan memperhatikan sejenak bagian belakang mobil Vanesa yang sudah melaju lagi.
Nirma tersenyum ramah pada seorang security yang sudah dikenalnya, kemudian berjalan memasuki lobi yang mulai banyak didatangi para karyawan. Nirma berjalan sambil membaca pesan Whatsapp yang baru saja masuk dari Jerri, fotografer yang akan bersamanya pergi ke rumah Amanda Kartopo siang ini.
• Nggak bisa ikutan ke rumah Amanda. Diajak Mas Gaga ke Palmerah. Nanti kamu sama si Timur
Timur?
Nirma mencoba mengingat nama itu. Dia merasa tak ada fotografer di kantor ini yang bernama Timur. Sambil berpikir, Nirma memencet tombol pada panel elevator. Seorang laki-laki berdiri tepat di sebelahnya. Sama-sama menunggu lift terbuka. Aroma tubuh si lelaki yang begitu kuat memaksa arah pandang Nirma bergeser sejenak.
Postur lelaki itu jauh lebih tinggi darinya. Mungkin sekitar 180-185 cm. Entahlah yang pasti penampilan lelaki itu cukup menarik sekaligus terlalu harum untuk ukuran lelaki biasa. Bukan jenis aroma berlebihan yang akan membuat kepala pusing. Akan tetapi malah membuat hidung Nirma betah untuk menghirup berlama-lama aroma tersebut.
Nirma sangat yakin kalau lelaki ini tidak memakai parfum refill murahan yang biasa dipakainya. Nirma melirik sekali lagi ke arah si lelaki yang kebetulan bersebelahan dengannya juga saat di dalam lift. Dia mulai menerka-nerka kemungkinan lelaki itu adalah seorang selebriti. Wajah tampannya sudah sangat cocok menjadi aktor pemeran utama sebuah film.
Setelah Nirma keluar dari lift pun, aroma si lelaki masih mengudara di sekelilingnya. Nirma menengok melewati balik punggungnya dan benar saja si lelaki berada tepat di belakangnya. Nirma berbelok ke ruang kerjanya yang dipenuhi banyak kubikel berjajar. Beberapa rekan kerjanya sudah berada di dalam kubikel masing-masing.
Anehnya aroma lelaki itu masih tetap ada bahkan ketika Nirma telah duduk manis di dalam kubikelnya.
"Nirma." Seseorang memanggilnya dan Nirma langsung menoleh ke sumber suara. Lebih tepatnya mendongak dan dibuat bingung oleh kehadiran si Lelaki Beraroma di depan kubikelnya.
"Ya?" Nirma menaikkan alis.
Lelaki itu tersenyum ramah. "Kenalkan, saya Timur."
••☆••
Jangan lupa untuk memberi VOTE dan komentarnya ya ❤
Terima kasih ❤
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro